RSS

Arsip Bulanan: Maret 2015

Cheesy vs Classy


Cheesy. Bukan merek keju lokal. Mungkin berangkat dari aroma keju, mungkin juga dari esensi bolong-bolong (tidak solid penuh). Tidak jelas. Yang pasti, arti “cheesy” adalah tidak otentik, atau murah (dalam arti murahan, tidak berkelas).

Classy. Adalah “kelas” atau “kasta” yang membedakannya dengan yang “cheesy” tadi. Mungkin bukan antitesis, tapi bisa diresapi sebagai seruan untuk menunjukkan otentik atau tidaknya seseorang.

Dua malam ini saya menyaksikan sisi keju dari seorang yang dulu saya anggap berkelas. Di usia saya yang tak lagi remaja, mengendalikan emosi di depan publik adalah keharusan. Apalagi jika amarah itu tidak datang dari sebuah khitah kekuasaan (ghoib atau materi).

PS. Forgiven, not forgotten. Maaf ya Kang, buat kamu saya tutup bukumu. Antum kagak sekelas dong sama ana…

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Maret 30, 2015 in public policy

 

Mahasiswa dan Jokowi


Salemba UI 20 Maret 2015

Salemba UI 20 Maret 2015

Belum genap satu semester, Jokowi sudah “digoyang” karena kebijakan dalam dan luar negerinya. Terkait kebijakan luar negeri, dukungan global untuk Jokowi seakan mendapat arus balik. Mungkin alasannya adalah kebijakan tidak boleh impor ini itu, hingga kebijakan hukuman mati. Terkait kebijakan dalam negeri memang lebih karena masalah “pelemahan rupiah”.

“Gorengan” yang keluar hari ini bukan masalah itu, tapi isu penanganan korupsi dan melemahnya KPK. Jika dikaitkan semuanya, terkesan memang Jokowi hari-hari terakhir ini menjadi “public enemy”. Hmmm…

Terlepas dari semua isu itu, tak ada kebijakan publik akan terasa hasil (outcome) yang signifikan dalam usia seumur jagung. Dasar manusia instan, yang doyan kopi sachet segala rasa dan mie rasa ayam bawang segala merek, rakyat Indonesia langsung berisik. Tahu gak sih kalau berisik itu juga akan menggoyang bursa dan kurs mata uang? Bounded rationality, tentunya setiap yang berisik ini merasa Jokowi akhirnya sama dengan produk Orba sekalipun. Koplax rationality adalah melihatnya seperti kopi sachet dan mie instan: tinggal seduh air panas, dan perut kenyang. Ealah, usus 12 jari rontok dong kalau disuapi yang beginian terus?

(Ini bukan soal kamu yah! Serius ini lagi kesel sama orang berisik!)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Maret 20, 2015 in domestic turbulence, foreigb policy

 

Tag: , , ,

Pencerahan Budaya, Pencerahan Politik


Ada yang bilang Jokowi sekarang sudah neolib (menumpuk hutang). Ada juga yang bilang Jokowi sudah dijauhi pendukung globalnya semenjak kebijakan “hukum mati gembong narkoba” diterapkan. Ada yang bilang JK kurang greget kali ini. Ada yang bilang lainnya… ah, banyak sekali rumor itu yah?

Sejak pagi hingga malam saya dapat pencerahan yang cukup “padat”. Roller coaster.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Maret 20, 2015 in chaos

 

Tag: , ,

Masih VR


VR-nomics? Why not.

Sebuah konsep bisnis yang mungkin tak akan berbeda jauh saat mesin cetak Gutenberg ditemukan, atau mesin uap, atau mesin-mesin lainnya. Jual barang teknologi ya begitulah… mesin baru lahir, mesin lama tak laku lagi. Samsung keluar akhir tahun bareng HTC. Sony tahun depan.

Yang membedakan adalah me-monetize apa yang dihasilkan mesin cetak, mesin uap dan mesin VR. Sebagai satu saluran (channel) atau pipa (pipe), VR memadukan big data dengan koneksi yang bagus. Tak yakin setiap titik di Indonesia bisa seragam kecepatan koneksi internetnya, bahkan di kota besar seperti Jakarta.

