RSS

Arsip Bulanan: Maret 2008

Mandi, Cuci, Kakus, Transportasi, Dst.


Saya sekarang mengetik di satu warnet di Martapura. Dua puluh meja dan seluruhnya digunakan oleh “abege” di sini. Sedikit mewawancarai penjaganya; setiap pagi mereka harus membersihkan isi komputer dari file atau cookies porno. Inilah anak sekarang… di manapun. This is the power of fully informed generation!

Saya menikmati sekali perjalanan di sini. Tadi siang saya menikmati makan Soto Banjar paling nikmat di bawah satu jembatan. Restoran soto itu menghadap sungai. Saya memicingkan mata saat memandang kehidupan penduduk di atas air sungai ini. Rumah menjorok ke sungai dan segala kegiatan pun dilakukan di atas air. Mulai mandi, sikat gigi, mencuci motor atau baju, buang air, berjualan solar, memasak, dan transportasi berjualan hasil tangkapan ikan. Konsep sanitasi sungguh rendah di sini.

Saya beserta rombongan menyusuri sungai (yang saya lupa tanyakan apa) menuju Pulau Kembang yang banyak sekali monyetnya. Kapal motor kami diserbu monyet sesaat merapat di dermaga kayu. Kacamata saya bahkan dirampas satu monyet. Untung diberi kacang untuk menukar kacamata itu. Kaget dan sedih. Ternyata di sana penduduk lokalnya juga meminta-minta dengan desakan yang tak sopan. Pantas saja kelakuan monyet di sana juga kasar, meniru “majikannya” mungkin. Saya tak akan kembali lagi ke sana, kesan tak baik. Banyak sampah bungkus kacang Dua Kelinci, walau sesungguhnya pulau itu terlihat indah dari jauh. Visit Indonesia 2008? No way!

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada Maret 20, 2008 in banjarmasin, martapura, pariwisata, tourism

 

Corruption of Economics, or Economics of Corruption?


corruption.jpgcorruption2.jpgcorruption3.jpg

Heal The World
Make It A Better Place
For You And For Me
And The Entire Human Race
There Are People Dying
If You Care Enough
For The Living
Make A Better Place

Tak bosan saya membaca berita korupsi. Setidaknya ada harapan buat rakyat kecil seperti saya ini. Lirik lagu Michael Jackson “Heal the World” saat ini bermain di kepala saya. KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) adalah instansi yang berani mengambil langkah maju di tengah derasnya tiupan angin 2009. Prof Iwan Jaya Azis pernah tekankan ini di kelas, bahwa setiap hari di koran ada berita korupsi di-highlight. Itu pertanda baik. Institusi negara ini mulai memberi tanda-tanda membaik.

Institusionalisme mewajibkan pilar kepastian hukum dan manusia penegak hukum yang kuat untuk pertumbuhan ekonomi yang baik. Beberapa tahun lalu, apapun bisa terjadi di Negeri Sim Salabim seperti Indonesia ini. Pernah ada harapan besar dari rakyat saat terompet reformasi ditiup; untuk itu janganlah pemimpin negeri ini membuatnya melorot dengan membangun pilar-pilar institusi negara yang tak kuat.

Hodgson & Jiang (2007) menekankan bahwa korupsi itu retorika yang harus didefinisikan lebih luas lagi karena “organizational corruption, rather than corruption in a broader sense, such as the corruption of language or a single individual… [we] criticized the idea that organizational corruption is confined to the public sector only. A much shorter subsequent section briefly establishes that corruption need not always be for private gain. Another section criticizes utilitarian treatments of corruption and establishes its immoral character, leading to a specific definition of organizational corruption involving the violation of established, normative rules. From this perspective it is argued in the penultimate section that organizational corruption incurs social costs that cannot fully be internalized.”

Yeah, it takes two to tango. One to dangdut (sambil merem melek, keliling lantai joget sendirian!). Mau korupsi tentu ada dua pihak. Ada Urip, ada juga Artalyta-nya dong. Tango bisa juga berlaku di pemberantasan korupsinya: harus ada yang tertangkap tangan dan ada yang menangkap tangannya.

Masalahnya memang korupsi kecil-kecil (seperti uang posyandu yang dikutip petugas kelurahan, ataupun dana-dana perbaikan jalan di Sorong dikutip staf bupatinya) tak terjangkau KPK. SMS terakhir soal korupsi posyandu ke satu kawan yang anggota KPK tak ditanggapi. Saya mau curhat soal dana otsus yang dikutip dengan berbagai “gaya renang” sepertinya harus menunggu BLBI tuntas dulu.

Posyandu? Dua ratus ribu? Kurang seksi…

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Maret 17, 2008 in corruption, curhat, KPK, law, poverty

 

Recycled Dance


Hey, this is weekend. I don’t want to talk heavy stuffy. Let’s dance, shall we? I recall these moves some twenty years ago. No good for sticky shoes. Oh yeah, shoes! They sort of return to hype after a generation. Shoes, lifestyle, teens… I reminisce the good old days!

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Maret 16, 2008 in dance

 

Hati-hati Penyakit Menular


Anak saya bertanya pagi ini, “Ibu, anak Papua tidak pakai sandal; jorok ya?”

“Mereka tidak punya uang untuk membeli sandal,” jawab saya.

“Anak Papua tidak takut kakinya luka?”

Saya terdiam. Inilah nilai seorang bocah Jakarta yang tak pernah merasakan kenikmatan berlari dengan kaki telanjang di rerumputan atau berenang di kali bening. Saya teringat dahulu hampir setiap bulan bermain di Puncak, tepatnya di Taman Cibodas (sekarang bernama lengkap Kebun Raya Cibodas). Menghirup udara hutan yang segar dan bermain air sungai yang dingin. Ada juga tanaman liar berbunga kuning yang baunya menyengat (saya tak ingat namanya apa, tapi biasa untuk dikeringkan dan menjadi sari bunga buatan).

Seingat saya juga, dahulu saya jarang sakit. Hari ini hampir setiap enam bulan anak saya sakit batuk atau pilek atau diare atau kombinasi semuanya (dan kata Prof Arwin Akib dari RSCM harus diwaspadai jika anak sakit panas empat kali dalam setahun). Rasa udara segar Jakarta pertengahan tahun 1970-an pernah kembali saat tiap hari hujan menerpa Jakarta sebulan terakhir. Sejuk di pagi hari… sepanjang hari.

bactrim.jpg

Saya yakin hari ini sakit pernafasan kian meluas dan menjadi-jadi di kota ini. Buktinya, kerabat saya yang tinggal di Kayu Putih sudah 2 minggu ini batuk yang gatal dan terasa dahak kental mengganjal tenggorokan (tapi tak mau keluar). Hal sama dialami kerabat saya di Tebet. Beberapa kawan saya pun bilang anak mereka menderita batuk dan pilek tak henti.

Ada kemungkinan virus apapun namanya menjadi mutan. Ada juga kemungkinan bukan virus tapi bakteri. Ada juga masalah sanitasi yang buruk. Prof Arwin kerap menekankan, “Sumber penyakit itu di rumah sakit atau pasar becek.” Saya malah mau tambahkan, “Ada di udara kota ini, Prof.”

Mengerikan, dahulu sepertinya semua informasi tentang endemi epidemi ataupun masalah kesehatan masyarakat bisa dengan mudah didapat di kota ini. Hari ini terlalu banyak sinetron atau acara dansa-dansi tidak jelas. Hari ini berita politik merajai jam pagi dan sore hari. Tak ada iklan layanan masyarakat (ILM) yang “wajib relai” di seluruh media massa kita. Mungkin ada “uang yang diselundupkan” ke kocek pribadi di saat ada anggaran pemerintah untuk membuat ILM. Atau mungkin UU 32/2002 yang mewajibkan alokasi 20% ILM dari jam iklan itu hanya guyonan?

Hati-hati penyakit menular batuk disertai gatal. Jangan berikan sembarang antibiotik. Prof Arwin memberikan resep obat Bactrim untuk anak saya; dan rasanya lebih menolong dibanding kerabat saya yang telah dua kali berganti antibiotik biasa dalam dua minggu terakhir ini.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Maret 14, 2008 in kesehatan, pelayanan kesehatan masyarakat

 

Matinya Televisi Terestrial: TVRI 4.1?


Judul ini saya tak suka, karena tak ada media yang mati; hanya fungsinya menjadi obsolete alias kadaluwarsa. Pager dan teleks adalah dua media berkomunikasi yang fungsinya diperbaharui oleh telepon selular dan mesin faks. Jangan tanya jika mengirim faks ternyata tak lagi sepraktis mengirim email dengan 45 Mb lampirannya (attachment). Jangan tanya lagi kalau nanti mengirim lampiran itu juga tak lagi nyaman karena file-sharing sudah menjadi bagian berinternet-ria kelak. “Hey, buka saja slideshare dot sekian sekian, bahan presentasi saya ada di sana semua.”

Baik, kembali ke televisi terestrial.

Lativi berubah jaket menjadi TVOne mengikuti nama pemiliknya, lalu terpolarisasi dengan stasiun televisi terestrial lain. Beware, integrasi horizontal televisi-televisinya harus diterjemahkan ke dalam visi yang lebih dari sekadar hari ini. Beware, buatlah model bisnis yang lebih integral. Beware, restrukturisasilah semua aset (program on air ataupun bukan) dalam sebuah pemikiran multi-fungsi vertikal, tak hanya horizontal. Tak bisa tidak, polarisasi ini tak boleh hanya mengecilkan biaya operasional (efisiensi) tanpa memikirkan integrated profit.

Peta persaingan televisi terestrial di Jakarta sudah jelas terbaca. Di tengah riuh-rendah televisi baru yang lahir dari semangat lokal atau sekadar kocek berlebih, sesungguhnya pemainnya tak lebih dari lima saja. Kembali ke zaman RCTI baru muncul. Bedanya memang hari ini ada puluhan biro iklan dan talent agency serta ratusan talent itu.

Era pertama (1.0) adalah saat TVRI (bersama RRI) menguasai angkasa negeri ini.

Era kedua (2.0) adalah saat RCTI, SCTV, TPI, ANTV dan Indosiar turut meramaikan dunia penyiaran Indonesia.

Era ketiga (3.0) adalah saat Metro TV, Lativi (AKA TVOne), Global TV, TV7 (AKA Trans7) dan TransTV turut memperkeruh kolam persaingan televisi terestrial.

Era hari ini (4.0) adalah saat TV lokal menyerbu di daerah-daerah (bahkan di Jakarta) yang kemudian turut terpolarisasi secara alamiah.

Era 4.1? This is the diminishing return era. Bend a little one way or the other. Leave your mind open to discover. Or soon you’ll be gone.

Semua stasiun televisi terestrial (menggunakan frekuensi UHF atau VHF untuk bersiaran) tidak akan mati, tapi akan menyesuaikan diri. Saat ini saya lebih menyukai YouTube untuk memanjakan mata dan telinga. Hari ini juga CBS dan NBC sudah goes online dan memungut biaya untuk menjual programnya serialnya yang jadoel seperti Star Trek ataupun serial terbarunya The Office. “The [Office] episode attracted a broadcast audience of 9.7 million people, according to Nielsen Media Research. It was also streamed from the Web 2.7 million times in one week…” A chunk of content of a big streaming buck, you bet!

ist2_3001428_green_media_icons.jpg

Saya bukan penonton yang tergantung dengan remote control lagi. Saya adalah penguasa atas apa yang mau saya tonton. Jutaan tontonan, saya tinggal google saja. Ya toh?

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada Maret 11, 2008 in business, e-commerce, global industry, media

 

Ibu-ibu Arisan Ngomong Soal Artalyta


arisan.jpgSerius. Ini kejadian benar di arisan ibu-ibu dan eyang-eyang. Asal tahu peserta arisan ini ada yang berusia di atas 70 tahun. Maklum, kompleks rumah saya adalah daerah yang sudah berdiri sejak ibukota di Yogya pindah ke Jakarta.

Saya agak terlambat kemarin datang ke arisan RT1/RW2 (bukan lagu dangdut) karena nyaris lupa. Sesampai di sana, sebagai warga yunior yang baik, saya duduk di pojok ruangan. Ada sedikit pembicaraan soal facial service yang datang ke rumah tapi itu hanya 5% dari porsi pembicaraan. Yang hangat justru membahas Artalyta dan KPK (porsi pembicaran 20%). Yang lebih hangat lagi adalah soal transparansi dana Posyandu di Jakarta sebesar 3,6 juta yang dikutip Rp 200 ribu oleh petugas kelurahan. Alasannya untuk transport (porsi pembicaraan 60%). Sisa waktu yang 5% ya, ngocok nama.

Saya tahu nama saya tak akan keluar cepat (ini sudah diprediksi setiap tahun!) Saat mengocok nama itu, angan saya berlari liar. Ah negeri ini… apa rasanya Rp 6,1 milyar saya tak pernah tahu, tapi rasa Rp 200 ribu untuk seorang Ibu Ipah yang datang setiap hari memasak di rumah saya berarti makan untuk dua minggu. Setiap hari ia berjalan kaki dari kamar kos. Selamanya ia berpindah dari satu kamar ke kamar lain untuk menghindar dari debt collector arisan barang.

Arisan barang? Nah ini bentuk arisan yang mengumpulkan uang sekian rupiah untuk kemudian yang keluar namanya setiap periode akan mendapatkan panci, piring porselen atau barang apapun yang dibeli sang bandar. Padahal kalau langsung membeli, harganya lebih murah 30%.

Ibu Ipah pernah menyebut beberapa bentuk arisan lainnya yang ia ikuti, yang saya sendiri juga suka tidak mudeng menghitungnya. Ada yang diikuti ratusan orang, atau ada yang dibayar tiap minggu Rp 20 ribu per orang. Sekali kocok, Ibu Ipah bisa mendapatkan sejuta lima ratus ribu!

Sesungguhnya arisan di RT saya ini adalah arena untuk kumpul agar kita bisa saling mengenal dan menolong jika ada yang kesusahan. Agar kita dapat saling memberikan informasi lingkungan. Agar kita sepakat untuk mengelola daerah ini untuk kebaikan bersama. Nah, kalau arisan yang dimaksud oleh Ibu Ipah itu adalah arisan besar pasak dari tiang, arisan angan-angan dijepit kesulitan ekonomi. Tunggu sebentar, adakah yang lebih lucu dari arisan a la Artalyta? Sekali kocok bisa milyaran, Bu! Ini namanya bikin hidup lebih urip, bukan?

 
5 Komentar

Ditulis oleh pada Maret 9, 2008 in arisan, corruption

 

Produk Iklan Langgar Etika?


Hari ini di halaman 14 Kompas diberitakan promosi doktor di Jurusan Ilmu Filsafat Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia. Disimpulkan oleh sang doktor baru Thomas Noach Peea itu begini, “Asosiasi [P3I] inilah yang nantinya memonitor praktik bisnis iklan dan memberi sanksi sesuai dengan tingkat pelanggaran dan kerugian yang ditimbulkannya.”

Sebelumnya saya membaca tulisan Pak Budiarto Shambazy “Geleng dan Angguk Kepala” di halaman sebelumnya. Saya terbiasa membuka koran halaman 1, lalu halaman terakhir soal tokoh, kemudian membuka halaman dari belakang. Tidak penting tapi ini ritual saya setiap pagi membaca koran yang seharusnya disurvei sebuah media massa untuk penentuan prioritas isi. Penempatan isi media kemudian yang bisa mengarahkan para pengiklan membuat strategi pemasaran produk dan jasanya. Ini adalah proses satu nafas sejak saya membaca halaman 1 sebuah koran di pagi hari.

Membaca kolom Pak Baz itu saya ikut menggangguk dan menggeleng. Kembali saya bertanya, demokratisasi apa yang Indonesia anut? Demokratisasi asal cangkem saja? Lalu saya meloncat (quantum leap?), apakah memang program glontor S2 dan S3 di UI ini juga tidak menganut pakem “riset benar hingga ke titik permasalahan”?

ad-ethics4.jpg

Saya kemudian mengangguk. P3I sudah memiliki kode etik yang diperbaharui hampir tiga tahun lalu. Kebetulan saya bersama Bang Ade Armando dan Pak Victor Menayang pernah ikut urun rembug dalam proses revisi itu bersama P3I di era Pak RTS Masli. Permasalahan sesungguhnya bukanlah “tak ada penegakan sanksi” bagi pengiklan yang nakal. Permasalahannya adalah tak semua biro iklan di negeri ini adalah anggota P3I, dan tak semua yang beriklan itu melalui biro iklan (alias dari produsen kripik, misalnya, langsung ke rumah produksi untuk membuat materi iklan TV dan ke stasiun televisi untuk proses media buying). Jika anggota P3I diberi sanksi, mengapa yang bukan anggota tidak diberi sanksi? Di mana peran KPI dan Depkominfo? Riuh rendah ini membentuk kegagalan pasar yang kronis (baca: government failure).

Hal kedua membuat saya menggeleng kepala, yaitu masalah “melanggar etika” secara mendasar. Pak Peea menekankan masalah kejahatan simbolik. Secara pribadi malah berpikir etika media adalah given process in a society. Mau media panggung, koran ataupun internet (seperti blog saya ini), semua memiliki etika yang berproses. Nilai-nilai kebaikan universal tetap ada, dan nilai-nilai kejahatan (seperti korupsi yang membuat tulisan Pak Baz kian menggigit) juga tetap hidup. Keduanya tak bisa dilihat dalam dua nafas berbeda.

Selain itu, jika Pak Peea berpikir media dan produk turunannya sebagai sebuah proses kejahatan, lucunya Gereja Vatikan malah melihat “[viewing] the media as ‘gifts of God’ which, in accordance with his providential design, bring people together and ‘help them to cooperate with his plan for their salvation’.”

Sanksi terhadap iklan tak beretika sudah dijalankan bagi anggota P3I. Bahkan telah ada Pedoman Perilaku Penyiaran (P3) dan Standar Program Siaran (SPS) yang diwajibkan Undang-undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran. Telah lama ada tapi tak efisien atau tak terdengar fungsinya karena banyak hal. Masalahnya–mengutip gerutu Pak Baz pagi ini–penegak hukum negeri ini hanya mampu bilang, “Sabar saja dulu, besok saya berikan sanksi.” Besok itu berarti “hingga waktu tak terhingga”?