RSS

Arsip Bulanan: Mei 2015

PKK, Posyandu dan Dasa Wisma


Malam ini ada topik baru yang melintas di kepala saya. Saya masih mencoba mencerna, dan besok siang pembahasan ini harus sudah menjadi KAK (kerangka acuan kerja) atau TOR (terms of reference). Terlalu lelah seharian memantau produksi video ibu-ibu terkait pemberdayaan masyarakat dengan teknologi aplikasi bergerak (mobile application). Random yah? Tapi semua saling terkait… connecting the dots.

Saya akan kembali jika tiga topik malam ini (PKK, Posyandu dan Dasa Wisma) sudah saya rangkaikan ke dalam KAK. Sebagai Bu RT di lingkungan saya, ketiga hal ini sudah merupakan keseharian saya. Untuk memvisikan lebih lanjut lagi (macam PTSP) ya saya harus membaca lebih banyak lagi.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Mei 25, 2015 in public policy

 

Tag: , , , , ,

Jealousy of Alternate Persona


Nuh-huh, I am misleading you with this title. I am now meditating, returning to Pooh corner or finding tranquil place to finish what I started: the story of Great Indonesia. So much for nothing if I don’t dig enough information on the subject. Yet, on how to finish the subject, too. Too anxious to start and finish this, I got so uneasy. But then again, I redirected my anger towards great reading and thinking further.

Now I am listing and checking on the crazy Kurt Vonnegut’s advise:

1. Use the time of a total stranger in such a way that he or she will not feel the time was wasted. CHECKED!
2. Give the reader at least one character he or she can root for. CHECKED!
3. Every character should want something, even if it is only a glass of water. CHECKED!
4. Every sentence must do one of two things — reveal character or advance the action. CHECKED!
5. Start as close to the end as possible. CHECKED! Hmm, tough though…
6. Be a Sadist. No matter how sweet and innocent your leading characters, make awful things happen to them-in order that the reader may see what they are made of. CHECKED!
7. Write to please just one person. If you open a window and make love to the world, so to speak, your story will get pneumonia. CHECKED!
8. Give your readers as much information as possible as soon as possible. To hell with suspense. Readers should have such complete understanding of what is going on, where and why, that they could finish the story themselves, should cockroaches eat the last few pages. CHECKED! Haha, love the sarcasm!

Or John Steinbeck’s?

1. Abandon the idea that you are ever going to finish. Lose track of the 400 pages and write just one page for each day, it helps. Then when it gets finished, you are always surprised.
2. Write freely and as rapidly as possible and throw the whole thing on paper. Never correct or rewrite until the whole thing is down. Rewrite in process is usually found to be an excuse for not going on. It also interferes with flow and rhythm which can only come from a kind of unconscious association with the material.
3. Forget your generalized audience. In the first place, the nameless, faceless audience will scare you to death and in the second place, unlike the theater, it doesn’t exist. In writing, your audience is one single reader. I have found that sometimes it helps to pick out one person—a real person you know, or an imagined person and write to that one.
4. If a scene or a section gets the better of you and you still think you want it—bypass it and go on. When you have finished the whole you can come back to it and then you may find that the reason it gave trouble is because it didn’t belong there.
5. Beware of a scene that becomes too dear to you, dearer than the rest. It will usually be found that it is out of drawing.
6. If you are using dialogue—say it aloud as you write it. Only then will it have the sound of speech.

Whatever! #LacakArtefak is more than physical but also mind-blowing stuff, OK? Waste no time on jealousy.

DSCN5118

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Mei 23, 2015 in public policy

 

Tag: , , , , , ,

Outbound, Inbound, Rebound in Tourism


This semester I am having a slightly different approach of teaching (AKA “methodology:?). For half of the semester, I only asked the students to forming and storming (out of four teamwork strategy: Forming, Storming, Norming, and Performing). The last two was meant something (surprise, surprise!) for them to conduct.

Amazingly, they catch up so fast. TOO FAST! And they are really performing, live search while I say a word in front of the class. Talk about speed of googling!

And what was the topic they need to form and storm? Yeap, not exactly related to the media business at first. It is about tourism. Why inbound? Why outbound? And nowhere to find for rebound?

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Mei 23, 2015 in public policy

 

Riset Laut


scherben

Malam ini belajar soal “riset laut”. Apa saja sih yang dimaksud dengan riset laut itu? Bagaimana membaginya? Siapa saja yang menjadi pakar di Indonesia? Apa yang saya cari? Ya apa saja…

Saya awalnya hanya melihat beberapa  hal terkait riset laut ini utamanya: Laut Pesisir (Coastal Ocean), Laut dan Perubahan Iklim (Ocean and Climate Change), Eksplorasi Laut (Ocean Exploration), Arkeologi Bawah Laut (Underwater Archaeology), dan Kehidupan/Biota Laut (Ocean Life). Tapi kemudian saya “nyasar” ke situsnya Persatuan Bangsa-bangsa, khususnya UN Atlas of the Oceans. Saya terpana dengan “site map” dari situs web ini. Ada 9 kategori utama dengan puluhan subkategori di bawahnya… amazing world of “underthere”!

  1. Energy . . . . . (ID#1883)
  2. Fisheries and Aquaculture . . . . . (ID#1815)
  3. Human Settlements on the Coast . . . . . (ID#1877)
  4. Marine Biotechnology . . . . . (ID#1882)
  5. Non-Consumptive Uses . . . . . (ID#1867)
  6. Ocean Dumping and Ship Wastes . . . . . (ID#1876)
  7. Offshore Oil, Gas and Mining . . . . . (ID#1875)
  8. Recreation and Tourism . . . . . (ID#1856)
  9. Transportation and Telecommunication . . . . . (ID#1855)

Terlalu banyak bahan, dan terlalu sedikit waktu. Fisheries! Fish culture! Fish governance! Neverending! *mau pingsan*

Ah… saya memang sudah salah jurusan yah? Dan saya sekarang masih berkutat di nomor 8. Hmmm… menarik. Enclave Tourism? Dampak negatifnya? Nyasar juga baca pdf ini. Hmmm… I really need you to know all of these, too, buddy! Oh well… if only.

#penghargaanmaritim

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Mei 18, 2015 in public policy

 

Tag: , , , , , , ,

Strategi Budaya Lagi: Fast Forward Thinking with Facts from the Past


sāma-bheda-dańůa adalah: pertama, setiap raja yang ingin membinasakan musuh-musuhnya wajib mencari sekutu (sāma) di antara kerajaan-kerajaan yang berhubungan baik, dengan perhitungan bahwa jika terjadi perang maka kerajaan yang menjadi sekutunya diharapkan memberikan bantuan atau setidak-tidaknya bersikap netral; kedua, dengan memecah belah (bheda); dan terakhir apabila memecah belah kerajaan-kerajaan musuh telah tercapai maka yang dilakukan ialah memukul (dańůa) musuhnya yang telah lemah (Wirjosuparto, 1968:22).

***

Menyambung posting dini hari tadi, saya hanya melihat dua pendekatan strategi: ofensif atau defensif. Ofensif itu seperti RRC (Republik Rakyat China) yang memiliki modal SDM dan pembiayaan kuat. Sejak membentuk SARFT (State Administration of Radio, Film and Television), RRC mulai menyebarkan virus-virus budayanya. Selain mendukung industri telekomunikasi yang kuat (baca: Clone Wars of Xiaomi vs iPhone), pemerintah RRC melalui BUMN perbankannya mulai mendanai mega-proyek produksi film layar lebar dengan mekanisme SPV (special purpose vehicle) alias perusahaan boneka untuk memperlincah gerak distribusi hingga mengakali pajak luar negeri. Dengan memutar uang di luar, tapi tetap mencekal perusahaan asing dengan bentuk kerjasama SPV di bawah BUMN inilah yang saya sebut “strategi ofensif”.

Sesungguhnya, Inggris Raya dan banyak negara-negara Eropa sudah lebih dulu membuat SPV di segala lini. Permasalahannya kemudian adalah “amunisi” untuk dijual ke luar itu terbatas. Mulailah dibuat strategi defensif dengan menuliskan semua tata cara budaya hingga mendigitalisasi semua buku, lukisan, foto, film dan seterusnya. Kebutuhannya selain untuk amunisi, mereka juga memerlukan bahan riset untuk pengolahan selanjutnya. Cerita berbingkai, salah satu yang mungkin menjadi turunan satu bentuk kebudayaan atau kesenian yang sudah diarsip dalam bentuk digital.

Indonesia dengan banyak pulau, dan beratus bahasa serta suku bangsa, mungkin tak jauh berbeda dengan Uni Eropa atau RRC atau India. Khusus dua yang pertama saya kutip di awal tulisan ini karena keduanya sudah memiliki sistem yang bisa dianalisis secara kasat mata, sementara India masih sama berantakannya dengan kita.

Lupakan RRC yang memiliki banyak modal. Dengan Uni Eropa, kita bisa belajar untuk berpikir berkelanjutan. Dengan data akurat (dan infrastruktur yang mendukung), sebuah bangsa dapat belajar budaya besarnya secara turun-temurun. Sejarah beberapa ratus tahun terakhir ditulis oleh mereka yang senang menuliskan. Gaya tulisannya ya suka-suka yang nulislah… mau ada Indonesia bagus, kalaupun tidak ya tidak masalah buat mereka.

Mari kita menuliskan versi kita sendiri… syalala think fast forward? Tentukan dulu jejak awal kita ada di mana. Logistik dan kekuatan pasukan kita itu penting sebelum maju ke medan perang. Siapkah kita?

What If the Largest Countries Had the Biggest Populations

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Mei 16, 2015 in public policy

 

Tag: , , , ,