RSS

Hittites, Semites, Mesopotamia, and Tribal Marketing 3.0

25 Jan

Imagine there’s no countries
It isn’t hard to do
Nothing to kill or die for
And no religion too
Imagine all the people
Living life in peace

Lennon bahkan pernah menulis lirik untuk Timothy Leary “Come Together” untuk kampanye gubernur California, tapi kandidasi ini gagal karena Leary tertangkap basah menggunakan marijuana. Some hero huh?

Tak lama setelah lagu Lennon tadi, penyiar radio membacakan berita tentang [lagi-lagi] Israel. Otomatis saya bergumam, “Tawarkan saja Israel sewa tanah Papua biar diam.” Simplifikasi yang sangat bodoh memang. Saya pernah baca usul lebih cerdas, lupa baca di mana: “Jadikan tanah internasional, tak usah pakai paspor tapi dibuatkan institusi seperti FIFA atau Mahkamah Internasional.” That’s right, non-territory governing body. Suami saya yang mendengar gumaman saya tadi meminta saya buka lagi buku sejarah yang banyak gambarnya terbitan Kingfisher Book (dulu saya beli karena tawaran direct mail Book of the Month Club, UK).

kingfisher

Sejarah bukan mata pelajaran terfavorit, tapi the older I got, the most subject I required is history of every little thing, even the historian‘s personal life. Hittites, Semites, Minoans, Phoenicians, Mycenaeans. Banyak suku bangsa (tribe) dan peradaban (civilization) yang berasimilasi, hilang atau timbul. Invasi satu kelompok terhadap kelompok lain adalah kisah tak pernah habis.

Barusan juga saya sempat mampir ke salah satu top blog hari ini yang membahas satu film nasional. Tak pernah membaca novelnya, dan tak ingin menonton filmnya juga, but I just find it difficult for anyone to be annoyed by “ideas”. Chill out will ya… Kontroversi film ini tak ingin saya tanggapi, bahkan tak ingin sebut judul filmnya di sini.

Sadarkah bahwa semua hanya daya upaya marketer atau publicist hari ini. Sama seperti halnya Da Vinci Code, apapun berkedok agama atau kelompok harus dicerna dengan kepala dingin. Saya bahkan dengan senang hati menyamakan kontroversi berkedok agama ini dengan dengan Maia-Dhani, Dewi-Syamsul, atau Tiga Diva-Erwin. It’s all about [the] money, dum dum durrum dum dum… or new album, dum dum durrum dum dum… or… dum dum!

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Januari 25, 2008 in history, propaganda, religion

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: