RSS

Arsip Bulanan: April 2008

Dream for China? Olimpiade ke Laut Aje…


Kalau ada aktivis murni bekerja untuk kemaslahatan orang banyak, saya salut. Tapi kalau ada aktivis yang memojokkan China (baca beritanya di sini) dengan menodong korporasi global, mungkin saya harus berpikir ulang. Masalahnya jika Sudan membeli senjata dari China, dan China tahun ini menjadi tuan rumah Olimpiade 2008, lalu mengapa waktu Amerika menyerang Irak tahun 2003, tak ada organisasi penekan (baca: pressure organization) yang mengharamkan agenda genosida terselubung ini? Jawabnya jelas, banyak kegiatan aktivis anti-kekerasan yang uangnya bermuara dari Amerika Serikat. Mungkin hanya Michael Moore yang berani membuat buku dan film tentang skandal emas hitam (baca: minyak) yang menjadi pemicu serangan ini (bukan senjata pemusnah massal).

Gugatan Mia Farrow atas nama Darfur adalah sah dan menggugah hati siapa saja. Perang dan senjata tidaklah identik dengan negeri bernama China. Tukang pamer senjata kelas dunia adalah Amerika Serikat itu sendiri. Kompleksitas industri senjata di negeri itu sungguh amat menyesakkan dada; hingga anak sekolah bisa memberondong kawan sekolahnya karena kesal.

Saya selalu melihat masalah dari kacamata persaingan, termasuk masalah Mia Farrow ini. Jika China (atau Korea Utara atau Afghanistan) tidak “membentengi diri” dengan amunisi dan perangkat memadai, mungkin Amerika Serikat menjadi satu-satunya negeri yang paling jumawa di dunia ini. “I am the king of the universe. Yang lain ‘ngontrak.”

Terakhir, lirik lagu John Lennon bernyanyi di kepala saat ini…

Imagine all the people
Living life in peace…

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada April 27, 2008 in beijing, competition, olympics, politics

 

Ibu-ibu Pasar Mau Geledah Ruang Kerja DPR, Boleh?


FENOMENA MEDIA KITA

Setiap hari selain asupan berita serius via Detikcom atau Harian Kompas, saya masih memantau iklan dan berita gosip. Nah, kalau gabungan berita serious-dash-gossipy, mungkin saya baru temukan di berita, misalnya, ada seleb yang naik daun karena menikah dengan penyanyi dangdut lalu mau cerai, tak jadi cerai tapi tertangkap KPK. Atau ada penyanyi dangdut mau jadi calon walikota Serang, Banten; juga mau cerai, tidak jadi, tapi akhirnya cerai juga lalu jadi politisi karbitan. Setiap babak memberikan kejutan baru, dan sepertinya ada sutradara yang mengatur agar dramaturginya terjaga betul.

Tidak, saya tak hendak membahas dagelan serius-gosip ini. Pertanyaan saya pagi ini adalah “Mengapa Pak Ketua DPR tak izinkan KPK geledah ruangan Al Amin?” Ada apa dengan “geledah”, Pak?

FENOMENA ALAM DAN BIG BANG THEORY

Bayangkan sebuah puncak gunung es yang rontok akan menggulirkan bola salju (avalanche) yang besar dan tak terkendalikan. Kalau rontok di atas, jika memang dudukan es itu rapuh, tentulah seluruh gundukan es itu akan bergulir atau mencair-mengalir hingga ke laut. Habis.

Fenomena alam karena pemanasan global tak harus ditakuti. “Big Bang Theory” juga hanya teori, karena belum ada manuskrip mencatat mengapa dinosaurus dan keluarganya punah. Masalah utamanya, waktu itu manusianya belum bisa menulis membaca. Hari ini kalau mau berteori (atau mengharapkan ada pergerakan evolusioner) tentang pemanasan global (atau negara), mudah saja. Ada banyak data, lalu dikira-kira teori yang pas seperti apa.

