RSS

Arsip Bulanan: Februari 2008

Fidel Castro: No Me Ames, No Conduzca


 castro2.jpg

Kalau ingat Kuba, ingat Double Corona, Lonsdale, Churchill, Belicoso, Robusto, dan other size of world’s best cigar. Kalau ingat Castro, ingat Pak Harto [lagi]. Kuba itu ada di selatan negara bagian Florida. Selain itu, tak ada lagi yang saya tahu terkait negara ini. Toh tak banyak urusan perdagangan internasional antara kita dan Kuba.

Cuba is Castro, and the other way round. He is too old to rule, and yet he remains the only person who stays longer than other leaders in the world. Today, the rest of the world commemorates his first day of uncrowning himself.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 19, 2008 in politics

 

Business Incubation


Istilah “inkubasi bisnis” ini dipakai di beberapa badan penelitian khusus bisnis startup yang terkait erat dengan bidang teknologi. Menarik, karena yang berinkubasi itu kalau tidak bakteri, burung, ya bisnis. Bisnis bisa menjadi penyakit? Atau bisnis bisa terbang jauh? Bakteri penyakit adalah entitas terkecil yang bisa “terinkubasi” yang kemudian bisa membantu mengelola sampah (waste management). Telur burung yang”diinkubasi” adalah telur yang ingin ditetaskan lebih cepat. Bagaimana dengan sebuah entitas bisnis?

Secara khusus inkubasi atau penetasan atau pengeraman adalah proses mendukung sebuah bisnis awal (startup business) yang diakselerasi agar bisa menuntaskan segenap masalah sumber daya dan layanan. Harapannya adalah entitas bisnis ini kemudian bisa mandiri juga kuat mengatur masalah finansial. Manajemen inkubator biasanya juga telah memiliki jaringan yang luas untuk membantu merancang dan mengembangkan layanan entitas bisnis ini. Biasanya entitas yang telah selesai diinkubasi adalah entitas yang mampu menciptakan lapangan pekerjaan, merevitalisasi kehidupan lingkungan, mengkomersialisasikan teknologi baru, dan memperkuat ekonomi lokal hingga nasional.

Ada dua catatan khusus untuk inkubasi bisnis ini. Keduanya diawali dari ruang sekolah dari SD hingga kuliah. Yang pertama adalah tingkat inovasi teknologi tidak tinggi. Selanjutnya adalah masalah kewirausahaan di tingkat perguruan tinggi yang hanya sebatas teori.

Khusus hal pertama, kurikulum sekolah masih mengutamakan “anak sebagai operator alat” bukan “anak sebagai inovator alat”. Contohnya adalah buku wajib anak SD hingga SMP tentang Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). TIK adalah terjemahan langsung dari Information and Communication Technology. Dua buah teknologi yang hari ini berkonvergensi. Di saat matematika memiliki sifat statis (1 + 1 = 2 atau 2 – 1 = 1), maka perkembangan kurikulum TIK haruslah dinamis. TIK mengenal 2 + 1 bisa menjadi 1.000 karena “kawan” dari 1 di sebelah sana adalah 997 karena mereka berjaringan secara virtual. TIK juga mengenal siklus hidup yang cepat; bagaimana telepon genggam sepuluh tahun lalu bukanlah telepon seukuran sekarang dengan fasilitas kian beragam. TIK juga mengenal sejarah platform yang kaya: mulai dari komunikasi asap, menghitung dengan sempoa hingga komunikas satelit dan menghitung hitungan rumit dengan rumus template.

convergence.jpg

Pengertian mendasar tidak diajarkan untuk anak-anak negeri ini. Silakan simak buku wajib anak SD kelas 1 hingga 6. Betapa buku-buku TIK ini berisi “bagaimana mengenal Microsoft Paint” seperti manual penggunaan satu piranti lunak yang harus dimengerti selama 6 tahun! Memasuki SMP, yang diajarkan adalah internet secara kaku: mengenal fasilitas email dari Yahoo. Tak diajarkan konsep Web 2.0 secara mendasar.

Sehingga terbayang di kepala saya, memang anak-anak kita diajarkan untuk menjadi “tukang” bukan “inovator“. Buku tentang praktek mengenal kekayaan alam di segala topik (struktur tanah, sejarah Mesir dan Cina, energi, dan masih banyak lagi) hanya bisa didapat di toko buku Borders, Singapura atau yang lebih tipis berbahasa Indonesia hanya di Gunung Agung Kwitang terbitan Mandira Jaya Abadi (Semarang).

Jika sebuah usaha startup adalah sebuah makhluk hidup yang disamakan dengan bakteri atau telur, atau bahwa usaha Anda itu masih kecil dan rentan terhadap segala masalah, saya sebagai orangtua harus mampu melakukan inkubasi terhadap anak sendiri agar bisa menetas dan mentas (naik pentas) dengan baik.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 19, 2008 in bahasa, business, education, language

 

Balai Penelitian Padi: A Chorus of Failures


Hari ini adalah hari “karya wisata” buat ketiga anak saya. Kami sekeluarga mengunjungi Mbah Bibi (tante dari suami saya) di Desa Sukamandi, tepatnya di kompleks para peneliti padi.

Hijau royo-royo, mendung, angin cukup sepoi-sepoi (walau sedikit lembab dibanding Jakarta seminggu terakhir ini), membuat suasana desa kian nyaman. Burung bangau di danau menyambut kedatangan kami, dan empat anak desa mencungkil-cungkil selokan tertawa-tawa saat kami mengayuh sepeda keliling kompleks.

Fajar, Abi, Dedeh dan Uki sedang mencari keong mas, yang telurnya berwarna merah jambu keren menempel di banyak bebatuan dan ranting di sekitar danau. Keong itu untuk dimakan sebagai kemilan mereka. Menjelang siang, anak muda-mudi berpasang-pasangan duduk-duduk di pinggir danau. Kian banyak menjelang sore.

Anak saya yang terkecil menemukan anak kucing di tengah jalan menuju kantor Balitpa (Balai Penelitian Padi) dan memberi makan hingga menyiapkan kardus untuk tidur. Yang lain mencoba memancing, melihat peternakan sapi yang becek, mengangon kambing dan banyak hal yang tak mungkin dilakukan di Jakarta.

paddy.jpg

Yang lebih banyak belajar dari karya wisata hari ini sesungguhnya adalah saya. Bagaimana padi, apa saja jenisnya, dan segala kesulitan struktural yang tak akan habis diceritakan sehari. Mbah cerita, “Untung dulu kita bisa disekolahkan ke Amerika hingga PhD, sekarang mah peneliti mudah kita hanya mentereng berpakaian. Mereka tak dapat kesempatan bagus seperti dulu, bahkan program kerja riset anggarannya tak memadai.” Government failure number one.

Belum lagi cerita “calo” yang membeli padi dari petani dengan harga sangat rendah, dengan cara memarkir truk-truk di sepanjang sawah; memaksa petani menaikkan semua hasil panennya. Ada lagi soal “mark up” jumlah panen demi kepentingan atasan atau partisan (ini cerita agak panjang sendiri, nantilah). Padi dalam pot juga merupakan satu hal yang hiperbolistik, karena liputan Tabloid Nova terakhir tidak menghitung pot yang kena hama, yang mandul, dan seterusnya. Kalau ini memang market failure yang harus segera diatasi dengan penertiban agar tak ada tambahan government failure.

Yang paling menarik adalah masalah informasi asimetris. Satu hal tentang reformasi segala bidang, adalah hilangnya relai wajib RRI pukul 8 malam tentang harga bahan pokok termutakhir. Saya ingat dahulu laporan cabe dan bawang di semua radio ini bisa menjadi bahan ledekan di sekolah: “Ade kriting seribu, Danang merah dua ribu.” Bagaimana informasi asimetris antara petani dengan pembeli beras (atau bahan pokok lain) bisa dimanfaatkan oleh “calo” hari ini. Government failure number two?

Perjalanan pulang, lubang menganga dalam sepanjang Jalan Raya Sukamandi bisa merontokkan mobil jika tidak hati-hati. Sudah sebulan ini jalan tersebut rusak, walau belum separah yang ada di halam satu Kompas pagi ini. Another government failure?

Anak-anak muda hampir setiap hari duduk-duduk di pinggir danau. Mereka menjadi sangat konsumtif akhir-akhir ini. Orang tua mereka pekerja tani atau pedagang pasar yang rela makan sekali sehari demi membayar kredit motor. Anak dibelikan telepon genggam untuk menghabiskan pulsa mengetik SMS berisi “reg spasi hadiah bayar sendiri”. Bensin dan pulsa menjadi makanan wajib anak muda di sana. Saya meledek, “Kurang banyak PR dari sekolahnya, ya?” Banyak anak muda ini akhirnya tak lagi rela bertani atau berdagang. Ada dari mereka (bahkan cukup besar jumlahnya) akhirnya terjun ke dunia asusila. Jika memang pendidikan masih nomor sekian setelah biaya gedung dan beli mobil dinas baru, tentulah ini government and legislative failures altogether!

