RSS

Arsip Kategori: economy

Konsep Uang di Awal Kuliah

Di bawah ini ada beberapa jawaban mahasiswa di kelas saya yang menjawab atas pertanyaan, “Apa arti uang bagi kamu?” Saya biarkan tanpa nama dengan harapan bahwa di akhir kuliah saya dan seluruh isi kelas mendapatkan pencerahan. Semoga.

Inilah jawaban mereka:

1. Bagi saya, dalam arti luas uang adalah alat tukar yang sah. Namun berdasarkan pengalaman saya, dalam arti sempit uang merupakan faktor yang amat sangat penting untuk membina suatu hubungan percintaan. Dengan kehadiran uang, suatu hubungan akan berjalan damai, tentram dan harmonis.

2. Uang, bagi saya, adalah suatu benda yang digunakan untuk membeli barang atau jasa yang dibutuhkan dan diinginkan. Uang juga dijadikan sebagai pengukur kekayaan seseorang. Uang merupakan suatu hal yang harus dikelola dengan bijak.

3. Uang bukanlah segalanya, tapi segalanya butuh uang. Uang tidak bisa membeli kebahagiaan, tapi bahagia dapat didapat dengan punya banyak uang. Oleh karena itu, mari kita mencari uang namun dengan cara yang halal.

4. Uang adalah sebuah hasil dari usaha dan kerja keras diri sendiri. Kita dikatakan memiliki uang ketika kita sudah dapat menghasilkan uang sendiri, bukan diberikan oleh orang lain. Uang terkadang dapat dikatakan sebuah kebahagiaan, tapi kebahagiaan tidak selalu uang dan karena uang.

5. Uang adalah alat yang digunakan untuk dapat membeli kebutuhan. Sejak kecil saya selalu bermasalah dengan uang karena apa yang saya butuhkan seringkali tidak bisa dipenuhi lantaran alasan uang. Karena itulah salah satu impian saya adalah kelak uang tidak lagi menjadi masalah bagi saya, keluarga dan orang-orang di sekitar kita.

6. Uang adalah alat tukar. Fungsinya untuk ditukarkan dengan apapun yang kita butuhkan dan inginkan. Selama barang-barang tersebut tidak berkaitan dengan sisi emosional seseorang. Tidak hanya sebagai alat yang ditukarkan tapi juga sebagai alat yang “menggerakkan”.

7. Uang merupakan sesuatu yang dianggap penting oleh manusia, karena uang adalah alat yang penukar dibutuhkan untuk membeli barang-barang. Namun yang seringkali menjadi pemicu pertengkaran antar-manusia karena kesalahpahaman mengenai uang itu sendiri.

8. Uang bagi saya adalah suatu benda yang penting karena banyak sekali aspek dalam hidup ini yang membutuhkan uang. Terlebih di era modern seperti ini yang sebagian besar kebutuhan hidup dibeli dengan uang, mulai dari sandang, pangan, papan, dsb. Jadi bisa dikatakan untuk zaman sekarang ini, manusia hidup tidak hanya membutuhkan oksigen untuk bernafas tetapi juga membutuhkan UANG untuk “bernafas bebas.”

9. Uang merupakan hal yang penting salah satu hal yang penting dalam kehidupan. Selain sebagai alat tukar untuk mendapatkan suatu barang yang kita inginkan, uang juga dapat menentukan kesejahteraan hidup manusia. Kita dapat menggunakan uang untuk memenuhi kebutuhan, fasilitas dan menggunakan uang untuk usaha agar dapat menghasilkan uang yang lebih banyak lagi.

10. Tidak dapat dipungkiri bahwa uang memegang peranan penting dalam hidup ini, baik hidup saya ataupun orang lain. Uang dapat membantu saya memenuhi kebutuhan dan keinginan saya, bahkan termasuk untuk mencapai mimpi saya pun membutuhkan uang. Sayangnya, saya bukan orang yang memiliki banyak uang, maka dari itu sebelum mewujudkan mimpi saya, saya akan berusaha mengumpulkan uang dahulu sebagai modalnya.

11. Bagi saya, uang adalah suatu komponen yang cukup vital dalam kehidupan. Pada zaman sekarang ini, uang mengatur hampir seluruh aspek dalam keberlangsungan suatu masyarakat. Maka, kalai kita sampai salah mengelolanya, bisa menimbulkan suatu masalah yang cukup besar.

12. Uang adalah salah satu sarana untuk mencapai tujuan, salah satunya sejahtera hidup, hahaha. Dengan adanya uang kita dapat merasakan atau menuju bahagia. Meskipun tidak selalu menjaminnya.

13. Uang bagi saya adalah sebuah alat pembayaran. Dengan uang kita bisa mendapatkan barang-barang atau jasa yang dibutuhkan.

14. Uang bagi saya adalah sebuah benda yang digunakan untuk mendapatkan benda lainnya. Dalam artian, yang memiliki nilai untuk mendapatkan / membeli suatu barang. Uang juga bisa dijadikan simbol atau tolak ukur untuk menghitung kekayaan.

 

MANAJEMEN KEUANGAN STASIUN TV

IKP 2009

Depok, 7 Februari 2011

 
Leave a comment

Posted by pada Februari 18, 2011 in -nomics, economy, money

 

Kaitkata: , ,

You cannot live without scholarship, and you cannot live with scholarship

Di luar jatah seleksi reguler, Universitas Indonesia (UI) memiliki program seleksi mahasiswa yang telah berjalan 3 tahun terakhir ini. Kerjasama Daerah Industri (KsDI) adalah program non-SIMAK atau seleksi masuk UI. Pemerintah daerah atau pun industri dapat memasukkan nama siswa berprestasi usulan mereka untuk masuk ke UI tanpa tes seleksi ketat: hanya selembar surat usulan plus kontrak-kontrak. Diharapkan memang banyak siswa SMA berprestasi di daerah yang bisa masuk lewat jalur khusus ini, dan disepakati bahwa mereka adalah siswa yang kurang mampu secara finansial melanjutkan ke sekolah lebih tinggi.

Noble huh? Sayangnya tidak begitu kenyataan tiga tahun terakhir. Banyak bolong dan bohong…

Adalah David Welkinson, salah satu siswa dari SMA di Bengkulu yang beruntung masuk ke jalur ini di awal program KsDI ini disepakati pihak kampus dan Pemerintah Provinsi Bengkulu. Ia adalah satu dari mahasiswa berprestasi secara akademis ataupun organisasi kesiswaan (pernah menjabat menjadi ketua OSIS semasa SMA). Ia adalah anak petani yang terkesan sederhana namun tegas. Saya belum pernah melihatnya, tapi wajahnya tampil di layar TV beberapa saat lalu untuk mengungkap kebobrokan Pemprov Bengkulu, yang notabene kepala daerahnya pun sekarang pesakitan karena korupsi (beritanya di sini, ya).

Uang kuliah yang dijanjikan Pemprov Bengkulu tak kunjung turun, bahkan dinyatakan bahwa program ini ditutup di provinsi itu sejak tahun 2010. Lalu bagaimana kontrak awalnya? Inilah pangkal kisruh beasiswa dan jalur khusus masuk UI ini. Ditengarai bahwa pihak Pemprov Bengkulu tidak menjalankan kewajibannya sesuai kontrak. Ditengarai pula bahwa kontrak yang ada memang tidak “menjanjikan” pembayaran, hanya memberikan usulan nama siswa berprestasi. Douglas North (1991) menegaskan bahwa “There are some cases where contracts are self-enforcing; i.e., when all parties to a contract have an economic incentive to comply with the terms of the contract.” Sayangnya, compliance atas kedua pihak yang menandatangani kontrak ini terkadang tidak terjadi.

Apapun alasan yang telah diberikan Pemprov Bengkulu, jelas saja ada ingkar janji sepihak. Terbukti kok provinsi lain mampu membiayai dan sepertinya tidak bermasalah hingga hari ini. Apa yang terjadi sesungguhnya di meja bendahara pemerintah Bengkulu, wallahualam.

