RSS

Arsip Harian: Januari 28, 2008

Ekonomi [Kedelai] adalah Dialog


“an economist is an expert who will know tomorrow why the things he predicted yesterday didn’t happen today”

Kacang kedelai!

Kedelai (baca: kedele) menjadi ramai setelah para pengrajin tempe tahu oncom dkk mogok proses kedelai selama lima hari. Setelah itu terjadi dialog antar-pemikir negeri ini; yang memang seharusnya dilakukan kemarin. Memang, hari ini dialog terjadi dalam kerangka “post-ventif” bukan “pre-ventif”: subsidi atau tidak subsidi, impor lagi atau tidak impor lagi. Masalahnya memang sudah mengakar-urat.

Jika hari ini ada beberapa anggota DPR RI mulai bersuara memberikan solusi alternatif, kok seperti orang “telat angkat jemuran” saat hujan badai sudah setengah jalan? “Sakit kedelai” adalah sakit yang virusnya telah termutasi karena pengaruh cuaca luar (produksi untuk fungsi non-pangan dan impor yang juga berkurang) atau karena suasana hati yang tidak baik (produksi dalam negeri tidak pernah membaik kualitas ataupun kuantitasnya). Belum lagi jika memang didera pula dengan sakit kantong kering; sehingga preskripsi yang terbaik tidak serta-merta menjadi obat termujarab.

Saya juga menemui beberapa dialog antar-pemikir di beberapa blog lokal; sungguh bukan pemikiran yang buruk. Justru ada satu hal yang menarik: terlalu panjang lebar. Lebih parah lagi adalah blog ini: “Kok membahas tempe kagak kelar-kelar?”

Saya pernah protes terhadap liputan detikcom saat demo pengrajin tahu tempe diliput seadanya. Hari ini saya masih protes karena dialog-dialog tak mencapai esensi masalah. Atau memang tak ada informasi yang disampaikan ke publik (baca: saya) sehingga dialog antara rakyat dan pengambil keputusan negeri ini tidak jalan? Transparansi adalah masalah lain yang juga mengakar-urat di negeri ini. Cetak biru yang diminta DPR ke Departemen Pertanian (yang tak mau hanya sendirian “disalahkan” dalam masalah kedelai ini) tak pernah lagi saya dengar berita apalagi tulisannya (softcopy ataupun hardcopy).

Saya malah sedikit prihatin dengan “kampanye” Menteri Pertanian di Sarolangun (lihat berita di sini); karena seharusnya yang gesture politik seperti ini sebaiknya dilakukan pemimpin tertinggi negeri ini. Saya berdoa agar Pak Presiden atau Pak Wapres minggu depan juga roadshow ke sawah-sawah untuk memberi semangat kepada rakyatnya, lurahnya, bupatinya, gubernurnya. Dialog seperti ini juga sama penting dengan alokasi anggaran negara atau kebijakan fiskal yang akan diambil. Think in “concerto”!

 
5 Komentar

Ditulis oleh pada Januari 28, 2008 in dialog, kedelai

 

Vocab [Saying] of the Day


Cogitationis poenam nemo patiturNobody should be punished for his thoughts.

Non curo. Si metrum non habet, non est poemaI don’t care. If it doesn’t rhyme, it isn’t a poem.

Bene qui latuit, bene vixitOne who lives well, lives unnoticed.

Caeci caecos ducentesBlinds are led by the blind. Leaders are not more knowledgeable than the ones they lead.

Stultus est sicut stultus facitStupid is as stupid does .

Scientia est potentiaKnowledge is power.

Audio, video, discoI hear, I see, I learn.

(hahahaha do you think I made the last one up?)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Januari 28, 2008 in vocab

 

To Alter Or Not To Alter Your Ego


The most boring Robert De Niro’s movie of all time is “Hide and Seek”.

Satu-satunya yang bagus adalah akting Dakota Fanning, seperti biasa. Tapi hanya itu. Alur cerita nanggung, gambar tidak terlalu indah, akting De Niro tidak jelas, dan seterusnya dan seterusnya. Saya membayangkan Fanning bisa bermain bersama psycho-character Edward Norton (him again!) seperti dalam film legal-thriller “Primal Fear”… blast off!

Come out, come out, whatever you are…

Banyak cerita tentang orang multi-kepribadian. Dr Jekyll and Mr Hyde, Sybil, “Me, Myself, and Irene” dan banyak lagi.

Tapi tolong analisis ini:

  • Jika seseorang memiliki 5 alamat email berbeda (satu untuk kantor, satu pribadi, satu lagi milis dan junk emails, satu untuk registrasi Facebook, dan terakhir untuk persediaan) apakah ia bisa disebut memiliki banyak alter ego?
  • Apakah politisi harus memiliki banyak alter ego; satu muka manis saat kampanye, dan satu lagi muka mupeng ke kapitalis dan terakhir muka mules ke penentu kebijakan di atasnya? (mupeng = muka pengen, mules = ya sakit perut).

***

Sejak 1993 (waktu itu baru ada ISP Indonet dan istilah “No Carrier” lebih ngetop daripada “wewewe-dotkom”), alter ego bisa ditemui di ruang chatting IRC (internet relay chat) hingga IRL (in real life). Timothy Leary dan Howard Rheingold juga pernah mengupas masalah ini (oh shoot, their books are not in my possession now!).

Jika hari ini lebih banyak fitur yang lebih canggih (Gtalk, kamera, mikropon hingga Youtube posting), apakah akan lebih banyak lagi alter ego tercipta?

Saya bukan psikolog atau psikiatris, apalagi cenayang. Tapi saya berpikir, kira-kira kalau mau dikaji masalah ini, saya akan kirim ke jurnal apa ya?

If you understand it and can prove it, then send it to a journal of mathematics.
If you understand it, but can’t prove it, then send it to a physics journal.
If you can’t understand it, but can prove it, then send it to an economics journal.
If you can neither understand it nor prove it, then send it to a psychology journal. (www.workjoke.com)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Januari 28, 2008 in alter ego, joke