RSS

Arsip Bulanan: November 2008

Reputation Management


Agak lucu rasanya temuan saya malam ini. Ternyata apa yang saya pikirkan tentang manajemen reputasi, terutama perihal istilah yang saya kenal kemarin, yang berbeda dengan istilah ‘online’. Selama ini yang saya tahu memang reputasi itu dibangun bertahun-tahun dan bisa dihancurkan dalam satu kali kejadian krisis. Ibaratnya, rusak susu sebelanga karena nila (racun) setitik.

Ternyata di dunia maya, istilah manajemen reputasi ini adalah bagaimana Anda membangun [reputasi] bisnis agar dikenal oleh mesin pencari Google, misalnya. SEO, search engine optimization, istilah kerennya. Jadi kalau yang di atas itu bagaimana menghindari hal buruk, nah kalau dunia maya hanya “mengenal yang baik-baik” agar dapurnya ngebul terus.

Saya tak suka dengan gambar klip video di bawah ini, seperti ada tombak muncul dari ubun-ubunnya; tapi ucapannya cukup membantu saya belajar lebih jauh tentang dunia maya ini. Selamat belajar, teman.

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada November 27, 2008 in business, media

 

How to Define A Crisis


As your business involved in a crisis, you can lay low and hope the problem passes. Fat chance! Or, you can develop a response and present your side of the story. Your call.

Behaving like an ostrich, you watch a crisis unfold dan grow. You could surely go down the drain if the crisis blasts off. Take Lapindo as an example. Starting out from the word “efficiency”. Yepper, they were cutting costs drilling down the earth not with full safety tools. Alas, the efficient tools hit something then the mud kept bursting out. It has grown fast than anyone could ever imagine. It went from a tiny local operational mishap, to national blunder. Last barb is with Tempo Magazine. By all means, zillions of rupiahs shall be the pitched and tossed on the table. All five Bakrie’s public companies are sitting at the brink of terrible debts.

If you don’t seize the opportunity and define the situation, chances are good that someone else will do it for you. That the media shall not take it for granted. That the people shall sue your negligence. That the government shall blow the whistle. Being proactive always takes less energy and effort than trying to react in the aftermath.

Really, how are you going to define a crisis? There are steps. Assessment and expertise. Know the very bottom of the problem. Expose it to your stakholders. Reimbursement for the victims–if there is any–as quickly as you can. You may wish to develop, in advance, model statements to provide to the public and media during likely crisis scenarios. There you go. Make a matrix of possible future scenarios when a crisis occurs.

Too long to discuss here, but there are many books you could quote on this. One sample, ” Strategi Public Relations – Bagaimana Strategi Public Relations dari 36 Merek Global dan Lokal Membangun Citra, Mengendalikan Krisis, & Merebut Hati Konsumen” by Silih Agung Wasesa.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada November 23, 2008 in business, crisis

 

Saya tidak berpikir citra soalnya…


Bahwa usaha itu kemudian diapresiasi, alhamdulillah… tapi saya tidak berburu bintang-bintang.

***

Taking a little break tonight. A job never finished on time. *sigh*

Now I am listening (not watching) Metro TV; it’s Pak Wapres Jusuf Kalla on an exclusive dialog. Toward all tricky answers, Pak Jusuf Kalla seemed excited. I am sure question list has already been proposed to the House of Vice President for protocol purpose. On the other hand, while answering about Golkar, not the govt’s policies, Pak Wapres seemed too cautious. I respect his answers, although it seemed too be carefully crafted. The topic “conflict and unity” yet a bit lost at the end of the dialog.

I am too impressed with Pak Wapres’s answers toward Papua, Aceh, Poso, Maluku conflicts. My special note is about his remarks on Pilkada (local election) with its annoying frequencies of implementation: hundreds and more for the last 3 years. I agree. For not wasting state budget, for not wasting my time. I go back and forth to local govt public office (read: kelurahan) for updating my data towards upcoming election, of any scope.

Hence, I am still thinking of other distinctive leaders to speak fluently in Metro TV. I scored Pak Amien Rais below Pak Jusuf Kalla in terms of performance on a TV dialog. Score 8 for Pak Kalla, and 7 for Pak Amien. It’s all about flashing image. Let’s wait for others, shall we?

jusuf-kalla1

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada November 19, 2008 in election, otonomi daerah

 

Bencana Finansial, Slow Down Baby….


Tempo hari saya sengaja datang ke peluncuran bukunya Pak Prasetyantoko (Pak Icok, panggilan karib beliau), karena saya tertarik mendengarkan kuliah Daeng Aco (panggilan akrab untuk Pak Arianto Patunru, klik sini untuk lihat blog beliau). Belum pernah memang saya dapat kelas beliau, tapi malu saya datang ke kampus untuk mendengarkan pencerahan semenit dua. Terpaksa saya datang ke acara-acara gratis seperti ini.

*dasar merki*

Bencana, krisis, kontraksi, agflasi, dan banyak istilah lain memang seakan menghantui kita. Di lain pihak, banyak pernyataan di koran seminggu terakhir ini bernada sebaliknya. Pak Wapres bilang pebisnis masih optimis. Ada juga yang bilang sektor riil belum terganggu karena sektor finansial domestik masih aman. Di tengah gonjang-ganjing ini, saya kembali ke akar. Menikmati hari dengan pencerahan-pencerahan sederhana. Membaca semua pdf file di internet, tergantung tujuan awal v. harapan akhir.

Seminggu terakhir saya mencari pdf file tentang game theory lalu bosan! Sekarang mau maju membaca yang remeh-temeh. Resep masakan, misalnya. Tak lama akhirnya saya terlarut membaca industri kuliner di dunia… halah, ini juga masih berat!

Makanan.

Ini dia topik paling lezat yang rentan terhadap cuaca, tidak terhadap perubahan kurs mata uang sedunia. Tak ada lontong, getuk pun jadi. Buah mangga harumanis menjadi sarapan pagi saya beberapa minggu terakhir. Bosan? Iya juga, tapi daripada kangen 10 bulan baru musim lagi, saya harus nikmati masa-masa oversupply dari buah ini.

Supply v. Demand

Tahun ini dosen saya (bukan mantan, karena guru itu seperti ortu, tak boleh jadi mantan) menekankan bahwa rumus ekonomi apapun di dunia ini dasarnya hanya kurva penawaran dan permintaan. Bagaimana titik seimbang itu harus dijaga agar tak terlempar jauh dalam jangka waktu singkat. Ibarat sebuah bandul, jika terlalu jauh diayuh, terlalu lama lagi ia kembali ke titik tengah. Nah, menjaga ini kemudian bisa membuat stabil semua kondisi dalam jangka waktu lama. Yakinlah waktu Amerika Serikat dihentakdengan tragedi 9/11,  hal ini memicu kemarahan Bush. Ia lalu melakukan invasi ke “negara teroris saha tea”, sehingga posisi bandul kian terhentak jauh dari titik tengah. Bokek tapi sombong, itulah hasilnya, makanya Obama bisa nyelip di situ dengan isu jejak ke tanah. “Ingatlah bahwa kita miskin, jadi jangan sombong.”

Nah, di saat sang episentrum kapital dunia loyo, mulailah pakar-pakar Chicago, Berkeley ataupun London mengeluarkan pernyataan-pernyataan akademis. Jangan kuatir, itu cuma upaya “cari temen doang”. Biar bikin hati kita di Indonesia ikut kecut, mungkin. Saya mah percaya ucapan para pakar Jakarta dan Jogjakarta di diskusi kemarin. Mereka bilang:”bank-bank di Indonesia masih aman”. Sejuuuukkk…

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada November 18, 2008 in economy

 

Kontraksi Ekonomi


business-cycle1(investopedia.com)

Kontraksi ekonomi adalah satu fase di mana siklus bisnis berada dalam ekonomi yang menurun. Secara khusus, kontraksi muncul setelah titik tertinggi dalam siklus bisnis. Banyak ekonom menyatakan bahwa kontraksi muncul saat GDP riil sebuah negara terus menurun di dua kuartal atau lebih berturut-turut. Untuk sebagian orang, kontraksi dalam ekonomi bisa menjadi sumber kesulitan, karena di saat kontraksi, banyak orang kehilangan pekerjaan. Kontraksi ekonomi seperti yang terjadi saat Great Depression bisa terjadi bertahun-tahun.

aa-amien-rais2

Terus-terang, saat mengetik ini saya juga geleng-geleng, karena saya multitasking mendengarkan Metro TV. Malam ini, ada wawancara Pak Amien Rais yang berpolemik soal kapitalisme yang tak cocok untuk Indonesia. “Ah sebuah wacana, again, wacana.” Jagonya orang Indonesia itu berwacana doang. Celaan “Amerika itu iblis!” terkesan seperti jargon sepuluh tahun lalu, apalagi di tengah euforia Obama hari ini. Lebih simpatik jika Pak Amien menekankan masa depan, daripada mengumpat masa lalu.

Dunia sudah berubah, dan Pak Amien seakan tak mau berubah. Menggunakan jargon lama, dan menentang Amerika tanpa memberikan solusi. Menghitung international trade tidak semudah 1 kurang 1 jadi nol. Ingat concerted actions dalam sebuah industri, bahkan concerted actions dalam banyak industri sekaligus. Apa yang terjadi di Amerika Serikat, dan berdampak hari ini ke banyak negara di Eropa (pengangguran di Inggris sudah merangkak naik, misalnya), tak boleh disikapi sebagai HANYA salah penduduk Amerika Serikat yang konsumtif pasca 9/11 (low mortgage rate untuk menarik dana masyarakat). Ada masalah di Timur Tengah dan Rusia. Ada juga masalah broker minyak dan gas bumi. Ada juga masalah gagal pasar (di banyak pasar kecil satu negara) dan gagal pemerintah (dengan korupsi yang tak kunjung diberantas tuntas).

Selanjutnya, kalau tak mau dijadikan bola yang ditendang-tendang kekuatan kapital dunia, Pak Amien ingin membangun “kemandirian masyarakat.” Kata kunci “kemandirian”, cukup, Pak? Dalam lima tahun ke depan, jika Pak Amien terpilih, adakah program kerja dengan kata kunci ini? Jika kemarin Bung Fadjroel hanya mengangkat “yang penting calon independen bisa turut berkompetisi di 2009”, saya langsung terpikir Ralph Nader. Intinya hanya jadi bulan-bulanan Obama Girl di Youtube.

Rakyat seperti saya butuh yang lebih konkret dari itu. Sementara saya melihat PNPM Mandiri yang baru-baru ini diluncurkan seakan menyambut 2009 “Hey, kita ‘kan sudah sukses menyelenggarakan [kampanye] PNPM!” Mungkin hasilnya akan terlihat satu hingga dua puluh tahun kemudian, who knows? Jadi, Pak Amien, mandiri yang seperti ini atau seperti Burma? Kita tak mungkin membuat sistem di Indonesia menjadi closed economy, kita juga tak mungkin melakukannya dalam 5 tahun ke depan. Kalau begitu, “short term mandiri” seperti apa Pak?

Banyak hal yang mungkin akan kian membuat kita semua makin pesimis dengan “dagangan” para calon pemimpin negeri ini. Di saat semua orang ingin tampil di media, semuanya memberikan hal yang terlalu muluk. Kalau boleh, saya malah ingin mendengarkan Ibu Sri Mulyani Indrawati atau Ibu Siti Fadilah Supari menyambut kehidupan dan penghidupan rakyat kecil macam saya pasca-Pemilu 2009. Saya berharap yang lebih nyata, lebih jejak ke tanah.

Selamat malam, dan selamat merenung.

tikus-nyerah

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada November 12, 2008 in economy

 

Domo Arigato. Rp 10,000 entrance fee?


Katanya sih persahabatan Indonesia-Jepang, sayangnya masuk ke sana “tidak bersahabat”. Saya sesungguhnya datang ke sana dengan niat baik “persahabatan” itu tadi, tapi dasar saya merki (baca: pelit), saya urung masuk ke dalam pameran kerjasama Jepang-Indonesia ini karena harus membayar Rp 10 ribu. Saya pikir untuk mengetahui apa saja produk Jepang tak usah payah, tinggal google saja, bukan? Lagipula masih banyak museum seribu rupiah sekali masuk yang lebih baik saya kunjungi bersama anak-anak. Buat rakyat seperti saya, nilai uang seperti itu berarti benar.

Jika sore ini saya urung ke sana bersama keluarga, ada sedikit pelipur lara dalam perjalanan ke tempat parkir. Saya bisa lambai-lambai tangan saat papasan dengan RI 2 — lengkap tujuh mobil dan 4 motor pengawal — menuju pameran yang berlokasi di Kemayoran, Jakarta ini. Saya bangga bisa berada dua meter di sebelah mobil iringan wapres tanpa diusir.

Saya punya lagu enak… buat menemani tidur malam ini.

klik sini

 

Spectrum Management


Saya baru saja ditelepon seorang kawan dari sebuah majalah ekonomi untuk sebuah opini menjelang tidur. Karena topiknya seksi. izin penyiaran, saya tak jadi tidur. Sekarang malah larut dalam membaca tulisan-tulisan di Ofcom (Office of Communication), kiblat saya untuk sebuah good governance terkait pengaturan infrastruktur komunikasi (penyiaran ada di dalamnya).

Saya tak mau beberkan isi telepon tadi, silakan baca majalahnya kalau keluar nanti. Malam ini saya mau membahas regulasi Ofcom terkait manajemen spektrum frekuensi, yang dikenal dengan nama command and control. Ofcom telah menerapkan regulasi spektrum yang top-down ini selama 100 tahun terakhir. Dengan perkembangan kebutuhan versus penggunaan, yang juga terkait hal isi siaran (bahkan teleponi pun telah menjajakan jualan audio videonya dengan gencar), pengaturan Ofcom ini diubah. Mekanisme pasar akan lebih ditekankan menjelang tahun 2010.

We believe that market forces should be allowed to prevail where this is in the best interests of citizens and consumers. This is based on the belief that firms have the best knowledge of their own costs and preferences and a strong incentive to respond to market signals and put resources to their best possible use (Ofcom, Spectrum Framework Review, 2004).

Liberalisasi manajemen spektrum ini menawarkan dua mekanisme:

  • Pertama: berdasarkan variasi izin untuk menerapkan perubahan yang diminta oleh pengguna/pemohon. Ofcom akan mempertimbangkan berdasarkan kewajiban yang telah pemohon lakukan selama beberapa waktu terakhir. Jika baik, Ofcom akan mempertimbangkan apakah permintaan ini akan mengganggu atau tidak mengganggu pengguna lain.
  • Kedua mekanisme yang ditawarkan Ofcom untuk berbagai macam izin yang telah ada adalah dengan mewajibkan mereka tidak menggunakan dengan percuma (tidak siaran, atau kadang siaran kadang mati) serta tidak menggunakan standar teknologi tertentu/minoritas. Hal ini akan mendorong pengguna spektrum mengubah pemakaiannya tanpa harus memberitahukan Ofcom. Ofcom telah mendata semua untuk penerapan tahun 2005. Banyak hal teknis yang harus diatur pada akhirnya, jika pengguna ingin menjalani mekanisme ini.

Menarik ya?

Tapi saya sudah mulai mengantuk. Saya simpan dulu file pdf ini (klik sini untuk mengunduh). Selamat istirahat.