RSS

Arsip Penulis: 4l3h

Tentang 4l3h

Playing Solitaire
Taut

(((I might not get the quantum help like it used to, but your legacy stays at heart)))

Here goes…

20246357_10211668798890222_1378040151991706377_n

Hari ini saya baru mendapatkan sinyal selular setelah 2 malam terombang-ambil di lautan. Melihat daratan, saya menjerit “Peradaban!”

Peradaban? Membaca lautan adalah pemikiran manusia maju. Bertarung dengan waktu dan gelombang tinggi adalah keberanian ekstra. Dan sayalah yang jauh dari peradaban itu. Heritage-Memory-Identity. Sudah sejak lama “memory” kita dihapus, artefak kita dirampok negeri mata biru, atau buku sejarah kita memulai peradaban Indonesia sejak 1945 oleh penguasa Orba. Sebelum itu Nusantara tak pernah ada dalam buku-buku pelajaran saya waktu SD, SMP, SMA dan kuliah.

Saya baru menyenangi sejarah dunia saat “tanpa sengaja” saya memesan buku di direct mail Book Club, sebuah buku terbitan King Fisher “World History”. Tak ada Indonesia di indeks buku ini kecuali “Srivijaya”. Itupun tersebut hanya satu kata, tanpa penjelesan panjang lebar atau ilustrasi lengkap macam Hittites, Semites, atau bangsa kuno lainnya.

Sungguh “memory” kita dihapus secara terstruktur oleh mereka. Walhasil, identitas kita pun sumir. Siapa bangsa Indonesia itu sesungguhnya?

Begini loh, teknologi kapal phinisi kita itu mengenal tiang “kepala angsa” yang berisi emas dengan konsep “sangkar Faraday” untuk penangkal petirnya. Teknologi membuatnya pun adalah “rangka kapal terakhir dibuat” setelah penutup badan kapal selesai dibuat. Kapal kayu ini dibuat tanpa sambungan paku atau materi modern lainnya. Kapal in pun mampu menyeberang ke Cape of Hope, Afrika Selatan hingga ke Mesir di utaranya Afrika, sejak abad ke-5 sebelum Masehi!

Semua ini tercatat di manuskrip dan prasasti di banyak tempat. Sayangnya, salah satu yang cukup besar di kawasan Asia dan Afrika, Perpustakaan Alexandria, konon dibakar habis oleh tentara Roma pada tahun 47 SM. Itulah cara Roma menjajah Mesir: hapuskan memori (perpustakaannya, buku-bukunya, dan segala rekaman peradabannya) untuk meniadakan identitasnya. Bahwa bangsa yang hilang identitasnya adalah bangsa yang bodoh dan “dibodohi”.

Ya, mahasiswa saya pun hari ini masih gemar mengkonsumsi tayangan Korea dan Jepang. Saya sempat menggemari tayangan Hollywood dan Bollywood dan Chinawood. Identitas saya sebagai bagian bangsa yang ‘pernah’ besar ini memang sempat hilang saat buku-buku sejarah yang disodori ke saya… tak ada kisah besar nenek moyang kita.

Mari kita rajut kembali memori kita tentang sebuah bangsa besar. Kisah itu pernah ada dan harus tetap ada untuk anak cucu kita. Shall we, Leh?

 

 

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juli 25, 2017 in Poros Maritim, public policy

 
Taut

Konten ini diproteksi dengan password. Untuk melihatnya cukup masukkan password Anda di bawah ini:

 
Masukkan password Anda untuk melihat komentar.

Ditulis oleh pada Juli 19, 2017 in public policy

 
Taut

I am learning the hard way.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juli 4, 2017 in public policy

 

Museum Naga


Museum Naga ini adalah konsepsi awal museum swadaya masyarakat, yang terletak di situs-situs cagar budaya di seluruh Indonesia. Datang ke satu situs cagar budaya, tentu kita tak hanya swapotret (selfie) saja, namun juga memahami esensi setiap sudut pandang cagar budaya tersebut. Museum adalah salah satu yang bisa menjelaskan dengan dokumentasi dan deskripsi situs itu atas 4 hal: artifacts, ecofacts, ancient architeture, cultural landscape. Semuanya budaya material, yang kemudian bisa menjelaskan budaya immaterial, seperti prosesi/tradisi dan pranata kehidupan di situs itu.

