RSS

Berita Dewi Persik: Perlukah?

01 Des

Persik = Peach, a fruit with fleshy substance that is juicy, melting, and of fine flavor when matured and mellowed. Nah loh? Nanti mau bercerai, lalu rujuk, sebentar lagi cerai, lalu kemben mau melorot lagi, tak lama lagi adopsi anak, kemudian apa lagi?

Ibarat ikan mujaer goreng, berita itu baru basi dua kali duapuluh empat jam. Kalau mau digoreng terus, ada titik kering dan tetap bakal basi dalam waktu tak lebih seminggu. Sebagai penonton acara gosip setia, saya tetap takjub dengan Dewi Persik yang mampu menggoreng isu dirinya tak habis-habis.

Seorang penghibur sejati sekarang hidup di era seribu satu televisi, untuk itu ia memang harus selalu identik dengan skandal, agar tak tersalip ribuan rookie penghibur muda yang lebih segar dan bugar. Menggoreng isu itu juga yang terjadi dengan Madonna (tua-tua tetap mantap) yang beradegan panggung mencium bibir Britney Spears. Janet Jackson dan Justin Timberlake juga pernah kena skandal buah dada terbuka, yang berakibat bagi stasiun televisinya membayar US$550 juta karena menayang “kecelakaan” ini secara live. Hasilnya kemudian bahkan membuat FCC (Federal Communications Commission) membuat peraturan bahwa setiap siaran live harus tunda siar 5 detik! Hasilnya kemudian juga, bulan depannya Janet meluncurkan album terbaru. Apa jadinya kalau Madonna, Janet, Justin dan Britney Spears naik panggung bersama, ya?

Inilah sisi lain dari dunia hiburan: usaha penggorengan isu. Menaikkan popularitas (mau famous atau notorious, itu urusan belakangan), setiap seleb harus tahu momen dan ekspresi untuk menggoreng isu dirinya. Hal sama juga bisa dilakukan politisi yang seleb atau yang menikah dengan seleb (maaf, saya tidak sedang politicking). Jadi, buat semua penggemar acara gosip, silakan nilai apakah usaha Maia-Dhani itu adalah upaya melupakan Dewi-Dewi yang gagal, atau waspadalah bahwa usaha penghibur lawas terlibat narkoba itu untuk peluncuran album baru.

Jujur saya akui, dengan menonton gosip saya belajar memetakan bagaimana seorang seleb mencitrakan diri (atau mungkin upaya orang lain mendudukkan si seleb sebagai pesakitan atau sebaliknya, drug addict yang dijebak? What an oxymoron! A moron indeed…).

 

PS. Sebenarnya tulisan ini bentuk protes saya terhadap media yang memiliki porsi acara gosip yang signifikan.

Trivia Questions

Televisi kita hari ini:

1) Tak mampu menyajikan berita yang informatif; misalnya, dimana dijual bakso tikus, jamu gendong beracun? Tak etis menyebut narasumber?

JAWAB: Ya, jangan buat berita yang merugikan penjual bakso sapi asli atau pedagang jamu gendong berkualitet lain, dong.

2) Tak mampu membuat iklan layanan masyarakat instruksional; misalnya, mitigasi bencana banjir bandang, kebakaran, dst.?

JAWAB: Berita bencana di mana-mana, lupa ya membuat cara cerdas mengantisipasi bencana?

3) Tak bisakah membuat bumper program tentang tips praktis yang mencerdaskan penonton; misalnya mematikan TV jika tak ditonton?

JAWAB: Hemat listrik dimulai dari diri sendiri…

Iklan
 
3 Komentar

Ditulis oleh pada Desember 1, 2007 in informasi

 

3 responses to “Berita Dewi Persik: Perlukah?

  1. reeyo

    Desember 6, 2007 at 12:11 am

    menurut saya butuh yang lebih ekstrim lagi, jangan nonton televisi biar iklan tv turun dan stasiun bikin acara yang lenih bermutu

     
  2. Hardy

    Januari 26, 2008 at 10:48 am

    DEWI PERSIK TERLALU BOLOS BERPAKAIAN, TAPI TAK APALAH NAMA JUGA ARTIS.

     
  3. Mila

    Januari 26, 2008 at 10:54 am

    Iya, namanya juga artis. Dagangannya juga jelas ya? Kalau dagang ayam, tentu tak perlu plarat plorot.

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: