RSS

Arsip Bulanan: Maret 2015

If I was a sculpture…


But then again… I am not.

Some people think I am a snob. So be it. Some people think I am bragging too much, but so what if I know too much, too? At least I claim I do know. Not more than anyone else. Just trying to comprehend the mysteries of anything.

One thing that has been crossing in my mind for the last month is the launching of Samsung S6 with VR goggle. HTC and Sony held a huge press conference, too, the following day.

The colliding idea of human interaction in real world versus virtual world is very disturbing today. Virtual reality, virtual augmented reality and augmented reality, what’s the virtue of them all? What’s not real?

Confusion. My feelings are real, but not in my head. Or, my head is here but not my mind. Whatever.

2014-cosc-426-lecture-2-augmented-reality-technology-6-638[1]I do not own this pic, just took it randomly via Google search
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Maret 13, 2015 in AR, VR

 

Tag: ,

politicKING


Riuh rendah rupiah melorot itu bisa dilihat menakutkan di satu titik, bisa juga dilihat “fenomena alam” di titik ekstrem lainnya. Buat saya, selama bumi masih berputar, gravitasi masih ada, semua pasti akan terjadi. Mazhab kiri atau kanan itu adalah dinamika menjadi makhluk paling pintar di atas bumi.

Yang menjadi masalah sesungguhnya adalah orang-orang pintar itu suka “mlintir” satu isu demi mencapai tujuan, yang tentu saja berbeda-beda untuk setiap orangnya. Setiap orang itu punya pilihan rasional, yang cenderung terkesan serakah. Rational choice theory sampaikan bahwa manusia cenderung “”wanting more rather than less of a good”.¬† Niat pun bisa berubah dalam proses “one-shot zero sum game”. Nikung di pengkolan itu adalah risiko politik. Makanya para pemikir politik kelas wahid tak pernah berpikir “one shot” apalagi “zero sum game”. Alasannya? Ya, karena bumi masih berputar.

Naahh, tulisan saya kali ini bukan tulisan galau. Saya mau kerja. Saya tidak mau berisik “kagak penting”. Membangun negeri itu adalah fokus, tidak mudah teralihkan isu-isu kagak penting–apapun itu. Agar menjadi penting, sesungguhnya semua rencana harus menekan risiko politik ke titik terendah sejak awal.

Transparansi informasi adalah cara murah namun jitu untuk menekan risiko itu. Sampaikan saja sejujurnya niat baik. Membohongi rakyat itu sama juga menggali risiko lebih dalam. Tidak menyampaikan saja sudah berisiko. Atau menyampaikan dengan kata berbunga-bunga pun begitu. Be sincere. I know when you lie to me, so cut it out.

politics

PS. Oh tapi ini tetap di-trigger seseorang bilang “maaf” karena satu alasan padahal saya tahu bukan itu alasannya. Just dont lie if you leave all evidence so obvious digitally. See, I am a good stalker of yours!

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Maret 12, 2015 in good governance, transparency

 

Tag:

Konon Kabarnya…


“Hayo, kenapa Badan Ekonomi Kreatif itu dipikirin duluan dibanding jejeran organisasi kementerian lain?”

Jujur saya baru saja mengunduh pdf peraturan-peraturan presiden 2015 yang sudah mencapai nomor urut 20 (Peraturan Presiden Nomor 20 Tahun 2015 tentang Badan Pertanahan Nasional). Dari sekian puluh organisasi kementerian dan lembaga yang harus bekerja ngebut untuk mewujudkan Nawa Cita 2014-2019, lihatlah urut-urutan nomor peraturan yang sudah keluar, Bisa jadi ya itulah prioritas Kabinet Kerja Jokowi-JK ini:

Saya sudah mencari-cari peraturan yang sama di situs web Setkab, Setneg dan bahkan di Kemenkumham. Baru KemenPANRB ini saja yang memuat urutan lengkap dimulai nomor urut 6. Beberapa catatan setelah melihat urutan ini (belum membaca seksama setiap peraturan yang saya unduh itu), bahwa:

1. Nomor urut 1-5 itu rahasia dulu, karena salah satunya adalah Menkopolhukam ada di situ? Tidak mungkin juga, karena peraturan induknya (Perpres 7/2015 tentang Organisasi Kementerian Negara) itu tidak boleh “dilangkahi” peraturan detail per kementeriannya.

2. Urutan Badan Ekonomi Kreatif ini seakan membuktikan bahwa rakyat media sosial itu sekarang diperhatikan pemerintah. Nomor urutnya lebih dahulu daripada kementerian-kementerian koordinator bidang.

3. Kabinet sekarang seakan ingin menata kembali “tata ruang” dan “SDM” dibanding sektor kesehatan, pertanian, kelautan/perikanan, perdagangan/perindustrian dan seterusnya… atau memang kementerian negara ditata dulu dibanding sektor yang tak perlu restrukturisasi organisasi?

Yah, maaf yah… ini juga cuma konon kabarnya, karena siapa tahu memang kecepatan mengetik setiap orang di Sekneg itu berbeda-beda, jadi yang ditandangani lebih dulu yang dokumennya selesai saja dulu… tee hee!

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Maret 2, 2015 in government offices, Indonesia

 

Tag: , , ,