RSS

Arsip Bulanan: Januari 2011

You cannot live without scholarship, and you cannot live with scholarship


Di luar jatah seleksi reguler, Universitas Indonesia (UI) memiliki program seleksi mahasiswa yang telah berjalan 3 tahun terakhir ini. Kerjasama Daerah Industri (KsDI) adalah program non-SIMAK atau seleksi masuk UI. Pemerintah daerah atau pun industri dapat memasukkan nama siswa berprestasi usulan mereka untuk masuk ke UI tanpa tes seleksi ketat: hanya selembar surat usulan plus kontrak-kontrak. Diharapkan memang banyak siswa SMA berprestasi di daerah yang bisa masuk lewat jalur khusus ini, dan disepakati bahwa mereka adalah siswa yang kurang mampu secara finansial melanjutkan ke sekolah lebih tinggi.

Noble huh? Sayangnya tidak begitu kenyataan tiga tahun terakhir. Banyak bolong dan bohong…

Adalah David Welkinson, salah satu siswa dari SMA di Bengkulu yang beruntung masuk ke jalur ini di awal program KsDI ini disepakati pihak kampus dan Pemerintah Provinsi Bengkulu. Ia adalah satu dari mahasiswa berprestasi secara akademis ataupun organisasi kesiswaan (pernah menjabat menjadi ketua OSIS semasa SMA). Ia adalah anak petani yang terkesan sederhana namun tegas. Saya belum pernah melihatnya, tapi wajahnya tampil di layar TV beberapa saat lalu untuk mengungkap kebobrokan Pemprov Bengkulu, yang notabene kepala daerahnya pun sekarang pesakitan karena korupsi (beritanya di sini, ya).

Uang kuliah yang dijanjikan Pemprov Bengkulu tak kunjung turun, bahkan dinyatakan bahwa program ini ditutup di provinsi itu sejak tahun 2010. Lalu bagaimana kontrak awalnya? Inilah pangkal kisruh beasiswa dan jalur khusus masuk UI ini. Ditengarai bahwa pihak Pemprov Bengkulu tidak menjalankan kewajibannya sesuai kontrak. Ditengarai pula bahwa kontrak yang ada memang tidak “menjanjikan” pembayaran, hanya memberikan usulan nama siswa berprestasi. Douglas North (1991) menegaskan bahwa “There are some cases where contracts are self-enforcing; i.e., when all parties to a contract have an economic incentive to comply with the terms of the contract.” Sayangnya, compliance atas kedua pihak yang menandatangani kontrak ini terkadang tidak terjadi.

Apapun alasan yang telah diberikan Pemprov Bengkulu, jelas saja ada ingkar janji sepihak. Terbukti kok provinsi lain mampu membiayai dan sepertinya tidak bermasalah hingga hari ini. Apa yang terjadi sesungguhnya di meja bendahara pemerintah Bengkulu, wallahualam.

Lambsdorff (2007) menegaskan bahwa “corrupt actors are more influenced by other factors such as the opportunism of their criminal counterparts and the danger of acquiring an unreliable reputation.” Bengkulu adalah provinsi miskin karena letak geografis yang tidak menguntungkan, dikelilingi pengunungan tinggi dan pantai berkarang. Hal ini diperparah lagi dengan seringnya gempa terjadi di sepanjang pantai barat Sumatera. Untuk itu, jalur distribusi ke dan dari Bengkulu adalah mustahil kalaupun tidak mau dinyatakan “mahal”.

Hal ini bukan alasan jika memang “aktor” yang dimaksud Lambsdorff adalah aktor yang tidak oportunistik. Tak ada niat baik dari pihak pemprov sana untuk berbenah diri. Bengkulu puluhan tahun silam adalah potret Bengkulu sekarang. Tak banyak kemajuan berarti dibanding provinsi tetangganya. Sayangnya pemerintah di salah satu provinsi dari 5 nomor buncit (dalam hal pemasukan dan belanja daerah) di Indonesia ini tak memiliki niat baik memperbaiki kualitas sumber daya manusia. Rakyat cerdas akan keluar dari terbatasnya sumber daya alam–lihat Singapura. Rakyat cerdas pun akan keluar dari terbatasnya jalur transportasi–lihat Pemerintah Provinsi Bangka Belitung dan Laskar Pelangi.

Di lain pihak, UI sebagai institusi besar, sesungguhnya bisa bertindak lebih arif dan taktis untuk membantu masalah per kasus atau bahkan masalah KsDI ini secara umum. Tak usah ditutup jalur ini, hanya kedua pihak harus menandatangani kontrak yang lebih tegas. Selain itu, seleksi masuk sepenuhnya milik UI agar standar mahasiswa “cerdas” yang diloloskan dari program ini bukanlah mereka yang “cuma punya uang bayar pemda” atau “cuma kebetulan anak Pak Bupati Anu”… dan seterusnya.

Semoga David Welkinson adalah anak terakhir yang harus menderita karena mendapat beasiswa bodong pemdanya.

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada Januari 14, 2011 in chaos, economy, education, institutionalism

 

Tag: , , ,

‘Preman’ was here


A leader is best when people barely know he exists...
not so good when people obey and acclaim him, worse when they despise him...
(Lao Tzu)


This country is, again, hopeless. Law is made, here, to be broken. As long as everything is procedural, stealing money is allowed in this country. I had a little time to check what’s wrong, but they surely have had fun for decades on behalf of the people. I cannot tell the details in such small space, but I surely know what is weird about this article (click here for the news). One guy  in the news, the so-called clean man from West Sumatra, is definitely successful with his anti-corruption campaign (again, click here for another news). The other guy is waiting for his sentence on corruption case, dana bansos they call it,  (click here again) for a tour & travel package of his stupid family gathering plus to-and-fro-dunno-where gifts of flower arrangements.  Oh, by the way, Tomohon is located in North Sumatra, the highland cool-breeze area, with beautiful scenery of flowers and many other plant species. Beautiful, beautiful place to meditate. I could write a book or two if I stay there in a week.

OK, back to the first guy from West Sumatra and the other guy from North Sulawesi. Why the people need a leader? A true leader, that is. In today’s corruptive system, I am still waiting for a true leader to bend the existing system or even fight for a new. I don’t need Gamawan Fauzi to bend rules for adjusting “a potential corruptor” that is already behind bars. I don’t need a Jefferson Rumajar who has traveled first class with a whole package of his socialite family. Public servants are serving the public, not playing tricks with the public. The latter is usually called ‘preman’. Make no mistakes, it is not superman’s half brother.

Considered these preman leaders would say: “bend any rules that are on the way to halt our money”. They are living in fancy glamorous lives whilst the people are starving and watching those prices skyrocketting fast. What went wrong with this picture? Nothing. I am just living in a wrong country, for sure. I don’t need any leaders who bend rules not for the people. We don’t need corruptive government.

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada Januari 9, 2011 in corruption, country, leader, leadership

 

Tag: ,

The Beauty of Soccer


LSI vs. LPI. For you doesn’t follow what’s going on in Indonesia’s soccer industry, here goes…

LSI is a Liga Super Indonesia; sponsored by one of cigarette brand, that’s where the “super” derived from. LPI or Liga Primer Indonesia (hoping it is not another cigarette brand) is created solely by Arifin Panigoro, a coal-mine taipan who has the guts to declare war with PSSI, the root of LSI.

Anyway, nevermind the lungs cancer and soccer relationship. I am just going to highlight Irfan Bachdim stardom in this chaos of management and leadership. Who needs who? PSSI (read: LSI) is going to go down the sink if LPI proves itself to be a better management and better leadership. Strong like the coal, Panigoro shall demolish all gaps among clubs and officials. Hopefully, too, internal corruption can be pressed to near-zero percentage

Let’s pray for the best… competition is always good, even in Indonesia.

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada Januari 8, 2011 in football, soccer, sports

 

Tag: , , , ,

Curricula, Curriculum


Seminggu sebelum libur akhir tahun saya bertemu dengan guru di sekolah swasta. Ia menyatakan bahwa materi untuk anak SD sekarang terlalu banyak dan tumpang tindih. Anak belum bisa berhitung pertambahan, waktu sudah mepet untuk belajar pengurangan. Banyak topik pun tumpang-tindih di beberapa mata pelajaran. Ia menyatakan bahwa untuk mengajarkan sebuah konsep abstrak, seperti “kerukunan”, terkadang anak harus diberi proyek khusus agar mengerti bukan menghapal definisi. Permasalahannya, hapalan hanya menghabiskan sekian menit di satu hari dan proyek khusus menghabiskan waktu jauh lebih lama untuk mempersiapkan dan melakoninya.

Akibatnya anak akhirnya terlalu lelah didorong untuk menyelesaikan banyak hal di waktu sempit; dan PR pun menjadi pekerjaan wajib setiap malam. Tak tanggung-tanggung, di sekolah lain, setahu saya ada yang bisa 2 sampai 3 mata pelajaran sekaligus. Ini pun terjadi di setiap malam bahkan untuk libur akhir tahun kemarin pun.

Anak kelelahan, dan predikat macam-macam pun ditempel di kening sang anak. Saya akhirnya bisa mengerti bagaimana Kak Seto memberlakukan homeschooling untuk anak remajanya; mungkin untuk menambah nilai lebih dari kurikulum yang ada di sekolah hari ini. Menambah nilai, bukan menambah beban…

Di tengah informasi yang sejublak dan mudah dicari hari ini, seorang anak tentunya tak perlu terlalu banyak menghabiskan waktunya menghapal “nama 33 gubernur dari 33 provinsi hari ini” atau “semua jenis antibiotika khusus daerah tropis”. Sebaiknya guru dapat mengarahkan bagaimana sang anak bisa memanfaatkan data yang bisa ditanya ke Mbah Google, mungkin untuk pemetaan gubernur sesuai tanggal terpilihnya atau bagaimana dampak antibiotika untuk hal lain selain manusia… dan seterusnya. Creativity masih prioritas buncit di negeri ini…

Di bawah ini adalah bagan dari monsterindia.com tentang fokus pembelajaran dari keunikan setiap orang…

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Januari 6, 2011 in education

 

Tag:

CES 2011 is ngeces.com


Consumer Electronic Show (CES) di Las Vegas, Amerika Serikat, telah berlangsung dua hari. Sejak 2004 CES merupakan ajang elit bagi produser adu-pamer perangkat digital canggih, terutamanya terkait internet dan komputer. Tahun lalu, komputer genggam versi tablet yang heboh itu, iPad, diperkenalkan Steve Jobs, petinggi Apple Inc. Tahun ini, Motorolla Xoom pun diperkenalkan juga, di antara produk baru seputar fisik atau pun tidak, mulai tablet, televisi dan kamera 3D, apps, dan seterusnya. Diperkirakan tahun ini adalah tahun perang tablet, dan perangkat lain yang mulai berkembang adalah perangkat internet yang ringkas untuk otomotif. Iya, jangan sampai pengemudi sedang menyetir, semua gadget itu kemudian mengganggu kenyamanan pengemudi… bagaimana dong jadinya? Go figure!

Sejam yang lalu, dari berita #CES via Twitter, Microsoft mengumumkan peluncuran AvatarKinect, yang dapat memindai wajah pengguna agar masuk ke dalam program. Daftar “Wow!” ini akan bertambah panjang seiring sejalan daftar “Oh crap! We are in Indonesia…”

That’s right! Percuma kita memiliki perangkat secanggih apapun kalau infrastruktur di negeri ini tidak mendukung. Ibaratnya, mobilnya Hummer tapi rumahnya di gang senggol. Apa pasal? Jelas kok biaya infrastruktur apa pun di negeri ini dikorupsi gila-gilaan. Jalan bolong langsung diaspal, ini impian di siang bolong. High cost juga akhirnya menimpa pihak swasta. Salah satunya setoran ke pejabat kalau mau membangun BTS di daerah, izinnya tidak mahal tapi dipersulit. Ini cuma salah satu kebocoran yang membuat biaya berusaha tak murah di Indonesia.

Akhirnya kalau tidak mau ngomel di Facebook atau Twitter tentang “Telkomsel Flash” yang tidak sesuai iklannya, mungkin kita hanya bisa login saat kita tidur nyenyak.

Selain itu memang infrastruktur telekomunikasi dan komunikasi yang belum merata ke seluruh pelosok Indonesia, wong jalan  aspal untuk jalur distribusi makanan dan produk ke dalam dan ke luar satu daerah saja hanya di pusat kota. Geser ke sekian kilometer dari alun-alun kota, banyak yang masih jalan setapak.

Terakhir, alasan utama buruknya jalur komunikasi internet negeri ini karena bottleneck yang tak kunjung diselesaikan.  Jalur ke luar dari Indonesia ke gateway terdekat  hingga ke Amerika Serikat dan Eropa itu cuma lewat Singapura. Ukurannya pun cuma segede sedotan dibanding information highway dari Singapura ke Hongkong dan hub lain di dunia… dan Singapura bahkan memproklamasikan dirinya iN2015, atau intelligent nation 2015 (wikipedia: Intelligent Nation 2015 is a 10-year masterplan by the Government of Singapore to help Singapore realise the potential of infocomm over the next decade).

Di Indonesia…? Palapa Ring saja “katanya” mau pakai APBN 2011 untuk penyelesaian “sengketa” antar-anggota konsorsium. Another bail out for handicapped commercial entities? Setelah proyek selesai, semua uang pungutan dari infrastruktur ini masuk ke pundi swasta berjuta kali lipat daripada keuntungan yang dinikmati segelintir rakyat. Masih ingat pungutan jalan tol seumur hidup? Sampai hari ini saya tak pernah baca transparansi pemasukan dan pengeluarannya (ya alasannya ini sudah bukan APBN, ini arus uang masuk-keluar punya swasta… blah!).

Belum selesai Palapa Ring pun rakyat sudah rugi, karena APBN itu tidak taktis dialokasikan untuk infrastruktur jangka pendek. Jalan tetap bolong, sekolah tak punya atap selamanya, semua harga kebutuhan pokok naik tak jelas mengapa. Mengurai kompleksitas adalah memberi prioritas. Di lain pihak, alat secanggih apapun tentu masih produk luar negeri (baca: produk impor). Masyarakat hari ini masih dibuai kampanye konsumtivisme tingkat tinggi, tanpa melihat bahwa produk berteknologi tinggi hanya diciptakan oleh manusia berpikiran cerdas dan luas.

Hari gini masih mau ngomongin Gayus terus? Bosan ah… infrastruktur sesekali dong, Pak!

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Januari 6, 2011 in informasi, information, infrastruktur, technology

 

Tag:

If only…


Facebook is a “teen wall magazine” or mading (majalah dinding), then Twttr is SMS (shrt msg svrce) then WordPress is a very comfortable place to type any rubbish and curcol… this is what I learned from Mas Hikmat Darmawan today. I am trying too much to blog a posting a day, really I am!

:0)))

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Januari 5, 2011 in curhat

 

Tag:

2011 Mobile Industry Predictions Survey


A nice presentation by Chetan Sharma on

2011 mobile industry predictions survey



Yeah, I dont really like “mobile coupons” for I am no crazy shopper of certain brands… but I would love to pay everything at one button push from my mobile/desktop…

And 4G is about HSPA+, Wimax, LTE, LTE-A, Wimax 2… let me chew that for a sec…

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Januari 4, 2011 in postaday2011, technology

 

Tag: