RSS

Kelas Terakhir Semester Ini

27 Mei

3

 

Semester ini mungkin semester terburuk dalam pengalaman saya mengajar di FISIP UI. Sesungguhnya saya hanya mengejar data nyata agar tetap aktual dan “link-&-match” antara kampus dan dunia kerja kelak. Bolong mengajar itu tak dapat saya hindari, maklum masih kopral di tempat saya mengejar data seluruh Indonesia itu. Psstt… apa itu, masih rahasia ya…

Baiklah, mari kita fokus ke substansi bahan ajar saya. Bisnis media dalam kaitannya kampanye berhasil guna: Pariwisata Pesona Indonesia. Dengan sepuluh destinasi unggulan yang dipromosikan pemerintah hari ini, ada empat sampling yang saya kunjungi dan nilai kesiapannya. Apa bagaimana menilainya? Baiklah saya bocorkan sedikit.

Intinya adalah bahwa penilaian itu dilihat dari kacamata obyek pariwisata: wisatawan. Apa yang mereka lihat? Banyak. Salah satu yang sudah dikonsepkan secara global adalah laporan World Economic Forum “Global Travel and Tourism Report 2015”. Variabel indikator dalam laporan ini adalah variabel penilaian kesiapan kesepuluh destinasi, yang kelak akan dikembangkan menjadi 88 destinasi di seluruh Indonesia.

Nah, kelas saya semester ini harus berkutat pada angka-angka ini. Bagaimana bisa berbarengan antara kampanye ke luar, dan mempersiapkannya di dalam? Kampanye itu juga adalah untuk membuka mata setiap pemangku kepentingan di destinasi unggulan ini untuk “bermimpi” mendapatkan nilai terbaik dari setiap indikator WEF T&T Competitiveness Index. Hingga hari ini, Indonesia masih perlu memperbaiki posisinya. Kalau kita bekerja bareng, tentu bisa kok… dan jadi teringat posting satu kawan di media sosial perihal “menolak pariwisata” alasan merusak budaya dan alam. Cek lagi di nomor 6.02, 9.05, 13.033 (protected areas), dan seterusnya. Bacalah sampai tuntas WEF T&T Competitiveness Index yang dinilai dalam laporan yang jadi panduan pebisnis dan pengambil keputusan dunia ini. Semua itu harus harmonis.

Apa yang akan kamu lakukan jika arusnya sudah masuk sedemikian deras? Apakah tidak kamu lihat kaitannya pembangunan sebuah negara, fisik ataupun psikis, macam Singapura yang tak punya banyak nilai sejarah itu, tapi mampu melaju pesat seabad terakhir? Kalau cuma ngomel saja, ya memang di situlah saya merasa sedih. But not really. Luckily, I am glad that so far, that your negativity did not influence me at all.  I am on the right track. Scoot… scoot….

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Mei 27, 2016 in public policy, world economic forum

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: