RSS

Ibu-ibu Pasar Mau Geledah Ruang Kerja DPR, Boleh?

24 Apr

FENOMENA MEDIA KITA

Setiap hari selain asupan berita serius via Detikcom atau Harian Kompas, saya masih memantau iklan dan berita gosip. Nah, kalau gabungan berita serious-dash-gossipy, mungkin saya baru temukan di berita, misalnya, ada seleb yang naik daun karena menikah dengan penyanyi dangdut lalu mau cerai, tak jadi cerai tapi tertangkap KPK. Atau ada penyanyi dangdut mau jadi calon walikota Serang, Banten; juga mau cerai, tidak jadi, tapi akhirnya cerai juga lalu jadi politisi karbitan. Setiap babak memberikan kejutan baru, dan sepertinya ada sutradara yang mengatur agar dramaturginya terjaga betul.

Tidak, saya tak hendak membahas dagelan serius-gosip ini. Pertanyaan saya pagi ini adalah “Mengapa Pak Ketua DPR tak izinkan KPK geledah ruangan Al Amin?” Ada apa dengan “geledah”, Pak?

FENOMENA ALAM DAN BIG BANG THEORY

Bayangkan sebuah puncak gunung es yang rontok akan menggulirkan bola salju (avalanche) yang besar dan tak terkendalikan. Kalau rontok di atas, jika memang dudukan es itu rapuh, tentulah seluruh gundukan es itu akan bergulir atau mencair-mengalir hingga ke laut. Habis.

Fenomena alam karena pemanasan global tak harus ditakuti. “Big Bang Theory” juga hanya teori, karena belum ada manuskrip mencatat mengapa dinosaurus dan keluarganya punah. Masalah utamanya, waktu itu manusianya belum bisa menulis membaca. Hari ini kalau mau berteori (atau mengharapkan ada pergerakan evolusioner) tentang pemanasan global (atau negara), mudah saja. Ada banyak data, lalu dikira-kira teori yang pas seperti apa.

FENOMENA RUANGAN DIGELEDAH

Nah, bagaimana melihat data-data ruangan birokrat kita digeledah KPK? Bandingkan berapa banyak ruangan birokrat seluruh Indonesia? Memang tak seberapa, tapi tercatat: siapa yang korupsi, di mana ia melakukan korupsi, apakah ada bukti.

Kemudian ada gangguan terjadi di tengah proses pencatatan ini. Dari titik terjadinya gangguan, pertanyaannya kemudian adalah: akankah meningkat angka ruangan birokrat yang digeledah, ataukah akan menurun? Dari sini, sepuluh tahun dari sekarang, akan keluar sebuah teori baru tentang negeri ini.

ADAKAH TEORI YANG PAS?

Saya pernah bertanya di kelas, “Bu, karena susah diberantas, korupsi dilegalisir saja ya?”, dan dijawab setelah Ibu Dosen menunduk sebentar, “Nilai-nilai kebaikan itu universal.”

Negeri yang nol koma nol nol nol nol nol sekiannya adalah koruptor kelas top hingga kelas teri ini memang sedang sakit kronis. Dicatat denyutnya, dilihat jeroannya. Jika memberantas korupsi hanya menjadi jargon dan senyum para elit di kala kampanye saja, saya akhirnya gemes. Satu kalimat: “Cabut saja selang infusnya!” Let tip of the iceberg fall. Kalau satu ruangan bisa digeledah, ruangan lain di gedung itu mungkin harus steril dari “amplop-amplop melayang”. Mantap ‘kan? Bersih negeri ini dari koruptor. Kalau perlu kita semua ibu-ibu di pasar yang geledah ruang kerjanya wakil-wakil rakyat ini. Toh, kita juga yang coblos partai mereka. Gitu aja repot… (eh ini kata Jupe juga loh soal kondom di CD terbarunya!)

Iklan
 
1 Komentar

Ditulis oleh pada April 24, 2008 in corruption, institutionalism, KPK

 

One response to “Ibu-ibu Pasar Mau Geledah Ruang Kerja DPR, Boleh?

  1. ompiq

    April 29, 2008 at 1:43 am

    Ibu-ibu pasar menggeledah di DPR?
    yang benar saja bu, belum lagi masuk pintu gerbang, justru mereka yang akan digeledah oleh petugas keamanan. Akhirnya mereka ditangkap karena ketahuan membawa senjata tajam seperti pisau dapur, pisau daging dan tusuk konde. Yang kedapatan masih membawa sayur juga ditangkap dengan alasan mencoba menyuap pejabat.

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: