RSS

Arsip Bulanan: Oktober 2008

Dunia ini dikuasai segelintir…


Resesi sudah datang di salah satu pusat perdagangan dunia terbesar, Amerika Serikat, karena kredit macet di saat pembeli rumah di sana tak mampu mengembalikan cicilan. Ditambah lagi pola hidup debt diet yang dianjurkan Oprah Winfrey itu tak mampu membendung nafsu konsumerisme warga Amerika Serikat. Tambah runyam lagi saat government spending sana disedot untuk membiayai tentara perang, bukan membangun pabrik dan jalan. Produksi stagnan, konsumsi tinggi, tak ada surplus ekspor impor yang signifikan.

Presiden negara itu, yang banyak dinilai error oleh rakyatnya, minggu lalu menandatangani Emergency Economic Stabilization Act, alias peraturan gawat darurat untuk perekonomiannya. Disebutkan di sana bahwa pengawas bursa (SEC, stock exchange commission) harus berkoordinasi dengan bank sentral dan departemen keuangan untuk membuat mark-to-market accounting, dan harus melaporkan kembali ke kongres dalam 90 hari ke depan. Lehman Brothers/LB dan Fannie Mae Freddy Mac, Wachovia dan Wells Fargo,  are strictly supply-demand thing. Institusi finansial ini tak punya masalah “pabrik macet” atau “kehabisan bahan produksi” karena memang mereka hanya usaha jasa: menyalurkan uang untuk mendapatkan keuntungan nilai. Di saat uang tersebut tidak kembali lagi, alias kredit macet, maka nilai keuntungan itu tidak kunjung datang malah kemudian membuat lubang kian lebar. LB sebagai satu usaha finansial terbesar keempat di Amerika Serikat menyiapkan sekoci namun terlambat. Di saat tak ada yang mau membeli aset “bodong” LB, tak ada jalan untuk spin off some of its toxic assets to shareholders.

Apes, LB kemudian menyatakan diri bangkrut, di saat itu pula Amerika Serikat dan dunia guncang. Salah satu dampaknya, jelas 26 ribu pegawai LB akan kehilangan pekerjaan. Selain itu juga investor dunia mulai menahan diri untuk menanamkan uangnya di institusi finansial Amerika Serikat, alias tak ada investasi masuk ke negara adidaya ini. Ekspor ke Amerika Serikat akan terhenti karena membebani anggaran mereka. Akhirnya tak ada uang untuk membangun jalan dan pabrik dan infrastruktur produksi dalam negeri, karena harus menggelontorkan AS$700 milyar untuk menyelamatkan institusi finansial bermasalah (tak hanya LB saja loh!).

Bayangkan dampak bola salju yang akan menghajar negara adidaya ini. Titik henti bola salju itu ada pada saat: LB tak ada yang mau beli. Nasib serupa sedang menghantui institusi finansial lain seperti Merrill Lynch & Co Inc., sehingga pemerintah negara-negara Eropa segera menjamin bahwa tabungan warganya aman di bank lokal mereka. Kalau Indonesia kemudian ikut-ikut panik dan banyak pakar bilang “Hey, harus ada rencana antisipatif untuk ini!”, kok saya melihatnya seperti semut teriak di tengah gajah-gajah kebakaran jenggot ya? Hehehe…

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Oktober 6, 2008 in business, chaos, recession

 

Gasping!


I never really like to boast on gadget that much. My cell phone is typical phone from no-digiland dream. My PC is huge, for me to do multitasking (listening SKY FM or watching TVOne streaming live, playing Bejeweled on iGoogle, while waiting for my downloaded pdf to finish). My TV at home has been dead for a while, due to technical problem. My digicam is sitting in the corner if I don’t have any materials for Youtube, but I still hate the idea of a webcam and a microphone attached to a PC (narcisstic syndrome?).

Not until today.

I fall in love with this gadget. Holographic screen, touch-screen keyboard that shall go black when turned off.

If only…

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Oktober 5, 2008 in gadget

 

Etika


Aristotle: Virtue lies at the mean between two extremes.

Kant: Technologies often served in the process of drive-control the training of human faculties overcoming immaturity.

Hegel: Norms followed in everyday behavior.

(klik sini untuk bagan dilema etika)

***

“Johntw” seorang pewarta warga (istilah detikcom) melaporkan rumor Steve Jobs terkena serangan jantung, sehingga saham Apple Inc. (AAPL) di bursa turun drastis 10% Jumat lalu (klik sini untuk beritanya).

Sarah Palin dicurigai menggunakan alat pembisik mutakhir saat debat cawapres, seperti dianalisis blogger kritis saat melihat video di CNN (klik sini).

