RSS

Citizen Journalism

25 Nov

Salah satu upaya Republika di tengah ketatnya persaingan media cetak hari ini, adalah penerapan citizen journalism yang “iklan rekrutmennya” disiarkan di Radio One, sebagai sister company dari Republika. Per Januari 2007, ada beberapa kolom yang mengikutsertakan masyarakat meliput berita.

… lahir genre baru yang disebut Citizen Journalism. Ada pula yang menyebutnya sebagai Public Journalism, Participatory Journalism, maupun Interactive Journalism. Pembaca, pemirsa, dan pendengar bukan lagi hanya menjadi objek dari media massa tapi menjadi subjek. Mereka yang merencanakan, mereportase, dan menerbitkan sendiri.

Ada beberapa hal yang menjadi pemikiran saya saat mencermati isu ini:

  1. Bagaimana memantau obyektivitas pelaporan langsung dari masyarakat ini. Sebatas pelaporan macet di Jalan Panjang Kebon Jeruk kita masih mengucapkan terima kasih, namun jika membaca atau mendengar laporan dibarengi opini tentang macet, hasilnya: a never-ending story. Reporter Metro TV dalam program “Suara Anda” kerap kesulitan untuk memotong penelepon yang emosional atas topik yang dipilihnya, tapi produser tetap berkuasa untuk memutus telepon tanpa terkesan meremehkan penelepon. Penulisan opini di halaman 6-7 harian Kompas juga merupakan bentuk partisipasi masyarakat yang telah lahir lama. Kali ini, bentuk pelaporan digeser ke kolom-kolom reguler lain di harian Republika. Tentunya redaksi Republika berkuasa penuh atas mana yang b isa dimuat, diperbaiki, atau tidak dimuat sama sekali.
  2. Efisiensi sumber daya manusia versus insentif untuk masyarakat; daripada membangun jaringan kantor biro di setiap titik peristiwa di Indonesia, upaya jurnalisme partisipatif ini mungkin memberikan insentif ke masyarakat pelapor (contoh: kolom di koran), atau mungkin juga tidak (contoh: pelaporan macet dengan menelepon atau mengirim SMS ke radio). Satu-satunya manfaat dari jurnalisme tipe ini adalah berbagi informasi bagi pembaca ataupun pendengar lain (“agar tak terjebak macet seperti saya”).
  3. Porsi jurnalisme online (baca: blog) mungkin menekankan pada kredibilitas penulis agar setiap tulisannya bisa menjadi acuan orang yang membaca atau “online passers-by”. Terus terang, blog ini adalah tong sampah bagi pemikiran-pemikiran yang biasanya hanya saya diskusikan dengan suami atau sahabat. Jika ‘nyerempet berita yang ada, tentunya dalam kerangka berbagi hasil tentang apa yang telah saya diskusikan offline. Terakhir memang, saya tak menjadi kaya dengan menulis dalam blog, tapi pemikiran saya menjadi lebih terstruktur dalam rangka menyelesaikan masalah offline.

To the utmost, please think of both monetary and non-monetary incentives of any efforts you make everyday.

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada November 25, 2007 in public policy

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: