RSS

Diproteksi: Asymmetric Competition


Konten ini diproteksi dengan kata sandi. Untuk melihatnya cukup masukkan kata sandi Anda di bawah ini:

 
Masukkan kata sandi Anda untuk melihat komentar.

Ditulis oleh pada Februari 27, 2015 in competition

 

Tag:

Pegiat Kreatif dan Program Legislasi Nasional 2015-2019


Ada 160 Rancangan Undang-undang (RUU) yang disahkan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Repubik Indonesia tanggal 8 Februari 2015, dalam Program Legislasi Nasional (Prolegnas) 2015-2019 [klik SINI untuk daftar lengkapnya].

Ada 37 RUU yang menjadi prioritas pembahasan untuk tahun 2015 saja. Bandingkan 2013 ada 70 RUU yang masuk dan selesai hanya 10%, serta 2014 ada 66 RUU. Realistis kalau DPR dan Pemerintah hari ini hanya “mau” membahas 37 RUU saja [klik SINI untuk daftar lengkapnya]. Fokus dan efisien.

Tentunya, ada beberapa pertimbangan selain efisiensi dan pandangan realistis atas kemampuan diri. Salah satunya adalah kajian dari Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) yang melihat juga arah kebijakan, apakah untuk simplifikasi regulasi ataukah kekosongan regulasi. Simplifikasi regulasi ini wajib dilakukan oleh Pemerintah hari ini agar peringkat Indonesia dalam Global Competitiveness yang dikaji World Economic Forum, bisa naik. Salah satu yang menjadi beban pemerintahan bagi pelaku usaha global adalah regulasi [klik sini untukĀ Integrasi Kerangka Regulasi dalam Dokumen Perencanaan, kajian Bappenas].

Selanjutnya, dari 160 RUU yang akan dibahas dan (mudah-mudahan) disahkan selama lima tahun ke depan, ada dua fokus pegiat kreatif dari semua sub-sektor, yaitu RUU Ekonomi Kreatif dan RUU Kebudayaan. Draft RUU Kebudayaan sudah dibuat DPR dua tahun terakhir [klik SINI untuk RUU Kebudayaan – Hasil Panja 22 Januari 2014 dan klik SINI untuk NASKAH AKADEMIS RUU Kebudayaan ver.22.01.2014]. Sedangkan draft RUU Ekonomi Kreatif belum sama sekali dibuat.

Di sinilah sebenarnya peluang kawan-kawan pegiat kreatif untuk bisa memberikan masukan yang komprehensif, dan tak sekadar copy paste dari konsep yang diadopsi 2001 DCMS (Departement of Culture, Media and Sports) dari Inggris Raya dari kajian David Throsby]. Hal mendasar yang terlupakan adalah sesungguhnya terkait dengan Strategi Budaya, yang kemudian bisa dikaitkan dan dipaparkan lebih lanjut di RUU Kebudayaan. “Membaca” seluruh Kerangka Regulasi Prolegnas 2015-2019, khususnya untuk Ekonomi Kreatif Indonesia, dalam satu nafas, seperti yang telah dikaji Bappenas tersebut di atas.

Sementara itu, ada beberapa RUU terkait yang juga bisa dibaca dalam satu nafas untuk sektor kreatif ini, sebuah sektor yang sesungguhnya belum masuk dalam perhitungan Badan Pusat Statistik. Beberapa RUU itu di antaranya:

Khusus sektor:

  • RUU tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2009 tentang Perfilman
  • RUU tentang Arsitek
  • RUU tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian, Pengembangan, dan Penerapan Ilmu Pengetahuan
  • RUU tentang Konvergensi Telematika
  • RUU tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik
  • RUU tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran
  • RUU tentang Radio Televisi Republik Indonesia
  • RUU tentang Bahasa dan Kesenian Daerah

Khusus bisnis dan usaha:

  • RUU tentang Perkumpulan
  • RUU tentang Perkoperasian
  • RUU tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 40 tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas
  • RUU tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2003 tentang Badan Usaha Milik Negara
  • RUU tentang Badan Usaha Milik Daerah
  • RUU tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2000 tentang Desain Industri

Khusus pengaturan program kerja pemerintah terkait serta pengelolaan keuangan:

  • RUU tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan
  • RUU tentang Pajak Penghasilan
  • RUU tentang Lembaga Pembiayaan Pembangunan Indonesia
  • RUU tentang Peningkatan Pendapatan Asli Daerah

Beberapa telah memiliki draft awal, baik inisiatif Pemerintah ataupun DPR RI, dan beberapa lainnya memang baru berupa judul. Di setiap RUU ini diharapkan kawan-kawan kreatif bisa memberikan kontribusi yang lebih dalam. Kalau kita tahu caranya, kita gak boleh bengong ya…

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 24, 2015 in Prolegnas 2015-2019

 

Tag: , , , , , , , , ,

Mother Earth


Gaia is a personification of a mother earth. Pertiwi is another name. Why the blue gravity-heat-magnet planet means something of a more caring and protective persona? Yes. I go to my mother for bad days. I told any stories *bawel* when I was a kid, eventhough my mom was busy doing something else. I just need comfy of heart. “Ibu denger aja, aku mau cerita!” and even my youngest son approached me on daily basis with this same sentence.

Protect the earth, and it shall do the vice versa. Love you, too, Mom. Miss you so much. I am sorry I cannot protect you like ordinary people do. We are surely extraordinary mother-daughter of all time! *sweet dreams*

120303BEAUTIFUL_EARTH

Since this is a public policy blog that I own, despite my many blogs of other topics I seldom visit, I must say something about this specific policy: Earth Charter (see: earthcharter). Live long and prosper… Earth!

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 23, 2015 in CSR, mother

 

Tag:

:-)


8c7ef889a0617baf44e78ed41f3be2ee

Nuff said.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 22, 2015 in public policy

 

Damage Control


a52dc9388c7805b03458bae23d3c3384

A well-prepared plan must make room for 10% messed-up (DoD Damage Control Manual – jp1_03). But when one plan got busted after another, then I must decide. I cannot control random acts, nor mediocre teammates.

Some weeks ago I could notĀ  meet & greet the local govt officers properly for we were verrrrrry late (due to last-minute notice of detouring and picking some random friend who loved to travel, no specific target to travel, just travel!) and my many goals for the local govt officers just went off to smoke *sabar*

Last week a plan got cancelled, just for another random-travel excuses. *sabar*

Twice is enough.This week, another cancellation of a follow-up meeting. The excuse? Too many. Well, it is about time!

I need to surround myself with people who gonna challenge me to the next level, or else…

#changegeotagging #sabaradabatas

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 19, 2015 in public policy

 

Tag:

Diproteksi: What A Wonderful World? Guess my name…


Konten ini diproteksi dengan kata sandi. Untuk melihatnya cukup masukkan kata sandi Anda di bawah ini:

 
Masukkan kata sandi Anda untuk melihat komentar.

Ditulis oleh pada Februari 19, 2015 in just storytelling, not public policy

 

Tag: ,

Diproteksi: The One That Got Away


Konten ini diproteksi dengan kata sandi. Untuk melihatnya cukup masukkan kata sandi Anda di bawah ini:

 
Masukkan kata sandi Anda untuk melihat komentar.

Ditulis oleh pada Februari 9, 2015 in public policy

 

Tag: , , , , , , ,

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 295 pengikut lainnya.