RSS

Arsip Bulanan: Februari 2008

Lost a Fortune and Found a Wife


An Aussie-born, American resident, and Hongkong second-wifey pooh with Londoners’ heir. Ain’t he a real internationalist? Betcha.

Saya senang sekali mengamati gerak-gerik media tycoon macam Rupert Murdoch. Jejaringnya adalah media dari hulu ke hilir, dari talent (klub sepakbola) hingga pipa distribusi (kabel, satelit, terestrial) hingga pengelolaan iklan untuk semua media miliknya (cetak, audio atau audio-visual).

16-news-corporation-2.jpeg

Ia pernah rugi mengelola Star TV Hongkong di awal niatannya merambah pasar China daratan. Ia juga pernah terpuruk di India. Hari ini ia mungkin hanya satu-satunya orang down under yang bisa go beyond the level of universe. Jangan salah, Murdoch juga menguasai dapur berita. He knows when to pull, when to push. Check this out.

 
 

Media Mlintir Susu?


Saya suka heran mengapa media kita suka sekali mengeksploitasi hasil penelitian dari satu sisi. Bahkan klarifikasi hari ini dari Ikatan Dokter Indonesia juga tak cukup kuat memlintir balik.

Tadi siang di salah satu radio di Jakarta sang penyiar menyitir bagaimana jika tak hanya susu bayi di bawah 1 tahun; bagaimana jika susu lansia juga mengandung bakteri enterobacter sakazakii? Saya pribadi merasa terpaan udara di Jakarta setiap hari bagi pengendara motor lebih mematikan daripada bakteri tersebut bagi orang dewasa.

***

Di saat tidak ada berita heboh (gempa berkekuatan di atas rata-rata atau koruptor meninggal misterius di tahanan, misalnya) terkadang media massa kita suka mengambil berita fantastis a la batik (bakso tikus) atau apapun yang merugikan konsumen. Juicy ‘eh?

Saya curiga efek salju berita susu bakteri ini diawali minggu lalu dari posting beberapa blog wordpress (mengutip artikel serupa sebangun) soal susu bakteri yang mendapat ketukan (hit) tertinggi (karena saya juga ikut nge-klik). Banyak yang mempertanyakan merek susu dan makanan bayi apa yang tercemar bakteri enterobacter sakazakii. Jurnalisme orang awam ini menyebar secara efektif efisien. Yang lebih hebat lagi:

  • tak banyak mungkin yang kemudian mencari informasi lebih lanjut dengan kata kunci “Enterobacter Sakazakii” yang ternyata ditemukan oleh peneliti Jepang bernama Riichi Sakazaki (1980) ;
  • tak ada yang kemudian mengambil hipotesis lain selain masalah “korporasi dan pemerintah yang tak bertanggungjawab”; mungkinkah diplintir menjadi hipotesis “adakah persaingan usaha tak sehat?”

Bayangkan, bakteri yang sama ini memang pernah terjadi di Eropa tahun 2002 soal produk Nestle di Belgia, Beba1. Merek susu ini dituduh menjadi pembunuh sorang bayi yang baru lahir. Salah siapa, bayi baru lahir diberi susu instan? Jika diberi pun selayaknya sepengetahuan dokter bukan? Sehingga masalah yang terjadi adalah kompleks dan lebih banyak human error dari pihak orang tua dan dokter sang bayi.

Kembali ke isu susu bayi ini, bayangkan ada sebuah penelitian dengan sampling kecil (yang mungkin bisa memiliki epsilon atau kesalahan sampling besar) serta tidak memiliki lampiran kajian lengkap tentang manfaat dan keburukan bakteri ini (atau wartawannya malas membuka lampiran?). Kemudian penelitian ini diekspos ke media massa sehingga menjadi konsumsi masyarakat umum. Salah siapa jika kemudian bergulir panik?

