RSS

Badan Ekonomi Kreatif: The Year of Living Dangerously


Om Triawan Munaf bukan Mel Gibson. Ia juga tak sedang main film, tapi justru akan mengurus film dan segala aset intangible yang dibuat dan dimiliki bangsa ini. Perlindungan dan optimalisasi hak cipta dan hak distribusi dari produk-produk budaya populer kita itu memang masih acak-adut. Ada 14 subsektor kreatif lainnya selain film yang harus dipikirkan Om Triawan Munaf hari ini hingga akhir 2019. Catatan khusus, ini yang dimaksud adalah film yang diputar pertama kali di bioskop, sebuah model bisnis satu dekade lalu yang masih berlaku hari ini. #OOT, film adalah produk budaya populer berbentuk audio visual yang 1) diproduksi banyak orang, 2) memiliki hak cipta, 3) memilik hak distribusi, 4) diputar di bioskop sebelum ditayang di TV terestrial atau berbayar, 5) dan bisa diputar sampai seribu tahun lagi macam animasi hitam putih-nya “Mickey Mouse & The Steamboat”. Model bisnis film layar lebar berhenti di definisi “film adalah produk budaya populer berbentuk audio visual” saja; karena nomor 1) sampai 4) itu hari ini didobrak diacak-adut oleh digitalisasi dan “Youtube rules”. Diproduksi bisa satu orang saja, diciptakan dan didistribusikan suka-suka, serta bisa diputar ribuan kali di home theater dengan mega super duper surround sound blaster!

Belum masuk ke esensi kebijakan publik bagi 15 subsektor kreatif, Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) yang dipimpin Om Triawan Munaf hari ini harus pusing membangun institusi Bekraf yang dibentuk berdasarkan Perpres Nomor 6 Tahun 2015, dan kemudian direvisi dngan Perpres Nomor 72 Tahun 2015 tentang Badan Ekonomi Kreatif. Nanti akan ada Keppres khusus untuk Hak Keuangan setiap pejabat Bekraf.

Selanjutnya akan ada Peraturan dan Keputusan Kepala Bekraf untuk menjangkau daerah-daerah yang SKPD-nya belum memiliki nomenklatur “Pariwisata” dan/atau “Ekonomi Kreatif”. Tricky, karena di dalam Perpres 72/2015 hanya disebutkan satu pasal koordinasi dengan pemerintah daerah: “f. pelaksanaan komunikasi dan koordinasi dengan Lembaga Negara, Kementerian, Lembaga Pemerintah Non Kementerian, Pemerintah Daerah, dan pihak lain yang terkait…”. Hal ini dikaitkan dengan tugas Bekraf: “Badan Ekonomi Kreatif mempunyai tugas membantu Presiden, dengan fungsi Bekraf adalah merumuskan, menetapkan, mengoordinasikan, dan sinkronisasi kebijakan di bidang ekonomi kreatif.” Kenapa tricky? Karena belum pernah ada sejarahnya sebuah instansi setingkat “badan” itu memiliki kewenangan kebijakan di daerah.

Selain dipertimbangkan tugas fungsi sebuah “badan” dalam ketatanegaraan kita, wajib juga dikaji peran Bekraf yang unik. Pembentukan Bekraf diatur terpisah atau independen (bukan struktural kementerian) karena diasumsikan bisa lebih leluasa dalam melaksanakan kebijakan sektor ekonomi kreatif. Mari tarik lagi ke hal yang lebih mendasar. Bahwa Peran Bekraf sebagai sebuah badan regulasi (yang akan memberikan pedoman regulasi pada tingkat daerah) pada dasarnya adalah perlindungan dan promosi (to protect and promote) para pemangku kepentingan yaitu para pegiat kreatif di 15 subsektor itu. Dari peran dasar itulah, dilihat lagi bagaimana pernikahan antara “struktural” dan “fungsional” ini. Ada baiknya dibuatkan matriks untuk struktural yang terpisah dengan fungsional. Setiap pokok matriks memiliki indikator yang bisa diukur: input-process-output-outcome-fallout.

metrics03

Struktural adalah kaitannya dengan PNS dan non-PNS, dan fungsional adalah terkait substansi ekonomi kreatif. Jika Om Triawan Munaf bisa mengkaji struktur organisasi yang masih baru ini untuk “fungsi-fungsi ekraf” dengan berbagai skenario, termasuk kelak jika berhubungan dangan SKPD di daerah, yakinlah penulisan draft Rencana Strategis Badan Ekonomi Kreatif akan dapat dituntaskan. Pelaksanaannya akan sangat membumi dan berdaya-dampak (outcome-impact) tinggi. Di era Otonomi Daerah sekarang, semuanya tergantung pimpinan daerah yang keren untuk jalankan program-program keren. Ya, macam Pak Anas Banyuwangi dan Kang Emil Bandung gitulah…

Content always follows structure, Sir. Birokrasi itu bekerja khas (dan terkesan lambat), sehingga dampak dari setiap kebijakan itu memang tak akan langsung dinikmati pemangku kepentingan hari ini. Saya belajar dari pembentukan institusi KPI versus KPK, dan bagaimana penting sekali membangun rumah yang nyaman sebelum seluruh isi rumah berkegiatan dengan lebih produktif. Semoga ya Bekraf…

loop

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juni 28, 2015 in public policy

 

Tag: , , , ,

Seleksi PPDB 2015: It is a competition of “Apple to Kesemek”


Boleh dong kritisi seleksi masuk SD, SMP hingga SMA/SMAK Negeri tahun ini? Ya selama konstruktif (bukan emosional gitchuuuw), tentu boleh. Lagipula ini wordpress saya, tong sampah atas pemikiran-pemikiran saya. Jadi begini, saya baru melihat kalau seleksi itu dibagi 3 loket: IPA, IPS dan terkadang Bahasa. Kalau sekarang (di situs web PPDB (Penerimaan Peserta Didik Baru) DKI Jakarta itu ya MIA, IIS dan IIB.

Nah, yang lucu itu parameter seleksinya via UN (ujian nasional) ya cuma materi IPA dan Matematika saja yang berbau MIA (matematika dan ilmu-ilmu alam). Tak ada ilmu-ilmu sosial disaring jika anak ingin masuk IPS. Sementara itu Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris, materi yang diuji di UN juga, menjadi parameter seleksi diterima atau tidaknya seorang anak masuk di Sistem PPDB ini. Dan tidak semua SMA/SMAKN itu memiliki Jurusan Bahasa. Untuk seleksi IIB (ilmu-ilmu bahasa ) yang jadi parameter ya dua ujian nasional untuk bahasa tadi. Yang jadi anak tiri itu ya IIS, karena tak ada ilmu sosial (ekonomi, geografi, sejarah, atau yang non-eksakta itu), yang diuji di UN.

Kelucuan kedua (mungkin apple to durian kali ya?) adalah nilai total mata ujian IPA-Matematika-Bahasa Indonesia-Bahasa Inggris itu artinya 4 bagian untuk 1 jurusan. Ada 3 jurusan, yang seakan diranking tertinggi itu MIA dan terendah itu IIB. Hmmm… inilah kerumitan sistem yang apple to kesemek, apple to durian, kedondong, duku, bengkoang dan beragam kecerdasan bocah itu. Semua buah dianggap apel. Kalau buahnya berbau menusuk, dianggap itu apel busuk? Cempedak itu enak, brader…

Karena tiap anak itu unik… paham?

imagessmart  

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juni 25, 2015 in public policy

 

Tag: , , , , , ,

Dasawisma: Sebuah Konsep Berjaringan Ibu-ibu Tahu Segalanya


Ya, betul! Ibu-ibu itu memang superwoman sekali.

Saya baru selesai membaca semua peraturan perundang-undangan terkait PKK (sekarang Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga) yang sebelumnya sempat mati suri setelah memenangkan beberapa penghargaan UNESCO dan membuat sukses program nasional Keluarga Berencana di era Presiden Soeharto. Sejarah PKK ini saya lampirkan di bawah. Dan ibu-ibu semua strata pendidikan itu harus tahu segalanya!

Apa itu “Dasawisma”? “Dasa” adalah 10 dan “Wisma” adalah rumah, sehingga bisa langsung dimengerti arti lengkapnya adalah 10 rumah. Lalu ada apa dengan 10 rumah? Dasa wisma adalah kelompok ibu berasal dari 10 rumah yang bertetangga. Kegiatannya diarahkan pada peningkatan kesehatan keluarga. Di mana PKK? Kader PKK bisa berasal dari 10 rumah itu (atas kesepakatan bersama), lalu ia akan mendorong program-program prioritas per periode kerja. PKK adalah organisasi yang bisa memiliki hierarki dan hubungan dengan lembaga pemerintahan desa hingga pemerintah pusat. Dasawisma hanya sebagai “obyek” pelaksanaan program nasional untuk tingkat terkecil (RT atau rukun tetangga).

dasawisma

Selanjutnya, sebagai bagian nuklir (terkecil) kegiatan Dasawisma itu terkait erat dengan Sepuluh Program PKK:

  1. Penghayatan & Pengamalan Pancasila
  2. Gotong Royong
  3. Pangan
  4. Sandang
  5. Perumahan dan Tata Laksana Rumah Tangga
  6. Pendidikan dan Keterampilan
  7. Kesehatan
  8. Pengembangan Kehidupan Berkoperasi
  9. Kelestarian Lingkungan Hidup
  10. Perencanaan Sehat

Bayangkan kalau disortir dari nomor 1 hingga 10 itu banyak sekali program-program kerja beberapa kementerian sekaligus yang diraih oleh PKK. Tahun ini gegap-gempita program ini diawali dengan inisiatif dari OASE-KK (Organisasi Aksi Solidaritas Era Kabinet Kerja) yang diketuai Ibu Negara, Ibu Iriana Joko Widodo, untuk “Program Nasional Pencegahan dan Deteksi Dini Kanker Leher Rahim”. Ingat, kaum perempuan yang sehat bisa menumbuh-kembangkan anak-anak dan keluarga yang sehat pula. Prioritas kesehatan ini hanya satu nomor dari 10 Program PKK.

Saat ini, program nasional kesehatan reproduksi wanita ini memasuki bulan ketiga. Selayaknya bentuk kebijakan publik, dampaknya tak akan terasa otomatis. Tahap di awal ini hanyalah tahap “awareness” bahwa lebih banyak perempuan  yang mawas diri akan adanya bahaya kanker leher rahim ini (dan mudahnya mencegah jika masih dalam stadium dini).

Untuk triwulan ke depan, jika ingin lebih terstruktur pelaksanaan sosialisasi hingga tes deteksi dini kanker leher rahim ini, ada baiknya memakai konsep Dasawisma. Informasinya bisa top-down (surat edaran Kementerian Dalam Negeri ke seluruh sendi pemerintahan tingkat daerah, khususnya di tingkat kelurahan). Pelaksanaannya bottom-up, dari Tim Penggerak PKK ke ibu-ibu Dasawisma secara konsisten dalam periode tertentu. It’s all about delivering the message to the right person at field. And let the message spread by itself… the laws of networking. Networking is just a mind game, a very personal one that goes viral.

Masih ada 7 topik kesehatan dalam program prioritas Kementerian Kesehatan di tahun 2015-2016. Masih ada 9 Program PKK yang juga patut dituntaskan di daerah-daerah, tergantung kekhasan daerah (dan tentunya kualitas pemimpin daerahnya). Mari kita berdayakan Dasawisma di lingkungan kita… bahkan hanya menyampaikan informasi ke ibu-ibu arisan satu RT yang biasa diselenggarakan sebulan sekali. Asal jangan sumpel ibu-ibu dengan istilah njlimet ya… lihat nih yang saya dapat dari buku pedoman Tim Penggerak PKK, hasil Rakernas Ke-7 Tahun 2010. MOUTHFUL! Dibuat sederhana kali yeeee…

  • ADD = Alokasi Dana Desa
  • B3 = Bahan Berbahaya & Beracun
  • BKB = Bina Keluarga Balita
  • Bumil = Ibu Hamil
  • Busui = Ibu Menyusui
  • GAKY = Gangguan Akibat Kekurangan Garam Yodium
  • HIMPAUDI = Himpunan Pendidikan Anak Usia Dini Indonesia
  • KB-KES = Keluarga Berencana Kesehatan
  • KEK = Kekurangan Energi Kronis
  • LILA = Lingkar Lengan Atas
  • Makanan 3 B = Beragam, Bergizi, Berimbang
  • MP-ASI = Makanan Pendamping Air Susu Ibu
  • P2LDT = Pembangunan Perumahan Lingkungan Desa Terpadu
  • P3PKK = Pengelolaan Program dan Penyuluhan (P3) Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga
  • PAUD = Pendidikan Anak Usia Dini
  • PHBS = Perilaku Hidup Bersih Sehat
  • PMT AS = Makanan Tambahan Anak Sekolah
  • PNPM = Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri
  • Posyandu = Pos Pelayanan Terpadu
  • SPAL = Saluran Pembuangan Air Limbah
  • TOGA = Tanaman Obat Keluarga
  • TPK3PKK = Tim Penggerak Ketua-Ketua Kelompok (TPK3) Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga
  • Tri Bina = Bina Usaha, Bina Manusia, dan Bina Lingkungan
  • UP2KPKK = Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga (UP2K) Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga

————————————————

  • Tahun 1957: bernama Pembinaan Kesejahteran Keluarga, Seminar Home Economics, Bogor, Kementerian Kesehatan khususnya Bidang Pendidikan dan Institut Gizi Masyarakat
  • Tahun 1960-1962: untuk menyusun modul pendidikan masyarakat, Kementerian Luar Negeri membentuk panitia antar kementerian (Kementerian Tenaga Kerja, Pertanian, Dalam Negeri, dan Agama). Koordinasi ini melahirkan 10 Program PKK (Suryakusuma 1991:56).
  • Tahun 1965: 10 Program PKK masuk dalam kegiatan Pertiwi (perkumpulan istri tentara) dan Dharma Wanita (perkumpulan istri pegawai negeri) di Jawa Tengah (Newberry 2006:15).
  • Memasuki tahun 1970: program PKK dilakukan di Pusat Pelatihan PKK yang dibiayai negara.
  • Tahun 1971: Kementerian Dalam Negeri mengusulkan agar PKK dilaksanakan di seluruh Indonesia.
  • Tahun 1973: Badan hukum menaungi PKK adalah Lembaga Sosial Desa (LSD).
  • Tahun 1974: PKK mulai melakukan kegiatan kampanye BKKBN untuk penggunaan kontrasepsi mengingat pegawai BKKBN terbatas (Shiffman 2004:4- 5).
  • Tahun 1980: LSD diubah menjadi LKMD (Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa). Di tahun ini, PKK dipindah dari tanggungjawab Kementerian Sosial ke Kementerian Dalam Negeri.
  • Tahun 1982: PKK yang berada di bawah koordinasi LKMD, diketuai istri pejabat desa dan jabatannya adalah Ketua II LKMD (karena Ketua I LKMD adalah Kepala Desa).
  • Tahun 1983: PKK masuk dalam GBHN, untuk diterapkan di 70 ribu desa (Suryakusuma 1991:56-57). PKK dibagi dalam beberapa bagian: sosial projects, sport & art, education, community relations, family planning, equipment, credit-savings program, and area commissioner (Gerke 1992:33).
  • 1988: PKK meraih penghargaan UNESCO “Maurice Pate Award” dan WHO “Sasakawa Prize”
  • Tanggal 2 Desember 1988: Presiden Soeharto menerima penghargaan “Global Statesman in Population Award” dari “The Population Institute” sebuah Lembaga Kependudukan Independen, Washington DC. USA., yang diakui PBB dan cukup berpengaruh di Amerika Serikat (sumber: Museum Purna Bhakti Pertiwi).
  • Tanggal 8 Juni 1989: Presiden Soeharto mendapatkan penghargaan UNPA (United Nation Population Award) atas “United Nations Population Award” atau “Global Statesmen in Population” karena PKK menjadi ujung tombak program BKKBN, karena semua wanita dewasa otomatis menjadi anggotanya, yang wajib menghadiri rapat bulanan (Janice C. Newberry, “Back Door Java: State Formation and the Domestic in Working Class Java”, University of Toronto Press, 2006 – Social Science – 200 pages)
  • Tahun 1995: Petugas lapangan BKKBN membantu pemberdayaan PKK mulai perencanaan keluarga hingga “manajemen politik” setempat (Shiffman 2004: 5).
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juni 23, 2015 in public policy

 

Tag: , , , , ,

Letting Go


— A too-intensed day today. Starting slow but got its peak before sunset.

I don’t really believe in miracles. I understand, however, that the universe works mysteriously and crazily in some ways. I must unlearn what I have learned–this was some Yoda wisdom that has entered my brain each time I remembered some things or persons that I was fond of. The harder I tried to let go, the stronger it came back to me. So sue me!

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juni 13, 2015 in public policy

 

Tag:

PKK, Posyandu dan Dasa Wisma


Malam ini ada topik baru yang melintas di kepala saya. Saya masih mencoba mencerna, dan besok siang pembahasan ini harus sudah menjadi KAK (kerangka acuan kerja) atau TOR (terms of reference). Terlalu lelah seharian memantau produksi video ibu-ibu terkait pemberdayaan masyarakat dengan teknologi aplikasi bergerak (mobile application). Random yah? Tapi semua saling terkait… connecting the dots.

Saya akan kembali jika tiga topik malam ini (PKK, Posyandu dan Dasa Wisma) sudah saya rangkaikan ke dalam KAK. Sebagai Bu RT di lingkungan saya, ketiga hal ini sudah merupakan keseharian saya. Untuk memvisikan lebih lanjut lagi (macam PTSP) ya saya harus membaca lebih banyak lagi.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Mei 25, 2015 in public policy

 

Tag: , , , , ,

Jealousy of Alternate Persona


Nuh-huh, I am misleading you with this title. I am now meditating, returning to Pooh corner or finding tranquil place to finish what I started: the story of Great Indonesia. So much for nothing if I don’t dig enough information on the subject. Yet, on how to finish the subject, too. Too anxious to start and finish this, I got so uneasy. But then again, I redirected my anger towards great reading and thinking further.

Now I am listing and checking on the crazy Kurt Vonnegut’s advise:

1. Use the time of a total stranger in such a way that he or she will not feel the time was wasted. CHECKED!
2. Give the reader at least one character he or she can root for. CHECKED!
3. Every character should want something, even if it is only a glass of water. CHECKED!
4. Every sentence must do one of two things — reveal character or advance the action. CHECKED!
5. Start as close to the end as possible. CHECKED! Hmm, tough though…
6. Be a Sadist. No matter how sweet and innocent your leading characters, make awful things happen to them-in order that the reader may see what they are made of. CHECKED!
7. Write to please just one person. If you open a window and make love to the world, so to speak, your story will get pneumonia. CHECKED!
8. Give your readers as much information as possible as soon as possible. To hell with suspense. Readers should have such complete understanding of what is going on, where and why, that they could finish the story themselves, should cockroaches eat the last few pages. CHECKED! Haha, love the sarcasm!

Or John Steinbeck’s?

1. Abandon the idea that you are ever going to finish. Lose track of the 400 pages and write just one page for each day, it helps. Then when it gets finished, you are always surprised.
2. Write freely and as rapidly as possible and throw the whole thing on paper. Never correct or rewrite until the whole thing is down. Rewrite in process is usually found to be an excuse for not going on. It also interferes with flow and rhythm which can only come from a kind of unconscious association with the material.
3. Forget your generalized audience. In the first place, the nameless, faceless audience will scare you to death and in the second place, unlike the theater, it doesn’t exist. In writing, your audience is one single reader. I have found that sometimes it helps to pick out one person—a real person you know, or an imagined person and write to that one.
4. If a scene or a section gets the better of you and you still think you want it—bypass it and go on. When you have finished the whole you can come back to it and then you may find that the reason it gave trouble is because it didn’t belong there.
5. Beware of a scene that becomes too dear to you, dearer than the rest. It will usually be found that it is out of drawing.
6. If you are using dialogue—say it aloud as you write it. Only then will it have the sound of speech.

Whatever! #LacakArtefak is more than physical but also mind-blowing stuff, OK? Waste no time on jealousy.

DSCN5118

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Mei 23, 2015 in public policy

 

Tag: , , , , , ,

Outbound, Inbound, Rebound in Tourism


This semester I am having a slightly different approach of teaching (AKA “methodology:?). For half of the semester, I only asked the students to forming and storming (out of four teamwork strategy: Forming, Storming, Norming, and Performing). The last two was meant something (surprise, surprise!) for them to conduct.

Amazingly, they catch up so fast. TOO FAST! And they are really performing, live search while I say a word in front of the class. Talk about speed of googling!

And what was the topic they need to form and storm? Yeap, not exactly related to the media business at first. It is about tourism. Why inbound? Why outbound? And nowhere to find for rebound?

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Mei 23, 2015 in public policy

 
 
Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 317 pengikut lainnya.