RSS

Strategi Budaya Lagi: Fast Forward Thinking with Facts from the Past

16 Mei
sāma-bheda-dańůa adalah: pertama, setiap raja yang ingin membinasakan musuh-musuhnya wajib mencari sekutu (sāma) di antara kerajaan-kerajaan yang berhubungan baik, dengan perhitungan bahwa jika terjadi perang maka kerajaan yang menjadi sekutunya diharapkan memberikan bantuan atau setidak-tidaknya bersikap netral; kedua, dengan memecah belah (bheda); dan terakhir apabila memecah belah kerajaan-kerajaan musuh telah tercapai maka yang dilakukan ialah memukul (dańůa) musuhnya yang telah lemah (Wirjosuparto, 1968:22).

***

Menyambung posting dini hari tadi, saya hanya melihat dua pendekatan strategi: ofensif atau defensif. Ofensif itu seperti RRC (Republik Rakyat China) yang memiliki modal SDM dan pembiayaan kuat. Sejak membentuk SARFT (State Administration of Radio, Film and Television), RRC mulai menyebarkan virus-virus budayanya. Selain mendukung industri telekomunikasi yang kuat (baca: Clone Wars of Xiaomi vs iPhone), pemerintah RRC melalui BUMN perbankannya mulai mendanai mega-proyek produksi film layar lebar dengan mekanisme SPV (special purpose vehicle) alias perusahaan boneka untuk memperlincah gerak distribusi hingga mengakali pajak luar negeri. Dengan memutar uang di luar, tapi tetap mencekal perusahaan asing dengan bentuk kerjasama SPV di bawah BUMN inilah yang saya sebut “strategi ofensif”.

Sesungguhnya, Inggris Raya dan banyak negara-negara Eropa sudah lebih dulu membuat SPV di segala lini. Permasalahannya kemudian adalah “amunisi” untuk dijual ke luar itu terbatas. Mulailah dibuat strategi defensif dengan menuliskan semua tata cara budaya hingga mendigitalisasi semua buku, lukisan, foto, film dan seterusnya. Kebutuhannya selain untuk amunisi, mereka juga memerlukan bahan riset untuk pengolahan selanjutnya. Cerita berbingkai, salah satu yang mungkin menjadi turunan satu bentuk kebudayaan atau kesenian yang sudah diarsip dalam bentuk digital.

Indonesia dengan banyak pulau, dan beratus bahasa serta suku bangsa, mungkin tak jauh berbeda dengan Uni Eropa atau RRC atau India. Khusus dua yang pertama saya kutip di awal tulisan ini karena keduanya sudah memiliki sistem yang bisa dianalisis secara kasat mata, sementara India masih sama berantakannya dengan kita.

Lupakan RRC yang memiliki banyak modal. Dengan Uni Eropa, kita bisa belajar untuk berpikir berkelanjutan. Dengan data akurat (dan infrastruktur yang mendukung), sebuah bangsa dapat belajar budaya besarnya secara turun-temurun. Sejarah beberapa ratus tahun terakhir ditulis oleh mereka yang senang menuliskan. Gaya tulisannya ya suka-suka yang nulislah… mau ada Indonesia bagus, kalaupun tidak ya tidak masalah buat mereka.

Mari kita menuliskan versi kita sendiri… syalala think fast forward? Tentukan dulu jejak awal kita ada di mana. Logistik dan kekuatan pasukan kita itu penting sebelum maju ke medan perang. Siapkah kita?

What If the Largest Countries Had the Biggest Populations

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Mei 16, 2015 in public policy

 

Tag: , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: