RSS

Arsip Bulanan: Maret 2008

Belajar dari Masa Lalu


Ada satu kata yang kerap saya ucapkan beberapa hari terakhir ini: PRAGMATISME.

Konsistensi pemikiran saya adalah hal paling absurd yang pernah saya tetapkan dalam benak kepala. Saya tak akan menyembuhkan dunia. Saya juga tak akan melihat segalanya serba-buruk. Sebagai seorang soccer mom yang setiap hari harus melihat tawa si Yu Tin di pasar dan senyum Bang Jimmy tukang mie pangsit atau Pak Ndut tukang bakso (nama-nama ini bukan samaran), saya merasa segenggam uang di tangan tak banyak bernilai lagi. Beras memang turun (pulen termurah Rp 3300,- per liter, pera Rp 4000,-) tapi bawang dan cabe keriting meroket tak kunjung akhir. Gesture politik para pemimpin yang terpamer di media massa terasa lamban mendongkrak perbaikan di banyak lini. SBY atau JK tampak seperti false harmony sampai-sampai Panji Koming protes minggu kemarin. “Ayat-ayat Kemiskinan”? Hahaha now that’s what I called funny!

Minggu ini saya harus menentukan sikap. Antara idealisme dan pemikiran taktis. Antara integritas dan tampil beda. Ada hati nurani… sebuah perenungan yang amat sangat tidak nyaman.

Make a difference… that’s all I have in my head. Yes, many many names I could pronounce. But I am not going to reveal tonight.  And yes, I’ve learned from the best.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Maret 31, 2008 in chaos

 

Gugat Telkomnet Speedy!


STO Cempaka Putih mengalami “kerusakan massal”?

Minta maaf karena server rusak?

Sil, ini posting paling pendek lagi, karena memang pelayanan publik di negeri ini kacau-balau, kita punya uang, tapi kita tak punya kuasa atas jasa yang kita beli. Telkom memang harus di-Baby Bell-kan. Kita buat agar semangat otonomi daerah akan menjadikan “Telkom Jakarta” berubah lebih profesional dari “Telkom Jakarta Coret”.

FYI, Telkomnet Speedy rusak sejak Sabtu siang hingga malam ini. Dial-up? Kalau kepepet. Mengadu ke YLKI? Di-forward ke BRTI. Telepon BRTI? Protes karena dapat limpahan YLKI. *geleng geleng gaya dugem Ebony*

and away from my keyboard again…

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada Maret 31, 2008 in curhat

 

Sil, ini posting terpendek


(maaf, baru satu posting terpendek di blog ini, tapi terus terang piring cantik juga cita-cita!)

Berhenti di lampu merah air mancur pizza man di Jl Sudirman, Jakarta, saya terpana dengan lampu kerlap-kerlip dengan tiang beton yang harga satu tiangnya tentu lebih mahal dari 100kg beras raskin. Ada ratusan (mungkin ribuan kalau dihitung semua lampu ‘gak penting’ di Jakarta). Cahaya kerlap-kerlip ini bisa disubstitusi dengan lampu sorot macam tiga arah di Bunderan HI. Letakkan di titik-titik pertigaan atau perempatan di seluruh Jakarta, lebih memiliki manfaat. Sil, saya punya pertanyaan jadoel: sekarang sebutkan manfaat dari fungsi guna? Jawabnya: lampu ‘gak penting. :))))

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada Maret 28, 2008 in curhat

 

Siapakah Akyu at Yahoo Dotcom?


Hahaha! Sedikit norak tapi mengena. Klik di sini untuk melihat tampilan situs Depkominfo yang di-hack.

RUU ITE masih menunggu tandatangan Presiden karena produk undang-undang adalah produk bersama eksekutif dan yudikatif. Sayangnya, protes terhadap RUU ini membuat situs depkominfo.go.id (sebagai institusi yang ditugaskan UU untuk menangani ITE di negeri ini) di-hack seorang pria yang menampilkan “foto seksi” yang dicurigai sebagai foto Roy Suryo. Walau menampilkan gambar tak pantas, saya akui ia cukup cerdas memainkan simbol-simbol.

Tetapi, tahukah Anda wahai “siapakah akyu” bahwa urusan hack ini juga bisa dikenakan pasal pidana dalam KUHAP? Bukan undang-undang an sich. Apalagi situs ini adalah properti yang memiliki badan hukum, dan Anda adalah warga negara di negeri ini (lain halnya kalau Anda asal Johor Malaysia yang tinggal di antah-berantah; kalau tinggal di Indonesia masih kena juga).

