RSS

Arsip Bulanan: Mei 2008

Negosiasi Kopi


Setiap hari pasti kita bertemu dengan proses negosiasi. Kita ke pasar, kita menawar tukang sayur. Kita bertemu dengan bawahan, pastikan mereka mengerjakan tugas yang berkualitas (dan penuhi tuntutan mereka jika perlu). Kita bertemu dengan kawan untuk nonton bioskop, tentu ada kompromi tempat atau waktu main.

Sedikit tips untuk negosiasi. Silakan dibaca (atau dilaksanakan) sambil ngopi-ngopi.

1. Persiapan: Identifikasi keinginan Anda. Pahami secara detail.

2. Pembukaan: Utarakan keinginan secara singkat. Dengarkan pendapat mereka dengan jeli.

3. Argumentasi: Dukung keinginan Anda. Cari tahu lebih banyak keinginan mereka

4. Eksplorasi: Cari titik tengah untuk saling mengerti. Terbuka untuk segala kemungkinan.

5. Sinyal: Indikasikan kesiapan untuk bekerja sama

6. Kesimpulan: Mulailah dengan kata sepakat, atau atur pertemuan lanjutan.

7. Penutup: Rangkum dan tersenyum.

8. Pertahankan: Pastikan bahwa pertemuan yang telah disepakati segera diwujudkan.

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada Mei 21, 2008 in business, tips

 

Etika Seorang Profesor IPB


Iklan Tiga Roda.

Menggelitik, mengapa? Karena inilah iklan “obat” yang bukan obat untuk manusia: obat nyamuk. Bukan obat untuk menyembuhkan nyamuk, tapi untuk mengusir nyamuk. Bukan racun nyamuk, tapi obat.

Kesemrawutan istilah ini juga mengakar-urat ke instansi yang menangani pengaturan “si obat” ini. Tadinya saya berpikir, “Oh ini urusan Badan POM,” karena ada aturan main berjudul: Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 386/Men.Kes/SK/IV/1994 tentang Pedoman Periklanan: Obat Bebas, Obat Tradisional, Alat Kesehatan, Kosmetika, Perbekalan Kesehatan Rumah Tangga dan Makanan-Minuman (klik sini).

Saya salah.

Ternyata ada satu badan khusus yang menangani “si obat” ini, yaitu satu badan bekerja di bawah Departemen Pertanian yang disahkan dengan Keputusan Menteri Pertanian Nomor 342/Kpts/OT.160/9/2005 tentang Komisi Pestisida (klik sini). Salah satu tugasnya adalah melakukan evaluasi terhadap pestisida yang telah terdaftar dan memperoleh izin. Catatan: yang diatur sepertinya hanya registrasi pemain, bukan perilaku pemain, atau bahkan iklan dari produk pemain, apalagi bintang iklannya!

Lalu di mana pengaturan dan etika iklan obat nyamuk dan etika profesi dokter dalam iklan? Setahu saya sudah ada etika profesi dokter dalam mengiklankan obat. Maaf, obat untuk manusia bukan obat nyamuk. Setahu saya juga perihal “dokter dan iklan” memang diatur khusus baik dalam bentuk regulasi pemerintah atau etika asosiasi macam Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (P3I). Sayangnya, regulasi produk obat nyamuk ternyata “beda loket” sehingga ada celah kekosongan hukum. Etika profesi akhirnya bisa menari luwes di antara celah hukum ini.

Kesimpulan awal saya malam ini:

  1. Karena seorang profesor kedokteran hewan disumpah di bawah bendera Departemen Kesehatan;
  2. Peredaran obat nyamuk ada di bawah pengawasan Departemen Pertanian;
  3. Jadi sah saja IPB menjual tokoh akademisnya atau bahkan namanya untuk sebuah produk komersial yang bukan obat untuk manusia?

Sayang, di kala institusi pendidikan di negeri ini diharapkan lebih banyak melakukan 3P (pendidikan, pengabdian, dan penelitian) lebih kompetitif, IPB malah melakukan satu hal yang kurang etis.

Being a part in a commercial advertisement is totally a cheap way for a professor. There are other elegant ways for a big institution to gain donor for 3P, Sir.

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada Mei 19, 2008 in advertisement, business, etika profesi, iklan, IPB

 

Mario Teguh, Andy Cohen, Madonna & Me


Four Minutes to Save the World

Tick tock tick tock tick tock…

Sore ini saya terkagum-kagum melihat klip video nenek satu ini, bagaimana ia bergerak dinamis dengan Justin Timberlake, dengan konsep visual yang memerlukan pemikiran lebih lanjut; bagaimana ia bisa menyatukan lirik dengan musik untuk bergoyang ringan; bagaimana ia tetap produktif di usianya sekarang. Konsepsi video, yaitu mengelupasnya bath tub hingga perut Justin membuat saya berpikir bahwa klip berdurasi empat menit (?) memaksa penonton seperti saya untuk tidak membuang waktu. Carpe diem, or do it fast?

Sebelumnya saya menonton rerun acara Mario Teguh di O Channel. Pelajaran yang saya dapat adalah lebih dari sekadar kalimat motivasional. Seperti layaknya pemuka semua agama di dunia ini, ia pun mengajar kebaikan yang bersifat universal. Ia tidak terjebak pada uang semata sebagai tujuan akhir, walau demikian saya tak terlalu kagum dengan sosoknya di TV karena memang baru kali ini saya menonton acaranya. Pertanyaan seorang wanita tentang gender di kantor tak menjawab, walau sang penanya seakan tersenyum puas. Saya menyukai Mario Teguh berbicara di radio, lebih terarah (satu arah?) yang membawa makna lebih.

Setelah puas melihat klip video Madonna, menonton O Channel, saya kembali duduk di belakang komputer dan menonton motivational leader seperti Steve Jobs, Andy Cohen atau Seth Godin. Siapa tak kenal Steve Jobs dari Apple Computer Inc., tapi siapa yang kenal Andy Cohen di Indonesia? Saya sudah mengagumi Seth Godin sejak lama, walau masih belum lengkap mengoleksi bukunya (mahal!).

Saya menemukan hal baru dari gaya Andy Cohen memotivasi orang: mengikutsertakan penontonnya berekspresi. Saya turut mengambil koin dan mencoba magic trick yang ia contohkan. Oh wow, the magic is me! How I manage information, that’s right! He’s good. Save my day, at least.

Terakhir Seth Godin… see it for yourself.

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada Mei 18, 2008 in business, leadership, marketing, motivational, public policy

 

Lelah Berwacana


Semua tanggalan merah atau hari apapun yang mengingatkan akan rasa nasionalisme sebuah bangsa, sepertinya tak lepas dari “garapan” orang-orang yang mementingkan diri sendiri ataupun kelompoknya. Walau mengatasnamakan “kemiskinan” atau “kebangkitan”, sepertinya semua itu hanya kepulan asap. Bayangkan saja saat duduk di atas ojek (di belakang bajaj atau metromini yang tak pernah merawat mesin apalagi knalpot), tentu kepulan asap ini menyesakkan dada dan menyakitkan mata. Oh jangan lupa, hari ini di halaman 2 Kompas ada wacana “pejabat naik ojek”. Anything for a juicy media coverage!

Bok, ini wacana bok…

Hari ini saya lelah. Melihat bangkai tikus di tengah jalan tanpa ada orang peduli. Melihat halte busway sudah berwarna abu-abu, dan bus-nya sendiri sudah baret sana-sini. Duduk di lantai paling atas rumah, saya menutup mata membiarkan wajah diterpa angin di sore yang mendung. Sesak.

Banyak sahabat silih berganti mengajak ke bioskop hingga datang ke diskusi serius. Sungguh saya sudah kehilangan rasa nyaman tinggal di Jakarta, tapi saya merasa ada kepuasan tersendiri saat mblusuk-mblusuk mencari buku bekas di Proyek Senen yang sebentar lagi almarhum (yang mungkin akan berganti dengan mal supermegah). Berjalan kaki di sisi Lapangan Banteng sore ini mengingatkan masa sekolah dahulu.

Ah, saya terlalu banyak bermimpi tentang masa lalu. Hari ini, saya bahkan tak berminat datang ke Indonesia Regency Expo di JCC… selamat datang Bapak Ibu dari seluruh kabupaten di Indonesia. Selamat berpameran. Maaf saya tak bisa ke sana, saya hanya lelah terhadang macet.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Mei 16, 2008 in curhat

 

Formulir Isian Warga Negara (per keluarga)


Malam ini saya menuntaskan pengisian formulir Isian Warga Negara yang didistribusikan khusus oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Tadi sore ibu-ibu arisan (yang kebetulan berkumpul di rumah saya) ramai menanyakan bagaimana mengisinya. Mulai dari nama lengkap Ketua RW hingga pengisian nomor induk ayah/ibu dari kepala keluarga. Saya yang tadinya ‘menyerahkan’ pengisian ini sepenuhnya ke suami, jadi penasaran. Kebetulan suami saya belum menyerahkan ke koordinator RT. Saya akhirnya turut membaca dan menuntaskan pengisian formulir tersebut.

*ahem*

Ada beberapa catatan untuk proses pendataan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta ini.

Upaya yang patut diacungi jempol, tangan kanan dan kiri saya.

Ada beberapa hal yang agak sulit diisi, di antaranya:

  • Bagaimana membedakan status suami saya yang dibedakan antara ‘kepala keluarga’ dan ‘suami’? Mungkin akan menjadi repot mengisi ‘kepala keluarga dan suami’, ‘kepala keluarga dan istri’ (kalau suami tidak ada), atau ‘kepala keluarga dan ayah mertua’ (jika saya masih tinggal dengan ayah mertua saya).
  • Cacat. Tak ada pilihan untuk yang secara fisik masih sehat.
  • Yang terpenting: tak ada simulasi bersama dengan arahan dari pegawai kelurahan. Hal ini mungkin akan membantu pengisian secara seksama dan epsilon-nya atau kesalahannya akan menjadi lebih kecil.

Dengan dimulainya proses pendataan ini, saya yakin bahwa DKI akan menjadi lebih tertib dalam hal administratif. Pemerintah daerah akan lebih akurat dalam membuat cetak biru bagaimana meningkatkan kesejahteraan warganya. Sukses untuk Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. It surely is a smart start. Salute for Pak Foke!

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Mei 11, 2008 in census, DKI Jakarta, statistics