RSS

Arsip Bulanan: Januari 2008

Productividad, Produktivität, Productivité, Productiviteit


Sore ini, sepulang dari Rawamangun, saya memicingkan mata saat memerhatikan kehidupan di satu daerah kumuh (yang tak tahu nama pastinya) di sekitar Jl Letjen Suprapto Jakarta Pusat.

Waktu masih menunjukkan pukul 15.30 dan sepanjang 1 km jalan saya temui sekitar 300 orang segala usia duduk-duduk, lari-lari, tertawa, menonton, melamun di ujung gang, di pos jaga, atau di depan warung. Hanya sekitar 20% yang masih di bawah dan di atas usia produktif. Saya meneruskan perjalanan…

Setibanya saya di salah satu kantor pemerintah yang berdiri megah mewah 8 lantai, meja-meja kosong. Dari 20 meja yang ada, hanya ada 5 orang duduk. Satu menelepon tertawa-tawa, satu bermain game di komputer, dan satu berdandan memegang cermin. Hanya ada dua orang yang benar-benar bekerja: satu membereskan dokumen dan satu duduk mengetik membelakangi saya (sehingga saya bisa melihat layar monitornya). Jam di telepon genggam saya masih menunjukkan angka 15.45.

Keluar dari kantor itu, saya temui banyak tukang ojek di pojok jalan dan di seberang jalan. Lebih dari sepuluh orang duduk menunggu penumpang. Saya pernah kenal satu tukang ojek yang bermodalkan motor kredit (cicilan Rp 500 ribu per bulan). Bagaimana ia harus menunggu penumpang dari jam 6 pagi hingga 8 malam untuk bisa mengantongi uang Rp 50 ribu per harinya. Ia harus membayar uang “kamar” bersama anak dan istrinya seharga Rp 200 ribu per bulan. Makan sehari bisa Rp 10-20 ribu sehari. Belum uang rokok. Uang sekolah bisa jadi masuk daftar terakhir.

Di rumah, 3 dari “asisten rumah tangga” saya hanya bisa mengecap pendidikan SD. Dua orang lulus SD dan hanya 1 yang hanya bisa sampai kelas 2 SD. Usia mereka sekarang antara 18 tahun hingga 24 tahun. Yang berusia 24 tahun ini sudah memiliki anak 4 dan ditinggal di rumah bersama suami yang buruh pabrik rokok. Di RT sebelah bahkan ada yang “mempekerjakan” Siti, anak dari si Mbok tukang cuci yang masih berusia 10 tahun! Tak sekolah sejak dua tahun lalu, Siti sekarang momong anak bayi berusia 2 tahun. Ya ampun, dia sendiri masih bayi!

***

Melihat kondisi pendidikan (yang katanya 9 tahun wajib berlajar itu!) yang seakan jalan di tempat, tentulah terkait erat dengan lemahnya produktivitas nasional kita. Faktor-faktor produktivitas yang lemah tak boleh dibebankan kesalahannya pada “nasib”. Untuk menghitung produktivitas, semudah menghitung berapa banyak barang yang dihasilkan dibagi dengan waktu atau biaya untuk memproduksinya. Masuk dalam pertimbangan ini adalah kerusakan (defectives) yang juga dihasilkan. Para pekerja jasa, lebih spesifik lagi: pekerja informasi, juga dikaji dari hasil yang rusak (dokumen atau film yang dibuat dalam perhitungan satuan jam).

Thomas dan Barons (1994) menegaskan bahwa mengevaluasi produktivitas haruslah konsisten, bahkan ada sebagian yang tak akurat mengingat pokok utama produktivitas adalah untuk menemukan perubahan. Mereka menyarankan agar banyak faktor digunakan untuk menentukan, khususnya, pekerja jasa dalam menghasilkan produk barang dan jasa yang berkualitas. Pertanyaan selanjutnya bagaimana menilai kualitas. Salah satu pertimbangan utamanya adalah waktu: berapa lama satu orang melayani pelanggan agar pelanggan puas, atau berapa lama saya mengetik satu dokumen yang rapi.

