RSS

Arsip Bulanan: Desember 2007

Pasar Monopoli v. Oligopolistik v. Monopolistik v. Persaingan Sempurna


Ada pernyataan seorang kawan akhir-akhir ini, saat bertemu dengan pelaku pasar televisi berlangganan di Indonesia. Sebelum sering-sering bermain ke Gorontalo dan Balikpapan untuk melihat dan mendaftar pemain-pemain kecil spanyol*, ada baiknya konsepsi dasar tentang struktur pasar harus dipahami secara mendalam. Saya jadi tersenyum sekaligus menggeleng, “Kenapa juga pasar oligopolistik jadi merugikan masyarakat?” Pak, jangan memberikan pernyataan sebelum melakukan riset dan pendalaman pemahaman, ya.

***

Pasar monopoli pun bisa terjadi secara alamiah, karena penguasaan teknologi atau modal kapital yang besar. Saat sang pemain monopoli ini mulai melakukan tindakan merugikan masyarakat (dan ada hitungannya), di saat ini pula kebijakan persaingan usaha berperan.

Secara singkat ada sedikit perbedaan antara persaingan sempurna dengan monopolistik:

Pasar persaingan sempurna:

  • banyak pembeli dan banyak penjual
  • produk yang homogen
  • informasi produk cukup
  • free entry

Pasar persaingan monopolistik:

  • banyak pembeli dan banyak penjual
  • produk yang terdiferensiasi
  • informasi produk cukup
  • free entry

Produk yang mirip bisa terdiferensiasi karena geografi (lokasi Alfamart di dekat rumah saya lebih nyaman ditempuh daripada Indomaret lima rumah di sebelahnya). Alfamart itu berada di daerah yang tidak terlalu ramai untuk diseberangi dibanding Indomaret. Produk yang mirip juga bisa terdiferensiasi karena iklan yang terus-menerus. Cairan pencuci rambut (shampoo) merek Sunsilk yang berbotol hijau adalah untuk pengguna jilbab. Apa isinya berbeda dengan yang botol kuning, merah muda ataupun biru? Mungkin hanya wewangian dan pewarna yang berbeda, tetapi semuanya tetap cairan pencuci rambut dari bahan kimia sama.

Lalu apa oligopolistik? Di pasar ini, keputusan harga berada di segelintir pemain, walaupun berada di banyak pemain. Sebagai price leaders, segelintir pemain ini bisa membuat skema sebagai berikut:

  • Perusahaan oligopoli berkonspirasi dan berkolaborasi untuk membuat harga monopoli dan mendapatkan keuntungan dari harga monopoli ini
  • Pemain oligopoli akan berkompetisi dalam harga, sehingga harga dan keuntungan menjadi sama dengan pasar kompetitif
  • Harga dan keuntungan oligopoli akan berada antara harga di pasar monopoli dan pasar kompetitif
  • Harga dan keuntungan oligopoli tak dapat ditentukan, indeterminate.

Di sini, barulah kita bermain dalam sebuah teori permainan. Game theory. Ada tata cara bermain dan penaltinya juga! Dilanjutkan nanti ya…

* Catatan: spanyol = separuh nyolong, sebuah istilah yang dikemukakan oleh seorang filantropis pemilik satelit negeri ini, “Sesungguhnya inilah Indonesia Raya, negara kepulauan yang tak mampu diurus semuanya di pusat.”

 
49 Komentar

Ditulis oleh pada Desember 24, 2007 in competition, theory

 

Beware: Slow News Day


Akhir tahun adalah saat koran menipis, kantong duit liburan menebal (juga perlahan menipis), dan khusus tahun ini sinar matahari juga turut irit. Para pengambil keputusan sedang berlibur. Ada yang ke Cipanas, Jawa Barat, ada juga yang ke Seminyak, Bali. Para hakim dan birokrat lain juga libur. Yang tidak libur adalah air pasang, angin kencang, dan distribusi beras miskin.

Miskin? Cerita yang tidak pernah selesai. Isu data kemiskinan mengingatkan saya pada episode serial TV West Wing (Martin Sheen dkk) yang juga ingin mengangkat social security di akhir tahun. Tak peduli rakyat mau miskin atau tidak, pilkada Sulsel tidak kunjung titik. Isu yang tak punya greget kecuali “putusan MA yang tak konsitusional” karena yang ada hanya penghitungan ulang, bukan putusan versi referendum. Gambar macet di Pasteur mungkin juga menghambat niat orang Jakarta dengan sedikit uangnya untuk berbelanja kue di Kartika Sari.

Tak perlu repot dengan semua isu di koran. Mungkin juga tak ada yang membaca koran di sela-sela ngopi memandang hijaunya rumput Istana Cipanas atau saat pijat spa menunggu sunset di Pantai Kuta. Saya adalah sedikit dari orang yang tidak berlibur (catatan: “libur” dalam istilah koran selama ini). Alasannya, satu, saya sudah berkeliling Indonesia di saat tugas dan terkadang membawa anak saya menikmati suasana dan mempelajari semua hal sepanjang perjalanan. Dua, dan yang paling lumrah: susah transportasi atau macet di jalan.

Liburan saya tetap jalan-jalan ke pasar tradisional. Paradoks juga, pasar tradisional tempat saya biasa belanja tak mengenal hari libur panjang akhir tahun. Mungkin hanya Lebaran saja mereka pulang kampung, selebihnya adalah berdagang seperti biasa (business as usual).

Kemarin ada sedikit sentilan dari Gus Choy (maaf Gus, saya lebih senang menulis begini daripada “Gus Choi”), bahwa di sisa tahun menjadi presiden ini, SBY harus membatasi perjalanan ke luar negeri. Nasehat yang bagus, tapi saya sebagai orang awam lebih memilih bertanya, “Pak SBY, resolusi tahun depan apa ya?”

Resolusi saya adalah perbaikan gizi anak saya dan pelajaran sekolah mereka. Dimulai dua hari terakhir ini, saya ajak si sulung ke pasar tradisional untuk “belajar IPA dan Matematika”. Jika ikan bawal tiga ekor harganya empat ribu, jadi berapa harga seekornya, Nak? Atau saya langsung menantang dia untuk bertanya berapa harga telur puyuh satu bungkus itu. “Katanya mau makan sop telur puyuh…” Pulang dari pasar, kita google bareng gambar burung puyuh yang punya telur sekecil itu, dibanding ayam dengan ukuran telur lebih besar.

Tak ada hari libur untuk seorang ibu, ‘kan?

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Desember 24, 2007 in pasar tradisional

 

Vocab of the Day


Credit Crunch: (wikipedia) kondisi ekonomi di mana modal investasi sulit didapat; banyak bank dan investor bersikap hati-hati meminjamkan dana untuk korporasi, yang berakibat pada peningkatan utang produksi bagi para peminjam. Situasi ini biasanya kepanjangan dari masa resesi, atau lamanya penyehatan ekonomi. Peminjam ketakutan akan kebankrutan atau default yang menimbulkan naiknya bunga bank.

Christmas Tree: satu strategi perdagangan bursa yang dilakukan dengan membeli satu opsi kontrak (call option) dan menjual dua opsi lainnya pada harga berbeda. Sehingga jika secara terstruktur tergambar pohon natal. Strategi ini digunakan untuk investor yang percaya nilai saham akan terus naik.

CNN Effect: pengeluaran konsumer cenderung turun saat Perang Teluk 1991 atau saat kejadian teror 9/11 di mana orang lebih memilih menonton televisi. Walau begitu, CNN Effect (Dampak CNN) diragukan dapat mengubah seluruh arah ekonomi. Banyak barang kebutuhan tetap harus dibeli. Satu-satunya yang terkena dampak biasanya adalah restoran dan bioskop.

Cockroach Theory: teori pasar yang menegaskan bahwa saat sebuah perusahaan menyampaikan berita buruk ke publik, dipastikan bahwa masih ada berita buruk lainnya yang tidak diungkapkan saat itu. Istilah ini lahir dari perilaku kecoa yang muncul sendirian menandai masih banyak lagi yang masih tersembunyi.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Desember 23, 2007 in vocab

 

Vocab of the Day


Whistle Blower: (Wikipedia) whistle blower atau whistleblower adalah seorang pekerja atau bekas pekerja di institusi bisnis atau pemerintahan yang melaporkan perilaku atau kejadian atasannya atau orang yang memiliki kuasa di institusi itu; biasanya dengan harapan agar ada perbaikan sistem karena penipuan, korupsi atau hal-hal melanggar peraturan lainnya. Di Amerika Serikat ada Jeffrey Wigand atas skandal Big Tobacco, dan di Eropa ada Paul van Buitenen atas kejadian aneh di Komisi Eropa. Pertengahan Desember 2007 ini senat Amerika Serikat menyetujui perbaikan dan penguatan Whistleblower Protection Act (WPA) untuk staf pemerintahan federal. Ada sebuah produksi film tentang whistleblower, yang dibintangi Al Pacino dan Russel Crowe: The Insider (1999).

“OK, who blows the whistle in this board room? Raise hands…”

Spin Doctor: (phrases.org.uk) Spin doctor adalah agen pers atau publisis (biasanya berlatarbelakang jurnalisme) yang dipekerjakan untuk mengangkat atau membantu interpretasi sebuah agenda politis di media massa (catatan: bahkan terkadang bisa terkesan memelintir isu). Ada juga serial TV The Pretender (1996) yang mengangkat isu jurnalisme yang terjun ke kegiatan spin doctor.

“I have bad news and good news. Good news is that we’ve found ways to spin the bad news.”

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Desember 22, 2007 in vocab

 

Tiga Rahasia Pasar Tradisional


Setiap pagi saya naik sepeda menuju pasar tradisional, yang jaraknya lumayan jauh. Sengaja saya pilih pasar ini dengan dua alasan, pertama saya bisa berolahraga, dan kedua pasar ini “seperti” Passer Baroe (kiosnya berada di sepanjang jalan, tidak masuk ke dalam los-los sehingga saya hanya duduk di atas sepeda untuk bertransaksi). Anak saya selalu bertanya saat saya tiba di rumah, “Ibu dari pasar bau, ya?”

Alasan saya sebenarnya ada tiga. Dengan uang yang sama, saya mendapatkan lebih banyak jika berbelanja di pasar tradisional. Bisa saja saya tinggal duduk di rumah menunggu Bang Hasan, tukang sayur gerobak lewat setiap pukul 7.30 pagi. Saya menyukai tawar-menawar di pasar tradisional, walau hanya sekadar limaratus rupiah.

Kebiasaan ini saya lakukan mulai Idul Fitri tempo hari, saat ditinggal pulang “asisten rumah tangga”. Saya mulai menyukai kegiatan rutin ini, karena secara nyata saya tahu bagaimana harga bawang bergerak naik, daging sapi dan ayam bergerak turun lalu naik lagi. “Seribu cabe merah,’Yu” akan berbeda jumlah cabenya jika kita membeli di tempat langganan. Ada rasa “trust” di antara pembeli dan pelanggan yang terbangun baik.

Hari ini saya banyak men-download tulisan jurnal di luar negeri dengan kata kunci “traditional market”. Saya mampir di http://www.traditionalmarket.co.uk. dengan konsep pasar tradisional yang berbeda dengan pasar tradisional di Indonesia. Tapi tiga rahasia mereka adalah: kualitas, suasana dan profesionalisme. Menarik…

Kualitas: tentu pembeli menginginkan ikan yang masih segar (lihat insang masih berwarna cerah atau tidak) atau tempe yang sempurna (seluruh pori-pori terbalur sebagai hasil fermentasi yang baik).

Suasana: pasar tradisional yang saya datangi di musim hujan begini menjadi kubangan lumpur yang membuat saya yang bersepeda diuntungkan (tidak sering-sering menjejakkan kaki ke tanah becek). Sungguh suasana becek bukan halangan, karena dengan penjual “serba-ada” langganan, saya selalu disapa “Tuku opo, ‘Yang? Tempe’ne apik…” Terkadang gelak tawa terdengar di kios tukang kelapa di sela-sela lamunan nenek penjual ikan asin.

Profesionalisme: pedagang ikan langganan mengerti bahwa saya tak suka membersihkan sisik ikan, jadi otomatis dibersihkan. Penjual tahu juga selalu memberi lebih jika saya membeli lima ribu rupiah. Saya juga tidak akan diberikan sayuran yang layu oleh ‘Yu Pon langganan saya.

Intinya adalah ada kenikmatan berbelanja di pasar tradisional juga. Saya bisa mengetahui harga atau kuantitas di kios ini lebih menguntungkan dibandingkan di kios ujung sebelah sana. Saya juga suka dengan kualitas tahu di dekat tukang ayam langganan, sehingga tak ingin pindah ke tukang tahu lain. Inilah konsep-konsep dasar ekonomi yang saya pelajari di pasar tradisional. Sekarang adalah masalah waktu dan itikad pemerintah daerah untuk meremajakan pasar tradisional tanpa harus mengubah nilai dari tiga rahasia pasar tradisional.

 
10 Komentar

Ditulis oleh pada Desember 20, 2007 in kualitas, pasar tradisional, profesionalisme, suasana