RSS

Arsip Harian: Februari 8, 2008

Saya Tetap Membaca Koran Cetak Kok!


Siang hari ada Kompas Update (biasanya hanya halaman depan saja), dan sudah lama Koran Tempo memperkecil dimensi kertasnya. Tak satupun dari media cetak offline yang mampu berinovasi selain downsizing (alias pecat karyawan yang tidak kompeten) atau columnsizing (alias jurnalisme awam; baca: citizenship journalism). Yang terakhir tentu terkait dengan downsizing, agar tak terlalu banyak reporter yang ditanggung Jamsostek-nya, cuti hamilnya, dan fasilitas wajib lain.

Harian atau daily newspaper adalah media yang 80% hidupnya tergantung dari iklan. Kue iklan harian di Amerika Serikat tidak banyak berkembang. Sejak 1990, naik hanya  5-10% setiap tahunnya. Bahkan di tahun 1991 hingga 1993 cenderung turun seperti halnya tahun fiskal 2007-2008 ini (turun 7%!).

Banyak cara agar media cetak hari ini mampu bersaing secara sehat (apalagi yang tidak sehat, tapi tidak akan saya bahas kali ini di sini). Yang mungkin sudah terpikir oleh beberapa pemimpin perusahaan adalah membuat edisi online yang bisa di-update setiap detik. Yang belum terpikir adalah konsep long tail yang menunjukkan cara bahwa segala sesuatu online itu berjaringan dengan mudah dan murah. Lebih lanjut, dari sisi pemasaran, cara berjaringan online ini pun diterapkan bergandengan dengan media cetaknya; walhasil harga iklan yang dipaketkan antara media cetak dan online-nya bisa menjadi lebih menarik. Banyak cara untuk inovasi, tapi lebih banyak lagi cara untuk efisiensi.

 newspaper.jpg

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 8, 2008 in business, media, newspaper

 

A Story of Legal Movie-phreak


A lawyer named Impos Syble was shopping for a tombstone. After he had made his selection, the stonecutter asked him what inscription he would like on it.

“Here lies an honest man and a lawyer,” responded the lawyer.

“Sorry, but I can’t do that,” replied the stonecutter. “In this state, it’s against the law to bury two people in the same grave. However, I could put `here lies an honest lawyer’.”

“But that won’t let people know who it is!” protested the lawyer.

“Sure it will,” retorted the stonecutter. “People will read it and exclaim, “That’s impossible!”

(pics: imdb.com & bittorrent.com)

Saya sedang menikmati tayangan S.H.A.R.K, seorang pengacara kriminal kelas kakap (James Woods) yang “gak ada matinye” kemudian “tobat” dan berbelok menjadi jaksa. Untuk ia melatih argumentasinya, di lantai bawah rumahnya ada replika ruang sidang yang dilengkapi empat kamera segala penjuru. Good storyline, great James Woods!

Kalau soal esensi pengacara saya menyukai film “The Devils’ Advocate” (1997) yang dibintangi Mas Nunu & Opa Nono (Keanu Reeves dan Al Pacino). “Vanity, definitely my favorite sin.” Arrrrgh, I always passed out everytime I heard this memorable line!

Hari ini ada diskusi di Radio 68H tentang Assegaf yang dilaporkan ke Peradi tentang “mempengaruhi saksi”. Saya tak peduli dengan dimensi politiknya. Yang saya pelajari dari banyak tayangan TV atau film (drama oh drama!) adalah bagaimana semua itu bisa menjalin cerita yang menarik. Banyak kasus yang bisa digali dan disajikan ulang with different angles. Sekarang tinggal bagaimana saya sebagai penonton memosisikan diri saya.

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada Februari 8, 2008 in entertainment, law, lifestyle, media