RSS

Arsip Harian: Februari 24, 2008

DOI: Indonesia Belum Biru


Paling gelap warnanya berarti paling siap infrastruktur (kriteria: manusia, jaringan teknis dan hukum). Beruntung sekali Indonesia (secara keseluruhan) tidak diberi warna kuning oleh International Telecommunications Union (ITU).  Padahal ada titik yang sudah “amat sangat” padat dengan penggunaan teknologi seperti Jakarta atau Bandung atau bahkan Kabupaten Sragen dan Kota Balikpapan, dan ada juga Jakarta coret, Bandung coret atau Balikpapan coret (baca: hutan Bukit Soeharto).

Indonesia masih berwarna hijau yang belum terlalu pekat. Tujuh belas ribu pulau, dua ratus tujuh puluh juta manusia dan milyaran titik blank spot?

digital-opportunity-index-doi-asia.png

Digital opportunity index (DOI) adalah indeks yang dibuat atas kesepakatan internasional untuk indikator teknologi informasi dan komunikasi. DOI adalah perangkat standar bagi pemerintah, operator, pendidik dan periset, serta lainnya untuk melihat jurang digital sendiri serta membandingkan kemajuan antar-negara.

Menarik mengkaji Indonesia secara paralel, bagaimana pembangunan infrastruktur komunikasi dan informasi ini terpengaruh dengan penyebaran penduduk, infrastruktur listrik serta kemampuan setiap warga negara (membeli perangkat hingga menggunakan perangkat secara maksimum).

 
 

SeMaNTic wEb: Give Meaning To My Anonimity?


Suatu hari kita bisa meng-update blog melalui telepon selular dengan harga lebih murah dari hari ini.
Suatu hari kita akan mengakses internet di mana saja dan dalam durasi waktu lebih banyak daripada jam tidur.
Suatu hari kita bisa men-download satu file 90 menit film Nenek Grondong Siang Bolong hanya 15 menit.
(s-mntk)
radar-networks-towards-a-web-os.png

Pic: Nova Spivack & Radar Network

Suatu hari itu adalah di saat Departemen Komunikasi (communication? k-myn-kshn) dan Informatika (informatics? nfr-mtks) sudah selesai bertugas sebagai leading sector of Palapa Ring dan (utamanya) opsi routing-backbone. Setelah gempa Taiwan tempo hari, proyek-proyek megadolar ini adalah langkah antisipasi arus internet macet.

Kembali ke semantic web, tak hanya sebuah mekanisme jaringan yang “bisa mengerti” secara teknis tapi juga secara manusiawi. Manusiawi? Di tengah belantara data yang kian hari kian menggunung, tak setiap orang memiliki keahlian meng-google dengan baik. Eric Schmidt (CEO dari Google) memprediksi bahwa satu hari (secepatnya):

  • aplikasi akan semakin kecil, data akan berada di satu kelompok tertentu,
  • aplikasi itu bisa dipakai di alat apa saja, PC atau telepon selular,
  • aplikasi itu sangat sangat cepat dan dapat disesuaikan (customizable),
  • aplikasi tersebut didistribusikan ibarat virus (viral distribution)
  • kita semua tak harus pergi ke toko dan membeli semua hal.

Lalu di mana manusiawinya web semantik ini? Semantik adalah cabang ilmu linguistik yang mempelajari “arti” dari setiap ungkapan (kata, kalimat, gerak tubuh, dan seterusnya). Sehingga yang terjadi dengan web masa depan (sooner than you thought!) adalah web yang mengenali identitas kita (OpenID dan ClamID) untuk memproses setiap langkah (klik). Contoh mudah adalah AdSense, tapi kemudian di web semantik semua keinginan kita (mulai penerapan password hingga kebutuhan informasi yang ingin kita baca setiap hari) akan direkam dan diproses otomatis. Setiap orang memiliki unique ID (seperti memberi nomor ke setiap kening kita) sehingga di setiap klik kita hanya mendapatkan informasi yang kita inginkan saja.

Web semantik ini secara manusiawi memudahkan langkah-langkah mencari informasi hingga bertransaksi dari meja kita ke ujung dunia manapun. Still people talk to people, machines talk to machines, masalah keamanan adalah hal krusial di sini. Anonimity? No, this is not my most favourite sin.