FENOMENA RUANGAN DIGELEDAH

Nah, bagaimana melihat data-data ruangan birokrat kita digeledah KPK? Bandingkan berapa banyak ruangan birokrat seluruh Indonesia? Memang tak seberapa, tapi tercatat: siapa yang korupsi, di mana ia melakukan korupsi, apakah ada bukti.

Kemudian ada gangguan terjadi di tengah proses pencatatan ini. Dari titik terjadinya gangguan, pertanyaannya kemudian adalah: akankah meningkat angka ruangan birokrat yang digeledah, ataukah akan menurun? Dari sini, sepuluh tahun dari sekarang, akan keluar sebuah teori baru tentang negeri ini.

ADAKAH TEORI YANG PAS?

Saya pernah bertanya di kelas, “Bu, karena susah diberantas, korupsi dilegalisir saja ya?”, dan dijawab setelah Ibu Dosen menunduk sebentar, “Nilai-nilai kebaikan itu universal.”

Negeri yang nol koma nol nol nol nol nol sekiannya adalah koruptor kelas top hingga kelas teri ini memang sedang sakit kronis. Dicatat denyutnya, dilihat jeroannya. Jika memberantas korupsi hanya menjadi jargon dan senyum para elit di kala kampanye saja, saya akhirnya gemes. Satu kalimat: “Cabut saja selang infusnya!” Let tip of the iceberg fall. Kalau satu ruangan bisa digeledah, ruangan lain di gedung itu mungkin harus steril dari “amplop-amplop melayang”. Mantap ‘kan? Bersih negeri ini dari koruptor. Kalau perlu kita semua ibu-ibu di pasar yang geledah ruang kerjanya wakil-wakil rakyat ini. Toh, kita juga yang coblos partai mereka. Gitu aja repot… (eh ini kata Jupe juga loh soal kondom di CD terbarunya!)

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada April 24, 2008 in corruption, institutionalism, KPK

 

Into Micro Thing


Really micro thing.

Learn substitutes. Be it class or unitary.

Learn here.

(I am too bz with my own startup, into details, that’s what I really like. I got lost in translation.)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada April 23, 2008 in economy, microeconomics

 

Apa bedanya air kotor dengan air bersih?


Pertanyaan yang tak perlu dijawab.

“Sebuah got depan rumah” adalah hasil dari rendahnya kemampuan bernalar institusi negeri ini sejak merdeka. Jalur air kotor dan jalur air bersih (atau air hujan) adalah mutlak dibedakan sejak membangun fondasi sebuah rumah. Jika tidak, maka yang terjadi adalah saluran depan rumah itu membawa campuran air hujan dan air kotor yang selanjutnya dialirkan ke kali atau anak Kali Ciliwung. Yang lebih parah lagi, banyak perumahan kumuh tumbuh puluhan tahun tanpa ada saluran buangan sama sekali (alias langsung buang ke sungai!).

***

Pernahkah kita berpikir lebih lanjut saat nonton film action buatan Hollywood? Banyak adegan kejar-kejaran di gorong-gorong bawah tanah itu tidak membawa pesan eco-label “Hey, ini untuk saluran air bersih, kalau-kalau hujan besar melanda kota New York.” Toh, kita ke bioskop untuk nonton adegan seru, bukan untuk mengkaji berapa tinggi dan panjang saluran itu, atau untuk mengukur kecepatan air mengalir versus tinggi air laut pasang, dan seterusnya.

Gambar di bawah ini saya ambil dari mit.edu untuk mengalokasikan buangan (sewerage, atau air kotor) yang bisa diproses lebih lanjut (untuk pupuk atau memang dibuat steril saja).

Atau gambar di bawah ini yaitu tentang “man hole” yang merupakan kumpulan dari banyak air buangan manusia (gambar diambil dari bmu.de).

Selanjutnya untuk air bersih, bisa dialirkan langsung ke bumi dengan sistem sumur resapan atapun dapat diproses untuk dijadikan air minum.

***

Untuk belajar mengolah sumber daya air ini, buangan manusia atau air hujan, ada baiknya kita menengok negara kecil mungil macam Singapura yang sukses membuat konsorsium 6 industri lokal menangani teknologi, perangkat, konsultasi, integrator sistem, rekayasa proyek dan konstruksi, serta operator perangkat proses air dan air kotor untuk beberapa titik di Singapura. Klik sini untuk Singapora Water Solutions Alliance, total water management solutions. Dahulu untuk air bersih, Singapura sangat tergantung akan pasokan Malaysia. Di saat harganya kian tak terkendali, Singapura akhirnya memutuskan untuk memproses semua air di negeri itu.

Sesungguhnya inilah saatnya pemerintah setiap daerah memikirkan arus air lebih baik lagi (karena mungkin pemerintah pusat sudah pusing urus yang lain) mumpung penduduk di daerahnya belum seheboh Jakarta. Sekarang, Indonesia dengan sejuta masalah dan sejuta kepala elit yang tak mampu bersuara satu, solusi air (dan masalah lingkungan hidup lainnya) adalah hal kesekian setelah pesta 2009 kelak. Ayolah, ini saatnya pemerintah daerah memikirkan lingkungan lebih cerdas lagi. Tak usah studi banding ke mana-mana, di Internet semua bahan bisa di-download gratis. Serius!

 
13 Komentar

Ditulis oleh pada April 20, 2008 in public policy

 

Green Festival–eh salah–Green Ceremonial!


Pagi ini saya kesal sama pegawai tetangga yang merusak tanaman sirih yang merambat di pagar “bersama”. Saat ia mencerabut akar, saya langsung berteriak “Aduh!” Setiap hari saya sirami, saya kagumi hijaunya daun dan semilir bau sirih. Saat dirusak, rasa sesak di dada langsung terasa.

Seperti rencana saya dan suami kemarin (juga karena ingin mengendapkan rasa kesal pagi ini) siang ini kami mengajak anak-anak ke acara Green Festival di Parkir Timur Senayan. Sesampai di sana, karena sesaknya manusia, saya langsung komentar, “Ah ini dia rasanya global warming di Jakarta.” Tak ada yang bisa saya dan keluarga “nikmati” kecuali sekilas branding produk Unilever yang mensponsori acara ini. Inilah cara kreatif bisnis global melakukan CSR-nya. Menempelkan label “go green” untuk produk-produk yang sesungguhnya justru mencemari negeri ini. Bayangkan gencarnya iklan satu produk saja setiap hari di televisi. Bayangkan juga berapa orang terbuai rayuan mautnya untuk membeli produk itu setidaknya dalam minggu ini. Bayangkan juga satu juta sachet deterjen seribu perak saja terbeli dalam satu minggu. Cukup panjang busa mengalir di Kali Ciliwung yang memang sudah hitam pekat.

Keluar dari zona global warming itu, yang dibagi-bagi dengan kelompok ruangan (ada halaman, garasi, ruang keluarga, ruang kerja hingga kamar mandi), saya sekeluarga bergegas ke bazaar minuman-makanan. Anak saya merengek kehausan. Yang masuk akal hanya loket Buavita (yang bungkusnya harus dibuang setelah minum, bukan?). Di sekitar bazaar itu segala rupa bungkusan makanan dan gelas plastik minuman tercecer hingga ke pintu keluar (mengapa juga ditulis dengan istilah “exit”?). Di pelataran parkir, sampah menumpuk lebih serius lagi.

Saya menyerah!

Segera saya ajak anak-anak saya pulang tanpa memberi pengalaman berarti untuk mereka. Dalam perjalanan pulang kami bertemu ratusan pendemo “bubarkan Ahmadiyah” di depan Istana Negara. Yakinlah sore hari nanti akan banyak sisa bungkusan makanan dan minuman yang tentunya memberikan ekstra-pekerjaan bagi petugas penyapu jalan yang dibayar tak seberapa itu. Ah…

Dipikir-pikir, inisiatif festival hijau adalah baik, namun di sisi lain acara ini hanya urusan komersial semata. Panitia beriklan heboh, tapi tidak mengukur membludaknya warga Jakarta yang berminat dan berharap banyak dari acara ini. Berbagai produk konsumsi dipajang atas nama cinta lingkungan, sementara yang datang tak disediakan tempat membuang sampah yang layak. Argumen suami saya, “Tak ada yang salah dari panitia karena yang membuang sampah lebih banyak dari tong sampah yang ada.”

Ya, memang tak ada yang salah. Toh, negara ini memang punya tong sampah paling besar di dunia. Makanya banyak bus bekas, komputer bekas, hingga baju bekas yang diimpor legal dan ilegal ke sini. Tak ada yang salah dengan acara-acara atas nama lingkungan (atau atas nama anti-Ahmadiyah). Toh, ini cuma pesta akhir minggu. Di akhir pesta selalu ada yang membersihkan sampahnya.

Besok sudah Senin lagi, kawan! Selamat istirahat ya…

 
5 Komentar

Ditulis oleh pada April 20, 2008 in public policy

 

“Bad News” is not good for my rating


For three days I haven’t seen news or clicked any link in detikcom, I just felt good. I knew about the fire in Grand Indonesia, I heard my hubby mumbling when reading Kompas. For three days I learned bawang merah is some kind of gone into thin air after its price dropped a little bit. An old trick to raise price. For three days I learned nothing new.

Fact is, I got cold. And I need something to escape with: hot orange juice and good readings. CS Lewis, Edgar Allan Poe, Mary Higgins-Clark are amongst the must-read, at least once in my lifetime. Probably poems, too. I loved Wordsworth once. Or local writers like Marah Roesli? Ah, I need something lighter.

Stop.

I don’t need bad news. CBS even cut loss by providing good news. Viewer age remains a concern while CBS has traditionally attracted more total U.S. viewers than its competitors, its average viewer tends to be older, beyond the demographic groups that many advertisers prefer to reach. To date this season, the network’s median age is 52.9, compared with 45.2 for Fox, 48.4 for NBC and 49.6 for ABC. This year, perhaps trying to appeal to younger viewers, CBS will introduce four mixed martial-arts shows Saturday nights in the United States.

What about Liputan 6 whom once attracted viewers with unabashed Ira Koesno-Arief Suditomo duet? What about Metro TV smiley anchorwomen? Ten TV stations in Jakarta are jumbled content. What about our younger viewers. Yay, not that easy. They are kind of blogging and facebooking for news. They even unaware of happenings due to their “gw bgt” attitude. They went for fun karaoke or singing contest. They are singing their heart out and still need push entertainment served to their laps. Me or younger generations are looking for pull news. The hectic, bad news provided by television is crowding out.

I am too serious, aren’t I?

*away from my keyboard*

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada April 19, 2008 in curhat, newsworthy

 

Content? What Content?


Chunk of content, that’s what everyone needs today. If someone is being nudged about indecent content shown on TV, let them be. Subject of the law is not the entertainer, but the TV station. [read the story, err… news here]

If I don’t like vulgarity shown on Youtube, I just flag it. I don’t like Ruben, I switch to other channel. Heck, Indosiar signal at my tube is not clear anyway. The most important thing of their acts (vulgar or polite, d’uh… TV, polite?) was not the last chapter of media competition. I don’t think this bunch of TV stations shall survive after 2009. Spacetoon is on sale today, no price tag yet, but it is not going to be a high bid due to uncertain licences and other bureaucratic process. Many local stations are dying. Big names are having a cutthroat competition and selling less than polite content. I just don’t care.

What I care is when access to Youtube is closed. What I care is when TV and radio stations all over Indonesia is on sale for penetrating political messages. And those stations are interfering with our comfort zone. Look at my TV, semut bo’!

*yawn*

I just let go my children play in the neighbourhood all day… running and laughing with their friends. When they are at home is the time for books and Youtube. Yep, who needs passive content today? Only the information have-nots, or I shall say, the have-nots of everything? I bet.

(Right! I just add this line a minute ago. There is an enlightening article, read here)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada April 16, 2008 in broadcasting, business, information