RSS

Arsip Harian: Februari 7, 2008

PSSI Revisited


Turut berduka cita atas tewasnya pendukung sepakbola Liga Indonesia. Turut berduka juga atas 60% dari 278 kartu kuning yang diberikan untuk pemain asing. Turut berduka juga atas panggilan pihak imigrasi terhadap mereka yang tak punya izin resmi tapi berkelahi dan bikin onar di banyak tempat selain lapangan sepakbola.

soccer-face-smash.jpg http://www.21lmao.com

Daripada urusan solidaritas dan semangat kelompok yang sehat, atau toleransi dan fair play, klub-klub sepakbola di bawah bendera PSSI yang bertemu dalam berbagai bendera liga pertandingan malah melakukan sebaliknya. Olahraga adalah bentuk hiburan selain olahraga an sich itu sendiri. Pertandingan olahraga yang menghibur ini akhirnya harus mengikuti jaman yang kian komersial. Tantangan dan ancaman lain adalah perjudian, eksploitasi pemain muda, narkoba, rasisme, kekerasan, korupsi dan pencucian uang.

Uni Eropa pernah mengkaji hal ini pula untuk semua cabang olahraga yang kian mendapat tekanan dari segala lini. Esensi awal mengapa diadakan pertandingan olahraga harus dikembalikan ke bentuk semula. Hooliganisme adalah fenomena tahun 1980-an di kala manajemen Liga Inggris terpuruk. Paket insentif yang diperbaiki secara bertahap mengikis peran hooligan di banyak tempat. Paket insentif yang juga transparan ini juga memberi ruang sempit bagi korupsi dan pencucian uang.

Undang-undang Olahraga baru disosialisasikan beberapa waktu terakhir ini oleh Kantor Kementerian Pemuda dan Olahraga. Stadion olahraga yang beralih fungsi seperti yang pernah ada di Menteng menjadi satu polemik tersendiri. Hal ini membuat Sutiyoso kabarnya berkirim surat khusus ke Menteri Adhyaksa Dault untuk satu kebijakan khusus. Mudah-mudahan cuma gosip.

Yang bukan cuma gosip adalah masalah-masalah yang tak akan selesai sampai kapanpun jika PSSI tidak berbenah diri dan memberi contoh kepada seluruh klub. Pemain asing dibenahi, pemain lokal diberi insentif besar, dan pengelolaan stadion juga “diswastanisasikan” seperti pengelolaan mal. Adalah kewajiban pengambil keputusan negeri ini untuk membenahi persepakbolaan nasional, dan me-manage sebuah institusi seperti PSSI bagai mengurus sebuah negara kecil yang punya banyak masalah-masalah internal lain.

Good luck Pak Adhyaksa, please read some materials like this (click here).

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada Februari 7, 2008 in football, hooliganism, PSSI, rusuh, sepakbola, sports, sports economics

 

Governing the New Private-Turned-to-Public Sphere


The president is a hot celeb? I found pic of Susilo Bambang Yudhoyono amongst other worldwide celebrities at http://www.riya.com, a picture search engine. From Hu Jintao to Kelly Hu (not related to the president) to Pamela Anderson, I found their nice, print-quality pictures. A digital picture has signatures (be found at properties). Riya search engine will look at the same signature the time any digital picture is saved, digitized and uploaded on the Net. I take pictures of me from my camera, and other pictures that have my signature or similar typography could be searched easily.

Crazy huh? I am living in a world that anyone could no longer hide, unless I am living in remote island Pulau Wetar or something. No electricity nor satellite phone.

In this crazy kind of world, I assume everyone is nice and reasonable. A nice blogstalker like me would not follow the virtual link to IRL. I send emails only to by beloved, real-life friends or colleagues. Never reply an email with “Assalamualekum” or “My Client Died and Left Some Inheritance to Noone” subjects.

I still wonder how on earth anyone could do such work, and noone got arrested for intruding with such emails. No governing bodies ever officially declared such thing as a crime. There is Internet Engineering Task Force and Social Media (from Wikipedia to Facebook, from Cyworld to Gawker Stalker) to consider as new institutions that govern the virtual world.

For me, whatever they are and do, I am going to be strict: draw a definite line of IRL and the virtual world. Or else I cannot explore other parts of beautiful beaches and mountains and heritage of Indonesia. I am just sitting here with my coffee and pajamas. Get a life?

 

Social Media 3.1


Version 1.0 : pertunjukan semalam suntuk Wayang Wong (di mana semua orang berkumpul, duduk, diam, tidur di tengah cerita atau ikuti ceritanya hingga habis)

Version 2.0 : beratus episode tayangan sinetron Angling Darma (semua orang mengikuti cerita yang berbelit, dengan hero & villain, suhu & murid, cinta & kekuasaan, dengan trik animasi naga hijau yang tidak menarik)

Version 3.0 : expensive, techie-trash, stand-alone personal websites turned into user-friendly, googled-easy, thousands-entries-per-day blogs

Version 3.1 : nodes & ties of new netizenship (make a political commitment to anonymity)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 7, 2008 in blogging, media, society

 

Blog: Private-sphere that Goes Public


There’s a time and a place and a reason
And I know I got a love to believe in
All I know got to win this time

I was “entertained” by the idea of “detailed reportage” on Soeharto (oh, not him again!). From the position of the bed to the pills he had to take before passed away, one TV producer posted a person to look after the details. Amazing, and what’s that for? IMHO, that is another way for “sorry and please forget anything?” This is the real power of one-to-many media: love or hate your subject.

Blogosphere is a many-to-many media. It is the realm of writing “seenak udel” that has the similarity of Soeharto’s reportage. Via blogging, I could turn my private life a little bit open in public. Thus I need to have “love” (or “hatred” which is not in any of my writings at the moment of typing). I need love in my writing to make everyone turn on, tune in, and drop out of any story. There are 25 ways to concept a blog beforehand. Pick one, and even gain some money out of it.

Seriously, I’ve been doing blogstalking for the last 6 hours, and I could love thus question any silly markings or wrong grammatical expressions. Most of all I laughed at some silly blogs. There is truth and “spices” that lie between exposing of her feelings out loud and not revealing any identities of whatsoever!

Well, that is blogging, dear. My private life that goes public. See a little bit, be entertained, and yet forget me the second you close this window (unless you bookmark this page online del.icio.us or with your Firefox facility).

46218gif.png

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 7, 2008 in blog, blogging, blogosphere, Blogroll, media