RSS

Produktivitas Kedelai, Bagaimana?

15 Jan

“Pak Ndut, biasa. Bakso semangkok.”

“Pakai telor? Maaf tahunya tak ada.”

“Hmmmpf… tidak. Eh, Pak Ndut tidak ikut demo tahu-tempe?”

“Ah, kagak ada yang dengerin.”

Dialog ini bukan imajinasi saya, tapi berlangsung tadi sore di dekat rumah. Senyum kecut saya mungkin tak banyak membawa arti. Saya pulang ke rumah setelah makan bakso, kenyang tapi penasaran.

Google sana, google sini. Saya alt-tab beberapa bacaan, multitasking. Hasilnya sebuah pemikiran ini:

Bayangkan saja Brazil (kuantitas 19.247.690 metrik ton per tahun 2004), yang juga berada di garis khatulistiwa sejajar dengan negeri ini, adalah pengekspor biji kedelai nomor dua dunia dilanjutkan Argentina (6.519.806 metrik ton), negara yang agak sejuk karena berada di selatan khatulistiwa. Amerika Serikat masih nomor satu (25.602.609 metrik ton). Paraguay, Belanda, Kanada, China, Uruguay, Belgia dan Bolivia berada di urutan setelah itu (sepuluh pengekspor terbesar dunia). Indonesia tidak berada dalam 20 besar sekalipun, tapi masuk dalam 10 besar pengimpor dunia. Baca selengkapnya di situs Food and Agriculture Organization (klik di sini). Ada gambar yang salah lagi di sini, bukan?

***

Setiap tanaman pangan pasti memiliki masalah di pasar input hulu tanaman (petani kedelai ke pembeli untuk distribusi ke daerah-daerah), hingga di pasar output (antara pengrajin tahu tempe atau susu kedelai ke konsumer akhir). Tanaman pangan juga memiliki masalah internal produksi tanaman itu sendiri, mulai dari hama hingga struktur tanah.

Produktivitas kedelai adalah masalah terutama negeri ini, juga masalah yang nyaris terlupakan hingga para pengrajin tahu tempe bergerak kemarin. Saya menemukan sebuah tulisan lengkap tentang kedelai di Indonesia yang dimuat di situs UNCAPSA atau United Nations’ Centre for the Alleviation of Poverty through Secondary Crops’ Development in Asia and the Pacific. Tulisan ini adalah laporan dari Shiro Okabe (Direktur Pusat Palawija) dan Ibrahim Manwan (Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Pangan). Klik situs Pusat Penelitian dan Pengembangan Pangan di sini yang membahasa kedelai, dan klik tulisan Okabe-Manwan di sini yang membahas Sistem Komoditas Kedelai di Indonesia.

Sungguh suatu usaha yang sepertinya bagus di atas kertas. Saya harus yakin tulisan Okabe-Manwan ini telah dibagikan ke seluruh pemerintah provinsi di Indonesia sebagai panduan untuk meningkatkan produktivitas kedelai di negeri ini. Saya juga punya tulisan bagus dari Brazil tentang produktivitas kedelai yang ditulis Fabio Trigueirinho (2007) Sustainable Soy Production – Strategic Action (klik sini). Pemerintah Brazil memberlakukan moratorium kedelai selain pengaturan terhadap konservasi hutan Amazon untuk pengembangan produksi tanaman kedelai di negeri itu.

***

Dua hari ke depan (ini gosip Si Mbok tukang sayur di pasar tadi pagi) pasokan tahu tempe sudah bisa ditemui secara normal. Harga? “Tidak janji,” katanya.

Mahal, it’s okay; this is just supply-demand thing.

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Januari 15, 2008 in kedelai

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: