RSS

Mandi, Cuci, Kakus, Transportasi, Dst.

20 Mar

Saya sekarang mengetik di satu warnet di Martapura. Dua puluh meja dan seluruhnya digunakan oleh “abege” di sini. Sedikit mewawancarai penjaganya; setiap pagi mereka harus membersihkan isi komputer dari file atau cookies porno. Inilah anak sekarang… di manapun. This is the power of fully informed generation!

Saya menikmati sekali perjalanan di sini. Tadi siang saya menikmati makan Soto Banjar paling nikmat di bawah satu jembatan. Restoran soto itu menghadap sungai. Saya memicingkan mata saat memandang kehidupan penduduk di atas air sungai ini. Rumah menjorok ke sungai dan segala kegiatan pun dilakukan di atas air. Mulai mandi, sikat gigi, mencuci motor atau baju, buang air, berjualan solar, memasak, dan transportasi berjualan hasil tangkapan ikan. Konsep sanitasi sungguh rendah di sini.

Saya beserta rombongan menyusuri sungai (yang saya lupa tanyakan apa) menuju Pulau Kembang yang banyak sekali monyetnya. Kapal motor kami diserbu monyet sesaat merapat di dermaga kayu. Kacamata saya bahkan dirampas satu monyet. Untung diberi kacang untuk menukar kacamata itu. Kaget dan sedih. Ternyata di sana penduduk lokalnya juga meminta-minta dengan desakan yang tak sopan. Pantas saja kelakuan monyet di sana juga kasar, meniru “majikannya” mungkin. Saya tak akan kembali lagi ke sana, kesan tak baik. Banyak sampah bungkus kacang Dua Kelinci, walau sesungguhnya pulau itu terlihat indah dari jauh. Visit Indonesia 2008? No way!

Iklan
 
1 Komentar

Ditulis oleh pada Maret 20, 2008 in banjarmasin, martapura, pariwisata, tourism

 

One response to “Mandi, Cuci, Kakus, Transportasi, Dst.

  1. Singal

    Maret 21, 2008 at 7:19 pm

    Bila dibandingkan dengan Ibukota Negara, mungkin Jakarta lebih buruk. Cobalah mbak Mila menyusuri kali Ciliwung, dan sungai lainnya, apa yang terjadi! sama saja!!. Mengenai pengemis? sama juga dengan yang Pulau Kembang itu.
    Lebih jauh lagi?!, semua jalan di Jakarta macet, penuh lobang dan penuh jago silat (motor) dan jagoan (Angkot) berhenti seenaknya. penuh petugas lalu lintas (pak Ogah) yang hebat. penuh pengusaha (Asongan) dan pemungut pajak yang baik (pengemis).
    Namun, perlu juga kiranya saya beritahu, bahwa saya sangat menghormati mereka, karena saya sadar, mereka melakukan itu untuk asap dapur alias untu makan anak isterinya. Keluarganya!!!!
    Semoga masyarakat dan terutama pemerintah negeri ini, dapat memperbaikinya.

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: