RSS

Arsip Bulanan: Desember 2007

Vocab of the Day


Credit Crunch: (wikipedia) kondisi ekonomi di mana modal investasi sulit didapat; banyak bank dan investor bersikap hati-hati meminjamkan dana untuk korporasi, yang berakibat pada peningkatan utang produksi bagi para peminjam. Situasi ini biasanya kepanjangan dari masa resesi, atau lamanya penyehatan ekonomi. Peminjam ketakutan akan kebankrutan atau default yang menimbulkan naiknya bunga bank.

Christmas Tree: satu strategi perdagangan bursa yang dilakukan dengan membeli satu opsi kontrak (call option) dan menjual dua opsi lainnya pada harga berbeda. Sehingga jika secara terstruktur tergambar pohon natal. Strategi ini digunakan untuk investor yang percaya nilai saham akan terus naik.

CNN Effect: pengeluaran konsumer cenderung turun saat Perang Teluk 1991 atau saat kejadian teror 9/11 di mana orang lebih memilih menonton televisi. Walau begitu, CNN Effect (Dampak CNN) diragukan dapat mengubah seluruh arah ekonomi. Banyak barang kebutuhan tetap harus dibeli. Satu-satunya yang terkena dampak biasanya adalah restoran dan bioskop.

Cockroach Theory: teori pasar yang menegaskan bahwa saat sebuah perusahaan menyampaikan berita buruk ke publik, dipastikan bahwa masih ada berita buruk lainnya yang tidak diungkapkan saat itu. Istilah ini lahir dari perilaku kecoa yang muncul sendirian menandai masih banyak lagi yang masih tersembunyi.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Desember 23, 2007 in vocab

 

Vocab of the Day


Whistle Blower: (Wikipedia) whistle blower atau whistleblower adalah seorang pekerja atau bekas pekerja di institusi bisnis atau pemerintahan yang melaporkan perilaku atau kejadian atasannya atau orang yang memiliki kuasa di institusi itu; biasanya dengan harapan agar ada perbaikan sistem karena penipuan, korupsi atau hal-hal melanggar peraturan lainnya. Di Amerika Serikat ada Jeffrey Wigand atas skandal Big Tobacco, dan di Eropa ada Paul van Buitenen atas kejadian aneh di Komisi Eropa. Pertengahan Desember 2007 ini senat Amerika Serikat menyetujui perbaikan dan penguatan Whistleblower Protection Act (WPA) untuk staf pemerintahan federal. Ada sebuah produksi film tentang whistleblower, yang dibintangi Al Pacino dan Russel Crowe: The Insider (1999).

“OK, who blows the whistle in this board room? Raise hands…”

Spin Doctor: (phrases.org.uk) Spin doctor adalah agen pers atau publisis (biasanya berlatarbelakang jurnalisme) yang dipekerjakan untuk mengangkat atau membantu interpretasi sebuah agenda politis di media massa (catatan: bahkan terkadang bisa terkesan memelintir isu). Ada juga serial TV The Pretender (1996) yang mengangkat isu jurnalisme yang terjun ke kegiatan spin doctor.

“I have bad news and good news. Good news is that we’ve found ways to spin the bad news.”

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Desember 22, 2007 in vocab

 

Tiga Rahasia Pasar Tradisional


Setiap pagi saya naik sepeda menuju pasar tradisional, yang jaraknya lumayan jauh. Sengaja saya pilih pasar ini dengan dua alasan, pertama saya bisa berolahraga, dan kedua pasar ini “seperti” Passer Baroe (kiosnya berada di sepanjang jalan, tidak masuk ke dalam los-los sehingga saya hanya duduk di atas sepeda untuk bertransaksi). Anak saya selalu bertanya saat saya tiba di rumah, “Ibu dari pasar bau, ya?”

Alasan saya sebenarnya ada tiga. Dengan uang yang sama, saya mendapatkan lebih banyak jika berbelanja di pasar tradisional. Bisa saja saya tinggal duduk di rumah menunggu Bang Hasan, tukang sayur gerobak lewat setiap pukul 7.30 pagi. Saya menyukai tawar-menawar di pasar tradisional, walau hanya sekadar limaratus rupiah.

Kebiasaan ini saya lakukan mulai Idul Fitri tempo hari, saat ditinggal pulang “asisten rumah tangga”. Saya mulai menyukai kegiatan rutin ini, karena secara nyata saya tahu bagaimana harga bawang bergerak naik, daging sapi dan ayam bergerak turun lalu naik lagi. “Seribu cabe merah,’Yu” akan berbeda jumlah cabenya jika kita membeli di tempat langganan. Ada rasa “trust” di antara pembeli dan pelanggan yang terbangun baik.

Hari ini saya banyak men-download tulisan jurnal di luar negeri dengan kata kunci “traditional market”. Saya mampir di http://www.traditionalmarket.co.uk. dengan konsep pasar tradisional yang berbeda dengan pasar tradisional di Indonesia. Tapi tiga rahasia mereka adalah: kualitas, suasana dan profesionalisme. Menarik…

Kualitas: tentu pembeli menginginkan ikan yang masih segar (lihat insang masih berwarna cerah atau tidak) atau tempe yang sempurna (seluruh pori-pori terbalur sebagai hasil fermentasi yang baik).

Suasana: pasar tradisional yang saya datangi di musim hujan begini menjadi kubangan lumpur yang membuat saya yang bersepeda diuntungkan (tidak sering-sering menjejakkan kaki ke tanah becek). Sungguh suasana becek bukan halangan, karena dengan penjual “serba-ada” langganan, saya selalu disapa “Tuku opo, ‘Yang? Tempe’ne apik…” Terkadang gelak tawa terdengar di kios tukang kelapa di sela-sela lamunan nenek penjual ikan asin.

Profesionalisme: pedagang ikan langganan mengerti bahwa saya tak suka membersihkan sisik ikan, jadi otomatis dibersihkan. Penjual tahu juga selalu memberi lebih jika saya membeli lima ribu rupiah. Saya juga tidak akan diberikan sayuran yang layu oleh ‘Yu Pon langganan saya.

Intinya adalah ada kenikmatan berbelanja di pasar tradisional juga. Saya bisa mengetahui harga atau kuantitas di kios ini lebih menguntungkan dibandingkan di kios ujung sebelah sana. Saya juga suka dengan kualitas tahu di dekat tukang ayam langganan, sehingga tak ingin pindah ke tukang tahu lain. Inilah konsep-konsep dasar ekonomi yang saya pelajari di pasar tradisional. Sekarang adalah masalah waktu dan itikad pemerintah daerah untuk meremajakan pasar tradisional tanpa harus mengubah nilai dari tiga rahasia pasar tradisional.

 
10 Komentar

Ditulis oleh pada Desember 20, 2007 in kualitas, pasar tradisional, profesionalisme, suasana

 

Ind-novate?


Museum Kerkhoven, Lembang belum dibuka untuk umum?

Pak Guru Setiyana (Kompas halaman 16 hari ini) harus membuat alat peraga sendiri?

Lalu kenapa yang dikirim ke ITU bukan duo-menteri (Menkominfo dan Menristek) sekalian? Masalah kapling atau leading sector?

Ini hanya sekelumit permasalahan Indonesia belum paham betul faktor T dalam kehidupan sehari-hari. Kemarin saya menonton “Meet the Robinsons” dan hari ini anak saya menonton “Robots” yang mengangkat tokoh utama “innovator & inventor” mulai dari sekadar mesin pembagi rata peanut butter & jelly di atas roti hingga mesin waktu. Menonton sinetron seragam SD hingga SMA, yang muncul melulu bentak dan tangis.

Fortune edisi 3 Desember 2007 mengupas sedikit forum internasional BT-Fortune Innovation Summit-Asia, yang mungkin bukan mainan birokrat negeri ini (lihat www.biggerthinking.com). Ind-novate? Yuk…

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Desember 19, 2007 in technology

 

Situs Direktori Pemerintahan


Ada satu hal paling mendasar dalam frasa “kebijakan publik”, bahwa kebijakan dibuat untuk kemaslahatan publik. Pengambil kebijakan adalah orang yang diberi amanat [oleh publik]. Banyak penjabaran alamiah dan termutakhir yang bisa dipaparkan, tapi yang ingin dibahas kali ini adalah situs direktori pemerintahan sebagai bagian dari pemerintahan yang bertanggungjawab terhadap rakyatnya.

Silakan membuka www.direct.gov.uk dan bandingan dengan www.indonesia.go.id, dan bila diperhatikan kedua situs direktori pemerintahan ini memiliki “nyawa” yang berbeda. Situs direktori Inggris melulu mengangkat pelayanan publik di segala sektor dan memudahkan proses administrasi rakyatnya. Dibagi dalam kategori:

* Crime, justice and the law
* Education and learning
* Employment
* Environment and greener living
* Health and well-being
* Home and community
* Money, tax and benefits
* Motoring
* Rights and responsibilities
* Travel and transport

Bandingkan dengan http://www.indonesia.go.id:

* Profil Indonesia
* Visi Misi Dan Strategi
* Departemen/Kementerian
* Perwakilan Negara
* Pemerintah Daerah
* LPND
* BUMN/BUMD

“Aku adalah pengambil keputusan negeri ini” dan “aku adalah pelayan publik negeri ini” adalah dua hal yang berbeda.  Saya menemukan situs Sragen (www.sragen.go.id) sebagai situs sederhana yang memakan waktu lama dibuka, dan situs www.kebumen.go.id sebagai ajang kampanye Pilkada 2008. Sragen mencantumkan “Pelayanan Publik” namun hanya nomor telepon dan alamat kantor polisi dan lain-lain. Kebumen lebih banyak lagi daftar direktori alamat dan nomor telepon, namun memiliki banyak ghost link atau bagian yang tercantum namun tak bisa diakses.

Yang sama dari situs-situs pemerintahan Indonesia adalah: tak ada informasi detail “how to” yang menjelaskan kepada publik tentang segala peraturan perundangan. Situs adalah salah satu bentuk good governance dalam rangka menjalankan amanat dan semangat reformasi di negeri ini. Situs pemerintahan daerah adalah cara untuk mengkomunikasikan kesepakatan atas aturan main di daerah tersebut. Satu yang mungkin bisa membantu di waktu dekat adalah apabila situs-situs pemerintahan juga mencantumkan Q&A (questions & answers) bagaimana menjadi rakyat Indonesia yang baik. Bagaimana?

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Desember 19, 2007 in good governance

 

Tulisan Tidak Penting: Spesies Baru


Hari ini menjadi hari tidak penting. Antiklimaks. Hari perenungan. Mendung sepanjang hari.

Membaca berita Detikcom pun yang ringan dan lucu saja. Seperti tikus besar (sekali lagi, tikus) di Papua, yang ditemukan rombongan ekspedisi dari LIPI dan CI (Conservation International).

Tak usah jauh-jauh, kalau malam di depan rumah saya pasti ada tikus sebesar kucing yang lari-lari. Pernah seorang bule bilang ke saya, kalau sudah ada tikus lari-lari di dalam apartemen di Inggris sana, berarti apartemen itu sudah termasuk slum area atau daerah kumuh. Apartemen miskin, singkatnya.

Saya balas ke bule itu, “Hebat sini dong Sir, tikus Indonesia bisa juga main di Menteng atau di dekat Stasiun Gambir.”

Kalau di Amerika jadi kartun dan merchandise-nya dijual ke mana-mana, di sini ia jadi bakso dan dimakan pakai boraks dan sambal pewarna tekstil.

Di sini manusianya seperti kucing, karena nyawanya bisa sembilan. Naik kereta di atas atap, jadi kalau jatuh tinggal tiarap. Naik motor disenggol mobil, paling salam damai lalu tersisa pegel saja. Antri lampu merah sepuluh menit di belakang bajaj juga paling kita berdehem dan kipas-kipas. Di sini, yang lebih mematikan saja kita sudah biasa.

Orang Indonesia itu sembilan nyawanya. Jadi, tikus  Indonesia itu bukan ancaman segala penyakit (miskin, pes, dll.). Ia adalah kawan bermain, Sir.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Desember 18, 2007 in curhat, tikus

 

Orang Gak Penting yang Menjadi Penting


Pernah tidak Anda berada di satu situasi berhadapan dengan seseorang yang nobody menjadi somebody? Menyangkut hidup mati atau uang hilang dalam hitungan waktu (deadline, deadline!) lalu di saat itulah Anda pasrahkan saja semua. Anything goes…

Pasrah, ini yang saya rasakan sejak pukul 3 sore tadi. Orang sudah berpikir “liburan, liburan”… jangankan berpikir liburan, makan saja saya sudah lupa untuk mengejar tenggat waktu penyerahan tesis saya. Saya sudah masukkan proposal tepat waktu, ikuti semua persyaratan dan prosedur.  ZAP! hari ini saya harus duduk dua jam menghadap beringin kampus untuk sebuah kepastian. Tak masalah sebenarnya karena saya punya handphone dengan radio FM, dan setumpuk bacaan menemani. Yang jadi masalah adalah kepastian, jadi tidaknya saya “maju” hari ini atau besok. Hasilnya adalah “tidak” hanya karena saya tidak menuliskan prasyarat tambahan di secarik kertas coklat (yang sudah saya ajukan jauh hari namun tidak diberikan). Karena kertas yang saya berikan tak berwarna coklat walau penuh tandatangan otoritas, saya tak bisa cepat-cepat maju. Kawan yang satu angkatan memasukkan berkas setelah saya, besok dia sudah maju. Nasib…

Rasanya campur-campur antara tentara kalah perang, nyamuk gendut kebanyakan sedot darah, pesawat mesin mati satu, dan kambing belum mandi… loh? Akhirnya saya mempersiapkan diri juga liburan, beli DVD baru sebanyaknya, dan memang sudah lama saya tak update film terbaru. “Nanny Diaries” sudah selesai, sedih tapi tak semantap membaca novelnya. Scarlett Johansson cantik tapi kurang greget. Habis itu saya nonton “Meet the Robinsons” kartun produksi Walt Disney. Sejam lalu anak-anak saya masih main di lapangan saat saya duduk menikmat animasi tentang inventor muda bernama Louis jabrik ini. Gambar bagus, namun soal cerita saya masih lebih suka produksi Pixar. Saya tinggalkan TV sepuluh menit lalu, saat jagoan-jagoan saya gedebak-gedebuk masuk rumah dan duduk manis depan TV.

Selamat liburan panjang semua, selamat potong kambing, selamat beribadah, dan selamat merenung untuk tahun depan.

*Saya sudah selesai merenung*

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Desember 18, 2007 in curhat