RSS

Arsip Bulanan: Agustus 2008

Nation of Whining


Pagi ini saya menonton siaran langsung dari Denver: pidato “penerimaan” Barack Obama atas kesepakatan konvensi Partai Demokrat. Tak pernah ada seorang presiden negara lain yang diliput TV negeri ini dan diminati penonton dari berbagai kelas di negeri ini. Tak pernah ada presiden Amerika Serikat begitu dekat seperti mantan siswa SD Besuki Menteng, Jakarta Pusat beberapa puluh tahun lalu ini.

Dramaturgi pidato yang terjaga, mulai dari ucapan terima kasih yang sangat memukau hingga janji (promise of America) energi, pendidikan, kesehatan, “commander in chief” atau panglima angkatan bersenjata (menjawab McCain yang menyebut Obama tukang mengeluh, dan menjadikan Amerika Serikat sebagai “nation of whining”), hingga politik luar negeri (plus sedikit isu lesbi/gay, aborsi, imigran ilegal, senjata dan seterusnya); diakhiri dengan solusi “the election is not about me, it’s about you.”

Keren ya? Coba itu bisa dihayati oleh caleg-caleg yang artis kita itu hehehe… ‘dah ah!

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Agustus 29, 2008 in election

 

Hak Siar Liga Inggris: Mengukur Dampak Evolusi


Kolom
Amelia Day

Kata “aora” dalam bahasa Spanyol mengandung arti “sekarang”. Nah, mulai sekarang pulalah di Indonesia siaran divisi utama Inggris, Premier League, hijrah ke televisi berbayar yang baru seumur jagung nongol di Indonesia, AORA TV.

Entitas usaha yang dimotori Rini Soemarno, mantan menteri perindustrian dan perdagangan era Megawati, ini menurut undang-undang nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran masuk dalam kategori Lembaga Penyiaran Berlangganan (LPB) via satelit.

Saking mudanya usia AORA, kita bisa dapati banyaknya ghost link atau halaman under construction dalam situs resmi LPB tersebut, http://www.aora.tv, yang juga didukung http://www.nontonligainggris.com, hingga sekarang. Jadi, tidak mengherankan bila nama AORA masih terdengar asing di telinga para penggila bola di negeri ini.

Mengapa sebuah televisi baru bisa langsung mendapatkan tayangan bergengsi sekelas Liga Premier? Fenomena ini adalah lanjutan dari keanehan yang berawal di musim lalu ketika para pencinta liga Inggris secara mendadak harus hijrah dari stasiun televisi Trans7 ke televisi berbayar milik Malaysia yang mulai beroperasi di Indonesia, Astro Nusantara.

Bila tahun lalu sebagian kecil siaran Premier League masih bisa kita ikuti di TV One, sebagai salah satu stasiun televisi free-to-air di Indonesia, kini tampaknya tak bakal ada lagi tayangan gratis siaran langsung Liga Premier di Indonesia.

Sebanyak 370 paket tayangan superlengkap Premier League 2008/09 di Indonesia hanya bisa dinikmati lewat AORA. Seharusnya sistem penayangan Liga Inggris yang sepenuhnya berbayar ini sudah berlaku mendunia sejak musim lalu, tapi Indonesia menjadi sebuah pengecualian. Mengapa sampai terjadi demikian?

UE Hapus Monopoli

Semua berawal saat pada 2007 Komisi Eropa tidak lagi mengizinkan transaksi pembelian tunggal hak siar Liga Inggris di pasar Uni Eropa. Larangan monopoli ini juga diikuti aturan agar sistem kontrak dibuat berdurasi lebih pendek, hanya setahun saja dari semula yang bisa berjangka tiga sampai lima tahun.

Dalam kawasan Uni Eropa disiarkan 380 pertandingan Premier League yang terbagi dalam empat paket, yaitu live audio-visual rights, near-live audio-visual rights, mobile rights, dan national radio rights.