Memberitakan seorang Mayangsari pun menjadi penting untuk melihat manfaatnya bagi kemaslahatan publik. Apakah penting membela first wives’ club ataukah tak ada materi lain yang bisa mencerdaskan ibu-ibu di rumah?

Memberitakan dengan hati nurani adalah pekerjaan tidak mudah, pada akhirnya. Sissela Bok pernah membuat model simplifikasi dengan tiga pertanyaan. Tanyakan ketiga pertanyaan ini pada diri sendiri sebelum membuat sebuah tulisan (yang membohongi diri dan orang banyak atau tidak).

1. Apa yang saya rasakan jika saya menulis tentang perilaku Steve Jobs, Sarah Palin, atau Mayangsari? Jika amarah yang menjadi porsi terbesarnya, tulisan saya tentu bukan menjadi tulisan yang mencerahkan banyak orang. Apa rasanya menyebarkan kebencian atau panik?

2. Adakah cara lain untuk melihat angle perilaku setiap obyek tulisan saya? Adakah sumber terpercaya lain yang bisa dimintakan pendapat dan pandangannya?

3. Apakah tulisan saya ini akan mengganggu atau mencerahkan pembaca tulisan saya?

Dialog-dialog dalam diri saya sebelum menulis terjadi setiap saat saya melihat satu kejadian yang menggelitik. Etika ada dalam proses (means) juga hasil akhir tulisan-tulisan saya (ends). Bahkan John Stuart Mill menekankan bahwa akibat dari sebuah tindakan menjadi satu hal terpenting untuk menentukan apakah saya etis atau tidak.

Saat saya membaca tulisan Oom Bas di Kompas, yang sepertinya pro-Obama, saya tidak tergerak untuk menulis tentang Sarah Palin, walau sama-sama perempuan. Heck, saya tak tahu (dan tak mau tahu) latar belakang dirinya. Selain tergelitik dengan nucular dan new-clear (klik sini) saya juga tergerak menulis saat membaca tulisan tentang (kecurigaan) pemasangan perangkat halus saat debat cawapres yang menaikkan rating Sarah Palin sedikit (walau tetap pasangan Obama-Biden masih di atas 50%). Saya juga tak peduli Steve Jobs, kecuali cara berpakaiannya yang tak berubah dari hari ke hari (turtle neck hitam dan jeans biru). Saya melihat fenomena Mayangsari adalah fenomena CUK (istilah Mas Arswendo) yaitu Cinta, Uang, Kekuasaan, yang selalu menarik diangkat dalam bentuk media apapun (panggung, radio, TV, hingga forum diskusi internet).

veracreative.com

Apapun tulisan saya, saya berharap setiap pembaca tulisan saya bisa mendapat pencerahan, mulai sekadar informasi hingga ide yang membuat hal lain yang mencerahkan komunitasnya.

Semoga.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Oktober 5, 2008 in ethics, media, media ethics, palin-biden debate

 

Bail Out


Kalau di film tuh ya, ada tersangka kasus pidana atau perdata mau jadi tahanan rumah, atau drunk driver ditahan di kantor polisi, dia ini bisa keluar dengan jaminan atau bail out. Nilainya mungkin kecil, mungkin besar untuk ukuran yang mau menjamin (bisa keluarga, istri atau pengacaranya). Masalahnya kalau bail out untuk cegah depresi hebat kedua (Great Depression II) di Amerika Serikat yang punya dampak bola salju ke seluruh dunia, nah ini baru jaminan luar biasa.

Terkadang juga apa yang digembar-gemborkan media tentang mekanisme bail out di Amerika Serikat sana, baik melalui berita aktual ataupun kolom opini para pakar, bisa bergulir dan melahirkan dampak sampingan yang membuat panik siapapun. Masalahnya, kalau tidak diberitakan atau disampaikan dengan arif, bisa jadi kita semua jadi generasi paranoia; satu berita heboh (Ryan, misalnya) ke berita heboh lain (resesi ekonomi yang tak kunjung selesai).

Mari kita bail out rasa nyaman kita membaca berita, menonton TV, mendengarkan radio, atau klik detikcom yang suka bombastis bikin judul itu (maklum, urusannya per detik, kalau tak di-klik orang, beritanya lewat saja).

Oke, selamat Lebaran dan Liburan! Dua hal yang paling saya nanti setiap tahun. Maaf lahir batin ya buat semua, kalau ada salah ketikan atau tindakan…

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada Oktober 1, 2008 in depression, detikcom, great depression, recession