RSS

Bencana Finansial, Slow Down Baby….

18 Nov

Tempo hari saya sengaja datang ke peluncuran bukunya Pak Prasetyantoko (Pak Icok, panggilan karib beliau), karena saya tertarik mendengarkan kuliah Daeng Aco (panggilan akrab untuk Pak Arianto Patunru, klik sini untuk lihat blog beliau). Belum pernah memang saya dapat kelas beliau, tapi malu saya datang ke kampus untuk mendengarkan pencerahan semenit dua. Terpaksa saya datang ke acara-acara gratis seperti ini.

*dasar merki*

Bencana, krisis, kontraksi, agflasi, dan banyak istilah lain memang seakan menghantui kita. Di lain pihak, banyak pernyataan di koran seminggu terakhir ini bernada sebaliknya. Pak Wapres bilang pebisnis masih optimis. Ada juga yang bilang sektor riil belum terganggu karena sektor finansial domestik masih aman. Di tengah gonjang-ganjing ini, saya kembali ke akar. Menikmati hari dengan pencerahan-pencerahan sederhana. Membaca semua pdf file di internet, tergantung tujuan awal v. harapan akhir.

Seminggu terakhir saya mencari pdf file tentang game theory lalu bosan! Sekarang mau maju membaca yang remeh-temeh. Resep masakan, misalnya. Tak lama akhirnya saya terlarut membaca industri kuliner di dunia… halah, ini juga masih berat!

Makanan.

Ini dia topik paling lezat yang rentan terhadap cuaca, tidak terhadap perubahan kurs mata uang sedunia. Tak ada lontong, getuk pun jadi. Buah mangga harumanis menjadi sarapan pagi saya beberapa minggu terakhir. Bosan? Iya juga, tapi daripada kangen 10 bulan baru musim lagi, saya harus nikmati masa-masa oversupply dari buah ini.

Supply v. Demand

Tahun ini dosen saya (bukan mantan, karena guru itu seperti ortu, tak boleh jadi mantan) menekankan bahwa rumus ekonomi apapun di dunia ini dasarnya hanya kurva penawaran dan permintaan. Bagaimana titik seimbang itu harus dijaga agar tak terlempar jauh dalam jangka waktu singkat. Ibarat sebuah bandul, jika terlalu jauh diayuh, terlalu lama lagi ia kembali ke titik tengah. Nah, menjaga ini kemudian bisa membuat stabil semua kondisi dalam jangka waktu lama. Yakinlah waktu Amerika Serikat dihentakdengan tragedi 9/11,  hal ini memicu kemarahan Bush. Ia lalu melakukan invasi ke “negara teroris saha tea”, sehingga posisi bandul kian terhentak jauh dari titik tengah. Bokek tapi sombong, itulah hasilnya, makanya Obama bisa nyelip di situ dengan isu jejak ke tanah. “Ingatlah bahwa kita miskin, jadi jangan sombong.”

Nah, di saat sang episentrum kapital dunia loyo, mulailah pakar-pakar Chicago, Berkeley ataupun London mengeluarkan pernyataan-pernyataan akademis. Jangan kuatir, itu cuma upaya “cari temen doang”. Biar bikin hati kita di Indonesia ikut kecut, mungkin. Saya mah percaya ucapan para pakar Jakarta dan Jogjakarta di diskusi kemarin. Mereka bilang:”bank-bank di Indonesia masih aman”. Sejuuuukkk…

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada November 18, 2008 in economy

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: