RSS

Arsip Bulanan: Juni 2008

Siapa bilang mengatur TV lokal itu mudah


Pagi ini ada diskusi kecil dengan kawan-kawan. Cukup seru. Cukup mencerahkan. Bahkan saya merasa bahwa banyak hal yang perlu dikerjakan (tapi belum dikerjakan) untuk melengkapi pembahasan menjadi sebuah pedoman berpikir bersama.

Salah satunya adalah tentang DMA (designated market area) yang bisa menjadi pegangan regulator di tingkat pusat hingga di tingkat provinsi mengatur lembaga penyiaran. Untuk menetapkan sistem lokal berjaringan, tentu harus dilihat sejauh “mengapa harus berjaringan” yang diamanatkan Undang-undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran, dan sedetail “mengapa harus ada pembagian pasar” untuk dipatuhi siapapun pemain di setiap daerah.

Harus dipahami beberapa detail di bawah ini:

1. Geografi dan topografi setiap daerah; untuk dua hal ini silakan klik www.bakorsutanal.go.id.

2. Dinamika pasar (market dynamics) yang melihat bagaimana sebuah pasar seperti Jakarta tak boleh dilepas sendiri terhadap Jawa Barat dan Banten; juga melihat potensi satu barang atau jasa berkembang di satu area. Dinamika ini juga melihat bagaimana konsumen mempersepsikan tinggi atau sebaliknya
terhadap satu barang atau jasa. Dinamika pasar juga melihat adopsi teknologi dalam satu komunitas SES (social economic status) tertentu; bagaimana kelompok SES tertentu mendominasi satu area, dan seterusnya.

3. Pengeluaran konsumen (consumer expenditures) dengan variabel beragam mulai pengeluaran tahunan, indeks tahunan, jenis barang atau jasa yang kemudian dianalisis antara faktor ras, usia, dan hal demografis lain.

4. Ekonomi daerah yang melihat bagaimana perkembangan pendapatan per kapita dalam etnis tertentu di satu daerah.

5. Faktor infrastruktur: kesiapan jalur distribusi barang dan jasa yang murah dan mudah.

Semua variabel demografis ini kemudian bisa memberikan gambaran secara menyeluruh tentang kekuatan satu pasar untuk menyerap produk dan jasa; sehingga regulator penyiaran di daerah mengerti mengapa diperlukan sebuah televisi lokal atau diperlukan radio tambahan untuk menyampaikan informasi untuk publik (one-way traffic) atau mendapatkan iklan terkait (two-way traffic). Di saat jalur distribusi sulit di satu daerah, atau di saat kekuatan pendapatan/pengeluaran satu daerah itu rendah, tentulah penambahan satu televisi atau radio harus dipertimbangkan kembali.

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada Juni 27, 2008 in public policy

 

Diproteksi: Kompas Pagi Ini: Camera… ACTION!


Konten ini diproteksi dengan password. Untuk melihatnya cukup masukkan password Anda di bawah ini:

 
Masukkan password Anda untuk melihat komentar.

Ditulis oleh pada Juni 25, 2008 in calon presiden, koran, politics

 

Diktum, Diksi


Pemilihan frasa kampanye seperti “Berpengalaman di BIDANG birokrasi” membuat saya mengernyitkan dahi. What the… ^#%^%@??!! Sejak kapan “birokrasi” adalah sebuah bidang (baca: lahan untuk digarap)? Tak pernahkah pejabat kita melihat bahwa “menjadi Gubernur” itu adalah “melayani rakyat”, bukan mempersulit langkah setiap rakyatnya. Toh birokrasi yang ada sekarang di sana tak mampu membendung lumpur ratusan hektar.

Atau jargon “Bersama Kita Bisa” mungkin bisa nyerempet slogan kampanye Barack Obama “Yes, We Can!”. Jika Barack menciptakannya karena ia pusing hidup dalam dunia rasis di sana, di sini pusing dengan sejublak partai dan kelompok.

Saat HaDe menang, sekarang banyak balon (bakal calon?) pemimpin daerah bergandengan tangan dan membentuk kata baru yang sedikit “maksa”. Andai Roy Suryo dan Dhani Ahmad bergandengan tangan, tentu itu cuma kerjaan iseng desainer grafis yang juga insomniak seperti saya.

Memilih jargon, slogan ataupun frasa-frasa kampanye adalah sama sulitnya dengan memenuhi janji-janji di dalamnya. Bagaimana tidak, pemilihan kata yang enak didengar kemudian melancarkan jalan menuju gedung sate atau istana negara… tidak mudah.

Buktinya saya masih tertukar-tukar mengucapkan diktum dan diksi.

***

[dictum] Meriam-Webster:
1: a noteworthy statement: as a: a formal pronouncement of a principle, proposition, or opinion b: an observation intended or regarded as authoritative
2: a judge’s expression of opinion on a point other than the precise issue involved in determining a case

[diction] Meriam-Webster:
1: obsolete : verbal description
2: choice of words especially with regard to correctness, clearness, or effectiveness
3 a: vocal expression : enunciation b: pronunciation and enunciation of words in singing

[jargon] Meriam-Webster:
1 a: confused unintelligible language b: a strange, outlandish, or barbarous language or dialect c: a hybrid language or dialect simplified in vocabulary and grammar and used for communication between peoples of different speech
2: the technical terminology or characteristic idiom of a special activity or group
3: obscure and often pretentious language marked by circumlocutions and long words

[slogan] Meriam-Webster:
1 a: a war cry especially of a Scottish clan b: a word or phrase used to express a characteristic position or stand or a goal to be achieved
2: a brief attention-getting phrase used in advertising or promotion

[phrase] Meriam-Webster:
1: a characteristic manner or style of expression : diction
a: a brief expression; especially : catchphrase b: word
3: a short musical thought typically two to four measures long closing with a cadence
4: a word or group of words forming a syntactic constituent with a single grammatical function <an adverbial phrase>
5: a series of dance movements comprising a section of a pattern

[bureaucracy] Meriam-Webster:
1 a: a body of nonelective government officials b: an administrative policy-making group
2: government characterized by specialization of functions, adherence to fixed rules, and a hierarchy of authority
3: a system of administration marked by officialism, red tape, and proliferation

[people] Meriam-Webster:

7: the body of enfranchised citizens of a state

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juni 24, 2008 in campaign, language

 

Industri Film Kita, Mau Diberi Insentif Seperti Apa Biar [Makin] Hidup?


PRODUKSI

  • 1999 ada dua film saja diproduksi.
  • 2007 sudah ada 76.
  • 2008 diperkirakan lebih dari 120!

DISTRUBUSI

EKSIBISI

APRESIASI

KRITIK

Ini adalah 5 pilar sebuah industri film yang baru saya pelajari dari kawan baru Alex Sihar. Banyak hal yang saya pelajari beberapa hari terakhir ini. Saya hanya tak terlalu belajar memegang kamera broadcast quality macam Sony PD170.

Lelah yang amat sangat, tertawa-menangis dan serius belajar diaduk jadi satu. Minggu ini saya mendalami produksi film hingga struktur industri content yang sekarang mulai hidup.

Saya lelah sekarang, mungkin posting ini akan saya lanjutkan untuk berbagi pelajaran dan pengalaman yang saya dapat dari Alex Sihar dan Duta Prameswari. Terima kasih Lasja. Terima kasih Lex, Dut… it’s a hell of a week for me!

 
 

Artalyta: Ojo Untung, Urip Bae


Wanita tak lagi dijajah pria, tapi ditangkap Jaksa.

Wanita juga bisa diseruduk Mossad.

Sarapan Kompas pagi ini, saya sebagai seorang wanita (halah?) saya takjub dengan Artalyta yang mampu membayar uang 6 M ke URIP. Hitung saja berapa tajirnya perempuan ini kalau uang itu cuma 2,5% dari total kekayannya. Beda dengan zakat, uang ke Urip ini uangnya rakyat untuk “bos-bos” yang harus diamankan Artalyta. Bedanya, uang ke Urip ini uang rakyat. Tadi malam juga saya dengar ada petinggi kita ke Iran diseruduk truknya Mossad. UNTUNG selamat, but what the…?*&(!???

Percakapan telepon yang menjadi topik utama Kompas pagi ini memperlihatkan bobroknya institusi bernama kejaksaan. Menjadi jaksa adalah amanat rakyat (lah, gajinya dari APBN bukan?) sehingga jika kebobrokan BLBI dilindungi oleh jaksa-jaksa seperti ini, ini adalah ibarat bobrok pangkat dua. Jika ada mobil petinggi wanita kita diseruduk truk Mossad, ini mungkin tak akan pernah naik di media massa kita manapun. Panjang ceritanya… nanti ya?

Kemana dan bagaimana larinya uang BLBI sudah terbuka secara publik (yang selama ini “katanya…”). Yang belum jelas hingga hari ini, kemana hati nurani [para elit ini] untuk rakyat?

 
3 Komentar

Ditulis oleh pada Juni 12, 2008 in public policy

 

Tentang blog ini: menengok perjalanan sebuah tulisan


ini me knee my knee mo… MOW!

Lucu deh… di saat regulator sibuk mencari rujukan tentang peta industri penyiaran di negeri ini, pasar telah tumbuh dengan sendirinya. Tak ada insentif, yang kecil bergabung dengan yang besar. Yang sudah besar membuat dirinya lebih gigantis dengan kongsian dengan taipan media lain.

Fungsi pemerintah selain mengatur, tentu ia harus membangun dulu infrastruktur yang akan ia atur. Sekarang, berapa banyak yang sudah benar-benar dibangun? Adakah proyek besar ditandatangani di era kepemimpinan sekarang? Tadi siang malah di TransTV disajikan kincir air mini sebagai pembangkit listrik kampung yang tak terjamah PLN.

Yang lebih mendasar lagi dari membangun, adakah perencanaan tentang institusi sebuah negara ini? Jawabnya ada. Bagaimana mengukurnya? Jawabnya juga, telah dibuat. Mungkin seperti Key Performance Indicator. Apa hasilnya memasuki 4 tahun ini? Jawabnya, yang penting negara dalam keadaan stabil, tak ada gejolak berarti selain rusuh Monas.

Blog ini juga awalnya diniatkan untuk kompilasi data atau tulisan yang pernah saya buat. Inti utamanya adalah untuk keep track & systemize pemikiran saya. Jika ada yang ingin mengambil data, monggo… gratis!

Terkadang juga saya membaca di situs orang, “Oh, ada film baru karya Night Shyamalan yang menyutradarai Sixth Sense, dan yang main Mark Wahlberg!” lalu saya cari tahu tentang Shyamalan (sutradara asal India yang umurnya beda-beda tipis dengan saya hahaha!). Dari sekadar menyukai filmnya, lalu saya tahu sedikit siapa bagaimana di balik film itu.

Apapun topiknya, blog ini hanya mencatat perjalanan saya dari keseharian, dalam seminggu… sebulan… setahun dan seterusnya. It’s my bulla.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juni 3, 2008 in public policy