Jika pipa (mesin) itu akan obsolete, tidak demikian halnya dengan isi pipa (content). Film Mickey Mouse pertama saja masih bisa diputar di TV berbayar dan menghasilkan uang. Boneka Mickey Mouse pun masih laku dijual. Sekarang jika semua cerita dan karakter itu bisa diciptakan oleh si empunya kacamata (goggle) VR, dengan setriliun kombinasi cerita dan karakter, siapa melihat siapa? Atau siapa mengikuti siapa? Point to point menjadi lebih nyaman. Tapi saya kebayang seorang selebritas macam Sherina bisa menjual “experience” dirinya dalam satu sesi VR (bentuk game atau berita, apapun genrenya). Follower-leader tetap terbangun jika Sherina berkarya terus.

Itu point to multi-point antara selebritas ke penggemarnya.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Maret 16, 2015 in -nomics

 

Tag:

Numb thumb


Simply.

Wrong.

Key.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Maret 15, 2015 in public policy

 

If I was a sculpture…


But then again… I am not.

Some people think I am a snob. So be it. Some people think I am bragging too much, but so what if I know too much, too? At least I claim I do know. Not more than anyone else. Just trying to comprehend the mysteries of anything.

One thing that has been crossing in my mind for the last month is the launching of Samsung S6 with VR goggle. HTC and Sony held a huge press conference, too, the following day.

The colliding idea of human interaction in real world versus virtual world is very disturbing today. Virtual reality, virtual augmented reality and augmented reality, what’s the virtue of them all? What’s not real?

Confusion. My feelings are real, but not in my head. Or, my head is here but not my mind. Whatever.

2014-cosc-426-lecture-2-augmented-reality-technology-6-638[1]I do not own this pic, just took it randomly via Google search
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Maret 13, 2015 in AR, VR

 

Tag: ,

politicKING


Riuh rendah rupiah melorot itu bisa dilihat menakutkan di satu titik, bisa juga dilihat “fenomena alam” di titik ekstrem lainnya. Buat saya, selama bumi masih berputar, gravitasi masih ada, semua pasti akan terjadi. Mazhab kiri atau kanan itu adalah dinamika menjadi makhluk paling pintar di atas bumi.

Yang menjadi masalah sesungguhnya adalah orang-orang pintar itu suka “mlintir” satu isu demi mencapai tujuan, yang tentu saja berbeda-beda untuk setiap orangnya. Setiap orang itu punya pilihan rasional, yang cenderung terkesan serakah. Rational choice theory sampaikan bahwa manusia cenderung “”wanting more rather than less of a good”.  Niat pun bisa berubah dalam proses “one-shot zero sum game”. Nikung di pengkolan itu adalah risiko politik. Makanya para pemikir politik kelas wahid tak pernah berpikir “one shot” apalagi “zero sum game”. Alasannya? Ya, karena bumi masih berputar.

Naahh, tulisan saya kali ini bukan tulisan galau. Saya mau kerja. Saya tidak mau berisik “kagak penting”. Membangun negeri itu adalah fokus, tidak mudah teralihkan isu-isu kagak penting–apapun itu. Agar menjadi penting, sesungguhnya semua rencana harus menekan risiko politik ke titik terendah sejak awal.

Transparansi informasi adalah cara murah namun jitu untuk menekan risiko itu. Sampaikan saja sejujurnya niat baik. Membohongi rakyat itu sama juga menggali risiko lebih dalam. Tidak menyampaikan saja sudah berisiko. Atau menyampaikan dengan kata berbunga-bunga pun begitu. Be sincere. I know when you lie to me, so cut it out.

politics

PS. Oh tapi ini tetap di-trigger seseorang bilang “maaf” karena satu alasan padahal saya tahu bukan itu alasannya. Just dont lie if you leave all evidence so obvious digitally. See, I am a good stalker of yours!

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Maret 12, 2015 in good governance, transparency

 

Tag: