RSS

Arsip Bulanan: Mei 2008

Mario Teguh, Andy Cohen, Madonna & Me


Four Minutes to Save the World

Tick tock tick tock tick tock…

Sore ini saya terkagum-kagum melihat klip video nenek satu ini, bagaimana ia bergerak dinamis dengan Justin Timberlake, dengan konsep visual yang memerlukan pemikiran lebih lanjut; bagaimana ia bisa menyatukan lirik dengan musik untuk bergoyang ringan; bagaimana ia tetap produktif di usianya sekarang. Konsepsi video, yaitu mengelupasnya bath tub hingga perut Justin membuat saya berpikir bahwa klip berdurasi empat menit (?) memaksa penonton seperti saya untuk tidak membuang waktu. Carpe diem, or do it fast?

Sebelumnya saya menonton rerun acara Mario Teguh di O Channel. Pelajaran yang saya dapat adalah lebih dari sekadar kalimat motivasional. Seperti layaknya pemuka semua agama di dunia ini, ia pun mengajar kebaikan yang bersifat universal. Ia tidak terjebak pada uang semata sebagai tujuan akhir, walau demikian saya tak terlalu kagum dengan sosoknya di TV karena memang baru kali ini saya menonton acaranya. Pertanyaan seorang wanita tentang gender di kantor tak menjawab, walau sang penanya seakan tersenyum puas. Saya menyukai Mario Teguh berbicara di radio, lebih terarah (satu arah?) yang membawa makna lebih.

Setelah puas melihat klip video Madonna, menonton O Channel, saya kembali duduk di belakang komputer dan menonton motivational leader seperti Steve Jobs, Andy Cohen atau Seth Godin. Siapa tak kenal Steve Jobs dari Apple Computer Inc., tapi siapa yang kenal Andy Cohen di Indonesia? Saya sudah mengagumi Seth Godin sejak lama, walau masih belum lengkap mengoleksi bukunya (mahal!).

Saya menemukan hal baru dari gaya Andy Cohen memotivasi orang: mengikutsertakan penontonnya berekspresi. Saya turut mengambil koin dan mencoba magic trick yang ia contohkan. Oh wow, the magic is me! How I manage information, that’s right! He’s good. Save my day, at least.

Terakhir Seth Godin… see it for yourself.

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada Mei 18, 2008 in business, leadership, marketing, motivational, public policy

 

Lelah Berwacana


Semua tanggalan merah atau hari apapun yang mengingatkan akan rasa nasionalisme sebuah bangsa, sepertinya tak lepas dari “garapan” orang-orang yang mementingkan diri sendiri ataupun kelompoknya. Walau mengatasnamakan “kemiskinan” atau “kebangkitan”, sepertinya semua itu hanya kepulan asap. Bayangkan saja saat duduk di atas ojek (di belakang bajaj atau metromini yang tak pernah merawat mesin apalagi knalpot), tentu kepulan asap ini menyesakkan dada dan menyakitkan mata. Oh jangan lupa, hari ini di halaman 2 Kompas ada wacana “pejabat naik ojek”. Anything for a juicy media coverage!

Bok, ini wacana bok…

Hari ini saya lelah. Melihat bangkai tikus di tengah jalan tanpa ada orang peduli. Melihat halte busway sudah berwarna abu-abu, dan bus-nya sendiri sudah baret sana-sini. Duduk di lantai paling atas rumah, saya menutup mata membiarkan wajah diterpa angin di sore yang mendung. Sesak.

Banyak sahabat silih berganti mengajak ke bioskop hingga datang ke diskusi serius. Sungguh saya sudah kehilangan rasa nyaman tinggal di Jakarta, tapi saya merasa ada kepuasan tersendiri saat mblusuk-mblusuk mencari buku bekas di Proyek Senen yang sebentar lagi almarhum (yang mungkin akan berganti dengan mal supermegah). Berjalan kaki di sisi Lapangan Banteng sore ini mengingatkan masa sekolah dahulu.

Ah, saya terlalu banyak bermimpi tentang masa lalu. Hari ini, saya bahkan tak berminat datang ke Indonesia Regency Expo di JCC… selamat datang Bapak Ibu dari seluruh kabupaten di Indonesia. Selamat berpameran. Maaf saya tak bisa ke sana, saya hanya lelah terhadang macet.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Mei 16, 2008 in curhat

 

Formulir Isian Warga Negara (per keluarga)


Malam ini saya menuntaskan pengisian formulir Isian Warga Negara yang didistribusikan khusus oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Tadi sore ibu-ibu arisan (yang kebetulan berkumpul di rumah saya) ramai menanyakan bagaimana mengisinya. Mulai dari nama lengkap Ketua RW hingga pengisian nomor induk ayah/ibu dari kepala keluarga. Saya yang tadinya ‘menyerahkan’ pengisian ini sepenuhnya ke suami, jadi penasaran. Kebetulan suami saya belum menyerahkan ke koordinator RT. Saya akhirnya turut membaca dan menuntaskan pengisian formulir tersebut.

*ahem*

Ada beberapa catatan untuk proses pendataan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta ini.

Upaya yang patut diacungi jempol, tangan kanan dan kiri saya.

Ada beberapa hal yang agak sulit diisi, di antaranya:

  • Bagaimana membedakan status suami saya yang dibedakan antara ‘kepala keluarga’ dan ‘suami’? Mungkin akan menjadi repot mengisi ‘kepala keluarga dan suami’, ‘kepala keluarga dan istri’ (kalau suami tidak ada), atau ‘kepala keluarga dan ayah mertua’ (jika saya masih tinggal dengan ayah mertua saya).
  • Cacat. Tak ada pilihan untuk yang secara fisik masih sehat.
  • Yang terpenting: tak ada simulasi bersama dengan arahan dari pegawai kelurahan. Hal ini mungkin akan membantu pengisian secara seksama dan epsilon-nya atau kesalahannya akan menjadi lebih kecil.

Dengan dimulainya proses pendataan ini, saya yakin bahwa DKI akan menjadi lebih tertib dalam hal administratif. Pemerintah daerah akan lebih akurat dalam membuat cetak biru bagaimana meningkatkan kesejahteraan warganya. Sukses untuk Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. It surely is a smart start. Salute for Pak Foke!

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Mei 11, 2008 in census, DKI Jakarta, statistics

 

Sebuah Nilai (baca: Microsux & Winsux)


Malam ini di TV kita:

  1. Ada dagelan Tukul dan hipnoterapi untuk artis latah (yang katanya hanya ada di kalangan artis Indonesia) di Trans7,
  2. Ada juga Indosiar dan RCTI yang menayang kontes nyanyi yang serupa tapi tak sama (another type of latah?),
  3. Juga tampil di TransTV Rambo yang telah diputar ratusan kali di negeri ini (yang mungkin menjadi sebuah hipnoterapi bagi yang tak punya tontonan lain?),
  4. sementara Dhani Ahmad & his package tampil di layar SCTV.

Zapping dari semua televisi dengan tatapan kosong karena lelah satu minggu ini, mata saya akhirnya nyangkut di ANTV, sebuah anak perusahaan keluarga Bakrie. Yang sangat menarik di sini adalah pernyataan sang Ibu Ketua APJII, Sylvia Sumarlin, saat diwawancara seputar kedatangan Bill Gates. Terkesan beliau melakukan lip-sync saat pewawancara cantik menanyakan seputar kuliah Bill Gates pagi ini di Hotel Shangri-la.

“Ya, betul.” (saat ditanya manfaat internet bagi perkembangan kedokteran dll.)

“Bill Gates menekankan infrastruktur… bla bla bla.” (membaca dari teks?)

Tak ada yang baru dari kuliah Bill Gates hari ini. Tak ada yang menarik pula dari pembahas kuliah di ANTV malam ini. Yang sesungguhnya terjadi hari ini adalah bahwa seorang kepala negara sebuah negara besar (populasi 270 juta, prediksi Pak Faisal Basri) mengikuti kuliah besar dari pemain monopoli piranti lunak dunia.

Sekilas tampak antusiasme Pak Presiden SBY (menggenggam tangan di depan perut), tapi sesaat kemudian beliau sudah menatap kosong podium tempat Bill Gates berpidato. Tangan Pak Presiden sudah diletakkan di sisi kursi. Sementara itu, deret depan tampak beberapa menteri kabinet negeri ini. Sebuah gesture birokrat yang berlebihan untuk sebuah negara sebesar Indonesia.

Saya jadi teringat saat Pak Presiden menjenguk Pak Soeharto di RSPP tempo hari; sorenya beliau jumpa pers dengan jejeran kabinetnya duduk di samping. Foto jumpa pers ini menjadi berita halaman pertama Kompas Minggu. Sebuah political gesture yang mungkin membuat akhir pekan yang tadinya slow news day menjadi riuh berminggu-minggu kemudian hingga Pak Harto mangkat. Saking riuhnya, bahkan bisnis gosip TV turut menyorot sakit Pak Harto dengan “penampilan artis yang datang ke RSPP”.

Dengan gesture Pak Presiden seperti ini, menyimak soal kedatangan Bill Gates kali ini, saya yakin akan ada berminggu-minggu keriuhan piranti lunak Microsoft yang WAJIB digunakan di seluruh pelosok negeri ini (bayangkan juga akan ada banyak ‘pengadaan’ tak jelas). Setelah birokrat daerah diwajibkan memakai Windows OS, selanjutnya seluruh sekolah di Indonesia menjadi pangsa pasar korporasi global macam Microsoft. Tentu menghapus impian dan konsep mulia Pak Menristek.

Sudah saatnya negeri ini memiliki sikap yang lebih tegas. Pengembangan open source negeri ini bahkan di seluruh dunia adalah hal yang terkait erat dengan konsepsi persaingan usaha. Jika iming-iming dari Bill Gates adalah sebuah piranti lunak/keras yang ‘murah’ atau ‘gratis’ untuk pendidikan, mari kita cermati lebih jauh lagi.

Pertama: Belajarlah dari Uni Eropa. Tak bisa menegakkan hukum persaingan usaha untuk sebuah entitas di negeri lain (non-ekstrajurisdiksional), Uni Eropa menerapkan penalti denda dan ketentuan macam-macam karena usaha Microsoft yang mengikutsertakan piranti lunak miliknya dalam operating system Windows. Salah satu putusan Komisi Eropa adalah Microsoft WAJIB menggandeng piranti lokal jika ingin masuk ke pasar Eropa. Baca putusan Uni Eropa untuk Microsoft di sini. Atau belajar juga sampai ke negeri China. Baca protes rakyat China atas kuliah serupa Bill Gates di Universitas Peking, China tahun lalu, klik sini.

Kedua: Murah adalah mutlak bagi kantong masyarakat yang kian terjepit harga-harga bahan pokok. Jangan pernah mimpi makan empat sehat lima sempurna tiap hari jika BBM naik tak terkendali. Kebutuhan sekunder dan tertier dan selanjutnya adalah hal keseratus dalam benak ibu RT macam saya.

Jika demikian, akan menjadi paradoks jika Pak Presiden mengangguk untuk sebuah paket ‘piranti lunak gratis’ bagi pendidikan (yang di-bundling dengan piranti keras US$200?). Di saat sebuah piranti lunak tertentu menjadi hal wajib di sekolah, tidakkah masyarakat diberikan pilihan lain? Mungkin juga piranti lunak ini dipaketkan dengan komputer bekas (secara negeri ini adalah tong sampah?).

Ketiga: Menjual (atau membuang komputer bekas) atas nama pendidikan di Indonesia menjadi sebuah usaha CSR (corporate social responsibility) yang cerdas kelas global. CSR atas nama pendidikan/education ataupun kepemimpinan/leadership adalah mantera manjur berinisial $$$. Bill & Melinda Gates Foundation adalah ujung pensil yang lebih mumpuni daripada berdagang piranti lunak a la Glodok. Ah, sepertinya anti-pembajakan menjadi tujuan di balik upaya mulia sebuah ‘Foundation’ (baca: kunjungan Bill Gates ke negeri para pembajak?). Pembajakan piranti lunak di Indonesia kian kronis; walau piranti lunak bajakan menjadi salah satu pilihan murah menjadi sepintar Bill Gates? Baca beritanya di situs Jakarta Post hari ini (klik sini untuk berita lengkap):

Gates said he was ready to help Indonesia get high-quality personal computers for a price of less than US$200 per unit, plus free software if Indonesia could make a deal with Intel chairman Craig Barrett, who will meet Yudhoyono in Jakarta next week.

Padahal di Amerika Serikat sendiri Nicholas Negroponte membuat program “ONE LAPTOP PER CHILD” atau OLPC untuk komputer seharga US$100! Tentu saja Intel dan Microsoft meledek kemampuan Negroponte mewujudkan hal ini. Baca di sini untuk artikel Intel, dan di sini untuk Microsoft. Akhirnya memang Negroponte memakai Linux untuk sistem operasi laptop ini. Baca beritanya di sini. Atau baca komentar soal price wars antara OLPC dan Intel-Microsoft di sini.

Keempat: Seorang Presiden sebuah negara besar ternyata bisa ‘disuruh-suruh’ Bill Gates untuk negosiasi dengan petinggi Intel? Tak adakah industri atau asosiasi industri negeri ini yang mampu berhadapan F2F (face to face) dengan Bill Gates atau Craig Barrett? Betul, korporasi global seperti Intel atau Microsoft akan terus memeras kepeng orang miskin macam saya. Saya tak punya pilihan lain. Sesungguhnya, sejujurnya, berapakah nilai komputer 2 juta rupiah (kali ratusan ribu sekolah, kalikan lagi empat puluh meja lab komputer di setiap sekolah) bagi seorang Bill Gates? Heaven! Bandingkan dengan nilai uang belanja saya. Yeah right, it’s a global scam, unfortunately.

***

Saya jadi teringat seorang sahabat virtual bernama Mr_C, yang selalu ketik atau bicara “Microsux” atau “Winsux” dalam setiap kesempatan. Waktu itu (sekitar tahun 1996-1997) saya hanya tertawa tanpa tahu artinya. Hari ini saya bisa nyengir kecut. Telat.

 
 

Dragonball time, anyone? No, it’s Time Warner’s Time


Sudah lama saya tidak posting. Banyak hal kecil-kecil yang harus saya tuntaskan IRL – in real life. Yep, blogosphere hanya ‘my dust bin’. Mengetik di sini butuh isi. Kalau begitu, saya harus membaca. Membaca, saya perlu ketenangan. Di saat banyak hal terjadi dalam keseharian, termasuk menemani sahabat dari Kalimantan, tentu duduk tenang adalah kenikmatan tersendiri. Seperti sekarang ini. I am filling up my dust bin again.

OK.

Jepang telah mampu menghipnotis anak-anak dengan produk manga superhero mereka macam Ultraman, Power Rangers (yang ternyata bule semua), atau Dragon Ball. Sayangnya memang pesona manga ini diproduksi secara lepasan. Tidak dalam kerangka industri besar. Begini ya, jika berpikir industri content atau tayangan ataupun produk audio visual berbagai format (CD, DVD, streaming, dst.), haruslah berpikir seperti raksasa media macam Time Warner atau News Corporation atau Bertelsmann dan seterusnya.

Satu contoh adalah Time Warner. Fokus Time Warner tahun ini adalah content, bukan pipa distribusinya. Menjual sahamnya di Warner Cable, CEO Time Warner yang baru, Jeffrey Bewkes, akan memfokuskan produksi audio visualnya: film di dua raksasa studionya (New Line Cinema dan Warner Brothers) serta tayangan televisi (original programming) di saluran kabelnya (HBO, TNN, TBS, CNN).

Tidak memfokuskan lagi di saluran distribusi adalah strategi baru dari raksasa media macam Time Warner. Sementara Fox, salah satu anak perusahaan raksasa media lain, News Corporation, semakin ekspansif mencari saluran-saluran baru. News Corp bahkan kian menggeliat dengan media baru (baca: internet).

Ada apa ya?

Ya, Time Warner melihat ada copyright di situ. Hak atas kekayaan intelektual yang berlaku 90 tahun untuk bisa dilepas bebas ke publik. Sembilan puluh tahun ke depan, Bewkes juga sudah almarhum, yang berarti profit yang dinikmati adalah selamanya.

Kalau mau cari yang gratis-gratis (dalam bentuk karya cipta tertulis, bukan audio visual) saya bisa dengan mudah mencarinya di http://www.gutenberg.org, tapi kalau mau yang audio visual bayar murah, siapa tak kenal ITC Ambassador atau Glodok? Saya sempat berpikir waktu Pak Wapres kita singgung soal HaKI minggu lalu (Kompas halaman 15): ini hanya wacana atau memang tahu masalah sesungguhnya sih?

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Mei 4, 2008 in broadcasting, business, content, HAKI, kekayaan, wapres