RSS

Arsip Harian: Februari 6, 2008

Chincha Lawrah Tak Lulus Sertifikasi A La RUU Kebahasaan


Mas Dibyo dkk tadi pagi mengkaji beberapa RUU (rancangan undang-undang) dari kacamata kebebasan pers. Ada Revisi UU Pers, revisi KUHP, RUU Kerahasiaan Negara, RUU Pornografi, RUU Intelijen, RUU Pelayanan Publik, dan RUU Kebahasaan. Saya ingin mengutip sedikit RUU Kebahasaan yang kelak akan menjadi dasar bagi penggunaan, pengembangan, dan perlindungan Bahasa Indonesia.

Jika Pak Daniel Dhakidae membahas totalitarianisme dan beberapa definisi dalam RUU Kebahasaan ini, ada satu pasal yang terlewat dibahas di peluncuran buku Mas Dibyo tadi pagi adalah Pasal 22:

  1. Kemampuan berbahasa Indonesia mengacu pada standar kemampuan berbahasa Indonesia.
  2. Standar kemampuan berbahasa Indonesia ditetapkan oleh lembaga Pemerintah.
  3. Standar kemampuan berbahasa Indonesia sebagaimana dimaksud pada ayat (2) meliputi kemampuan berbahasa Indonesia bagi para pejabat negara, pejabat publik, serta warga negara asing yang akan bekerja dan/atau mengikuti pendidikan di Indonesia
  4. Alat pengukur kemampuan berbahasa Indonesia dikembangkan oleh lembaga Pemerintah yang membidangi kebahasaan Indonesia.
  5. Tingkat kemampuan berbahasa Indonesia dinyatakan dalam bentuk sertifikat kemampuan berbahasa Indonesia.

Grrreeat. No more blogging in English; Just Endonesian? So sue that adorable 13-year-old, half-this-half-that, cannot-speak-English-without-Indonesian-or-the-other-way round idol (klik sini untuk baca tentang tulisan Abe Poetra dan Facebook Page of Cinta Laura.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 6, 2008 in bahasa, draft, law, legislative, RUU

 

Kontra Kebebasan Pers: Tak Ada Totalitarianisme untuk Kesejahteraan?


Pagi ini saya hadir ke peluncuran buku Mas Dibyo dkk “Kontra Kebebasan Pers – Studi Atas Berbagai RUU” di JMC, Kebon Sirih. Menarik mendengarkan Pak Daniel Dhakidae di antara tokoh lain (Marzuki Darusman, Saut Hutabarat, dan Romo Magnis yang telat hadir); sayangnya hadirin akhirnya terjebak dengan masalah liputan Pak Harto sejak sakit hingga meninggal. Apa pasal?

Pak Daniel mengkoreksi sub-judul yang ada kata “totalitarianisme”, dan mengusulkan diganti dengan “neo-fasisme” sebuah bentuk lebih banyak dipicu oleh kaum industrialis. Dari sinilah bergulir “peran” Pak Harto dan Orde Baru yang “cenderung totaliter”, demikian papar Mas Dibyo.

Saya sepakat dengan Pak Daniel, tapi Mas Dibyo juga tak sepenuhnya salah. Saya malah mempertanyakan kenapa diskusi ini “larinya” ke isu Pak Harto lagi? Apakah tidak lebih baik diarahkan lebih ke masalah demokrasi untuk kesejahteraan masyarakat (public welfare?) atau negara (state welfare?).

Saya mencoba mencoret-coret sedikit di buku kecil, sambil membayangkan diskusi-diskusi dulu dengan “the one and only thing matters is democracy” guy, Ade Armando (yeah you!). Hari ini terjadi pembulatan pikiran dan paham saya, dan saya menggambar pola demokrasi di bawah ini. Orang tetap perlu preskripsi atas kejadian-kejadian yang dibuat manusia. Kalau tak ada, nanti Gunung Kawi bisa penuh seperti Ancol kala libur panjang.

:))))

econ-101.jpg

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada Februari 6, 2008 in democracy, law, pers, politics

 

Belajar dari Seth Godin


seth_godin_4.jpg   coffee_machine.jpg

(squarespace.com) 

Seth Godin adalah sosok yang mudah diingat. Trademark kepala botaknya menghiasi sampul buku-bukunya. Membaca tulisan-tulisan Godin di blognya (sethgodin.typepad.com) seperti kuliah jarak jauh. Bahasanya renyah dan isinya mencerahkan. Salah satunya adalah soal kopi di Starbucks. “Espresso, Hot Coffee, Biscotti, Frappucino® blended beverage” bukan produk utama Starbucks. Sesungguhnya Starbucks menjual biji kopinya! Yang tersedia di menu itu hanya icip-icip saja.

*POUTS* silly of me!

Saya suka sekali membeli biji kopi giling di Kafe Espresso, bukan hanya rasanya tapi juga “pikir-pikir lebih murah seduh kopi sendiri daripada nongkrong di kafe untuk segelas kopi seharga pemasukan sehari seorang tukang ojek kampung”.

Danke schoen, Mr Godin. Mulai dari sekarang saya akan perhatikan dan bedakan “dagangan antara” dengan “dagangan sesungguhnya”. Tapi maaf, Sir, buku Anda di negeri saya muahal tenan... saya hanya langganan isi blog Anda saja, ya?

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 6, 2008 in Blogroll, books, seth godin