Dari sekian sektor yang bisa digarap di sebuah kota besar bernama Jakarta ini, sungguh menyedihkan kuantitas penyerapan. Lebih menyedihkan lagi adalah kualitas manusia yang bekerja di sektor non-formal (pemilik warung, pedagang gerobak hingga asisten rumah tangga).

Kasat mata, jika dahulu Bi Nem yang menjaga saya tak bisa baca-tulis, sekarang memang Mbak Yati yang jaga anak-anak bisa sekolah sampai 2 SD. Tiga puluh tahun pergerakannya hanya “begitu”?

Bandingkan dengan negara-negara tetangga. Australia bahkan memiliki satu badan khusus menangani evaluasi regulasi yang terkait langsung produktivitas di semua sektor dan lapis produksi. (klik sini untuk laporan Australian Productivity Commission tahunan edisi terakhir, pdf 2 Mb). Di Indonesia, terkait hal yang sama sepertinya baru dilalui tahapan “transparansi dokumen regulasi” (klik di sini untuk beberapa rancangan undang-undang yang sedang digodok di DPR baik tingkat komisi, pansus ataupun baleg, html). Negeri ini belum tiba pada tahapan “evaluasi regulasi terhadap produktivitas nasional”.

Hari ini saya juga sedikit tidak produktif. Setengah hari melayat adik sepupu jauh yang meninggal karena komplikasi otak sepulang dari bekerja di Berau, Kalimantan. Usianya belumlah 30. Saya berpikir, seorang yang produktif dipanggil Tuhan, dan mereka yang sehat seperti saya dan 300 penduduk di daerah kumuh tadi; mengapa kita kurang menghasilkan? Regulasi mana yang harus ditegakkan segera?

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Januari 31, 2008 in kualitas, productivity, produktivitas, work

 

Pilkada Conundrum by Nadhlatul Ulama


Lama tidak membahas otonomi daerah. Lama tidak diskusi di kelas. Lama tidak bergosip di kantin (sekali lagi gosip berat, orang uzur seperti saya sebaiknya bahas paper kuliah daripada habiskan waktu bicara tentang Mayangsari yang satu SMA dengan tetangga saya).

Hari ini mungkin hari perenungan “otonomi daerah” (otoda) yang telah saya pelajari dari banyak orang, termasuk “guru” online Pak Dadang Solihin. Tak pernah bertemu muka, tak pernah kenal sebelumnya IRL, tapi saya kagum dengan riset detail Pak Dadang. Tulisan-tulisan beliau bisa ditemui di http://www.slideshare.net atau bisa lewat situsnya http://www.dadangsolihin.com.

***

Itu tadi tentang Pak Dadang yang memang ahlinya otoda.

Sekarang soal otoda itu sendiri. Lebih spesifik lagi, langkah terawal mewujudkan otoda untuk kemaslahatan daerah: Pilkada (pemilihan langsung kepala daerah). Hari ini saya berpikir otoda dan pilkada sedang berada di persimpangan jalan antara “diminishing return” dan “take-off”. Tak harus terjadi konsepsi yang menjadi aus atau melepuh di tengah jalan. Tak juga harus dihentikan sebelum evaluasi. Tak juga harus diarahkan untuk dihentikan…

***

Minggu lalu ada pernyataan dari Pak Hasyim Muzadi atas nama NU, sebuah instansi yang saya kagumi, bahkan sekali saya terlibat diskusi sebagai pembicara atau sesekali juga sebagai pendengar “selundupan”. Inti pernyataan Pak Hasyim pasca-pertemuan dengan Presiden SBY, secara singkat begini: “Pilkada mengkotak-kotakkan warga NU!”

Yang terjadi di beberapa media massa kita adalah berita yang diplintir (spin) seperti ini: “NU tolak Pilkada yang memboroskan uang negara.”

* tercenung *

Saya selalu berpikir bahwa bacaan setiap orang tidak sama. Selain bacaan, pengalaman empiris juga memberi porsi tersendiri bagi setiap orang; sehingga yakinlah argumen akan selalu muncul saat seseorang berdialog dengan orang lain. Istilah keren untuk payung semua ini adalah “asymmetric information”. Media massa di Jakarta, mari kita sikapi perihal pilkada ini lebih arif. Ada hal lebih besar daripada sekadar “menggoreng isu.”
***

Soal pengalaman keliling Indonesia, mungkin saya hanya 0,001% dibanding guru saya yang paling santun sedunia, Pak Bondan Winarno (selamat malam, Pak, watch out for carb and kecap). Saya memang tidak ekstensif keliling Indonesia, namun di setiap sudut kota yang saya kunjungi terasa sekali geliat demokrasi. Termasuk pula geliat pembangunan fisik yang positif pasca-1998.

Saya merasakan nikmatnya keliling Indonesia, bahkan ada rasa bangga bercampur sedih saat menjejakkan kaki di satu daerah. Bangga saat melihat indahnya langit, hijaunya hutan, beningnya air pantai. Sedih saat mendapatkan air minum susah dan listrik byar-pet di luar Pulau Jawa. Tak mudah menemui Kentucky Fried Chicken di setiap pojok pasar, mimpi saja jika mau mencari Macanudo Cigar Club. Isu “sentimentil” ini buat media massa di Jakarta adalah isu kurang seksi dibanding “tolak Pilkada karena boros!”

***

Pernahkah ada kajian berapa banyak sesungguhnya non-voters di negeri ini? Sensus penduduk yang hukumnya wajib bagi setiap sektor di negara ini saja masih tertatih-tatih. Salah satu penyebabnya memang biaya yang sangat besar jika ingin komprehensif.

Lalu apa kabar data non-voters yang cuma satu sektor saja (“sektor” demokratisasi?).

Jika pilkada di seluruh Indonesia adalah sebuah proses mahal, salah satu penyebabnya adalah laggard informasi yang cukup signifikan antar-daerah, karena usia, dan banyak alasan lain.

Saya ingat betul waktu itu Nenek saya jatuh cinta pada Amien Rais dan bahkan jauh-jauh hari mengurus kepindahan kartu pemilih dari Surabaya ke Jakarta; sayangnya beliau harus gigit jari saat hari-H ditolak mencoblos karena belum pernah mendaftar ulang ke TPS di rumah Jakarta. Informasi adalah segalanya.

Golput juga meraja di Amerika Serikat, sebesar 16% antara tahun 1997 hingga 2000. Masalahnya bukan “tidak terinformasikan”, tapi sebaliknya, mereka lebih paham dan matang untuk menentukan pilihan. “This year, the candidates sux.”

Lalu berapa banyak non-voters di Indonesia? Seberapa jauh information gap antara voters dan non-voters yang tercatat di setiap KPUD? Apa penyebab mereka tak memberikan suaranya?

Jika telah dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas secara akurat, bagaimana solusi untuk merekatkan jurang informasi ini?

Pertanyaan selanjutnya, jika telah sukses memilih langsung kepala daerahnya, seberapa besar pertumbuhan satu daerah karena pemimpin baru ini? Sudahkah ditabulasi semua ini? Sudahkah diberitakan proses dan hasil ini?

***

Yap, awalnya adalah information gap atau asymmetric information. Di sini justru peran media massa mendapat porsi dan fungsi signifikan. Informasi asimetris antara Pulau Jawa dan luar Pulau Jawa harus dituntaskan.

Saya kerap berdialog dengan kawan-kawan di daerah. Silaturrahim saya adalah, salah satunya, mengirim materi salah satu draf RUU, yang baru saya lakukan seminggu lalu. Tak semua daerah bisa mengakses http://www.indonesia.go.id untuk mendapatkan dokumen akurat. Kalaupun kawan-kawan saya terkoneksi dengan internet, mereka harus memiliki “seni tersendiri untuk meng-google” (meminjam istilah suami saya) untuk mendapatkan naskah atau berita yang diinginkan.

Di lain sisi, geliat demokratisasi di segala bidang melahirkan jiwa-jiwa baru untuk membangun daerahnya. Di saat Pak Hasyim menyatakan “jangan mengkotak-kotakkan NU dengan Pilkada”, beberapa media massa memlintir (spin) berita ini dengan judul “tolak Pilkada”.

Tak elok rasanya membuat sensasi dari apapun; apalagi jika bisa bergulir tak terkendali. Reformasi segala bidang memang sudah waktunya tutup buku? Ataukah media massa kita tak pernah merasakan “bangga dan sedih” bercampur jadi satu saat berkunjung ke daerah-daerah…

***

George W. Bush is seen crossing the Potomac river on foot.
The Washington Post : “President Bush crosses the Potomac River”.
The Washington Time : “Bush’s conservative approach saves taxpayers a boat”.
Mother Jones : “Bush can’t swim”.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Januari 30, 2008 in election, politics

 

Bill Needs Melinda


Some people just hate his guts. He’s shy actually.

Some say she complements him. She’s the train, he’s the wreck. Or the other way round.

They surely have made lots before and after the bind 14 years ago. Both are philanthropists of making the world a better place. Seriously? They just try to keep their empire floating. Everyone shall always remember how good their company at the end of the day. Surely, I do. I am stuck with Winsux today. Further on, I want to learn Chinux (from China) or Cirebonux (yeah right…)

The Bill & Melinda Gates Foundation has assets of $37.6 billion, making it the world’s largest.

Yes, they have earned ’em. They subsequently need to focus and float ’em. Keep ’em alive for what?

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Januari 30, 2008 in non-specific

 

Waking Up: WordPress yourself


*yawn* Already Jan. 30. Just now, after a quick napping I made some hot tea. Need to freshen up to start writing a loooong due presentation.  Sipping my tea, I started reading J Kristiadi’s column (again) in Kompas Jan. 29. His writings always soft but sharp.

Thinking and putting thoughts into good writings required 3 things:

  • the thoughts (of course),
  • hard work (exercising in the brain is more than muscle-wise work), and
  • experience in writing (how many thousands of letters and rejections, this matters most).

I don’t like writing poem, btw. I used to. I don’t like writing journals. I used to, too. I just find it easier today to express thoughts in longer longer words. I hated the skyrocketting tempe price and kedelai v. corn; I wrote them. I searched long hours just to find out how agrobusiness really worked out. I wrote them in 10 minutes. I love the idea of sertifikasi guru, I wrote it. Many many more things I read and think in a day, I just wrote them. Thanks for sharing.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Januari 30, 2008 in curhat, thinking, wordpress, writing

 

Pemilu 2009: Expecting Bloopers & Blunders


Sambil ngopi sore, di hadapan saya ada Lagak Jakarta edisi Huru-Hara [Hura-hura] Pemilu ’99 karya adorable duo Benny & Mice. Ufh, sepuluh tahun ya? Satu coretan yang langsung membuat saya tertawa ada di halaman 59: Sebel Tapi Rindu. Di sana digambarkan seorang pemuda gondrong duduk merokok dan memikirkan “kayaknya ada yang kurang [di Pemilu 1999 kali ini].” Terus si pemuda berpikir keras dan jawabannya adalah “Harmoko!”.

Secara sumir saya mengingat sosok Pak Harmoko saat tampil di televisi dan koran; dan pastinya satu hal yang paling dikuasainya: most controlled public speaking. Susah memang menguasai audiens secara langsung atau tak langsung. Latihan adalah guru terbaik untuk menangani masalah jika tampil di depan umum. Penguasaan gesture tubuh dan mimik, kendali intonasi dan kecepatan berbicara hingga cara berpakaian harus dilatih. Bung Karno berlatih di depan ombak pantai, sahabat saya Lula Kamal selalu berlatih di depan cermin, tapi banyak yang melakukannya dalam hati saja.

Yang terakhir adalah mereka yang biasanya mendapatkan hasil that stupid look on your face. Kalau sudah begini, terjadi bloopers & blunders yang akan direkam media massa seumur hidup hingga anak cucu. Lebih buruk lagi, penampilan yang tidak meyakinkan audiens berarti hilangnya potensi orang yang akan memilih mereka ataupun partai mereka. The most fatal bloopers & blunders would be when they are unprepared; might as well they are not showing up at all! Anyhow, learn from the best.

Here’s some I could recollect: there were clothing blunders by Ibu Megawati before she became president; and there went mocking of “R” pronunciation difficulty by Pak Akbar Tanjung. Their appearances were perfected eventually, thus became minor attention in respect to total quality performance.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Januari 29, 2008 in 2009, bloopers, blunders, election, politics

 

Ekonomi [Kedelai] adalah Dialog


“an economist is an expert who will know tomorrow why the things he predicted yesterday didn’t happen today”

Kacang kedelai!

Kedelai (baca: kedele) menjadi ramai setelah para pengrajin tempe tahu oncom dkk mogok proses kedelai selama lima hari. Setelah itu terjadi dialog antar-pemikir negeri ini; yang memang seharusnya dilakukan kemarin. Memang, hari ini dialog terjadi dalam kerangka “post-ventif” bukan “pre-ventif”: subsidi atau tidak subsidi, impor lagi atau tidak impor lagi. Masalahnya memang sudah mengakar-urat.

Jika hari ini ada beberapa anggota DPR RI mulai bersuara memberikan solusi alternatif, kok seperti orang “telat angkat jemuran” saat hujan badai sudah setengah jalan? “Sakit kedelai” adalah sakit yang virusnya telah termutasi karena pengaruh cuaca luar (produksi untuk fungsi non-pangan dan impor yang juga berkurang) atau karena suasana hati yang tidak baik (produksi dalam negeri tidak pernah membaik kualitas ataupun kuantitasnya). Belum lagi jika memang didera pula dengan sakit kantong kering; sehingga preskripsi yang terbaik tidak serta-merta menjadi obat termujarab.

Saya juga menemui beberapa dialog antar-pemikir di beberapa blog lokal; sungguh bukan pemikiran yang buruk. Justru ada satu hal yang menarik: terlalu panjang lebar. Lebih parah lagi adalah blog ini: “Kok membahas tempe kagak kelar-kelar?”

Saya pernah protes terhadap liputan detikcom saat demo pengrajin tahu tempe diliput seadanya. Hari ini saya masih protes karena dialog-dialog tak mencapai esensi masalah. Atau memang tak ada informasi yang disampaikan ke publik (baca: saya) sehingga dialog antara rakyat dan pengambil keputusan negeri ini tidak jalan? Transparansi adalah masalah lain yang juga mengakar-urat di negeri ini. Cetak biru yang diminta DPR ke Departemen Pertanian (yang tak mau hanya sendirian “disalahkan” dalam masalah kedelai ini) tak pernah lagi saya dengar berita apalagi tulisannya (softcopy ataupun hardcopy).

Saya malah sedikit prihatin dengan “kampanye” Menteri Pertanian di Sarolangun (lihat berita di sini); karena seharusnya yang gesture politik seperti ini sebaiknya dilakukan pemimpin tertinggi negeri ini. Saya berdoa agar Pak Presiden atau Pak Wapres minggu depan juga roadshow ke sawah-sawah untuk memberi semangat kepada rakyatnya, lurahnya, bupatinya, gubernurnya. Dialog seperti ini juga sama penting dengan alokasi anggaran negara atau kebijakan fiskal yang akan diambil. Think in “concerto”!

 
5 Komentar

Ditulis oleh pada Januari 28, 2008 in dialog, kedelai

 

Vocab [Saying] of the Day


Cogitationis poenam nemo patiturNobody should be punished for his thoughts.

Non curo. Si metrum non habet, non est poemaI don’t care. If it doesn’t rhyme, it isn’t a poem.

Bene qui latuit, bene vixitOne who lives well, lives unnoticed.

Caeci caecos ducentesBlinds are led by the blind. Leaders are not more knowledgeable than the ones they lead.

Stultus est sicut stultus facitStupid is as stupid does .

Scientia est potentiaKnowledge is power.

Audio, video, discoI hear, I see, I learn.

(hahahaha do you think I made the last one up?)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Januari 28, 2008 in vocab