RSS

Ratatouille vs. Tikusbusukus (Mus musculus)

12 Des

Suami saya suka cemberut kalau saya sering leyeh-leyeh depan TV sambil menonton “acara tidak penting” seperti gosip atau film DVD terbaru. Tapi, seminggu ini tak berstatus  “potato couch”, saya terus terang kehilangan berita dan hiburan. Apalagi dua hari ini perjalanan ekspres ke Kalimantan menyusuri hutan, saya benar-benar tak bisa update berita dan gosip ternikmat. Sebagai gantinya memang saya bisa menikmati udara segar dan langit biru sepanjang jalan.

Sore ini kembali ke Jakarta, yang ada hanya langit mendung coklat abu-abu dan udara sesak. To get my blood runs to my veins again and fresh air fills my head, saya biasanya panggil tukang pijat. Olahraga di saat lelah adalah tindakan buruk, kata pakar di beberapa majalah wanita.

Memasuki lorong dekat rumah mencari tukang urut langganan, “semerbak” bau macam-macam bisa ditemui, mulai apek, asap rokok, hingga amoniak tikus. Tikusnya bahkan lari-lari di pojok dinding. “Teteh lagi pergi, sebentar saya sampaikan,” begitu jawab anaknya. Saya pulang, time to leyeh-leyeh again.

Sambil menunggu teteh urut, saya duduk depan TV dan memasang lagi DVD anak saya “Ratatouille”. Ow, rat story again. Takjub dengan tutur cerita film kartun ini, saya mengikuti gerakan tangan Remy si tikus Perancis jago masak itu.

Ratatouile bukan rat-atouille. Ratatouille (lengkapnya, Ratatouille Niçoise) adalah masakan sayur yang dimasak dengan cara dilempar ke udara. Masakan ini memang biasa dibuat untuk petani miskin di Perancis jaman dulu. Walau sekarang ada tambahan terong, dahulu itu campurannya hanya timun, tomat, cabe hijau merah, bawang merah dan bawang putih.

 

Hmm, sounds like my daily cookings… andai saja saya bisa memasak seperti Remy, mencium aroma, merasakan beda bumbu dapur yang satu dengan lainnya, lalu menakar semua dengan naluri *tikus* tentu saya tak akan memasak tumis orang miskin setiap hari. Kemarin kangkung, hari ini labu, besok kacang panjang, lalu sawi putih, atau pepaya muda… putar lagi dan seterusnya!

Lalu lewat suami saya…

“Aih, film ini membuat orang mencintai tikus.” *GUBRAK*! Oh iya ya, hari ini orang bisa bangun cerita terbalik-balik; apapun yang buruk jadinya the other way round? Suami saya terkadang suka komentar lebih cepat dari bayangannya. Eh itu motto Lucky Luke ya? Kalau Asterix, paling hanya bikin angka Romawi BLBI XXX alias [hehehe] Tikusbusukus ke laut aje.

Lalu teteh urut punya tambahan kerja: pijat otak saya. Fresh air and more bad news, please…

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Desember 12, 2007 in poverty

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: