<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
		>
<channel>
	<title>Komentar di: ASEAN</title>
	<atom:link href="http://ameliaday.wordpress.com/asean-media/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ameliaday.wordpress.com</link>
	<description>ini adalah kompilasi tulisan tentang/untuk publik, terima kasih atas komentar Anda untuk perbaikan</description>
	<lastBuildDate>Sat, 12 Dec 2009 10:57:29 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>Oleh: deta</title>
		<link>http://ameliaday.wordpress.com/asean-media/#comment-793</link>
		<dc:creator>deta</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 08 Sep 2009 08:42:18 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ameliaday.wordpress.com/asean-media/#comment-793</guid>
		<description>;-)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p> <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';-)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Josaphat Tetuko Sri Sumantyo</title>
		<link>http://ameliaday.wordpress.com/asean-media/#comment-369</link>
		<dc:creator>Josaphat Tetuko Sri Sumantyo</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 12 Feb 2008 17:17:14 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ameliaday.wordpress.com/asean-media/#comment-369</guid>
		<description>Ibu Mila

Masalah pendidikan untuk anak memang sangat pelik sebagai orang tua. Mungkin sama orang tua saya (lihat http://www.pandhitopanji-f.org/jtetukoss/families.htm) memikirkan dan memilih pendidikan terbaik untuk saya dan adik2 saya dulu walau di desa. Hal ini sama khawatirnya saya untuk memberikan pendidikan yg terbaik untuk anak saya sendiri (lihat http://www.pandhitopanji-f.org/jpandhitoph/index.html). 

Bagi saya dan isteri pendidikan dasar merupakan pendidikan yang paling penting dan harus didapat dengan senang. Kalau belum bisa baca, berhitung dll, memang sebaiknya jangan dipaksakan. Pasti ada waktu tuning yang menjadi titik meroketnya talent sang anak. Saya sendiripun kurang pandai dalam membaca sejak kecil (refer http://www.pandhitopanji-f.org/jtetukoss/documents/figures/20070102KompasSosok.jpg). Syukur sekarang anak saya sedikit enjoy utk menerangkan segala sesuatu, spt masalah angkasa luar (lihat artikel click line terbawah http://www.pandhitopanji-f.org/jpandhitoph/index.html) dengan gambarnya yang lucu.

Pendidikan sebaiknya diberikan dengan pendekatan fenomenal dan belajar alur bernalar (berpikir). Hal ini menjadi kelemahan hampir kebanyakan siswa Ina. Mereka sangat pandai menghafal segala hal, tapi tidak tahu mengapa menjadi demikian. Pada saat mereka masuk ke perguruan di luar negeri biasanya menjadi lebih pandai dengan mahasiswa asing pada tingkat2 awal. Tapi setelah tingkat advance biasanya keteteran karena tidak bisa bernalar, ini nanti berakibat pada keterlambatan pada proses riset. Teknologi tidak bisa dilahirkan dengan hafalan, karena content dari hafalan biasanya ilmu yang sudah mati (standard). Sedangkan fenomena di alam dan masyarakat setiap saat berubah, dan kita harus mengikutinya dengan berpikir dan beranalisa. Menciptakan manusia yang bisa menyesuaikan dengan alam di mana saja berada dengan cara berpikir dan beranalisa ini yang perlu dibentuk oleh pendidikan kita. Memang sulit dengan kondisi ina yang banyak hal tidak bernalar, tapi mau tidak mau harus dilakukan perbaikan ini kalau kita ingin maju dan bersaing, bahkan utk menjadi top di dunia di segala hal.

Salam
Josh</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Ibu Mila</p>
<p>Masalah pendidikan untuk anak memang sangat pelik sebagai orang tua. Mungkin sama orang tua saya (lihat <a href="http://www.pandhitopanji-f.org/jtetukoss/families.htm)" rel="nofollow">http://www.pandhitopanji-f.org/jtetukoss/families.htm)</a> memikirkan dan memilih pendidikan terbaik untuk saya dan adik2 saya dulu walau di desa. Hal ini sama khawatirnya saya untuk memberikan pendidikan yg terbaik untuk anak saya sendiri (lihat <a href="http://www.pandhitopanji-f.org/jpandhitoph/index.html)" rel="nofollow">http://www.pandhitopanji-f.org/jpandhitoph/index.html)</a>. </p>
<p>Bagi saya dan isteri pendidikan dasar merupakan pendidikan yang paling penting dan harus didapat dengan senang. Kalau belum bisa baca, berhitung dll, memang sebaiknya jangan dipaksakan. Pasti ada waktu tuning yang menjadi titik meroketnya talent sang anak. Saya sendiripun kurang pandai dalam membaca sejak kecil (refer <a href="http://www.pandhitopanji-f.org/jtetukoss/documents/figures/20070102KompasSosok.jpg)" rel="nofollow">http://www.pandhitopanji-f.org/jtetukoss/documents/figures/20070102KompasSosok.jpg)</a>. Syukur sekarang anak saya sedikit enjoy utk menerangkan segala sesuatu, spt masalah angkasa luar (lihat artikel click line terbawah <a href="http://www.pandhitopanji-f.org/jpandhitoph/index.html)" rel="nofollow">http://www.pandhitopanji-f.org/jpandhitoph/index.html)</a> dengan gambarnya yang lucu.</p>
<p>Pendidikan sebaiknya diberikan dengan pendekatan fenomenal dan belajar alur bernalar (berpikir). Hal ini menjadi kelemahan hampir kebanyakan siswa Ina. Mereka sangat pandai menghafal segala hal, tapi tidak tahu mengapa menjadi demikian. Pada saat mereka masuk ke perguruan di luar negeri biasanya menjadi lebih pandai dengan mahasiswa asing pada tingkat2 awal. Tapi setelah tingkat advance biasanya keteteran karena tidak bisa bernalar, ini nanti berakibat pada keterlambatan pada proses riset. Teknologi tidak bisa dilahirkan dengan hafalan, karena content dari hafalan biasanya ilmu yang sudah mati (standard). Sedangkan fenomena di alam dan masyarakat setiap saat berubah, dan kita harus mengikutinya dengan berpikir dan beranalisa. Menciptakan manusia yang bisa menyesuaikan dengan alam di mana saja berada dengan cara berpikir dan beranalisa ini yang perlu dibentuk oleh pendidikan kita. Memang sulit dengan kondisi ina yang banyak hal tidak bernalar, tapi mau tidak mau harus dilakukan perbaikan ini kalau kita ingin maju dan bersaing, bahkan utk menjadi top di dunia di segala hal.</p>
<p>Salam<br />
Josh</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Mila</title>
		<link>http://ameliaday.wordpress.com/asean-media/#comment-367</link>
		<dc:creator>Mila</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 12 Feb 2008 10:56:54 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ameliaday.wordpress.com/asean-media/#comment-367</guid>
		<description>* Ngintip sedikit riset Pak Josh *

Bukan disiplin ilmu saya, dan satelit komunikasi yang saya pelajari lebih ke lingkup bisnisnya. 

FYI, sharing sedikit Pak. Barusan saya melihat-lihat buku wajib anak SD sejak kelas 1 hingga 6, salah satunya tentang teknologi informasi komunikasi. MENYEDIHKAN! Kelas 1 hingga 6 melulu belajar HOW TO PAINT! SMP pun hanya diperkenalkan satu hal: how to use yahoo mail (yang bisa dibaca di FAQ yahoo sendiri hahaha!). 

Kurikulum terbaru ini tidak memperkenalkan platform-platform lain apalagi yang lebih rumit: konvergensi. 
Kurikulum ini membuat anak-anak jadi robot? Kasihan. 

Kalau matematika, dibolak-balik setiap tahun tetap sama (kurang satu, ditambah satu; kali dua, bagi dua), tapi teknologi informasi komunikasi (TIK, istilah birokrasinya) adalah dinamis. Filosofi ini mungkin tidak sampai ke kepala perumus kurikulum yang pernah dididik oleh guru robot pula? Mungkin...

Seharusnya dibedakan anak urban dan non-urban, karena anak SMP kelas 9 di kota (jaman kita dulu ya namanya kelas 3 SMP) dihujani demikian banyak cara berkomunikasi. Mulai bahasa asap, kantor pos dan seterusnya tidak diperkenalkan sama sekali. Bagaimana di setiap titik, orang terus berpikir untuk mencari yang baru.

Saya pikir TIK adalah mengerti mulai sejarah hingga fungsi dari inovasi setiap generasi; bagaimana ada platform yang tidak lagi dikenal (rekaman dalam Laser Disc,  pager, telex, dst.) dan ada yang masih berkembang seperti telepon selular dan satelit. Bagaimana layanan dan model bisnisnya pun turut berubah seiring dengan kreativitas manusia.

That&#039;s it ya Pak. Kreativitas. Kurang merdeka pikiran rakyat negeri ini ya? Atau kurang gigih memerdekakan diri? Whatever.

Salut untuk riset Pak Josh. Jangan pernah berhenti, Pak.
:)))))</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>* Ngintip sedikit riset Pak Josh *</p>
<p>Bukan disiplin ilmu saya, dan satelit komunikasi yang saya pelajari lebih ke lingkup bisnisnya. </p>
<p>FYI, sharing sedikit Pak. Barusan saya melihat-lihat buku wajib anak SD sejak kelas 1 hingga 6, salah satunya tentang teknologi informasi komunikasi. MENYEDIHKAN! Kelas 1 hingga 6 melulu belajar HOW TO PAINT! SMP pun hanya diperkenalkan satu hal: how to use yahoo mail (yang bisa dibaca di FAQ yahoo sendiri hahaha!). </p>
<p>Kurikulum terbaru ini tidak memperkenalkan platform-platform lain apalagi yang lebih rumit: konvergensi.<br />
Kurikulum ini membuat anak-anak jadi robot? Kasihan. </p>
<p>Kalau matematika, dibolak-balik setiap tahun tetap sama (kurang satu, ditambah satu; kali dua, bagi dua), tapi teknologi informasi komunikasi (TIK, istilah birokrasinya) adalah dinamis. Filosofi ini mungkin tidak sampai ke kepala perumus kurikulum yang pernah dididik oleh guru robot pula? Mungkin&#8230;</p>
<p>Seharusnya dibedakan anak urban dan non-urban, karena anak SMP kelas 9 di kota (jaman kita dulu ya namanya kelas 3 SMP) dihujani demikian banyak cara berkomunikasi. Mulai bahasa asap, kantor pos dan seterusnya tidak diperkenalkan sama sekali. Bagaimana di setiap titik, orang terus berpikir untuk mencari yang baru.</p>
<p>Saya pikir TIK adalah mengerti mulai sejarah hingga fungsi dari inovasi setiap generasi; bagaimana ada platform yang tidak lagi dikenal (rekaman dalam Laser Disc,  pager, telex, dst.) dan ada yang masih berkembang seperti telepon selular dan satelit. Bagaimana layanan dan model bisnisnya pun turut berubah seiring dengan kreativitas manusia.</p>
<p>That&#8217;s it ya Pak. Kreativitas. Kurang merdeka pikiran rakyat negeri ini ya? Atau kurang gigih memerdekakan diri? Whatever.</p>
<p>Salut untuk riset Pak Josh. Jangan pernah berhenti, Pak.<br />
 <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> ))))</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Mila</title>
		<link>http://ameliaday.wordpress.com/asean-media/#comment-364</link>
		<dc:creator>Mila</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 11 Feb 2008 19:17:29 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ameliaday.wordpress.com/asean-media/#comment-364</guid>
		<description>Confirmed, you are the man who has less sleep... :)

And yes, beautiful work of art. Best regard to Ibu Innes.

Saya harus tidur juga, panjang hari esok. Look up your papers morrow. Type to you tomorrow, too, for I shall have some insights (at the moment of typing, I can only think of bantal guling hehe)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Confirmed, you are the man who has less sleep&#8230; <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>And yes, beautiful work of art. Best regard to Ibu Innes.</p>
<p>Saya harus tidur juga, panjang hari esok. Look up your papers morrow. Type to you tomorrow, too, for I shall have some insights (at the moment of typing, I can only think of bantal guling hehe)</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Josaphat Tetuko Sri Sumantyo</title>
		<link>http://ameliaday.wordpress.com/asean-media/#comment-363</link>
		<dc:creator>Josaphat Tetuko Sri Sumantyo</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 11 Feb 2008 17:14:07 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ameliaday.wordpress.com/asean-media/#comment-363</guid>
		<description>Dear Ibu Mila,

Teknologi tidak lebih sebagai tool utk memberikan kebahagiaan manusia. Terkadang saya pikir dan rasakan, kita tidak perlu mengejar dan terperangah terhadap hasil pemikiran (teknologi, budaya...hingga agama) orang asing. Tidak perlu memaksakan sesuatu yang memang tidak cocok dengan Indonesian people and their life style. Porak porandanya Indonesia saat ini harus secepatnya kita akui sebagai akibat &#039;keramahan&#039; orang Indonesia terhadap budaya asing. Terkadang hal lucu terjadi di masyarakat kita, dimana pada saat menemui permasalahan baik kecil maupun besar (nasional), penyelesaiannya adalah doa bersama dengan gaya orang dan budaya asing, (betul !) bahkan menyalahkan orang atau pihak lain. Mengapa tidak melihat kaki (diri) sendiri ? Saya kira faktor ketakutan telah tertanam dengan baik turun temurun di hati orang Ina, sehingga mereka susah utk lepas dari budaya tersebut. Kebetulan saya mengumpulkan serpihan2 budaya Ina, kasihan bangsa ini, banyak kebanggaan semu dan kerusakan batin yang telah menganga. Jangankan berpikir teknologi, berpikir utk dirinya saja sudah tidak ada waktunya. Teknologi harus disusun rapi dari waktu ke waktu, membutuhkan ketenangan berpikir, kebesaran hati melihat alam dll. Saya sering ke daerah2 di Ina, banyak hal menarik dan dapat menjadi inspirasi, tetapi setiap berkunjung ke tempat yang sama pasti kita dapatkan degradasi, bukannya perbaikan. Mungkin semua ini proses, manusia tidak akan jera kalau tidak pernah merasakan sakit akibat ulahnya. Negara manapun sama, mungkin Indonesia perlu terjadi bencana lebih besar lagi utk mengingatkan kebesaran alam.

Perihal buku2 saya dapat dibaca di http://erc.pandhitopanji-f.org/books.html  Kebetulan kami sekeluarga mempunyai yayasan kecil utk memberikan beasiswa, pendidikan dengan membuat sekolah, riset dll melalui hasil usaha kami sekeluarga. Buku lainnya mudah2an dalam waktu dekat dapat kami terbitkan kembali sambil menunggu gudang baru rumah kami. Kebetulan isteri saya juga mempersiapkan buku2nya tentang urban history kota2 Ina, bersama saya pula. Sementara kami tulis dalam bhs Ina agar masyarakat Ina lebih cepat tahu daripada orang asing, nanti akan kami terbitkan dalam bhs Inggris pula.

Informasi mengenai riset saya : http://www2.cr.chiba-u.jp/lab/jtetukoss/ dan karya2 isteri saya http://www.pandhitopanji-f.org/arc/studio.htm Karya2nya pasti Anda pernah melihatnya di Jakarta atau kota lain. Mudah2an semakin banyak karyanya menghiasi Ina dan dunia. 


Salam
Josh</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Dear Ibu Mila,</p>
<p>Teknologi tidak lebih sebagai tool utk memberikan kebahagiaan manusia. Terkadang saya pikir dan rasakan, kita tidak perlu mengejar dan terperangah terhadap hasil pemikiran (teknologi, budaya&#8230;hingga agama) orang asing. Tidak perlu memaksakan sesuatu yang memang tidak cocok dengan Indonesian people and their life style. Porak porandanya Indonesia saat ini harus secepatnya kita akui sebagai akibat &#8216;keramahan&#8217; orang Indonesia terhadap budaya asing. Terkadang hal lucu terjadi di masyarakat kita, dimana pada saat menemui permasalahan baik kecil maupun besar (nasional), penyelesaiannya adalah doa bersama dengan gaya orang dan budaya asing, (betul !) bahkan menyalahkan orang atau pihak lain. Mengapa tidak melihat kaki (diri) sendiri ? Saya kira faktor ketakutan telah tertanam dengan baik turun temurun di hati orang Ina, sehingga mereka susah utk lepas dari budaya tersebut. Kebetulan saya mengumpulkan serpihan2 budaya Ina, kasihan bangsa ini, banyak kebanggaan semu dan kerusakan batin yang telah menganga. Jangankan berpikir teknologi, berpikir utk dirinya saja sudah tidak ada waktunya. Teknologi harus disusun rapi dari waktu ke waktu, membutuhkan ketenangan berpikir, kebesaran hati melihat alam dll. Saya sering ke daerah2 di Ina, banyak hal menarik dan dapat menjadi inspirasi, tetapi setiap berkunjung ke tempat yang sama pasti kita dapatkan degradasi, bukannya perbaikan. Mungkin semua ini proses, manusia tidak akan jera kalau tidak pernah merasakan sakit akibat ulahnya. Negara manapun sama, mungkin Indonesia perlu terjadi bencana lebih besar lagi utk mengingatkan kebesaran alam.</p>
<p>Perihal buku2 saya dapat dibaca di <a href="http://erc.pandhitopanji-f.org/books.html" rel="nofollow">http://erc.pandhitopanji-f.org/books.html</a>  Kebetulan kami sekeluarga mempunyai yayasan kecil utk memberikan beasiswa, pendidikan dengan membuat sekolah, riset dll melalui hasil usaha kami sekeluarga. Buku lainnya mudah2an dalam waktu dekat dapat kami terbitkan kembali sambil menunggu gudang baru rumah kami. Kebetulan isteri saya juga mempersiapkan buku2nya tentang urban history kota2 Ina, bersama saya pula. Sementara kami tulis dalam bhs Ina agar masyarakat Ina lebih cepat tahu daripada orang asing, nanti akan kami terbitkan dalam bhs Inggris pula.</p>
<p>Informasi mengenai riset saya : <a href="http://www2.cr.chiba-u.jp/lab/jtetukoss/" rel="nofollow">http://www2.cr.chiba-u.jp/lab/jtetukoss/</a> dan karya2 isteri saya <a href="http://www.pandhitopanji-f.org/arc/studio.htm" rel="nofollow">http://www.pandhitopanji-f.org/arc/studio.htm</a> Karya2nya pasti Anda pernah melihatnya di Jakarta atau kota lain. Mudah2an semakin banyak karyanya menghiasi Ina dan dunia. </p>
<p>Salam<br />
Josh</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