Saya jadi suka heran sama orang yang tak sependapat dengan ide orang lain lalu ia berlaku seenak udel. Some demo-crazy, huh? Saya juga heran sama wasit jago yang duduk di pinggir lapangan di kala pemain bola semua sudah pakai tangan. Alasannya juga aneh, “Biar saja mereka nakal, biar tahu kesalahannya apa.” Lah wong sudah ada aturan main sebelum turun ke lapangan (baca: dilahirkan ke bumi), kenapa mau kena prit dulu baru dibilang jagoan.

Akan panjang ceritanya kalau saya mau menuliskan esensi sebuah kesalahan yang berbanding lurus dengan esensi dosa. Mari kita fokuskan pada orang-orang seperti “siapakah akyu” ini. Subyek hukum dalam RUU ITE tak hanya yang nge-klik situs porno. Ada industri besar yang akan terkena dampaknya di sini, termasuk industri porno rumahan. Ada anak kecil dan remaja yang diproteksi di sini. Ada ibu-ibu macam saya yang tak perlu mengelus dada lagi melirik warnet dekat rumah (yang kebetulan satu rumah dengan Alfamart). Ada juga Anda-anda yang mengkoleksi Sandra Dewi palsu ataupun membuat film sendiri dengan pacarnya (kalau putus, sakit hati, eh ancamannya upload adegan syur itu ke internet!).

Tetapi tahukah bahwa ada seratus bayi dan jabang bayi digugurkan setiap bulannya di negeri ini (termasuk jabang bayi Anda, mungkin)? Tahukah bahwa energi Anda bisa disalurkan ke tempat yang lebih baik dan produktif? Sayang kalau waktu Anda hanya dibuang main gitar sepanjang hari, dan download video mesum malam hari.

Kalau tidak mengerti juga, wahai “siapakah akyu”, yakinlah bahwa Anda adalah salah satu orang yang “kurang banyak PR dari gurunya.” Selamat malam Pak Dosen, inilah hasil salah satu muridmu: sebuah lelucon calon kriminal.

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada Maret 27, 2008 in kriminal, KUHAP, RUU ITE, siapakah akyu

 

Garbage and Youngsters: Tools and Thoughts of Survival


I never really liked cats, until recently. My grandpa had asthma. My auntie and her family have to move out of the country for fresher air. My little brother up till today still pockets this green sprayer every time he has to work late. Cats’ furs are like two sides of a knife. It helps (they’re cute!) and it kills (they carry diseases!). City cats are big big big time disease carriers. They go from one garbage place to another  for food. I confess: I just found them cute recently. Honestly typing.

Cats. Jakarta is surrounded by a jungle of cats (read: nauseating kampung cats, also fierce but they are not jungle cats). In my neighbourhood, I’ve even counted a hundred of small cuties and kucing garong type of hunks. They pass by, jump fences and rooftops, make noises in the middle of the night, eat garbage, and do other survival behaviours. Their activities really annoy me. Well, understanding their nature of behaviour problems essentially helped me finding any dysfunctional, abnormal or maladaptive behaviour since “the problem is the not the animal’s behaviour per se but rather the problem that this behaviour poses for its owner” (Askew 1996). Coincidentally, I’ve found ways to help overcome those uninvited passers-by. Here goes…

Last month my youngest played and laughed with a skinny kitten in the backyard. He fed this skinny cutie. He cuddled it gently. They both looked really adorable!

This kitten is like a baby. Feed him right, and he doesn’t go scratching garbage cans anymore. He always waits patiently, even politely snuggling my legs when it is time for breakfast or lunch or dinner time. Today this willy nilly kitten doesn’t look for trash anymore.

cat-in-the-trash.jpg

Garbage. Now there’s another subject for observing animal behaviour. Please see the resemblance with our children. Any youngsters shall look for trash if their parents teach them to, or if their parents cannot provide decent foodings for their brain, body and soul. Our kids shall look for trashie porns at Warnet. Who’s to blame? King of jungle?

400px-maslows_hierarchy_of_needssvg.png

wikipedia.org

Porns are craftmanship at the very bottom of Maslow’s pyramid. Pics and videos of nakedness are considered trashie, but why? It is not about age issues per se, but remember this: not wearing a piece of clothing are supposed to be private issues. When they are out in public, they are considered improper.

Let’s scrutinize how garment industries work. Consider why we’d wear BLV by Bvlgari after odour-free hocus-pocus for our armpits. We want to look decent and smell good. We are wearing Armani’s for fitting into the very top of Maslow’s. These are humane thus very private values. These are our very animal behaviour for survival.

Our kids are like kittens. Provide them with the right survival tools and thoughts of achievement. Cuddle them. Feed and protect them. Live it to the utmost. Or just think about it.

 
3 Komentar

Ditulis oleh pada Maret 25, 2008 in kids, not banning freedom of speech, pornography, porns, teenagers