RSS

Di Negeri Penjajah: Eksotisme Penelusuran Sejarah

18 Jul

Malam ini saya diajak menelusuri lorong waktu yang eksotis. Malam ini saya belajar banyak dari JJ Rizal, Budiman Sujatmiko, dan Harry Poeze. Mulai tercerahkan tentang cara bertutur setiap orang merangkaikan pemikiran, hingga takjub cara seorang Belanda menulis selama 15 tahun sebuah buku tentang Indonesia yang baru hari ini terbit!

Diskusi malam ini di Erasmus Huis (atau rumah Erasmus, seorang humanis dan teolog di abad ke-15 di Belanda) adalah proses pencerahan yang diselenggarakan dalam rangka peluncuran buku terbaru Harry Poeze “Di Negeri Penjajah” setelah “Verguisd en Vergeten” (Tan Malaka Dihujat dan Dilupakan). Kali ini Poeze menulis tentang orang Indonesia di Belanda era 1600 hingga 1950 (jadi Daniel Sahuleka dan kawan saya Mary Osmond yang lulusan Belanda kemarin jangan harap masuk di monograf ini).

Dari diskusi ini, yang menarik pertama-tama adalah “nasionalisme” yang dinyatakan Budiman Sujatmiko “ada sebagai produk hasil kolonialisme”. Yang menarik kedua, soal Kartini yang dikonstruksi oleh Belanda “sebagai pahlawan”. Saat detail diskusi berisi “kumpulan resep Kartini yang kebarat-baratan” serta-merta hal ini dibantah oleh peserta diskusi perempuan yang berdialek Chincha Lawrah “makan masakan Jepang bukan berarti saya orang Jepang”. Loh kok cetek amat?

Saya kemudian takjub melihat, sama seperti halnya peserta diskusi yang lain, foto-foto orang Indonesia di Belanda jaman dahulu. Tak perlu membeli buku seharga Rp 150 ribu ini, saya menikmati foto-foto presentasi Poeze di layar. Ada orang Indonesia yang yang bersekolah di sana berdandan perlente (istilah Poeze: necis). Bung Hatta adalah sosok yang “ditabrakkan” dengan Notosoeroto (sosok lain yang justru lebih banyak porsinya di dalam buku ini) yang tak ingin Indonesia melepaskan diri dari kolonialisme Belanda “sampai Indonesia siap”.

Seperti oasis di tengah kekeringan buku yang mampu mengupas Indonesia secara mendetail, buku ini seakan memberikan setetes kesegaran. Pertanyaan pertama memang “mengapa kita tak mampu membuat buku sedetail dan seakurat ini”? Pertanyaan lain yang menggelitik adalah “mengapa kita selalu terbuai dengan sejarah tanpa tahu harus berbuat apa untuk masa depan”? Tapi yang paling menggelitik sebenarnya datang dari anekdot warung kopi yang sering saya dengar “mengapa kalau dijajah Inggris, negaranya bisa maju”?

Kalau mau melihat tata hubungan kita dengan Belanda dengan lebih arif, kita juga bisa maju. Kalau kita mau dan melihat penjajahan sebagai satu anugerah, dan melihat bahwa nasionalisme itu hanya fondasi yang dibangun di masa lalu untuk selamanya. Dengan bergandengan tangan bersama pemerintah dan rakyat Belanda, mungkin saja Indonesia  kemudian menjadi bagian dari sebuah rantai konsepsi bernama Uni Eropa. Selanjutnya, mungkin siaran bola Liga Inggris akan dibagi dua rata dengan Malaysia ya?

Iklan
 
1 Komentar

Ditulis oleh pada Juli 18, 2008 in public policy

 

One response to “Di Negeri Penjajah: Eksotisme Penelusuran Sejarah

  1. Achmad sunjayadi

    Juli 18, 2008 at 6:55 am

    Sayang, saya tidak bisa hadir dalam diskusi buku terjemahan ini padahal undangan sudah saya terima.
    Sebenarnya, edisi dalam bahasa Belandanya sudah terbit 1986 silam. Pak Koesalah lah yang dengan tekun menerjemahkannya. 2005 silam sewaktu berkunjung ke rumah Pak Koes, beliau sedang sibuk mengerjakan buku ini.
    Memang buku ini bagus. Mungkin akan lebih menarik lagi, jika periodenya ditambah dari tahun 1950 sampai 1990-an karena generasi pada masa tersebut tentu punya ‘cerita’ berbeda.
    Saya yang masuk generasi 2000-an ‘in het land van de overheerser’ pun punya kesan yang berbeda.

    salam,
    AS

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: