RSS

Museum Naga


Museum Naga ini adalah konsepsi awal museum swadaya masyarakat, yang terletak di situs-situs cagar budaya di seluruh Indonesia. Datang ke satu situs cagar budaya, tentu kita tak hanya swapotret (selfie) saja, namun juga memahami esensi setiap sudut pandang cagar budaya tersebut. Museum adalah salah satu yang bisa menjelaskan dengan dokumentasi dan deskripsi situs itu atas 4 hal: artifacts, ecofacts, ancient architeture, cultural landscape. Semuanya budaya material, yang kemudian bisa menjelaskan budaya immaterial, seperti prosesi/tradisi dan pranata kehidupan di situs itu.

Ada hal menarik dari Situs Batu Naga ini, bahwa ukiran (carving) yang ada di dua batu tersebut (dan mungkin masih banyak batuan serupa terkubur di sana), adalah adanya gambaran manusia dan makhluk lain yang sedang melukan prosesi khas. Naga menjadi gambar utama di situ, dengan manusia (ukuran lebih kecil) yang sedang memegang ekor naga. Konsepsi naga di seluruh dunia tak sama, tapi ia menjadi semacam penjelmaan makhluk perkasa yang mampu membawa banyak hal ke dunia: prosper, or disaster?

Mari sumbang ide dan pernak-pernik untuk melengkapi Museum Naga, inisiatif dari warga Desa Banjaran, di kaki Gunung Ciremai, atau 1,5 jam dari ibukota Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Any ideas are accepted! Yiuuukkkk….?

13707669_10207199678258929_8490179138991235666_n

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juli 24, 2016 in public policy

 

Jambi Heritage: Another Steps Forward


Identifying and archiving what my friend and I have found for the last 3 months were pretty much satisfying. The first time I flew to Jambi was in 2005. Unfortunately, due to thick haze, the plane could not see the runway. Two times failed to land, the plane returned to Jakarta. My bad!

This year, I managed to go to Jambi for the tenth time now! How have I got so much going on inside my head, yet so little time and energy… and now I am looking forward to Malam Keagungan Melayu Jambi. I am not the rempong panitia, but I really look forward to it! As much eagerness to Candi Muarojambi next step to Unesco’s World Cultural Heritage, and Geopark Merangin to Unesco’s World Natural Heritage. Ah, one more thing, Tengkuluk or Kuluk could be one of Intangible Cultural Heritage, just like Batik (the process, the traditions, and its philosophy of motives). Gotta love ’em all!

 
 

Boris Exit


Politik itu sami mawon ya? Malam ini diumumkan pengunduran diri PM Inggris, Dave Cameron. Dave dipilih dari pemilihan umum. Kalau ia mengundurkan diri, ini artinya Ratu Elizabeth II bisa meminta PM ini diganti dari oposisi rejim Dave (Partai Konservatf). Demokrasi bilang (mungkin ya) kalau yang sekarag gagal, saatnya oposisi naik. Ratu tidak meminta, dan naiklah paket Theresa May dari Partai Konservatif lagi. Ada Boris Johnson di belakang May. Mister Boris ini mantan walikota London (2008-2016) yang dorong-dorong agar Inggris keluar dari EU (European Union) melalui mekanisme demokratis namanya: Referendum. Proses ini ngetop dengan istilah #Brexit itulah.

Demokrasi, sebuah konsep yang digaungkan seratus tahun terakhir dari negara mata biru hijau. Sebelum Perang Dunia Pertama, banyak daerah di dunia dipimpin raja, kaisar, tzar, emperor, sultan, dan seterusnya. Sebelum ada namanya Indonesia juga begitu. Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) itu konsep “kekinian” setelah Jepang mengusir Belanda dan menduduki tanah tajir ini untuk memasok minyak dan logistik pasukan perang Jepang di World War 2. Perang Dunia itu adalah orkestrasi rusuh Eropa-Amerika-Asia, dan nyaris secuil jazirah Arab-Afrika. Aliansi Eropa Barat (Inggris dkk)  dan Amerika Serikat yang bertarung dengan Axis 3 Negara (Italia, Jerman, Jepang) untuk saling mencaplok daerah kekuasaan.

PBB (Persatuan Bangsa-Bangsa) atau UN (United Nations) kemudian lahir sebagai kesepakatan bangsa-banga di bumi ini agar tak lagi caplok-mencaplok dengan kekuatan senjata ini. Doktrin “self defence arms”  atau United Nations Charter VII : Action with Respet to Threats to the Peace, Breaches to the Peace, and Acts of Aggression memang pernah “diplesetin” oleh George W. Bush saat menyerang Irak yang memiliki “weapons of mass destruction” yang kimiawi, biologis ataupun apapunlah… padahal sepertinya Irak punya uranium yang dikuasai lalu diselundupkan rejim Bush? Wallahualam…

Nah, apa hubungannya Inggris, Amerika dan Irak? Dua juta penduduk Irak tewas karena serangan defensif (oxymoron!) pihak Amerika rejim Bush (Partai Republik) yang didukung Inggris rejim Blair (Partai Buruh). Pasukan Amerika yang dikirim mencapai 148 ribu, dan Inggris 45 ribu. Apa yang terjadi kemudian? Perang Irak (2003-2011) merembet ke Syria. Lalu sebagian besar jazirah Arab ikut rusuh. Di lain tempat, beberapa anggota Uni Eropa juga mulai mengalami kegagalan ekonomi dalam negerinya. Banyak pengungsi jazirah dan urban Yunani atau negara tetangga ke Inggris di satu waktu *gabruk* itu artinya ya kesetimbangan (ekuilibrium) ekonomi domestik mereka juga turut terganggu. Penumpukan-penumpukan ini semacam bisul yang kemudian dimanfaatkan Boris Johnson untuk mendukung ide referendum. Boris ini politisi licin sih, karena ia memiliki banyak skandal dan kebijakan palsu, sama palsu dengan rambutnya aneh Donald Trump (xixixi… ups!)  Lalu Theresa May juga sama rusuhnya dengan kawan sepaketnya ini.

Membaca situasi chaos di sana itu harus membaca dalam banyak dimensi yah… dan bagaimana dampaknya untuk Indonesia dan regional ASEAN? Orkestrasi situasi, timing and momentum are the most important factors to protect (defense?) ourselves from bad pendulum. We could think of many scenarios, like the game theory taught me.. it must be a non-zero sum game. Never one time only. Keep it all updated, peeps..

 

 

Juicy Stuff, Away!


This is about supply-side vs demand-side policies. For the last couple of days I tried so hard to simplify and calming my roaring thoughts. Someone has already given me a direction to focus and overcome the chaos inside. But do I have priorities? There goes nothing…

NORMApembangunan

He reminded me some 2 nights ago, “What are you? A Bappenas planner or just plain secretarial evaluator?” The latter I must say. But this so called unlearning thing was not too easy to brave. I agitated and my hair went blundered side-ways.

Anyhows, I really need to finish this within a week. “Dimensi Sektor Unggulan” vs “Kelompok III Perpres 7/2015″… must get off me. I need to really focus on below stuf:

profile.75adf325f0cd134d32d1e9b88458ba7a

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juni 22, 2016 in public policy, TCCI, tourism

 

Connecting the Dots


One pixel equals to one cross? Datsright. Salah satu hobi masa kecil saya adalah menyulam kristik, atau cross stitch. Menghitung dan menyilang untuk sebuah gambar indah. Melatih sabar dalam warna-warni itu yang saya sukai dari hobi ini. Hampir 10 hari saya mencoba melihat warna-warni hidup ini dari jauh. Ada yang belum harmoni dari persilangan dan perhitungan gambar saya hari ini.

Bingung? Ya, karena saya memang sedang bingung juga “mau diapain” segitu banyak data yang saya miliki (tapi belum tersambung indah itu). Antara berpikir “tesis-antitesis-sintesis” tapi terlalu mblusuk masuk ke detail data, itulah kekurangan saya. Ada dua buku yang harus saya selesaikan sebelum Lebaran. Satu laporan hocus pocus mumbo jumbo public policy thingy, yang lainnya target pribadi: buku kumpulan puisi.

Now what? Kenapa saya harus mikirin Sumber Daya Air yah, secara itu bukan ranah riset saya? Yeap, connecting the dots of many thoughts. Dan sekarang saya sedang melepuh di kesendirian… besok pagi harus ke pasar mencari peralatan menyulam sepertinya yah?

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juni 16, 2016 in public policy

 

Hibernated, Prioritized


Writing and reading. Yes, I got kinda fed up with the bling-bling life  that I cannot cooped up with. The thrill was something, but the reward was nothing. I could have written more, done something else for any good deeds or causes. For a week of “reclining ’em all”, I have finished writing another non fiction book with so so so tiresome (but satisfactorily wholesome) of deep research. What I love about writing is that I could onnect the loose ends, connecting those dots into something VOILA! I thought so, too! Or, ach so, I did not expect that…

The thrill is not for me. It is for others’ sake. I could confirm and conform them with new data, outrageous thoughts. But now, I must get out and meet some old buddies. Recharging after hibernating for a not-going-out-no-makeup-nor-dressup week is something. Yes, I only have few trustworthy, my-life-at-stake-trusted friends, and I always look forward to meeting those valuable friends. I keep them for keeping my life on track. Priority friends, see you tonite!

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juni 13, 2016 in friendship, introvert, lifestyle, public policy, trusts

 

A Book to Finish


Yeah right….

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Mei 27, 2016 in public policy

 
 
Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 368 pengikut lainnya