Lambsdorff (2007) menegaskan bahwa “corrupt actors are more influenced by other factors such as the opportunism of their criminal counterparts and the danger of acquiring an unreliable reputation.” Bengkulu adalah provinsi miskin karena letak geografis yang tidak menguntungkan, dikelilingi pengunungan tinggi dan pantai berkarang. Hal ini diperparah lagi dengan seringnya gempa terjadi di sepanjang pantai barat Sumatera. Untuk itu, jalur distribusi ke dan dari Bengkulu adalah mustahil kalaupun tidak mau dinyatakan “mahal”.

Hal ini bukan alasan jika memang “aktor” yang dimaksud Lambsdorff adalah aktor yang tidak oportunistik. Tak ada niat baik dari pihak pemprov sana untuk berbenah diri. Bengkulu puluhan tahun silam adalah potret Bengkulu sekarang. Tak banyak kemajuan berarti dibanding provinsi tetangganya. Sayangnya pemerintah di salah satu provinsi dari 5 nomor buncit (dalam hal pemasukan dan belanja daerah) di Indonesia ini tak memiliki niat baik memperbaiki kualitas sumber daya manusia. Rakyat cerdas akan keluar dari terbatasnya sumber daya alam–lihat Singapura. Rakyat cerdas pun akan keluar dari terbatasnya jalur transportasi–lihat Pemerintah Provinsi Bangka Belitung dan Laskar Pelangi.

Di lain pihak, UI sebagai institusi besar, sesungguhnya bisa bertindak lebih arif dan taktis untuk membantu masalah per kasus atau bahkan masalah KsDI ini secara umum. Tak usah ditutup jalur ini, hanya kedua pihak harus menandatangani kontrak yang lebih tegas. Selain itu, seleksi masuk sepenuhnya milik UI agar standar mahasiswa “cerdas” yang diloloskan dari program ini bukanlah mereka yang “cuma punya uang bayar pemda” atau “cuma kebetulan anak Pak Bupati Anu”… dan seterusnya.

Semoga David Welkinson adalah anak terakhir yang harus menderita karena mendapat beasiswa bodong pemdanya.

 
2 Comments

Posted by pada Januari 14, 2011 in chaos, economy, education, institutionalism

 

Kaitkata: , , ,

[Sekali Lagi] Merumuskan Indonesia

Sudah lama saya tak update blog ini. Satu hal yang kemudian mendorong saya menulis lagi pagi ini adalah ‘semangat kebangkitan nasional’ yang dicoba diracik lagi oleh beberapa kelompok masyarakat. Kemarin malam saya datang ke acara selamatan putra seorang kawan, yang dibuka oleh penggiat buku dan penggila sejarah dunia, Pak Taufik R. Dia merumuskan1908 – 1928 adalah era brahmana, kasta tertinggi dalam beberapa peradaban bangsa. Alasannya, karena Indonesia waktu itu dirumuskan oleh segelintir priyayi. Kemudian di era 1928 – 1968, Indonesia ‘dikelola’ oleh kaum di bawah brahmana: kaum ksatria.  Yang dimaksud adalah pasukan TNI dan pasukan perjuangan non-gelar.  Era 1968-1998, Indonesia dikuasai kaum pedagang, satu garis di bawah ksatria. Sejak itu hingga hari ini, Indonesia dikuasai rakyat, atau istilahnya, kaum sudra. Maaf kalau salah, tapi setahu saya sudra itu adalah kelompok paling miskin dalam tataran sosial ekonomi.  Sebuah analisis yang mungkin kebetulan saja.

dreamindonesia.wordpress.com

Tak berlama-lama di acara itu, saya langsung ‘loncat’ ke acara lain bertempat di Gedung Joang ’45, Menteng, Jakarta Pusat. Acara berjudul “Dialog Pemuda Nasional: Menyoal Identitas Kebudayaan Indonesia” ini didukung oleh Kantor Menpora dan diselenggarakan mulai pukul 14.00, dan hingga 21.45 dialog belum selesai, padahal masih ada pertunjukan musik etnik-kontemporer dari Mahagenta. Sayangnya pula, sang menteri yang kantornya punya titel “pemuda” ini tidak hadir karena sedang sibuk peluncuran buku pribadinya dalam rangka pemilihan ketua partai politik. Hmm, mana yang lebih penting ya…?

