RSS

Arsip Harian: Januari 6, 2011

Curricula, Curriculum


Seminggu sebelum libur akhir tahun saya bertemu dengan guru di sekolah swasta. Ia menyatakan bahwa materi untuk anak SD sekarang terlalu banyak dan tumpang tindih. Anak belum bisa berhitung pertambahan, waktu sudah mepet untuk belajar pengurangan. Banyak topik pun tumpang-tindih di beberapa mata pelajaran. Ia menyatakan bahwa untuk mengajarkan sebuah konsep abstrak, seperti “kerukunan”, terkadang anak harus diberi proyek khusus agar mengerti bukan menghapal definisi. Permasalahannya, hapalan hanya menghabiskan sekian menit di satu hari dan proyek khusus menghabiskan waktu jauh lebih lama untuk mempersiapkan dan melakoninya.

Akibatnya anak akhirnya terlalu lelah didorong untuk menyelesaikan banyak hal di waktu sempit; dan PR pun menjadi pekerjaan wajib setiap malam. Tak tanggung-tanggung, di sekolah lain, setahu saya ada yang bisa 2 sampai 3 mata pelajaran sekaligus. Ini pun terjadi di setiap malam bahkan untuk libur akhir tahun kemarin pun.

Anak kelelahan, dan predikat macam-macam pun ditempel di kening sang anak. Saya akhirnya bisa mengerti bagaimana Kak Seto memberlakukan homeschooling untuk anak remajanya; mungkin untuk menambah nilai lebih dari kurikulum yang ada di sekolah hari ini. Menambah nilai, bukan menambah beban…

Di tengah informasi yang sejublak dan mudah dicari hari ini, seorang anak tentunya tak perlu terlalu banyak menghabiskan waktunya menghapal “nama 33 gubernur dari 33 provinsi hari ini” atau “semua jenis antibiotika khusus daerah tropis”. Sebaiknya guru dapat mengarahkan bagaimana sang anak bisa memanfaatkan data yang bisa ditanya ke Mbah Google, mungkin untuk pemetaan gubernur sesuai tanggal terpilihnya atau bagaimana dampak antibiotika untuk hal lain selain manusia… dan seterusnya. Creativity masih prioritas buncit di negeri ini…

Di bawah ini adalah bagan dari monsterindia.com tentang fokus pembelajaran dari keunikan setiap orang…

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Januari 6, 2011 in education

 

Tag:

CES 2011 is ngeces.com


Consumer Electronic Show (CES) di Las Vegas, Amerika Serikat, telah berlangsung dua hari. Sejak 2004 CES merupakan ajang elit bagi produser adu-pamer perangkat digital canggih, terutamanya terkait internet dan komputer. Tahun lalu, komputer genggam versi tablet yang heboh itu, iPad, diperkenalkan Steve Jobs, petinggi Apple Inc. Tahun ini, Motorolla Xoom pun diperkenalkan juga, di antara produk baru seputar fisik atau pun tidak, mulai tablet, televisi dan kamera 3D, apps, dan seterusnya. Diperkirakan tahun ini adalah tahun perang tablet, dan perangkat lain yang mulai berkembang adalah perangkat internet yang ringkas untuk otomotif. Iya, jangan sampai pengemudi sedang menyetir, semua gadget itu kemudian mengganggu kenyamanan pengemudi… bagaimana dong jadinya? Go figure!

Sejam yang lalu, dari berita #CES via Twitter, Microsoft mengumumkan peluncuran AvatarKinect, yang dapat memindai wajah pengguna agar masuk ke dalam program. Daftar “Wow!” ini akan bertambah panjang seiring sejalan daftar “Oh crap! We are in Indonesia…”

That’s right! Percuma kita memiliki perangkat secanggih apapun kalau infrastruktur di negeri ini tidak mendukung. Ibaratnya, mobilnya Hummer tapi rumahnya di gang senggol. Apa pasal? Jelas kok biaya infrastruktur apa pun di negeri ini dikorupsi gila-gilaan. Jalan bolong langsung diaspal, ini impian di siang bolong. High cost juga akhirnya menimpa pihak swasta. Salah satunya setoran ke pejabat kalau mau membangun BTS di daerah, izinnya tidak mahal tapi dipersulit. Ini cuma salah satu kebocoran yang membuat biaya berusaha tak murah di Indonesia.

Akhirnya kalau tidak mau ngomel di Facebook atau Twitter tentang “Telkomsel Flash” yang tidak sesuai iklannya, mungkin kita hanya bisa login saat kita tidur nyenyak.

Selain itu memang infrastruktur telekomunikasi dan komunikasi yang belum merata ke seluruh pelosok Indonesia, wong jalan  aspal untuk jalur distribusi makanan dan produk ke dalam dan ke luar satu daerah saja hanya di pusat kota. Geser ke sekian kilometer dari alun-alun kota, banyak yang masih jalan setapak.

Terakhir, alasan utama buruknya jalur komunikasi internet negeri ini karena bottleneck yang tak kunjung diselesaikan.  Jalur ke luar dari Indonesia ke gateway terdekat  hingga ke Amerika Serikat dan Eropa itu cuma lewat Singapura. Ukurannya pun cuma segede sedotan dibanding information highway dari Singapura ke Hongkong dan hub lain di dunia… dan Singapura bahkan memproklamasikan dirinya iN2015, atau intelligent nation 2015 (wikipedia: Intelligent Nation 2015 is a 10-year masterplan by the Government of Singapore to help Singapore realise the potential of infocomm over the next decade).

Di Indonesia…? Palapa Ring saja “katanya” mau pakai APBN 2011 untuk penyelesaian “sengketa” antar-anggota konsorsium. Another bail out for handicapped commercial entities? Setelah proyek selesai, semua uang pungutan dari infrastruktur ini masuk ke pundi swasta berjuta kali lipat daripada keuntungan yang dinikmati segelintir rakyat. Masih ingat pungutan jalan tol seumur hidup? Sampai hari ini saya tak pernah baca transparansi pemasukan dan pengeluarannya (ya alasannya ini sudah bukan APBN, ini arus uang masuk-keluar punya swasta… blah!).

Belum selesai Palapa Ring pun rakyat sudah rugi, karena APBN itu tidak taktis dialokasikan untuk infrastruktur jangka pendek. Jalan tetap bolong, sekolah tak punya atap selamanya, semua harga kebutuhan pokok naik tak jelas mengapa. Mengurai kompleksitas adalah memberi prioritas. Di lain pihak, alat secanggih apapun tentu masih produk luar negeri (baca: produk impor). Masyarakat hari ini masih dibuai kampanye konsumtivisme tingkat tinggi, tanpa melihat bahwa produk berteknologi tinggi hanya diciptakan oleh manusia berpikiran cerdas dan luas.

Hari gini masih mau ngomongin Gayus terus? Bosan ah… infrastruktur sesekali dong, Pak!

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Januari 6, 2011 in informasi, information, infrastruktur, technology

 

Tag: