RSS

Arsip Bulanan: September 2008

When in doubt, challenge the strategy, not the tactics


Malam ini saya belajar lagi dari blog Seth Godin (klik sini). Kalimat ini berlaku saat sebuah korporasi bingung menetapkan format iklan untuk sebuah kampanye. Skala mengkritisi brosur seperti yang disampaikan Seth Godin ini berlaku antara “great!” lalu “cuma ganti ukuran font…” hingga “untuk apa membuat brosur?”. Sejenak memang Seth Godin bisa memberikan pencerahan atas tindakan korporasi ini. Saya malah melihat “beyond advertising strategy” yang bernilai komersial. It is beyond that.

Terkadang kita melihat sebuah kampanye iklan itu dalam kerangka detail, hingga satu eksekutif bisa bertengkar hebat dengan eksekutif lain tanpa akhir. Saya pernah duduk di satu rapat yang cukup produktif menghasilkan detail kampanye iklan (waktu itu kami mau merumuskan tagline bagi Liputan 6 yang baru lahir).  Mbak Indrit, waktu itu direktur operasional, dengan cantik dan renyah mengarahkan kami memikirkan tagline itu. “Ayo kita urutkan bahasa Inggrisnya dulu, nanti kita cari bahasa Indonesia-nya”, keluar dari bibir Mbak Indrit yang lulusan Boston University itu. Dari arahan yang sangat sederhana itu, kami bisa menghasilkan tagline “Aktual, Tajam, Terpercaya” yang masih digunakan hingga hari ini, sudah lebih dari 16 tahun lamanya.

Disalib oleh Metro TV yang melulu menayang program berita, lalu hari ini oleh TVOne, SCTV kemudian harus berpikir ulang untuk mempertahankan program beritanya. Tak sekadar memindah jam tayang lebih awal atau mengganti setting studionya. Secara sederhana saya melihat persaingan news source dalam sebuah manajemen stasiun televisi (terutama yang memiliki tiang pemancar di banyak provinsi) ada dalam kajian kompetisi yang sehat:

1. Metro TV tak lagi memonopoli berita, walau telah mendominasi dengan berbagai format dan kerjasama. Satu rumor internal menyatakan program “Kick Andy” adalah program filantropis sang pemilik TV, karena terbukti setiap tayang program ini bleeding, tak bisa menghasilkan profit. Program pencitraan ini menjadi penting dipertahankan Metro TV agar tetap berdiri dengan tegak melawan head to head dengan TVOne.

2. Sejak berubah nama karena berubah kepemilikan (heck, another point to discuss later!), TVOne juga tak lagi berniat menjadi TV olahraga. Satu hal pasti, membeli hak siar Liga Inggris atau liga-liga terbaik dunia adalah mahal. Memproduksi berita, dengan kesiapan infrastruktur di setiap daerah, tentu lebih menguntungkan. Jika telah membuat format yang menarik perhatian, seperti Tina Talissa yang mengingatkan saya dengan gaya Ira Koesno waktu itu, TVOne kemudian mencuri porsi pemangsa berita di malam hari dari Metro TV.

3. Bagaimana dengan SCTV yang masih berkutat dengan “all-you-can-watch TV station”? Percayalah bahwa “Liputan 6” sudah menjadi merek sama kuatnya dengan “Headline News”, namun saya pribadi lebih menunggu update berita setiap jam dari Metro TV daripada sekadar duduk di sore hari menonton Liputan 6 secara penuh. Apakah SCTV akan mengubah strateginya, mengikuti dua TV berita di atas, ataukah akan membuat terobosan lain sebagai televisi dengan tayangan segala rupa?

Not so fast, kita lihat dulu beberapa latar belakang sebuah stasiun TV.

Kembali ke Seth Godin dan frasa yang dituturkan di artikelnya (lihat judul di atas), saya kemudian melihat bahwa ada beberapa hal jika ingin menilai stasiun televisi berita yang baik:

1. Skala ekonomi dan cakupan ekonomi dari pengumpulan dan pendistribusian berita yang bisa menekan biaya produksi di daerah-daerah hingga meningkatkan akses ke berita internasional;

2. Akses untuk manajemen berita yang lebih baik (dari luar negeri dan media lain) serta talenta terbaik (seperti jurnalis dan presenter andal);

3. Peningkatan akses ke modal asing untuk membantu alat perangkat pemberitaan tanpa mengganggu akses editorial;

4. Peningkatan akses ke teknologi pengumpulan, pendistribusian serta penyuntingan berita akurat dan cepat.

Dari sini, dan dari analisis kompetisi terhadap 2 stasiun televisi berita (lapis pertama untuk dikaji) dan ratusan televisi lokal-nasional lain (sebagai lapisan kedua yang dikaji) yang harus dilihat SCTV akan memberikan satu pandangan baru.

1. Jika ingin menjadi stasiun berita penuh nomor 3, SCTV harus berani menjadi nomor 3 dari televisi berita yang tak banyak dapat kue iklan gado-gado. Kelak stasiun TV akan mendapatkan banyak cipratan iklan kampanye partai atau kandidat presiden, tapi jika dibagi 3, akankah cukup untuk operasional sehari-hari?

2. Jika tetap ingin menjadi “all-you-can-watch TV station”, sepertinya SCTV juga harus mengembangkan merek “Liputan 6” dengan langkah lebih strategis lainnya. Sekarang program ini memang sudah masuk ke internet dan handphone masyarakat kita, yang saya pikir masih terbatas secara format dan akses. Apakah sudah dipikirkan pengembangan platform lain? Give you a hint: transmitted via satellite, dedicated 24 hours like Astro Awani, and free-to-air or placed in basic package… another platform, another resources for undecided voters?

Yeah right…

Iklan
 

Sekali Lagi, Microsoft Kena ‘Priiit!’ di Jepang


Mungkin saya naif, mungkin juga membaca dalam bahasa Inggris masih tertatih-tatih. Satu hal pasti yang dapat disimpulkan saat saya membaca putusan FTC Jepang terhadap Microsoft (klik sini untuk beritanya, tentu dalam Bahasa Inggris) adalah perihal exclusive dealings. Tentu saya harus membacanya ekstra-konsentrasi. Ditemani lagu Simply Red lama, Star, saya menikmati membaca putusan FTC ini.

“…[T]he Microsoft clause barred the companies from taking legal action against the software maker even if they found that parts of its Windows product violated their technology patents.”

Nah, siapa bisa membantu saya menerjemahkan kasus ini dalam bahasa sehari-hari yang lebih akrab?

Hmm… kalau saya membacanya singkat: spyware. Ada yang tidak setuju?

Mungkin ada blogwalker yang bersedia membantu menerangkan, sekali lagi, dalam bahasa Indonesia yang fasih.

Inilah waktunya kita sebagai bangsa Indonesia belajar betul bagaimana mengapresiasi hak paten atau hak kekayaan intelektual. Dirjen Paten kita selama ini hanya berkutat di masalah hak paten barang dan jasa kreatif dasar (maksudnya batik, tokoh sinetron, dll.). Ada baiknya sekarang kita belajar lebih lanjut lagi perihal inovasi teknologi, yang membawa dampak berlipat bagi pertumbuhan ekonomi masyarakat. Pertanyaan OOT (out of topic), mengapa KPK belum merambah sistem korupsi di birokrasi. Kalau cuma tertangkap tangan, mudah. Bisakah KPK sampai memutus sistem bobrok dana kickback setiap ada proyek di birokrasi, karena jika tidak bisa tentu akan ada high cost economy kronis bagi negeri ini. Bagaimana mau berinovasi dan berkreasi, jika sedikit-sedikit uangnya untuk Pak Dirjen hingga penerima surat permohonan masuk. Masih ingat ‘kan cerita saya waktu di kantor Pak Dirjen di Tangerang? Klik sini kalau mau baca cerita basi itu.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada September 19, 2008 in business, competition, corruption

 

Indonesialicious: Mengejar Matahari Terbenam


Perjalanan empat jam dari Palangkaraya ke Banjarmasin untuk mengejar pesawat terakhir (karena pesawat dari Palangkaraya selesai jam 2 siang, dan tak mungkin terkejar), bukanlah perjalanan yang melelahkan. Sepanjang Jalan Raya Trans-Kalimantan ini dataran hijau dan langit biru dengan awan putih bersih sungguh menyegarkan mata. Tak akan saya temui keindahan ini di keseharian Jakarta.

Malam ini, kembali dari Banda Aceh, pemandangan yang sama pun saya nikmati. Panas menyengat sepanjang siang bukan halangan untuk berkegiatan penuh. Didukung dengan semua warung tutup, bahkan KFC dan Pizza Hut pun baru buka menjelang magrib, berbuka puasa di tengah jalan adalah hal mustahil. Pemandangan indah sekeliling bandara yang dikelilingi bukit juga menghapus lelah sepanjang hari, sepanjang malam berkegiatan di kota yang telah rapi dari sisa tsunami ini. Jelang matahari terbenam, di dalam pesawat transit di Medan, nikmat berbuka puasa sungguh terbayar dengan tunai. Tiba di Jakarta untuk perjalanan esok ke Mataram, harapan saya hanya satu: melihat pantai bersih hingga memainkan kaki di atas pasir putih.

Subhanallah.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada September 16, 2008 in curhat

 

Astro Babak Belur


Jika jumpa pers di kantor pengacara Hotman Paris Hutapea mewakili PT Ayunda Mitra Prima kemarin itu merupakan titik balik sebuah kerjasama bisnis penyiaran berlangganan, saya makin miris. Yakinlah akan banyak investor asing berpikir dua kali (sejuta kali!) sebelum mencoba berbisnis di Indonesia.

No fairness, nor justice. Re-engineering of just. On the other hand, democratic governments shall have the tendency to do things in the short-term interest of their constituencies, re-engineered or not. There certainly is a tendency for governments to neglect fairness considerations because the accountability is not to a world audience but to the respective constituents. This concerns any stakeholder to really think of some language, and this language is as valid as the language of economics. Multiplied of it.

Tapi saya telah terlalu lelah mengikuti perkembangan dari ini semua, dan di bulan suci ini, yakinlah pula balasannya kontan.

Klik sini untuk berita status tersangka dua direksi Astro kemarin.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada September 11, 2008 in public policy

 

No Case, Dude


Esensi dari persaingan usaha yang sehat adalah mutlak hari ini, di mana perdagangan internasional adalah segalanya untuk menggerakkan perekonomian setiap negara. Jika terjadi satu dua kasus yang menjadi pokok bahasan persaingan yang tidak sehat, ada kalanya memang karena entitas usaha terlalu dominan menentukan pasar dari hulu ke hilir. Ada kalanya pula merupaka rekayasa bola bilyar (tek-tok!) yang dibuat pesaing. Banyak trik kerah putih untuk menjatuhkan pesaing, mulai merusak produk dalam kemasannya hingga mencari skandal yang tak perlu.

Pagi ini akah diadakan jumpa pers perihal kepemilikan saham Astro All Asia Networks plc (AAAN) sebagai entitas asing pemilik saham PT Direct Vision (PTDV) di kantor pengacaranya. Yakinlah, paparannya tak akan jauh dari Laporan Tahun AAAN plc tahun 2007 di Bursa Malaysia: hanya 20% kepemilikan AAAN di PTDV. Hal ini untuk membantah rumor 51% kepemilikan asing.  Klik sini dan lihat halaman 110 untuk Annual Report 2007 Astro All Asia Networks

Saya pikir kepastian hukum (bermain yang sehat) merupakan satu titik utama bagi siapapun, dan iklim persaingan sehat harus dijaga semua pihak, apalagi oleh para pemain di industri kreatif ini (yang katanya mau ditumbuhkembangkan oleh Ibu Mari E. Pangestu minggu lalu). Klik sini untuk beritanya

Susah juga jadinya kalau lebih banyak pemain di negeri ini cara berpikirnya eneg (energi negatif, seperti kata Pak Jamil dari Kubik Leadership). Well, in most cases no business is too darned ethical to top it all, but this time you’ve got yourself a no-go case, dude. Think positive and fight like a gentleman. Haha, like I care.

***

Revisi sedikit – tepat pukul 01.30 pagi 11 Sept. 2008

saya makin prihatin

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada September 10, 2008 in business

 

Bahasa Birokrat


09 Mei 2007 (klik sini untuk berita lengkap)

Ditjen Postel Mengucapkan Terima Kasih Kepada Bapak Sofyan A. Djalil Serta Menyambut Selamat Datang dan Komited Sepenuhnya Dalam Mendukung Kepemimpinan Bapak Muhammad Nuh Sebagai Menteri Kominfo Yang Baru

04 September 2007 (klik sini untuk berita lengkap)

Penertiban Frekuensi Radio Bertujuan Meminimalisasi Kesimpang-siuran Penggunaan dan Kewenangan Pemberian Izin

Rabu, 23 Mei 2006, 11:51 WIB (klik sini untuk siaran pers lengkap)

Penyelenggaraan Lokakarya Nasional I
Pembinaan Ketahanan Masyarakat Pulau-pulau Terluar
Melalui
Peningkatan Pemahaman Wawasan Kebangsaan dan Cinta Tanah Air
di KRI Tanjung Nusanive-973

Coba dikaji tiga judul berita tersebut di atas:

1. Penggantian menteri di sebuah cabang di dalam departemen pemerintahan; dengan penggunaan kata “komited” yang tak akan kita temui di kamus manapun di negeri ini (sebaiknya ditulis “committed”, yang berarti menetapkan diri atau terlibat)

2. Sebuah kalimat run-on atau tumpang-tindih kerap ditulis untuk mengaburkan makna, atau mungkin ditulis dengan tujuan yang tidak jelas subyek atau obyeknya. Jika ingin memutus menjadi dua frasa “Penggunaan” dan “Kewenangan Pemberian Izin”, jelas akan membingungkan banyak orang “menggunakan apa sehingga harus ditertibkan?”. Jika yang dimaksud adalah “Penggunanan Izin” dan “Kewenangan Pemberian Izin” seharusnya dituliskan “Penggunaan Izin dan Kewenangan Pemberian Izin”. Dua obyek yang berbeda:

– Penggunaan izin oleh pemain industri

– Kewenangan pemberian izin oleh regulator lain

Jadi yang mau ditertibkan adalah dua kelompok obyek berbeda. Pertanyaannya adalah, jika ingin menertibkan regulator, apakah mekanismenya hanya surat edaran instansi? Tidakkah ada semacam “badan arbitrase” atau koordinasi regulator yang lebih elegan?

3. Yang kerap terjadi dalam acara-acara resmi birokrasi, di pusat ataupun di daerah, adalah judul-judul seminar atau diskusi atau acara sosialisasi produk hukum/pemikiran eksekutif lainnya. Kembali terdapat run-on sentence di judul nomor 3 di atas. Asumsi saya, forum di atas tentu dihadiri para regulator yang terkait dengan urusan pulau terluar (bisa pemerintah daerah setempat, pemerintah pusat, tentara nasional, ataupun pemuka adat setempat). Topik untuk para regulator adalah “Pemahaman Wawasan Kebangsaan dan Cinta Tanah Air” untuk meningkatkan ketahanan masyarakat di pulau terluar alias terpencil ini. Sekali lagi obyek dari acara seperti ini masih simpang-siur pula. Apakah regulatornya? Ataukah masyarakatnya? Mungkin jawabannya ada jika data acara seperti ini bisa dilihat lebih awal.

***

Bahasa mencerminkan bangsa. Jika Anda adalah regulator atau pemberi contoh ketertiban di segala lini, silakan beri contoh terbaik. Di saat seorang regulator menggunakan bahasa, terlihat juga strata pemahaman tentang bahasa dan budaya dirinya. Di saat seorang regulator membuat tulisan yang membingungkan, masyarakat dan pemain industri negeri ini juga turut pusing.

Minggu ini akan dibahas RUU Bahasa dan Politik Bahasa Nasional tanggal 11 September 2008 di Kampus Fakultas Ilmu Bahasa di Depok.

(klik sini untuk pengumuman acara diskusi ini)

 
 

Beriklan Hari Gini: Collaterally, of Time and Space


Terlepas dari isi dan kreativitas produksi iklan yang tak terlalu menggigit, beriklan di televisi negeri ini adalah masalah penempatannya. Cara Agung Sedayu Group “membeli” jam tayang di 3 televisi sekaligus di saat bersamaan adalah cara berpikir pemasaran komprehensif (lihat jadwal di akhir pekan kemarin).

Saya malah takjub karena yang dipilih adalah 3 televisi yang slot satelitnya berderet di Palapa C2 (113.0°E) Global TV, Metro TV dan TVOne (khusus beam wilayah Asean Plus).

Dampak yang dihasilkan adalah keterlekatan pencitraan Feny Rose dan Agung Sedayu Group khusus untuk hari libur: belilah properti sebelum 1 September, harga naik. Beruntung saya sudah memiliki rumah, home not a house, so I don’t really need to scrutinize these 3 televisions on my leisure time.

Yes, I am Amelia Day, and I’ll be back after this.

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada September 2, 2008 in advertisement, business