Live audio-visual rights terdiri dari enam paket siaran yang masing-masing terdiri dari 23 laga siaran langsung. Near-live audio-visual rights terdiri dari dua paket yang masing-masing terdiri dari 121 laga siaran tunda.

Mobile rights adalah paket tunggal yang berisi klip-klip pertandingan berdurasi maksimal lima menit yang bisa disaksikan lewat perangkat nirkabel dengan batasan aturan berbeda. Terakhir, national radio rights terdiri dari tujuh paket yang masing-masing berisi 32 pertandingan siaran langsung audio saja.

Seluruh paket hak siar ini dibuat Football Association of Premier League di Inggris dengan Komisi Eropa. Hasilnya paket ini kemudian dibeli BSkyB dan Setanta dengan nilai 1,7 miliar pound alias 29,2 triliun rupiah.

BSkyB berhak menyiarkan Premier League di kawasan Inggris dan seluruh Uni Eropa, kecuali Irlandia. Setanta memegang pasar Irlandia. Pada sisi lain, BBC, yang membayar “hanya” 171,6 juta pound (Rp 2,95 triliun), cuma mendapatkan hak untuk siaran radio secara penuh dan tayangan highlights untuk tiga musim sekaligus.

Meski relatif kecil, Szymanski menyebut angka yang dibayarkan BBC di atas sebenarnya sudah naik sebesar 63% dari nilai kontrak sebelumnya. Biaya untuk menonton aksi Manchester United dan klub-klub top di liga domestik Inggris memang tidak murah karena tingkat permintaan yang terus meningkat.

Regulasi yang mirip dengan di kawasan Uni Eropa hanya berlaku di negara-negara persemakmuran karena ikatan latar belakang historis mereka dengan Inggris. Selebihnya hak siar Liga Premier di dunia, juga mulai pada 2007, dijual dengan beragam cara baru yang tergantung pada potensi pasar sebuah kawasan, cakupan wilayah siaran, dan durasi kontrak.

Anomali Akibat Protes

Nah, imbas evolusi aturan di Uni Eropa tersebut juga rupanya terasa hingga Asia, yang terpancing untuk memopulerkan sistem bayar per tayang, yang jelas-jelas bakal lebih menguntungkan. Astro di 2007/08 membeli hak siar untuk wilayah Malaysia (Astro Malaysia), Brunei (Kristal Astro), dan Indonesia (Astro Nusantara). Paket siaran ini dinamai sebagai Paket Transaksi Astro.

Anomali yang terjadi di Indonesia pada era baru penjualan paket hak siar ini muncul ketika eksklusivitas siaran Liga Premier diprotes banyak penggemar di Tanah Air. ESPN-Star Sports (ESS), yang memegang hak siar untuk sebagian besar pasar Asia, terpaksa membuka lelang khusus di 2007/08.

Mungkinkah anomali yang sama terjadi musim ini?

Hingga tulisan ini saya susun, AORA masih merupakan satu-satunya LPB yang memegang hak siar Premier League 2008/09 di Indonesia. Paket lelang khusus seperti tahun lalu juga telah dibuka ESS, tapi tidak diminati sponsor yang mendanai Lembaga Penyiaran Swasta.

Kita harus menunggu solusi baru untuk situasi ini. Sebagai wacana, penjualan hak siar lintas negara seperti di Asia Tenggara juga terjadi di Afrika. Sebuah LPB di Uganda, GTV, bahkan berani membeli hak siar Liga Primer untuk ditayangkan di 48 negara Afrika dengan kontrak tiga tahun sekaligus!

Uniknya, GTV sebenarnya baru diluncurkan dua bulan sebelum musim 2007/08 dimulai. Ada apa di belakang fenomena yang mirip kelahiran mendadak AORA di Indonesia ini?

Migrasi Nol Rupiah

Saya yakin bahwa untuk musim ini ke depan churn rate atau angka pemutusan dekoder yang tinggi akan terjadi di Astro Nusantara. Sebagian dari mereka akan beralih–sambil mengomel–ke AORA.

Hal ini sulit untuk ditoleransi bila dilihat dari sudut kepentingan konsumen. Saya menilai perlindungan konsumen di negeri ini masih sebatas pada hal-hal yang kasat mata, seperti bagi orang yang dirugikan karena mengonsumsi makanan kadaluwarsa atau pemadaman listrik yang membuat dunia industri tidak produktif.

Sebaliknya, tingkat kenyamanan menonton sepakbola bagi para penggemar Premier League adalah sesuatu yang tidak bisa diukur secara eksak. Lembaga regulator penyiaran di negeri ini seharusnya terusik untuk mempertimbangkan isu tersebut sebagai hal yang penting dan mendasar.

Bila mereka tidak bisa menghitung dampak perpindahan siaran Premier League dari Astro Nusantara ke AORA terhadap kenyamanan pemirsa secara akurat, hitunglah berapa uang yang harus dikeluarkan para penggemar untuk membeli dekoder baru.

Mengingat banjir keuntungan yang diperoleh Astro tahun lalu, ada baiknya operator prematur seperti AORA mempertimbangkan kenyamanan publik di atas segalanya. Bila warga Indonesia harus mengubah dekodernya untuk menonton siaran Premier League dengan nyaman, harus dipastikan bahwa biaya migrasi ini adalah nol rupiah.

http://www.bolanews.com/edisi-cetak/tv12.htm

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Agustus 28, 2008 in aora, astro, broadcasting rights, business, football, hak siar

 

Liga Inggris, Liga Dekoder


Memasuki minggu kedua, tayangan Liga Inggris musim tanding 2008-2009 tetap diobok-obok. Masa tunggu musim tanding kali ini disambut para penggila bola (gibol) dengan nada datar. Banyak yang pasrah, “Ya sudah, nonton yang lain saja.” Gibol di negeri ini mungkin sudah jenuh, atau juga sudah kehabisan uang untuk ganti dekoder.

Hitung-hitungannya mudah, dan seluruh dunia sudah tahu: sekarang tak ada lagi Liga Inggris paket lengkap bisa dinikmati di televisi gratisan! Tee hee….

Walau sebenarnya musim 2008-2009 ini bakal lebih seru dari musim-musim sebelumnya. Musim tanding lalu Manchester United mampu membabat Chelsea di final, namun kali ini Big Phil Scolari bersumpah merebutnya dari Sir Alex Ferguson, seperti masa jaya 2005 dan 2006. Kalau tidak, maka akan ada 11 tahun kejayaan MU.

Arsenal memang kehilangan Flamini dan Hleb, tapi Nasri masuk dan sejumlah pemain muda yang mampu menegaskan penyegaran yang tak ada di musim lalu. Mereka bisa?

Atau Liverpool dan Rafael Benitez juga bergerak? Jika tidak Spurs dan Portsmouth bisa menendang empat besar, sementara jika Hull mampu bertahan di awal saja sudah baik.

Apa saja yang menjadi pendorong masing-masing klub di Premier League ke 17 kali ini. Kaji profil pemain, statistik masing-masing pemain dan klub, serta naik-turunnya setiap orang dan klub. Know ahead of the big kick off, klik saja di sini.

ARSENAL FC

Posisi musim lalu: KETIGA (3)
Manager: Arsène Wenger

8 deals: 4 in, 4 out
IN Samir Nasri (dari Marseille, £11.5m), Aaron Ramsey (dari Cardiff, £5m), Amaury Bischoff (dari Werder Bremen, nilai tak jelas), Carlos Vela (dari Osasuna, nilai tak jelas).
OUT Gilberto Silva (ke Panathinaikos, £1m), Alexander Hleb (ke Barcelona, £12m), Jens Lehmann (ke Stuttgart, gratis), Mathieu Flamini (ke Milan, gratis).

JAGOAN MUSIM INI Theo Walcott – sekarang nomor 14, mari harapkan gol-gol baru darinya.
YANG PARAH MUSIM INI Adebayor – meminta pergi, dan tak ada yang mau tahan dia.
LAWAN YANG DIBENCI Juande Ramos.
LAWAN GAMPANG Spurs (pastinya).
LAWAN TANGGUH Manchester United – ketat! Read the rest of this entry »

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada Agustus 22, 2008 in business, football, global media, hak siar, pay TV, sports

 

Kampanye!


Gue for President   1998 2004 2009

***

Teringat nenek saya semangat ’45 mau nyoblos Amien Rais [tapi terus lupa daftar] saya suka nyengir sendirian. Kemarin naik bajaj dengar si sopir dukung Prabowo karena “Anak presiden aja digampar, teges banget dia!”, saya bingung dia dapat gosip dari mana dan apa dia belum tahu itu namanya KDRT ya? Saya juga hari ini ikut geleng denger anak orang diberi nama Dirgahayu (bukan Proklamatia atau Merdekawati), kasihan itu bayi, baru beberapa jam di dunia sudah disuruh ikut kampanye. Ada lagi suster [bukan ngesot] yang turut skenario [politik] di luar syuting gambar.

Hiruk-pikuk jelang 2009 membuat saya [mungkin cuma saya] belum menentukan sikap mau pilih warna apa. Kemarin seorang sahabat sudah menetapkan diri sebagai golongan nonpartisan, independen, golput. Saya belum tahu. Akhir bulan ini waktu terakhir untuk mendaftar [mungkin juga diperpanjang seperti waktu pilkada Jakarta]. Seorang sahabat lain malah bilang, “Daripada suara elu dikasih ke Wiranto, kasih yang lain ajah!” Yah, mungkin saja saya malah akan coblos warna oranye, mirip kostum electric boogaloo a la Zona Delapanpuluhan. Dengan syarat, partai jingga ini mencopot atribut “demi kemiskinan” yang sangat awang-awang itu. Siapa juga yang tidak tahu miskin itu kagak enak; penting diomongin doang?

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Agustus 17, 2008 in campaign, kampanye

 

Iklan Ngawur


Satu catatan penting buat siapapun yang mau terjun ke dunia iklan: DETAIL. Pencitraan dalam sebuah tayangan iklan adalah segalanya. Konsep liar sekalipun kalau tak ditunjang dengan detail yang pas, tentunya akan membuat penonton TV di rumah mengernyitkan dahi, “Lah, wong bikin begini saja ngaco apalagi produknya!”. Contoh…

Citra lotion yang menampilan wanita bule menari-nari di depan pengemis dengan alat musik (Erhu, Banhu,  atau Gorhu tak ada di Indonesia karena khas milik etnis China), lalu banyak orang kemudian meletakkan mata uang Hongkong di wadah sang pengemis semberi si pengemis berkata, “Terima kasih.” Perlu dicatat juga: “Citra” adalah merek asli Indonesia yang sekarang sedang ekspansi ke “rasa China’ dan “rasa Jepang” (lihat Maudy sekarang memperkenalkan rumah cantik Citra dengan rasa baru ini. Ada yang kurang pas, baik iklannya bahkan konsepsi baru berbau oriental ini.

Ada beberapa iklan lain yang saya lihat beberapa hari terakhir ini agak ceroboh dengan detail. Bolehlah pengiklannya berargumen, “Loh, ini’kan iklan regional, kita dubbing saja karena produksinya di Thailand.” atau mungkin juga pengiklannya ceroboh dan tak peduli. Atau memang tenggat waktu yang kian mepet di jaman yang kian kompetitif ini. Apapun…

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Agustus 15, 2008 in advertising, business, kompetisi

 

Digitalisasi Kesiangan


Sudah dua minggu ini Depkominfo membahas digitalisasi di TVRI; per tanggal 13 Agustus 2008 ini televisi yang dibiayai APBN dan APBD (walau di PP-nya tak ada APBD karena mungkin salah copy-paste) ini memulai siaran percobaan digitalnya. Di dua kali acara TVRI untuk masyarakat ini, saya tetap tak melihat esensi dari analog-to-digital switch off sepuluh tahun yang akan datang, yang keluar dari mulut petinggi di departemen yang mengurus sektor informasi dan komunikasi ini.

Yang saya catat ternyata adalah pengulangan yang kurang menyentuh akar permasalahan:

1. Kualitas gambar dan suara mengalami perbaikan. Dilupakan bahwa interferensi pun (seperti angin) akan mengganggu transmisi digital.

2. Slot frekuensi yang kian banyak akan lebih luas dimanfaatkan pemain industri penyiaran. Dilupakan juga bahwa tak semua alokasi frekuensi itu dibagi-bagikan sampai habis padahal pasar sudah terkonsentrasi luar biasa hari ini.

3. Penayangan sosialisasi melulu di TVRI. Dilupakan ataukah mahal untuk meminta televisi swasta membuat sosialisasi yang komprehensif agar suatu hari kelak membeli set top box tak lagi membuat orang jantungan.

Yang paling esensial, setidaknya menurut siapalah.saya.dotcom ini, Digital Switch Over (DSO) telah berlangsung di banyak negara maju, yang telah didahului dengan berbagai kajian dan dokumen terbuka untuk bahan diskusi seluruh pemangku kepentingan (stakeholder). Klik sini untuk salah satu bahan diskusi di OFCOM. Apa yang dikupas di dalam bahan diskusi ini? Siapa yang paling menjadi pertimbangan utama saat DSO terlaksana? Industri atau penonton di rumah?

Ini adalah pertanyaan yang secara positif harus dituntaskan, juga harus tertanam di setiap kepala pengambil kebijakan DSO di negeri ini. Sosialisasi yang hanya diberikan di TVRI dengan hanya mengundang regulator atau pemain industri. Apakah ada yang terlupakan, yaitu konsumen (baca: penonton secara umum) yang bisa diwakili YLKI ataupun asosiasi teknis-non teknis lain? Tentunya dalam kerangka public interest, public necessities and public welfare (baca: total welfare). Ketiga pilar ini adalah hal utama yang harus disampaikan dalam melaksanakan kebijakan DSO ini, seperti yang banyak menjadi pertimbangan regulator penyiaran di banyak negara.

Sayangnya hingga hari ini tak banyak peran masyarakat umum untuk turut berpartisipasi melakukan kajian dampak (impact assessment) menuju DSO hingga pasca-DSO. Tak ada hasil diskusi terbuka untuk umum mengapa DVB yang diambil sebagai standar dan bukannya standar lain. Tak ada pula penyampaian anggaran yang transparan ke publik jika memang set top box di awal ini dibiayai oleh negara.

Yang paling penting dari semua ini, alasan regulator yang mengatur DSO ini masih belum menyentuh ke akar masalah sesungguhnya: Indonesia membuka diri terhadap kemajuan jaman karena di saat DSO terjadi, perangkat televisi analog adalah barang museum.

Heck, langkah percobaan digitalisasi oleh TVRI dan dua TV swasta untuk ke titik DSO sepuluh tahun lagi mungkin belum terlalu terlambat. Selamat ulang tahun semua TV!

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Agustus 13, 2008 in public policy

 

Seperti Apa Seragam KPK Nanti, Ya?


Yang kemudian MUNGKIN terjadi adalah…

Ataukah memang sudah TAK ada pilihan lagi?

All due respect, this post is meant for fun (none taken pliz), and if anyone feel uncomfortable with the idea, I shall keep it for private preview. Keep me posted, pliz.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Agustus 8, 2008 in public policy