RSS

Arsip Bulanan: September 2009

Merumuskan Slogan Pariwisata


Terhenti di lampu merah Jl. Thamrin, saya papasan dengan bus pegawai Kantor Kementerian Negara Budaya dan Pariwisata. Di belakangnya tertera logo dengan tulisan di bawahnya “Ultimate in Diversity”. Excuse me… ???

2270_775-logobenderacopy

Mari kita lihat dua kata tersebut secara seksama (saya kutip dari kamus The American Heritage Dictionary cetakan ketiga):

1. Ultimate

sebagai kata sifat

  • being last in a series process, or progression
  • fundamental, elemental
  • of the greatest possible size or significance, maximum; representing or exhibiting the greatest possible development; utmost, extreme
  • being most distant or remote, farthest
  • eventual

sebagai kata benda

  • the basic or fundamental fact, element, or principle
  • the final point, the conclusion
  • the greatest extreme, the maximum

2. Diversity

kata benda

  • the fact or quality of being diverse
  • a point or respect in which things differ
  • variety or multiformity

Jika digabung memang keduanya menjadi sangat “Pancasila-is” dengan nada kebhinekaan yang tunggal ika satu tujuan. Cara bertutur “utimate in diversity” biasa kita dengar saat ceramah P4 dahulu, atau bagaimana TVRI pernah memiliki slogan “Persatuan dan Kesatuan” di setiap bumper antar-program.

Saya mencoba mengecek lagi situs-situs Kantor Kementerian Negara Budaya dan Pariwisata atau lembaga yang seharusnya menjadi corong promosi pariwisata negeri ini (atau lebih jauh lagi, corong pelestarian dan pemberdayaan budaya negeri ini). Catatan saya kemudian adalah:

  1. Situs resmi Kantor Kementerian Negara Budaya dan Pariwisata www.budpar.go.id menjadi sekadar situs berita institusi yang melulu berisi “Ini loh gue, punya anggaran segini, meresmikan ini-itu, dan menginfokan agenda di sana tanpa kelanjutan bagaimana bisa sampai ke sana.”
  2. Situs dibuat asal jadi, terbukti dari isi satu situs www.my-indonesia.info atau www.indonesia.travel yang seluruh isi situsnya bisa direkap di hanya satu paragraf pendek di Wikipedia.  Sekali lagi, tak ada petunjuk apa dan bagaimana menjadi turis asing — bisnis atau rekreasi — di Indonesia.
  3. Satu hal lagi, jika kita google kata  “visit Indonesia” yang tertera di urutan paling atas adalah situs resmi http://www.my-indonesia.info. My? Bayangkan jika “id” adalah kode web Indonesia, dan Malaysia kode web adalah “my” sehingga terbacalah Malaysia Indonesia Info!

Tak mengherankan jika slogan di bus pegawai kantor pemerintah yang satu itu hanya berisi “ini loh gue” bukan berisi ajakan turis untuk kembali lagi ke Indonesia, atau ajakan setiap warga negara untuk semangat mengundang kawan-kawannya di luar negeri sana.

Sekarang saya mau membandingkan slogan “Ultimate in Diversity” itu dengan slogan pariwisata (bukan budaya) dari banyak negara yang sukses menaikkan rating “visit my country” selama beberapa tahun terakhir:

1. Maldives, sebuah negara dengan pantai pasir putih yang indah lengkap dengan pulau karang yang belum terjamah polusi. Statistik international tourist arrival 1990-2000 mencatat paruh pasar di region Asia Selatan adalah 7,5% dan pertumbuhan 8,6%

2. India, sebuah negara industri dan kaya budaya yang berkembang pesat secara ekonomi maupun modal sumber daya manusianya. India menempati peringkat tertinggi di Asia Selatan untuk kunjungan wisatawan selama 1990-2000 dengan paruh pasar 50,6% dan pertumbuhan 6,4%.

3. Dan beberapa negara lain yang pertumbuhan di atas 20% dengan pencitraan negara yang penuh warna dan terkesan hangat dinamis, di antaranya:

  • Bermuda: Feel the Love
  • Dubai: Definitely Dubai
  • Egypt: The Gift of the Sun
  • Lebanon: Splendid Lebanon
  • Spanyol: Espana
  • Sri Lanka: Small Miracle, Find Your Miracle
  • Turkey: Turkey Welcomes You
  • Zimbabwe: A World of Wonders

budpar

… dan yang paling penting adalah bagaimana negara tetangga Malaysia dan Singapura memosisikan dirinya

1. Malaysia: Truly Asia

2. Singapura:  Uniquely Singapore

Lihatlah ada slogan negara yang “berbicara” dengan sudut pandang diri “Saya” atau “I” yang mengajak turis sebagai “Anda” atau “You”. Ada juga negara yang mengangkat impian berada di tempat penuh cinta atau penuh matahari; sebuah ketertinggalan kesan yang mendalam setelah kembali dari sana. Sedangkan dua negara tetangga kita itu, tentu mengangkat keragaman budaya dan etos; betapa etnis India, China dan Melayu bersatu dengan turis atau pekerja ekspat di sana. Truly Asia, Uniquely Singapore, atau Ultimate in Diversity… dan slogan kita paling tidak indah, tidak merayu siapapun untuk datang.

** menghela nafas panjang **

Iklan
 
7 Komentar

Ditulis oleh pada September 12, 2009 in budpar, country, culture, image, Indonesia, institutionalism, media, slogan, tourism