Bukan seperti panik orang tua di Belgia, karena di sini belum ada (dan jangan sampai ada) korban. Panik susu berbakteri mematikan ini seperti siklus semesteran. Namun yang lebih penting masyarakat jangan panik dulu. Sebaiknya pemerintah segera memberikan pernyataan resmi yang bisa menenangkan orang tua yang memiliki bayi baru lahir. Yang lebih baik lagi, wahai penyiar radio dan penulis blog, mohon kaji dulu semua aspek penelitian ini sebelum panik (atau membuat orang lain panik).

Mungkin memang ada saatnya satu generasi di negeri ini harus pasrah dengan air tajin. Which is good also, btw. However, I don’t have energy to find out any related studies on air tajin, sorry. I drink milk everyday, and I feel dizzy for ten or more minutes afterwards, why? I just hate its taste.

susu.jpg

 

Dimensi Korupsi


Tak perlu tanyakan apa akibatnya, tak perlu tanyakan berapa besar. Penyebabnya jelas: kesempatan dan tak adanya integritas. Hari ini saya disodori “uang transportasi” karena membantu memberi pengetahuan secara informal. No pun intended, saya hanya anggap dia tak tahu bahwa saya dibayar lebih mahal (dari sejumlah uang yang ingin ia berikan itu) jika saya memberikan paparan formal. Saya menolak halus, “Traktir saya kalau satu hari saya berada di kota Bapak.”

Pendekatan formal-legal mengenal bahwa tindakan korupsi adalah tindakan yang melanggar “specific rules governing the way public duties should be performed” (Williams 1987: 15), sebagai “pertukaran ilegal” antara barang politis dengan barang/hadiah pribadi (Manzetti & Blake 1996; Heidenheimer, Johnston & LeVine 1989: 8-9; Williams 1987: 15-16). Hukum (rules) itu sendiri bisa ambigu, tak jelas, multi-interpretatif (Lowenstein 1989). Pendekatan legal-formal juga dinamis dari satu negara ke negara lain, dan terkadang tindakan ini menjadi tindakan manipulatif dari aktor politik (Williams 1987: 18). Bisa juga definisi legal berupa tindakan yang tidak ilegal tapi ternyata dianggap tidak pantas (Moodie 1989: 876; Theobald 1990: 17).

Sandholtz & Koetzle (1998) pernah mengkaji dimensi korupsi dalam 2 hal:

  • “structure of opportunities and incentives” dan
  • “culture, [or] understood as a “repertoire of cognitions, feelings, and schemes of evaluation that process experience into action”

Yang kedua merupakan budaya yang melahirkan integritas yang bisa terbentuk sejalan dengan:

  • matangnya pemikiran setiap warga negara tentang demokrasi, dan
  • freedom of economy (atau saya terjemahkan sebagai) kesejahteraan ekonomi dan sosial setiap warga negara.

Khusus di Indonesia, saya ingin mengkaji lebih jauh dari dari sekadar integritas: informasi asimetris. Saya mengambil contoh peristiwa pagi ini. Ada informasi asimetris antara saya dan sang bapak yang ingin memberikan uang tadi. Tak hanya sebatas pengenalan antar-diri secara sepihak (saya mendapat informasi tentang dia lebih banyak dari dia tentang saya), tapi juga tentang pengetahuan empiris yang berbeda antara dia dan saya. Sesungguhnya internet telah memudahkan kita berilmu dengan murah, dan yakinlah bapak tersebut adalah bukanlah orang yang rajin nge-blog. Baca di sini untuk paparan UNDP dan di sini untuk kajian Center for the Study of Democracy yang pokok pemikirannya saya kutip di atas (See? I am not that witty, I just read a bit more than him)

Atau baca di sini untuk tulisan karya Bosserman (2005)… lihat bagan di bawah.

affiliation-corruption.jpg

 

 

 

 

Osaifu Keitai = e-Dompet?


