RSS

Bola Indonesia Ngesot Terus?

18 Jan

Sepakbola masuk televisi memang cuma urusan hiburan. Kalau pendukung klub bola sudah merusak aset publik atau barang orang lain, nah ini harus diurus lebih serius.


Tragedi Heysel 1984                            Tragedi Kediri 2008
(pic: News Limited)                            (pic: Liga Indonesia)

PSSI hanya mengatur internal: klub dan panitia pelaksana. Masyarakat yang mendukung tidak bisa kena sanksi secara langsung, walau bisa digugat pidana karena perusakan fasilitas publik. Spin berita terakhir, bahwa PSSI menetapkan sanksi terhadap pendukung “bahwa mereka tak boleh masuk ke dalam stadion”.

Tidak sepakat dengan “berita” putusan terhadap pendukung klub. Sederhana saja, kelompok pendukung Arema bisa masuk dengan atribut netral; tapi bagaimana jika di dalam stadion mereka berganti kaos? Singkatnya, enak mana angon anak-anak kucing, atau beri denda 25 juta ke singo edan.

***

Hooliganisme pernah terjadi di belahan dunia lain; dan percikan kebencian lawan karena fanatisme klub favorit akan selalu muncul. Yang terparah di dunia mungkin terjadi saat Piala Eropa 1985 di Stadion Heysel di Brusel, Belgia. Sebanyak 39 orang tewas, dan terbanyak adalah pendukung Juventus saat pertandingan antara Juventus melawan Liverpool. Sesungguhnya gerakan hooliganisme ini adalah bentuk balas dendam pendukung Liverpool yang diserang, dipukul dan ditusuk di Roma tahun 1984.

Tragedi Stadiun Heysel terjadi karena kompleksitas keberanian kolektif dan keberanian karena pengaruh minuman keras. Selain itu, banyak juga para pendukung yang tak membayar tiket. Kondisi stadion yang memang sudah ramai menjadi tambah labil karena tambahan penonton selundupan; kejadiannya kemudian adalah tingkat sentimen antar-kelompok pendukung pun terdongkrak cepat.

Pasca-tragedi Heysel, polisi Inggris cepat melakukan penyidikan kasus ini. Dari bukti foto koran dan gambar bergerak, diteliti semua warga Inggris yang melakukan tindakan brutal. Sebanyak 27 warga Inggris diadili dan ditetapkan bersalah atas dakwaan pembunuhan. Hari ini di seluruh Eropa telah diterapkan standar stadion, mulai dari struktur bangunan, pelayanan tiket hingga keamanan stadion. Disiplin pun harus dibangun dari kampung halaman setiap klub.

Mempelajari kasus Heysel ini, ada dua hal yang harus digarisbawahi.

  1. Seluruh pendukung fanatik bola yang terbukti merusak fasilitas ditindak secara tegas. Karena peristiwa Arema-Persiwa tak memakan korban jiwa, tak ada yang dituntut delik pembunuhan. Sebaiknya gunakan metode konseling dan denda yang bisa menjadi alternatif tindakan, karena jika seluruhnya dihukum pidana perusakan tentu penjara akan jadi arena fanatisme baru.
  2. Panitia penyelenggaraan dievaluasi, dan institusi panitia diusut jika terbukti bersalah karena lalai melaksanakan tugas pengamanan. Sepakat dengan Komisi Disiplin PSSI.
  3. Pengaturan diperketat lagi. Denda 25 juta rupiah untuk klub yang pendukungnya merusak masih terhitung ringan. Skorsing agar klub tidak bermain 3 hingga lima tahun mungkin memberikan dampak langsung bagi pendukungnya. Sayangnya, hari ini mungkin belum bisa diterapkan langsung. Jika diterapkan, anarki baru akan muncul dari Malang, kota sejuk itu.

Mari kita berhitung dengan kepala dingin. Stadion rusak, mobil milik orang rusak, dan nama baik Indonesia juga turut tergores. Ekspose ESPN dan beberapa media internasional adalah harga mahal bagi negeri ini; di saat kita ingin menciptakan citra aman dan nyaman bagi siapapun.

Pernahkah terpikirkan lebih jauh bagaimana buruknya tindakan hooliganisme ini:

  1. Jargon “Visit Indonesia 2008” ada baiknya diundur hingga 2010, karena akan ada usaha lebih besar dan lebih mahal lagi untuk meyakinkan calon wisatawan luar negeri datang ke Indonesia. More money-effort.
  2. Jika tidak gencar, artinya target wisatawan datang ke Indonesia berkurang sehingga berkurang pula devisa masuk dari pariwisata dan sektor terkait. No money coming in.
  3. Kerugian potensial lain (yang mungkin belum terlalu dipikirkan orang banyak) adalah bahwa nilai hak siar penjualan tayangan pertandingan di masa mendatang akan menurun. Tak ada stasiun TV luar negeri yang berminat membeli karena citra klub di Indonesia adalah berkelahi. Again, no money, not interested anyway.

Jika tak ada pertandingan sepakbola yang menghibur dengan strategi dan gaya bermain sepakbola yang cantik unik dari setiap klub, ada baiknya para penonton televisi membeli DVD asli film Indonesia yang judulnya lucu-lucu itu. Atau kita ganti saja judulnya agar lebih lucu lagi: “Penalti dalam Kubur”, “Lawang Gawang”, “Susahnya Jadi Wasit”, “Legenda Sundul [Bola] Bolong”, atau “Kiper Ngesot”?

Iklan
 
1 Komentar

Ditulis oleh pada Januari 18, 2008 in football, PSSI, sepakbola

 

One response to “Bola Indonesia Ngesot Terus?

  1. tobadreams

    Mei 12, 2008 at 5:19 am

    Ada nih contoh klub sepakbola yang najak terus : manchester United, juara liga Inggris 2007/2008.

    Baca kisah kemenangan dramatis MU atas Wigan dalam partai pamungkas, klik link di bawah ini :

    http://tobadreams.wordpress.com/2008/05/12/manchester-united-juara-chelsea-harus-belajar-sportif/

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: