RSS

Arsip Bulanan: Juli 2008

Lubang Jarum – 2


Akhirnya.

So where is the passion when you need it the most.

Kick up the leaves and the magic is lost.

Work on a smile…

I had a good day.

1. Foto 3 X 4 FC

2. Foto 6 X 6 BW

3. Halaman judul dalam bahasa Inggris

4. Isian data yang lengkap

What else?

Too tired to think tonite… i don’t need no carryin’ on

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juli 31, 2008 in public policy

 

Lubang Jarum


(no comment, too tired to update, yang pasti uapaya kemarin sukses, kawan…. antara sedih dan senang)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juli 29, 2008 in public policy

 

Psikopat, Sosiopat: Antara Mitos dan Fakta


Kali ini saya tetap membahas yang ada di TV atau koran seminggu terakhir, tapi dari kacamata yang agak berbeda. Saya bukan ahli psikiatri, tak juga psikolog. Yang pasti, saya hanya kagum dengan kriteria psikopat yang diucap singkat oleh psikolog cantik Mbak Cassandra yang sore ini tampil di TVOne. “Mati rasa” saat membunuh antara Depok dan Jombang? Hmmm, sounds like Lapindo & Hotel Mulya…

***

PSIKOPAT

Hervey M. Cleckley (1941) menggambarkan secara sistematis [bahwa psikopat] memiliki seperangkat kepribadian dan perilaku. Seorang psikopat terlihat sangat menarik, selalu mencoba menarik perhatian orang di awal bertemu, dan terkadang terkesan normal-normal saja. Sesungguhnya mereka orang yang mencintai diri (narsis, egois), tidak jujur, sangat tergantung orang lain, dan kerap menunjukkan perilaku tidak bertanggungjawab tanpa alasan yang jelas, atau malah hanya karena merasa lucu saja. Read the rest of this entry »

 
5 Komentar

Ditulis oleh pada Juli 25, 2008 in curhat

 

What Price Culture? The Indonesian Way


Satu kalimat tanya yang singkat tapi menggelitik: what price culture, really?

Di saat bangsa Kanada bingung menentukan ia bertrah Perancis atau Inggris, negeri ini justru “santai-santai aja” dengan keragaman budaya dan bahasa. Bung Karno pakai kopiah bukan blangkon, dan tampil necis dengan safari. Pak Harto pakai jas, kadang baju koko. Bu Mega tampil cantik mengenakan kebaya. Pak SBY selalu pakai jas atau batik. Siapapun pemimpin negeri ini, lihatlah bagaimana beragam adat dan suku bangsa hidup di bawah satu bendera.

Menakjubkan.

Lalu berapa harganya jika ingin menjadi bagian dari GDP?

Pariwisata? Loyo, jika dilihat agregat seluruh potensi alam dan budaya daerah. Kalau hanya Bali, satu hari tentu ada titik “exhausted”. Jika saja ingin memperhitungkan cultural heritage yang bisa menjadi ikon pariwisata yang unik setiap daerah (yang tentunya harus dihitung untuk profit agregat), dengan menjual rasa eksotisme sejarah negeri ini, tentu mahal harganya. Sayangnya, transportasi dan akomodasi ke situs-situs kuno buruk, serta sejumlah biaya promosi yang tak jelas pertanggungjawabannya (ya karena korupsi, ya karena asal pasang media apa saja tanpa dihitung outcome dari penempatan media itu).

Pendidikan? Sebagai bekal anak-anak untuk menjual ide kebudayaan (dalam bentuk film, musik, dan seterusnya), berapa banyak anak Indonesia yang tahu menari Pendet atau memegang kamera? Jangan sampai anak-anak hanya tahu bahwa menyanyi itu hanya untuk popularitas, tanpa diperkenalkan bagaimana menjual musiknya ke luar negeri. Atau filmnya, atau tenaga kreatifnya, atau… (simpati saya untuk Inul, tapi terus-terang saya kok gak mudeng ya melihat overexposure Inul menangis di acara gosip pascaditolak oleh Pemerintah Johor Bahru, Malaysia?)

Perdagangan? Berapa banyak orang yang tahu lukisan Raden Saleh itu mahal, atau Affandi, atau banyak maestro lain. Ada yang rusak teronggok, ada juga yang memang tak dipikirkan menjadi komoditas khusus. Pernahkah terpikir sebuah balai lelang a la Christie’s untuk produk-produk anak bangsa ini? Mungkin bisa dimulai dari pasar domestik dulu…

***

Ambil contoh industri musik: konser musik pop anak muda, bukan pentas tarian tradisional (atau tarian a la GSP jaman dulu) yang lebih banyak menjadi pasokan pasar domestik. Dari satu pasar ini saja (anak muda yang menonton konser ini) saya melihat sebuah partial equilibrium market, atau pasar keseimbangan parsial. Lihat juga bagaimana pasar ringback tone atau konser televisi hingga pasar pembuatan klip video yang melibatkan banyak tenaga kerja kreatif. Ini adalah sebuah multi-market; dengan kajian general equilibrium markets.

Dari sini, kita bisa melihat pergerakan industri setiap tahun, dalam kurva multi-series. Kita bisa kaji juga bagaimana perkembangan ini menjadi bagian dari pendapatan nasional; dengan persyaratan tentu pendapatan rumah tangga atau perusahaan terpantau baik. Persyaratan dari hal ini adalah sistem gaji hingga pemasukan dari iklan televisi juga terpantau dengan baik.

Pertanyaan saya kemudian, bagaimana menjadikan anak bangsa negeri ini menghargai kebudayaan negeri sendiri setinggi itu? Bagaimana mereka merasa dilindungi dan diberi insentif atas hasil pemikiran dan perbuatan mereka?

Ah… sungguh sebuah angan-angan siang bolong: bagaimana pemerintah kita menjalankan kebijakan hak cipta produk kebudayaan dengan baik (bukan cuma sebuah kantor birokrat nun jauh di Tangerang sana yang tak punya outcome jelas bagi kemaslahatan rakyat ini, yang mungkin berdalih “Ah, kantor ini ‘kan hanya sebuah direktorat jenderal saja, bagaimana mungkin berkoordinasi dengan Menteri Budaya dan Pariwisata atau Menteri Pendidikan Nasional?”). Yeah right…

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juli 24, 2008 in public policy

 

MNC di AsiaSat S3


Malam ini saya mau titip salam kenal buat kawan yang ingin mengetahui saluran MNC di satelit AsiaSat S3. Apakah yang dimaksud “mnc” dalam arti luas “multinational corporation”, atau MNC alias Media Nusantara Citra; jika MNC yang terakhir ini, yang merupakan unit dari Global Mediacom, hingga hari ini sih belum terdaftar di jajaran penyewa AsiaSat S3. Ada memang Sun TV, tapi beralamat China, satu negara yang menjadi incaran ekspansi Global Mediacom AKA Bimantara Citra, saudara sepupu dari Bhakti Investama. Memang melalui satu unit di bawah MNC, Global Mediacom telah membeli outstanding share dari perusahaan telekomunikasi di China, Linktone Ltd. yang juga merupakan penyedia media interaktif. Linktone juga merupakan biro iklan eksklusif dan penyedia isi bagi Qinghai Satellite Television, sebuah saluran TV via satelit yang bisa ditangkap di 24 provinsi dengan total penonton 276 juta. Nah, Qinghai ini memang diuplink ke satelit AsiaSat S3 juga. Jadi, kesimpulannya: bukan MNC langsung ya?

Anyway…

Bangga juga ada pengusaha Indonesia yang bisa mengayuh perahunya sejauh China. Asal tidak ada cuci-cuci uang, saya mah angkat kepalan tangan saya (bukan topi, karena enggak suka pakai topi sih) buat Global Mediacom.

***

Kapasitas dan cakupan footprint AsiaSat S3 itu cukup besar, maklum milik General Electric dan Citic. GE adalah konglomerat Amerika Serikat yang punya GE Commercial Finance, GE Industrial, GE Infrastructure (termasuk GE Aviation dan bekas Smiths Aerospace), GE Consumer Finance, GE Healthcare, dan NBC Universal, usaha bisnis hiburan (wikipedia). Sedangkan Citic (China International Trust and Investment Company) merupakan BUMN Pemerintah China.

Beberapa saluran di dalam AsiaSat S3 adalah sebagai berikut: China Entertainment TV, China Entertainment TV 2, Maharishi Veda Vision, Zee Network, Channel NewsAsia, Radio Singapore International, BTV World, TVB 8, Celestial Movies, Celestial Classic Movies, Azio TV Asia, Fashion TV Hong Kong & Asia, Aaj TV, Arirang Arab, NOW, Bloomberg TV Asia-Pacific, Russia Today, MTA International, Al Jazeera English, Supreme Master TV, TV 5 Monde Asie, Eurosport Asia, Eurosport News, IRINN, Amouzesh TV Network, IRIB Quran, Jame-Jam TV Network 3, Press TV, Sahar, IRIB Radio 1, Radio Payam, Radio Javan, Radio Maaref, Radio Farhang, Sedaye Ashena, Radio Varzesh, Radio Quran (Iran), Radio Yazd, Radio Sistan Balochestan, Phoenix InfoNews Channel, Kerman TV, Khalij Fars TV, Radio Kerman, Radio Bandar Abas, Radio Kerman, Radio Bandar Abas, Noor TV (Afghanistan), Tamadon TV, PBC Larkana, Radio Pakistan, Sun TV (China), PTV Global, PTV Global, TVB, TVB Xing He, MATV, Horizon Channel, PTV National, PTV Home, Radio Pakistan, Zee Network, Zee Muzic Asia, Zee Smile, Geo TV Network… pokoknya cukup heboh!

 

Vocab of The Day


magna carta

Arti:

(kata benda) sebuah dokumen atau hukum yang memasukkan hak dan kepentingan mendasar manusia.

Asal Kata:

Dari bahasa Latin kuno, magna carta (kesepakatan besar). Magna Carta ditandatangani oleh Raja John Inggris (15 Juni 1215) sebagai kesepakatan politis dan kebebasan rakyat, yang mereduksi kekuasaan mutlak seorang raja di monarki Inggris. Magna Carta yang direvisi beberapa tahun setelah itu kemudian menjadi simbol kekuasaan sipil dan demokratisasi di segala hal.

Contoh penggunaan sehari-hari:

“Sebuah magna carta dibuat untuk mengembangkan industri kecil dan menengah; kesepakatan ini menjadi masalah dominan dan kebutuhan wajib bagi setiap pemain industri ini.”

(sumber: wordsmith.com)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juli 19, 2008 in public policy

 

Di Negeri Penjajah: Eksotisme Penelusuran Sejarah


Malam ini saya diajak menelusuri lorong waktu yang eksotis. Malam ini saya belajar banyak dari JJ Rizal, Budiman Sujatmiko, dan Harry Poeze. Mulai tercerahkan tentang cara bertutur setiap orang merangkaikan pemikiran, hingga takjub cara seorang Belanda menulis selama 15 tahun sebuah buku tentang Indonesia yang baru hari ini terbit!

Diskusi malam ini di Erasmus Huis (atau rumah Erasmus, seorang humanis dan teolog di abad ke-15 di Belanda) adalah proses pencerahan yang diselenggarakan dalam rangka peluncuran buku terbaru Harry Poeze “Di Negeri Penjajah” setelah “Verguisd en Vergeten” (Tan Malaka Dihujat dan Dilupakan). Kali ini Poeze menulis tentang orang Indonesia di Belanda era 1600 hingga 1950 (jadi Daniel Sahuleka dan kawan saya Mary Osmond yang lulusan Belanda kemarin jangan harap masuk di monograf ini).

Dari diskusi ini, yang menarik pertama-tama adalah “nasionalisme” yang dinyatakan Budiman Sujatmiko “ada sebagai produk hasil kolonialisme”. Yang menarik kedua, soal Kartini yang dikonstruksi oleh Belanda “sebagai pahlawan”. Saat detail diskusi berisi “kumpulan resep Kartini yang kebarat-baratan” serta-merta hal ini dibantah oleh peserta diskusi perempuan yang berdialek Chincha Lawrah “makan masakan Jepang bukan berarti saya orang Jepang”. Loh kok cetek amat?

Saya kemudian takjub melihat, sama seperti halnya peserta diskusi yang lain, foto-foto orang Indonesia di Belanda jaman dahulu. Tak perlu membeli buku seharga Rp 150 ribu ini, saya menikmati foto-foto presentasi Poeze di layar. Ada orang Indonesia yang yang bersekolah di sana berdandan perlente (istilah Poeze: necis). Bung Hatta adalah sosok yang “ditabrakkan” dengan Notosoeroto (sosok lain yang justru lebih banyak porsinya di dalam buku ini) yang tak ingin Indonesia melepaskan diri dari kolonialisme Belanda “sampai Indonesia siap”.

Seperti oasis di tengah kekeringan buku yang mampu mengupas Indonesia secara mendetail, buku ini seakan memberikan setetes kesegaran. Pertanyaan pertama memang “mengapa kita tak mampu membuat buku sedetail dan seakurat ini”? Pertanyaan lain yang menggelitik adalah “mengapa kita selalu terbuai dengan sejarah tanpa tahu harus berbuat apa untuk masa depan”? Tapi yang paling menggelitik sebenarnya datang dari anekdot warung kopi yang sering saya dengar “mengapa kalau dijajah Inggris, negaranya bisa maju”?

Kalau mau melihat tata hubungan kita dengan Belanda dengan lebih arif, kita juga bisa maju. Kalau kita mau dan melihat penjajahan sebagai satu anugerah, dan melihat bahwa nasionalisme itu hanya fondasi yang dibangun di masa lalu untuk selamanya. Dengan bergandengan tangan bersama pemerintah dan rakyat Belanda, mungkin saja Indonesia  kemudian menjadi bagian dari sebuah rantai konsepsi bernama Uni Eropa. Selanjutnya, mungkin siaran bola Liga Inggris akan dibagi dua rata dengan Malaysia ya?

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada Juli 18, 2008 in public policy