RSS

Arsip Harian: Februari 1, 2008

Too much news will kill you…


After all, not a so slow news day huh? Just not being too productive day. Drink lots of Ultramilk and leave the garbage on the table… reading this-and-that, then got bored. Mati lampu pun setengah jam kemudian. So here goes…

1. Luber di mana-mana: telat jemput anak di sekolah, the rest… business unusual.

2. Paket Stabilisasi Bahan Pokok: Pikir-pikir mengapa diumumkan Jumat? Efektivitas dari implementasinya pasti menunggu 2 hari libur. Alasannya mungkin karena kajian paket kebijakan baru tuntas kemarin, mungkin juga karena pemerintah bisa meredam gejolak harga di akhir minggu. Tapi jangan lupa, banjir Jakarta bisa mengacaukan lagi rencana pemerintah (apapun alasan di balik pengumuman hari Jumat ini).

3. Poco-poco vs Sipadan Ligitan: tak ada hubungan langsung, tapi sahut-sahutan PDIP dan Partai Demokrat cukup seru. Black campaign pastinya kerap dijumpai menjelang 2009, terbuka ataupun sedikit terbuka. Yang pasti, hari ini Jakarta pusing, dan sebelum mikirin 2009, lebih enak memantau kepastian banjir hibah dari Bogor tengah malam ini.

4. Hillary Clinton jadi presiden, Barack Obama wapres? Lebih kuat mana, jikaBarack yang presiden dan Hill wapres? Kalau saya pasti memilih kandidat presiden yang tanggal jarig-nya sama dengan saya. Kita cuma beda di model rambut saja, err… juga beda balance of checking account.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 1, 2008 in news, politics

 

Jakarta Siaga Luber


Saya kira hujan akan berhenti jam 10.15 tadi, selokan depan rumah sudah mulai surut. Eh, nge-gas lagi sekarang. Sejak malam, bolak-balik seperti ini. Pelan, nge-gas, pelan nge-gas lagi.

Radio Elshinta dan Suara Metro gencar melaporkan langsung dari lapangan. Chaos! Mobil derek bekerja keras, motor naik jalan tol, genangan air di mana-mana, mobil terjebak. Macet di banyak titik menyebabkan orang yang mau ke kantor, banyak yang balik badan (pulang). Bandar udara Soekarno Hatta ditutup until further notice. Pasar tradisional (my shopping arcade!) pastinya sepi pembeli.

Kerja bakti di RW saya terkoordinasi baik. Dasar selokan tidak menebal. Beruntung pula rumah saya berada di daerah tinggi. Tidak seperti saya, suami saya tahu betul kontur tanah Jakarta atau daerah lain di negeri ini. Suami saya juga yang membangun “sumur” resapan di halaman belakang rumah. Saya atau supir metromini mangkal di tikungan adalah orang-orang yang tak “cerdas ruang”, istilahnya.

Geser sedikit di RW sebelah, masalah lebih kompleks, dan disiplin lingkungan tidak tinggi, hasilnya bisa ditebak. Tinggi air di RW sebelah sudah sedengkul. Jika diprediksi hujan terus turun hingga sore dengan volume “pelan, nge-gas, pelan, nge-gas” saya jadi prihatin akan berakibat cukup buruk. Suami saya mengingatkan, jika depan rumah sudah setumit, seluruh rumah harus diamankan. Mitigasi.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 1, 2008 in chaos, manajemen bencana

 

/Whois Me


Siapa sebenarnya penulis pidato Ibu Megawati, ataukah beliau sendiri yang muncul dengan ide “Pemerintahan sekarang sedang menari poco-poco.” Maju selangkah, mundur selangkah. Maju dua langkah, mundur dua langkah. Mengapa tidak tari perang? Maju maju maju… *jlebbb* atau tari pendet *plarak plirik nge-gol*?

Poco-poco? Boleh juga. “Mari baku dansa saja, Karaeng!” ( lihat berita di detikcom pukul 16.31 tanggal 31 Januari 2008 )

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 1, 2008 in non-specific