Otoritas moneter negeri ini masih berkutat dengan penyehatan ekonomi dalam negeri (baca: semua yang terkait urusan KPK hingga kebijakan suku bunga). Saya membayangkan suatu hari nanti *segera!* jika suasana sudah mulai cair dan semua orang terinformasikan dengan simetris, sistem pembayaran dengan dompet elektronik bisa segera terlaksana. “…some analysts say e-money makes up about 20 percent of the ¥300 trillion, or $2.8 trillion, in Japanese consumer spending” (iht.com)

Jika kelak ada transaksi e-money luar biasa besar via satu operator, buat saja kebijakan “batas atas transaksi pulsa dalam satu hari dari satu nomor pelanggan adalah sekian” hingga “dan/atau jika transaksi melampaui jumlah sekian secara kumulatif, maka transaksi harus ditunda hingga beberapa bulan ke depan”. Toh mengambil uang dalam sehari juga lebih mudah “dibatasi” secara elektronik (misalnya, mekanisme ATM). Aturan dan proses teknis terkadang memang bisa berjalan bergandengan. Bank BCA juga sudah mulai menyosialisasikan kartu debit flazcard (?) yang memudahkan transaksi di resto Hoka-hoka Bento * zap! * pulsa Anda berkurang tujuh puluh ribu…

 
 

Titik Tembak Struktur Pasar Pertanian


Sulit mengubah kebijakan menjelang Pemilu? Bagaimana jika kita balik saja, Pemilu ditunda dulu…

(lihat Kompas pagi ini halaman 17)

Bayangkan jika setiap lima tahun seluruh masyarakat Indonesia harus mengalami siklus seperti ini: tak ada lagi sustainable agriculture yang dipetakan oleh Pemerintah. Subsidi pupuk bukanlah hal yang utama jika sektor hulu melakukan efisiensi dengan meningkatkan produktivitas. Jika tak ingin “diperbaiki” sebaiknya jangan menjadikan Pemilu sebagai alasan. Tak bijak.

Yang terjadi adalah masalah institusional. Dahulu ada sistem klompencapir (baca: “penyuluhan”) menjadi salah satu upaya membuat petani cerdas dan lebih mawas lingkungan. Sekarang semua upaya pemerintah lebih banyak difokuskan ke kebijakan fiskal an sich, tak lagi padu-padan dengan upaya penguatan institusional. Baca di sini dan di sini.

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada Februari 26, 2008 in public policy

 

Baca semua in inglish plis…


Pernah menonton film Groundhog Day (1993, Bill Murray dan Andie McDowell)? Atau klip video Craig David “Seven Days”? Tentu semuanya dalam Bahasa Inggris. Jika seorang bisa mengulang satu hari berkali-kali untuk menyempurnakan kesalahan, mungkin saya adalah orang yang pertama kali mendaftar. Terkesan tidak mensyukuri diri sendiri? Tidak juga, titik awal yang ingin saya perbaiki hanya satu: saat satelit Palapa mengangkasa. Loh kok?

bill-gates-neil-postman.jpg

Sebagai satu pipa saluran informasi, Palapa yang pertama adalah satelit yang “membawa Indonesia mengangkasa”. Sejak itu angkasa di atas khatulistiwa negeri ini sungguh padat merayap oleh satelit negara lain. Sejak saat itu, Indonesia tidak pernah lagi “belajar bahasa Inggris” untuk membaca peraturan International Telecommunications Union (ITU), sehingga tertinggal jauh dengan negara tetangga yang anggota Commonwealth itu. Orang Indonesia juga tak banyak membaca buku teks ilmu yang sayangnya banyak ditulis oleh pemikir-pemikir bule. Salah duanya adalah Postman dan Gates. Check this out:

***

Saya hendak mengawali dengan frasa: “The Age of Reason” yang merupakan titik usia seorang manusia dianggap berakal. Saya tak ingin mengangkat tulisan Sartre yang mendebat soal gereja yang corrupted atau masalah mendasar tentang agama dan kepercayaan manusia. Istilah age of reason ini terkait dengan media. Sebelum alat cetak Gutenberg mendunia, tak banyak lukisan maestro yang menggambarkan anak kecil karena usia 7 tahun telah dianggap sebagai manusia dewasa. Mereka tak lagi menjadi obyek lucu atau indah untuk dilukis. Selanjutnya, usia anak yang dianggap berakal naik menjadi 13-14 tahun karena harus membaca dan mengerti isi bacaannya.