Kembali ke dialog nasional yang cukup menarik karena panitia menghadirkan sepuluh pembicara dari pelbagai belahan nusantara, lengkap dengan naskah ilmiah tentang konsep Indonesia. Saat mengetik tulisan ini, di meja saya tergeletak buku “Cities, Chaos & Creativity” yang di sampulnya tertulis: politically participatory, socially just, economically productive, ecologically sustainable, dan culturally vibrant. Aspek yang dibahas dalam dialog nasional ini kebanyakan hanya soal kebudayaan yang seharusnya vibrant atau bersemangat. Yang terucap di sesi pertama dialog ini adalah keluhan Dewan Adat Papua tentang ‘aneksasi bukan integrasi’, dan pernyataan Dewan Pakar Kesultanan Ternate tentang federalisme. Federalisme dan disintegrasi, dua kata satu makna.

Paparan menarik datang dari Dr Purwadi M.Hum, staf pengajar Universitas Negeri Yogyakarta dan penulis beberapa buku di antaranya Javanologi: Asal Mula Tanah Jawa. Ia paparkan bahwa hanya ada 2 bangsa yang mampu menguasai dunia (karena mereka mampu menguasai 3 hal: perspektif epigrafis, historis dan kosmopolis) yaitu bangsa Tionghoa dan Israel. Di manapun mereka berada di dunia ini mereka mampu menulis, membaca dan mendokumentasikan tata cara hidup dan pencapaian hidup mereka (epigrafis). Mereka pun mampu menjelaskan dan menarik garis sejarah nenek moyang mereka (historis). Yang tak kalah pentingnya adalah bahwa mereka mampu mengelola kota di dunia ini dengan membangun pilar politik di kota-kota tersebut (kosmopolis). Polis berarti kota, dan politik adalah turunan kata dari polis. Tak ada keputusan penting berbangsa itu, argumen Purwadi, datang dari desa.

Menarik juga ia mempertanyakan judul acara ini, “Menyoal” bukan “Memperkokoh” atau mungkin usulan saya, “Merumuskan Kembali”. Dari sisi kebudayaan, Indonesia itu sangat kaya. Salah satu pembicara dialog ini, Muhammad Zaini, dosen Sekolah Tinggi Seni Indonesia dan ITENAS Bandung, bahkan meneliti 250 permainan anak seluruh Indonesia. Ia sampaikan bahwa sesungguhnya ada ribuan permainan tradisional, yang baru dikajinya hanya segelintirnya saja. Kekaguman saya adalah bahwa beliau telah membuat arsip permainan daerah yang tak pernah terpikirkan oleh birokrat negeri ini.

Terakhir, acara sepenting ini selayaknya dihadiri oleh pengambil keputusan negeri ini. Seperti ucapan Buya Syafii Maarif di satu kuliah umum yang diselenggarakan harian Kompas, negeri ini tak punya pemimpin yang tahu jadi negarawan. Semuanya berpikir jangka pendek, sependek Pemilu 2014.

 

Manajemen Sakit dari Sebuah Rumah Sakit

Sehat adalah murah. Antidot-nya adalah sakit. Sakit itu berarti bayar dokter Rp 120 ribu, rontgen Rp 150 ribu, cek darah-dahak-feses Rp 400 ribu dan obat antibiotik dkk sebesar Rp 450 ribu. Mahal.

Harga itu masih terbilang masuk akal dibanding jika harus ke Singapura atau ke rumah sakit swasta, mengingat harga itu adalah Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr Cipto Mangunkusumo. Sebagai gantinya, saya harus menyusuri koridor labirin di sana. Saya bisa bertanya tujuh kali sejak tempat parkir untuk menemui ruangan praktek atau loket radiologi. Saya juga harus bertengkar dengan penyerobot antrean atau sabar menanti petugas administrasi tunggal di loket pendaftaran. Atau bahkan harus menutup telinga mendengar bisingnya orang lalu lalang, atau pasien bawel yang merasa datanya hilang.

“Pak Sodap, Pak Sodap…?”

Panggilan nama ini sungguh sedap didengar. Saya terkikik dalam hati saat mendengar percakapan yang dipanggil Pak Sodap ini dengan petugas administrasi pendaftaran.

“Kenapa nama saya tak ada lagi di data Anda, heh…”, tanyanya dengan logat kental sambil memberikan secarik kertas berisi namanya: Mr Sodap, Jalan Mencong sekian sekian.

Sang petugas administrasi memanggil Pak Sodap ke dalam loket untuk mengecek sendiri ejaan namanya di komputer. Pak Sodap menghampirinya.

“Jangan pakai ‘mister’, ketik saja Sodap, begitu…”

“Lah, ini em-er di depan nama Bapak apa dong?”

Saya nyaris terbahak kalau tidak mengingat etika kesopanan terhadap orang yang tak saya kenal.

Saya kembali termenung menunggu panggilan dokter. Mencoret sesuatu atau membaca koran di kala menunggu buat saya adalah tindakan yang lebih berarti selain melamun. Ah, kali ini saya mau melamun saja. Membayangkan sebuah rumah sakit umum pusat yang tertata rapi dan terintegrasi. Tak perlu ada beberapa apotek sekaligus dalam satu gedung. Tak perlu ada berbagai loket. Tak ada jam istirahat yang molor sehingga pasien yang sudah sekarat harus menunggu petugas loket yang sedang istirahat makan siang.

Terkesan memang area RSUP Cipto ini dibuat seperti rumah tumbuh; sayangnya, tidak direncanakan dengan matang. Sejak awal ditunjuknya Dr Cipto Mangunkusumo sebagai ikon kedokteran dan kesehatan Indonesia, rumah sakit ini sudah salah kelola (bahasa kerennya: mismanagement). Membaca Kompas pagi ini tentang sejarah kedokteran di Indonesia, Sabtu 23/5/2009, saya ingin mencerna lagi apakah ribet-nya tata ruang RSUP Cipto ini terkait dengan sejarah berdirinya sebuah kampus kedokteran di negeri ini.

Dinyatakan dr Kartono Mohamad bahwa bahwa kedokteran adalah sekolah pertama yang dibuat untuk menangani penyakit wabah sebelum Indonesia merdeka. Ditambahkan Prof S Somadikarta bahwa universitas di negara-negara maju didirikan sebagai tempat eksklusif, berawal dari tempat kongkow pemikir dan pendakwah.

Ah, itu dia!

Karena bersifat darurat sejak awal — tidak sebagai tempat tenang berpikir dan mengobati rasa ingin tahu yang tinggi terhadap segala sesuatu — lahirlah sebuah rumah sakit yang selalu darurat. Darurat adalah krisis! Darurat adalah gunakan yang ada saja dahulu sebelum ditemukan yang terbaik. Perencanaan untuk memprediksi segala sesuatu adalah hal terakhir yang harus dilakukan. “Nanti keburu orangnya meninggal…”

Seharusnya krisis itu baik. Prof Yohannes Surya malah menekankan manusia survive atau berevolusi untuk bertindakan lebih baik jika berada di bawah tekanan krisis. Seharusnya krisis bisa menjadi pegangan hari ini untuk terus berproses yang lebih baik ke depan. Tentu, saya melihat pembangunan gedung mewah baru bertitel “internasional” di sebelah barat area RSUP Cipto. Saya hari ini juga melihat warung tenda di dalam halaman rumah sakit telah digusur untuk tempat parkir yang lebih nyaman. Saya juga melihat lantai baru mengkilat di beberapa titik.

Melihat RSUP Cipto seperti melihat Indonesia Raya ukuran mini. Berantakan, chaos. Saya terhenyak saat nama saya dipanggil. Lebih dari sepuluh menit saya diperiksa, sekaligus saya bertanya ini-itu tentang penyakit saya. Bertanya adalah hak pasien, dan hanya bisa saya temui di RSUP Cipto ini. Pengalaman saya ke beberapa rumah sakit swasta yang bertitel internasional sekaligus, dokter-dokter spelialisnya banyak yang sakit sariawan; jarang menjawab tuntas pertanyaan remeh-temeh pasiennya.

Keluar dari ruangan mungil sang dokter yang baik itu, saya kembali bingung saat diberitahu ongkos rontgen, cek darah-dahak-feses serta harga obat. Saya melihat sekeliling saya… ada yang bersandal jepit, ada yang bolak-balik memfotokopi berkas jaminan kesehatan. Walau saya tak perlu mengurus dokumen Gakin dan kawan-kawannya, saya tetap merasa sebagai wong cilik yang sesungguhnya. Apakah saya korban dari manajemen negara yang sakit? Dari tiga capres yang akan datang itu, siapa yang peduli sih…? Platform kampanye semuanya terfokus di masalah ekonomi ini, ekonomi itu.

Saya rakyat kecil, dan saya perlu dicerahkan soal rencana tunjangan kesehatan yang nyaman buat saya.

I do need your assurance on HEALTH CARE PLAN, Bapak dan Ibu Capres!

manajemen RS

Click here for info on some-heart-throbbing USA health care plan.

 

Bencana Finansial, Slow Down Baby….

Tempo hari saya sengaja datang ke peluncuran bukunya Pak Prasetyantoko (Pak Icok, panggilan karib beliau), karena saya tertarik mendengarkan kuliah Daeng Aco (panggilan akrab untuk Pak Arianto Patunru, klik sini untuk lihat blog beliau). Belum pernah memang saya dapat kelas beliau, tapi malu saya datang ke kampus untuk mendengarkan pencerahan semenit dua. Terpaksa saya datang ke acara-acara gratis seperti ini.

*dasar merki*

Bencana, krisis, kontraksi, agflasi, dan banyak istilah lain memang seakan menghantui kita. Di lain pihak, banyak pernyataan di koran seminggu terakhir ini bernada sebaliknya. Pak Wapres bilang pebisnis masih optimis. Ada juga yang bilang sektor riil belum terganggu karena sektor finansial domestik masih aman. Di tengah gonjang-ganjing ini, saya kembali ke akar. Menikmati hari dengan pencerahan-pencerahan sederhana. Membaca semua pdf file di internet, tergantung tujuan awal v. harapan akhir.

Seminggu terakhir saya mencari pdf file tentang game theory lalu bosan! Sekarang mau maju membaca yang remeh-temeh. Resep masakan, misalnya. Tak lama akhirnya saya terlarut membaca industri kuliner di dunia… halah, ini juga masih berat!

Makanan.

Ini dia topik paling lezat yang rentan terhadap cuaca, tidak terhadap perubahan kurs mata uang sedunia. Tak ada lontong, getuk pun jadi. Buah mangga harumanis menjadi sarapan pagi saya beberapa minggu terakhir. Bosan? Iya juga, tapi daripada kangen 10 bulan baru musim lagi, saya harus nikmati masa-masa oversupply dari buah ini.

Supply v. Demand

Tahun ini dosen saya (bukan mantan, karena guru itu seperti ortu, tak boleh jadi mantan) menekankan bahwa rumus ekonomi apapun di dunia ini dasarnya hanya kurva penawaran dan permintaan. Bagaimana titik seimbang itu harus dijaga agar tak terlempar jauh dalam jangka waktu singkat. Ibarat sebuah bandul, jika terlalu jauh diayuh, terlalu lama lagi ia kembali ke titik tengah. Nah, menjaga ini kemudian bisa membuat stabil semua kondisi dalam jangka waktu lama. Yakinlah waktu Amerika Serikat dihentakdengan tragedi 9/11,  hal ini memicu kemarahan Bush. Ia lalu melakukan invasi ke “negara teroris saha tea”, sehingga posisi bandul kian terhentak jauh dari titik tengah. Bokek tapi sombong, itulah hasilnya, makanya Obama bisa nyelip di situ dengan isu jejak ke tanah. “Ingatlah bahwa kita miskin, jadi jangan sombong.”

Nah, di saat sang episentrum kapital dunia loyo, mulailah pakar-pakar Chicago, Berkeley ataupun London mengeluarkan pernyataan-pernyataan akademis. Jangan kuatir, itu cuma upaya “cari temen doang”. Biar bikin hati kita di Indonesia ikut kecut, mungkin. Saya mah percaya ucapan para pakar Jakarta dan Jogjakarta di diskusi kemarin. Mereka bilang:”bank-bank di Indonesia masih aman”. Sejuuuukkk…

 
Leave a comment

Posted by pada November 18, 2008 in economy

 
 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.