RSS

Arsip Harian: April 20, 2008

Apa bedanya air kotor dengan air bersih?


Pertanyaan yang tak perlu dijawab.

“Sebuah got depan rumah” adalah hasil dari rendahnya kemampuan bernalar institusi negeri ini sejak merdeka. Jalur air kotor dan jalur air bersih (atau air hujan) adalah mutlak dibedakan sejak membangun fondasi sebuah rumah. Jika tidak, maka yang terjadi adalah saluran depan rumah itu membawa campuran air hujan dan air kotor yang selanjutnya dialirkan ke kali atau anak Kali Ciliwung. Yang lebih parah lagi, banyak perumahan kumuh tumbuh puluhan tahun tanpa ada saluran buangan sama sekali (alias langsung buang ke sungai!).

***

Pernahkah kita berpikir lebih lanjut saat nonton film action buatan Hollywood? Banyak adegan kejar-kejaran di gorong-gorong bawah tanah itu tidak membawa pesan eco-label “Hey, ini untuk saluran air bersih, kalau-kalau hujan besar melanda kota New York.” Toh, kita ke bioskop untuk nonton adegan seru, bukan untuk mengkaji berapa tinggi dan panjang saluran itu, atau untuk mengukur kecepatan air mengalir versus tinggi air laut pasang, dan seterusnya.

Gambar di bawah ini saya ambil dari mit.edu untuk mengalokasikan buangan (sewerage, atau air kotor) yang bisa diproses lebih lanjut (untuk pupuk atau memang dibuat steril saja).

Atau gambar di bawah ini yaitu tentang “man hole” yang merupakan kumpulan dari banyak air buangan manusia (gambar diambil dari bmu.de).

Selanjutnya untuk air bersih, bisa dialirkan langsung ke bumi dengan sistem sumur resapan atapun dapat diproses untuk dijadikan air minum.

***

Untuk belajar mengolah sumber daya air ini, buangan manusia atau air hujan, ada baiknya kita menengok negara kecil mungil macam Singapura yang sukses membuat konsorsium 6 industri lokal menangani teknologi, perangkat, konsultasi, integrator sistem, rekayasa proyek dan konstruksi, serta operator perangkat proses air dan air kotor untuk beberapa titik di Singapura. Klik sini untuk Singapora Water Solutions Alliance, total water management solutions. Dahulu untuk air bersih, Singapura sangat tergantung akan pasokan Malaysia. Di saat harganya kian tak terkendali, Singapura akhirnya memutuskan untuk memproses semua air di negeri itu.

Sesungguhnya inilah saatnya pemerintah setiap daerah memikirkan arus air lebih baik lagi (karena mungkin pemerintah pusat sudah pusing urus yang lain) mumpung penduduk di daerahnya belum seheboh Jakarta. Sekarang, Indonesia dengan sejuta masalah dan sejuta kepala elit yang tak mampu bersuara satu, solusi air (dan masalah lingkungan hidup lainnya) adalah hal kesekian setelah pesta 2009 kelak. Ayolah, ini saatnya pemerintah daerah memikirkan lingkungan lebih cerdas lagi. Tak usah studi banding ke mana-mana, di Internet semua bahan bisa di-download gratis. Serius!

 
13 Komentar

Ditulis oleh pada April 20, 2008 in public policy

 

Green Festival–eh salah–Green Ceremonial!


Pagi ini saya kesal sama pegawai tetangga yang merusak tanaman sirih yang merambat di pagar “bersama”. Saat ia mencerabut akar, saya langsung berteriak “Aduh!” Setiap hari saya sirami, saya kagumi hijaunya daun dan semilir bau sirih. Saat dirusak, rasa sesak di dada langsung terasa.

Seperti rencana saya dan suami kemarin (juga karena ingin mengendapkan rasa kesal pagi ini) siang ini kami mengajak anak-anak ke acara Green Festival di Parkir Timur Senayan. Sesampai di sana, karena sesaknya manusia, saya langsung komentar, “Ah ini dia rasanya global warming di Jakarta.” Tak ada yang bisa saya dan keluarga “nikmati” kecuali sekilas branding produk Unilever yang mensponsori acara ini. Inilah cara kreatif bisnis global melakukan CSR-nya. Menempelkan label “go green” untuk produk-produk yang sesungguhnya justru mencemari negeri ini. Bayangkan gencarnya iklan satu produk saja setiap hari di televisi. Bayangkan juga berapa orang terbuai rayuan mautnya untuk membeli produk itu setidaknya dalam minggu ini. Bayangkan juga satu juta sachet deterjen seribu perak saja terbeli dalam satu minggu. Cukup panjang busa mengalir di Kali Ciliwung yang memang sudah hitam pekat.

Keluar dari zona global warming itu, yang dibagi-bagi dengan kelompok ruangan (ada halaman, garasi, ruang keluarga, ruang kerja hingga kamar mandi), saya sekeluarga bergegas ke bazaar minuman-makanan. Anak saya merengek kehausan. Yang masuk akal hanya loket Buavita (yang bungkusnya harus dibuang setelah minum, bukan?). Di sekitar bazaar itu segala rupa bungkusan makanan dan gelas plastik minuman tercecer hingga ke pintu keluar (mengapa juga ditulis dengan istilah “exit”?). Di pelataran parkir, sampah menumpuk lebih serius lagi.

Saya menyerah!

Segera saya ajak anak-anak saya pulang tanpa memberi pengalaman berarti untuk mereka. Dalam perjalanan pulang kami bertemu ratusan pendemo “bubarkan Ahmadiyah” di depan Istana Negara. Yakinlah sore hari nanti akan banyak sisa bungkusan makanan dan minuman yang tentunya memberikan ekstra-pekerjaan bagi petugas penyapu jalan yang dibayar tak seberapa itu. Ah…

Dipikir-pikir, inisiatif festival hijau adalah baik, namun di sisi lain acara ini hanya urusan komersial semata. Panitia beriklan heboh, tapi tidak mengukur membludaknya warga Jakarta yang berminat dan berharap banyak dari acara ini. Berbagai produk konsumsi dipajang atas nama cinta lingkungan, sementara yang datang tak disediakan tempat membuang sampah yang layak. Argumen suami saya, “Tak ada yang salah dari panitia karena yang membuang sampah lebih banyak dari tong sampah yang ada.”

Ya, memang tak ada yang salah. Toh, negara ini memang punya tong sampah paling besar di dunia. Makanya banyak bus bekas, komputer bekas, hingga baju bekas yang diimpor legal dan ilegal ke sini. Tak ada yang salah dengan acara-acara atas nama lingkungan (atau atas nama anti-Ahmadiyah). Toh, ini cuma pesta akhir minggu. Di akhir pesta selalu ada yang membersihkan sampahnya.

Besok sudah Senin lagi, kawan! Selamat istirahat ya…

 
5 Komentar

Ditulis oleh pada April 20, 2008 in public policy