Ternyata karya wisata kali ini bukan hanya anak saya yang mendapatkan pelajaran tentang dunia.

 
 

Pilih Mana: “Peningkatan Produktivitas” atau “Penanggulangan Kemiskinan”


Negeri ini paling suka menggunakan bahasa yang terlampau muluk (amelioratif) atau yang buruk sekalian (peyoratif). Tidak pernah bermain di diktum yang “sedang-sedang saja”. Satu contoh, birokrasi kita paling suka menggunakan kata “miskin” yang kian membawa rakyat muram durja. Bahkan ada Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan yang bertugas dalam 3 fokus program kerja: pendataan, pendanaan, dan kelembagaan.

Soal nama tim itu sendiri, saya melihat beberapa hal yang unik.

  • Penanggulangan:
    • JS Badudu menyamakan “tanggulang” atau “menanggulangi” dengan”mengatasi”.
    • Selanjutnya, “mengatasi” bisa berarti: 1) melebihi, 2) menanggulangi, 3) ada di atas, 4) mengalahkan.
  • Kemiskinan:
    • Cap miskin menjadi semacam propaganda yang diberikan negara maju kepada negara berkembang (baca: bukan negara miskin). Tak akan pernah ada yang menempatkan kata “menanggulangi” di depan “negara berkembang”.
    • Bayangkan juga begini: seorang konglomerat terlibat BLBI pun bisa dibilang miskin karena utangnya lebih banyak dari aset, tapi ia masih mampu dinner di Hotel Mulia seminggu tujuh kali.
    • Artinya: kata “kemiskinan” adalah kata yang absurd untuk menjadi obyek sebuah program kerja.
  • Mari kita rangkaikan:
    • Jika “penanggulangan” berarti “ada di atas” bisa membuat frasa lucu: “ada di atas kemiskinan”.
    • Jika kata “penanggulangan” berarti “melebihi”, kita akan semakin tertawa: apa yang lebih enak dari kemiskinan yang berlebih?
    • Apalagi jika kita pakai “mengalahkan” sehingga menjadi “mengalahkan kemiskinan”. Mengapa memperlakukan suatu yang abstrak sebagai musuh?

Selain frasa “penanggulangan kemiskinan” itu adalah satu hal yang absurd dan tidak fokus, marilah kita melihat sesungguhnya soal fokus kerja tim ini:

  • Urutan pertama adalah “pendataan” (yang berarti pengumpulan informasi siapa saja yang layak diberdayakan atau diberi dana);
  • Selanjutnya “pendanaan” (sesungguhnya berarti “mengatur arus dana” atau istilah tim “pengarusutamaan” ke daerah atau pihak-pihak yang membutuhkan);
  • Terakhir adalah “kelembagaan” (yang berarti pemberdayaan lembaga).

Proses manajemen modern mengenal detail “pendanaan” sebagai pokok bahasan terakhir. Istilah “pengarusutamaan” dana juga apakah berasal dari frasa “arus utama” atau “main stream”. Sesungguhnya kamus umum JS Badudu tidak mengenal satu frasa khusus “arus utama”, karena “arus utama” merupakan dua kata terpisah. Repot ya?

Usul saya, daripada membuat sebuah tim koordinasi yang terdiri dari berbagai departemen yang menghabiskan anggaran rakyat (catatan: pembentukan tim ini berarti ada keputusan presiden, yang berarti juga kompensasi dana tambahan untuk operasional kerja), lebih baik membentuk badan yang:

1. Langsing dan fokus agar anggaran negara pun tidak terbuang percuma.

2. Berpikir positif: gunakan kata “produktivitas”, karena seperti mengajarkan anak akan kebaikan, “Ayo makan yang banyak, mari kita cari makan lebih banyak juga.” lebih baik daripada mencekoki dengan celaan “Oi, kamu ‘kan miskin, jadi mau makan apa?”

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 16, 2008 in bahasa, language, poverty, productivity, public policy

 

Hari Ini Berita Detikcom NGACO


betadine3.jpg betadine2.jpg

Tiga tetes air rahmat di air PDAM, air bisa bebas bakteri langsung minum? Soal air ini, Detikcom mengutip pernyataan resmi Direktur Penyehatan Lingkungan dalam jumpa pers di Hotel Shangri-La.

Berita tentang air rahmat (Air RahMat) ini ditulis oleh Rafiqa Qurrata dan di-upload Detikcom pukul 22.17 hari ini. Detikcom membuat sebuah berita yang MENYESATKAN. Jika memang ada kebiasaan bahwa wartawan yang ditempatkan di akhir pekan adalah wartawan rookie, harus dipertanyakan apakah beritanya juga imparsial. Saya menyesalkan sebuah penulisan yang hanya mementingkan judul heboh dan tanpa mengindahkan kode etik wartawan secara utuh.

Bayangkan sebuah jumpa pers Depkes, oleh Dr Wan Alkadri, Direktur Penyehatan Lingkungan di Hotel Shangri-La Jakarta (mengapa tidak di kantor resmi, dan mengapa akhir pekan?) diplintir sebagai berita yang “menjual produk” yang telah terdaftar di Depkes dan telah mendapatkan sertifikat halal MUI. Tidakkah sebuah media berita online seperti Detikcom mampu meng-google kata kunci “air rahmat” dan “wan alkadri” untuk mencari hubungannya? Perkenankan saya cari jembatannya: USAID sebagai donor dan John Hopkins sebagai peneliti.

1. Rafiqa teledor dengan angle berita; mengapa mengaitkannya dengan “lebih menghemat BBM” dan memberi informasi sepenggal-sepenggal. Mengapa tidak disebutkan bahwa air rahmat ini adalah produk yang diteliti, didistribusikan dan dipasarkan oleh John Hopkins, sebuah institusi penelitian resmi Amerika Serikat yang memiliki kantor di Jakarta? Mengapa tidak digali lebih lanjut hasil riset John Hopkins? Bisa juga dilengkapi kasus sukses penurunan diare di daerah-daerah yang sudah memanfaatkan air ini (jika ada).

2. USAID yang mendukung penyebaran air rahmat (baca di sini untuk berita lengkap pemerintah Amerika Serikat “menolong” program air bersih Indonesia) bekerja sama dengan Depkes untuk “mengentaskan” masalah air tidak bersih di negeri ini untuk menghindari diare. Masalah sesungguhnya berada di hulu (masyarakat Indonesia yang belum memperhatikan kesehatan lingkungan secara utuh). Kalau mau tarik ke hulu, mungkin terlalu lama (baca: memakan uang donor USAID lebih banyak) untuk mendidik dan melatih tuntas soal kebersihan 200 juta orang. Akan lebih mahal lagi membangun infrastruktur daur-ulang air seperti yang dimiliki Singapura untuk melepaskan ketergantungan air bersihnya dari Malaysia.

3. Memberi nama “rahmat” adalah sebuah trik yang memanfaatkan agama. Satu usaha yang tidak simpatik, seakan orang Indonesia semua berpikir tahayul untuk konsep sanitasi. Tiga tetes air, voila! semua sehat. Padahal Islam juga mengajarkan kebersihan yang lebih konsepsional; salah satu bentuknya adalah berwudhu atau langsung membersihkan diri jika terkena najis.

4. Logika, membunuh kuman di dalam air, dan airnya kita minum, akan berapa banyak substansi pembunuh kuman masuk ke perut masyarakat yang percaya tahayul? Selama ini yang saya tahu kalau ingin membunuh kuman saya oleskan, teteskan atau kumur Betadine, tidak dengan meminum Betadine dan kumannya sekalian. Berapa banyak informasi lain yang belum diketahui masyarakat. Mengerikan jika pemberian nama “Air RahMat” ini adalah cara menjual produk yang tidak jelas apa dampak jangka panjang untuk rakyat Indonesia.

Janganlah menempatkan sebuah berita layaknya iklan komersial. Lama-lama Detikcom kok menjadi media infotainmen kacangan ya?

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada Februari 15, 2008 in detikcom, news, profesionalisme

 

Babak Baru: AFC v. English Premier League


bola.jpg

Richard Scudamore dari Liga Inggris (English Premier League) siap-siap menggelar pertandingan persahabatan EPL di Bangkok, Beijing, Hong Kong, Melbourne dan Singapore (haha Jakarta kelewat!). Akan ada 10 pertandingan di lima kota itu sebelum 2011. Scudamore menyatakan bahwa pertandingan ini akan menaikkan popularitas EPL ke seluruh dunia (juga menaikkan pemasukan klub dengan menaikkan nilai hak siar dan hak intelektual via platform lain, sehingga sponsornya makin menggila).

Hebatnya, presiden Asian Football Confederation (AFC) Mohamed bin Hammam menolak inisiatif Scudamore ini dengan alasan tidak baik untuk perkembangan klub sepakbola Asia. Tambahnya, “I appreciate, for example, if the Premier League wants to play in Darfur, Somalia or East Timor where they can act as peace makers.” ROFLMAO, LOL! Good one. Sayangnya, kalau EPL main di sana nanti Beckham pun bisa pulang ke Inggris tanpa kaki.

Apa yang saya lihat? Murni pertarungan lahan sponsor global.

Szymanski (2002) dan Dawson (2005) adalah dua peneliti yang khusus memfokuskan diri untuk urusan sports economics, khususnya sepakbola. Lihat bagan di bawah ini. Hak siar tertinggi dunia untuk olahraga masih diduduki oleh tayangan bola. Mereka bahkan melihat bahwa pergerakan hak siar sepakbola dari tahun ke tahun kian menggila.

2-liga-inggris-terkaya.jpg

Selanjutnya, lihat bagan di bawah ini. Semenjak dipegan BSkyB harga hak siar Liga Inggris di seluruh dunia mulai meroket. Harga per pertandingan pun berlipat ganda.

3-kontrak-bskyb-rocketing.jpg

Untuk seterusnya uang ini dibagikan ke setiap klub. Persentase hitung-hitungannya untuk setiap klub saya punya juga, tapi kita bahas di diskusi lain saja. Uang itu akhirnya kembali ke kampung halaman tiap klub, membangun stadion dan regenerasi pemain dan semua pilar institusi sebuah klub yang baik.

Akhir ceritanya, memang uang dari hak siar menjadi pemicu bagaimana sebuah asosiasi yang baik membangun [industri] sepakbola di negaranya. AFC punya hak untuk teriak, sementara itu EPL juga bisa menjadi gurita yang tak terhentikan. Plain supply-demand thing. But most of all, people (read: AFC and EPL) always respond to incentive. Cring-cring!

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 15, 2008 in football, sepakbola, sports

 

Copyright Uni Eropa 95 Tahun?


Bagaimana orang-orang macam kita bisa maju, jika semua karya cipta buatan mereka di Uni Eropa diproteksi hingga 95 tahun lamanya. Amerika sudah lebih dulu mematok 95 tahun, dan Australia 70 tahun.

Padahal dipikir-pikir, dengan semakin demokratisnya kehidupan media (“internet governance has less and less government control“) serta semakin bersatunya platform (“henponku adalah radio FM-ku dan kameraku“) apakah bijak jika karya cipta benar-benar diproteksi sekian lama?

Terus-terang, saya adalah plagiat ulung. Saya baca karya orang, dan saya terjemahkan dalam bahasa yang dilatar-belakangi tumpukan pengalaman saya. Dengan begitu, otak saya berputar terus, “bagaimana jika diimplementasikan di kehidupan saya, kehidupan RT sini, ataupun hingga ke pelosok negeri ini.” Saya baca, lalu saya tulis pendapat saya. Mau kutip, silakan. Mau diakui jadi paper-nya sendiri, silakan. Toh, plagiat macam begini hanya bisa menulis di situ saja. Tak akan ada pengembangan lebih lanjut. No-brainer copycat? Sure, a no-go destination.

Sekali lagi, karya cipta adalah mekanisme kapitalisme yang paling mutakhir. Setelah barang dan jasa tangible alias bisa dipegang sudah aus nilainya, lahirlah konsep hak intelektual yang ditempel ke setiap lini berusaha.

Duh, saya selalu suka nasehat ini: “look but not touch”. Ini adalah labirin yang dibangun sebagai citra sebuah karya cipta. Pencitraan seperti ini: “Insentif pencipta harus ada, tapi yang tak perlu ada adalah kesejahteraan orang lain.”  Selanjutnya, uang saya bukan uang kamu. Kepintaran saya, untuk apa kamu ikut pintar. Padahal teknologi itu adalah variabel pertumbuhan yang kian hari kian dinamis.

Faktor “T” dalam sebuah fungsi pertumbuhan ekonomi menjadi kemutlakan bagi negara berkembang seperti Indonesia. Jika tidak, lihatlah inefisiensi yang kian menumpuk. Kita makin miskin sementara kita juga kian tergantung dengan produk internasional. Bayangkan bahwa selama ini manusia Indonesia hanya semata-mata pasar empuk. Tak pernah memproduksi puluhan barang atau jasa yang kian efisien.

Pak Presiden tercinta, tak pernahkah terpikir satu hari kelak manusia-manusia Indonesia tak hanya jago main sinetron tapi juga membuat televisi yang setipis cermin kamar mandi?

 thumbs_up.png

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada Februari 14, 2008 in copyright, insentif, intellectual property rights, IPR, technology