Televisi kemudian hadir. Semua bacaan jadi visual dan bergerak. Dengan adanya program televisi “triple X” kemudian usia anak dewasa naik lagi menjadi 18. Apakah kemudian angka ini naik terus? Tidak juga. Karena literasi anak terhadap media bisa saja berubah.

Yang kemudian menjadi menarik adalah pergerakan “mesin” itu sendiri. Televisi berwarna ditemukan dan ditakuti banyak orang akan menggantikan radio dan koran. Sayangnya, hal ini tak terjadi. Saat jaringan internet dan konvergensi digital menjadi matang, televisi juga tidak mati. This is The Age of Reasoning, by the way. Berpikir (reasoning) tak henti.

Tak ada media mati, tapi hanya bergeser fungsinya dan berganti model bisnisnya. Platform media bisa berubah, pipa salurannya juga bergerak terus. Dari satu “bentuk” media ke “bentuk” lain, ada teknologi yang mendorong “pembentukannya”. Temuan teknologi adalah proses S-Curve bersambut S-Curve yang lain.

ti-pol2.gif

Di saat Bill Gates salah memprediksi (640K for every PC is enough?), Neil Postman (1931-2003) secara bijak malah memberikan perenungan bagi kita semua:

“… technological change is always a Faustian bargain: Technology giveth and technology taketh away, and not always in equal measure. A new technology sometimes creates more than it destroys. Sometimes, it destroys more than it creates. But it is never one-sided.”

Dari dasar pemikiran ini, tak semua insinyur harus menjadi tukang, bukan? Ada beberapa bacaan singkat (sebelum semua buku Neil Postman diterjemahkan ke Bahasa Indonesia?) yang bisa diakses untuk memahami teknologi dari kacamata yang lebih besar (klik di sini). “Lihat keluar jendela kereta, kita bisa berlari bersama pepohonan. Bandingkan saat kita hanya duduk memperhatikan pinggiran jendela kereta: pepohonan berlari kencang di luar sana” (Albert Einstein). In English, please.

 
 

DOI: Indonesia Belum Biru


Paling gelap warnanya berarti paling siap infrastruktur (kriteria: manusia, jaringan teknis dan hukum). Beruntung sekali Indonesia (secara keseluruhan) tidak diberi warna kuning oleh International Telecommunications Union (ITU).  Padahal ada titik yang sudah “amat sangat” padat dengan penggunaan teknologi seperti Jakarta atau Bandung atau bahkan Kabupaten Sragen dan Kota Balikpapan, dan ada juga Jakarta coret, Bandung coret atau Balikpapan coret (baca: hutan Bukit Soeharto).

Indonesia masih berwarna hijau yang belum terlalu pekat. Tujuh belas ribu pulau, dua ratus tujuh puluh juta manusia dan milyaran titik blank spot?

digital-opportunity-index-doi-asia.png

Digital opportunity index (DOI) adalah indeks yang dibuat atas kesepakatan internasional untuk indikator teknologi informasi dan komunikasi. DOI adalah perangkat standar bagi pemerintah, operator, pendidik dan periset, serta lainnya untuk melihat jurang digital sendiri serta membandingkan kemajuan antar-negara.

Menarik mengkaji Indonesia secara paralel, bagaimana pembangunan infrastruktur komunikasi dan informasi ini terpengaruh dengan penyebaran penduduk, infrastruktur listrik serta kemampuan setiap warga negara (membeli perangkat hingga menggunakan perangkat secara maksimum).