Ada hal menarik dari Situs Batu Naga ini, bahwa ukiran (carving) yang ada di dua batu tersebut (dan mungkin masih banyak batuan serupa terkubur di sana), adalah adanya gambaran manusia dan makhluk lain yang sedang melukan prosesi khas. Naga menjadi gambar utama di situ, dengan manusia (ukuran lebih kecil) yang sedang memegang ekor naga. Konsepsi naga di seluruh dunia tak sama, tapi ia menjadi semacam penjelmaan makhluk perkasa yang mampu membawa banyak hal ke dunia: prosper, or disaster?

Mari sumbang ide dan pernak-pernik untuk melengkapi Museum Naga, inisiatif dari warga Desa Banjaran, di kaki Gunung Ciremai, atau 1,5 jam dari ibukota Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Any ideas are accepted! Yiuuukkkk….?

13707669_10207199678258929_8490179138991235666_n

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juli 24, 2016 in public policy

 

Jambi Heritage: Another Steps Forward


Identifying and archiving what my friend and I have found for the last 3 months were pretty much satisfying. The first time I flew to Jambi was in 2005. Unfortunately, due to thick haze, the plane could not see the runway. Two times failed to land, the plane returned to Jakarta. My bad!

This year, I managed to go to Jambi for the tenth time now! How have I got so much going on inside my head, yet so little time and energy… and now I am looking forward to Malam Keagungan Melayu Jambi. I am not the rempong panitia, but I really look forward to it! As much eagerness to Candi Muarojambi next step to Unesco’s World Cultural Heritage, and Geopark Merangin to Unesco’s World Natural Heritage. Ah, one more thing, Tengkuluk or Kuluk could be one of Intangible Cultural Heritage, just like Batik (the process, the traditions, and its philosophy of motives). Gotta love ’em all!

 
 

Boris Exit


Politik itu sami mawon ya? Malam ini diumumkan pengunduran diri PM Inggris, Dave Cameron. Dave dipilih dari pemilihan umum. Kalau ia mengundurkan diri, ini artinya Ratu Elizabeth II bisa meminta PM ini diganti dari oposisi rejim Dave (Partai Konservatf). Demokrasi bilang (mungkin ya) kalau yang sekarag gagal, saatnya oposisi naik. Ratu tidak meminta, dan naiklah paket Theresa May dari Partai Konservatif lagi. Ada Boris Johnson di belakang May. Mister Boris ini mantan walikota London (2008-2016) yang dorong-dorong agar Inggris keluar dari EU (European Union) melalui mekanisme demokratis namanya: Referendum. Proses ini ngetop dengan istilah #Brexit itulah.

Demokrasi, sebuah konsep yang digaungkan seratus tahun terakhir dari negara mata biru hijau. Sebelum Perang Dunia Pertama, banyak daerah di dunia dipimpin raja, kaisar, tzar, emperor, sultan, dan seterusnya. Sebelum ada namanya Indonesia juga begitu. Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) itu konsep “kekinian” setelah Jepang mengusir Belanda dan menduduki tanah tajir ini untuk memasok minyak dan logistik pasukan perang Jepang di World War 2. Perang Dunia itu adalah orkestrasi rusuh Eropa-Amerika-Asia, dan nyaris secuil jazirah Arab-Afrika. Aliansi Eropa Barat (Inggris dkk)  dan Amerika Serikat yang bertarung dengan Axis 3 Negara (Italia, Jerman, Jepang) untuk saling mencaplok daerah kekuasaan.

PBB (Persatuan Bangsa-Bangsa) atau UN (United Nations) kemudian lahir sebagai kesepakatan bangsa-banga di bumi ini agar tak lagi caplok-mencaplok dengan kekuatan senjata ini. Doktrin “self defence arms”  atau United Nations Charter VII : Action with Respet to Threats to the Peace, Breaches to the Peace, and Acts of Aggression memang pernah “diplesetin” oleh George W. Bush saat menyerang Irak yang memiliki “weapons of mass destruction” yang kimiawi, biologis ataupun apapunlah… padahal sepertinya Irak punya uranium yang dikuasai lalu diselundupkan rejim Bush? Wallahualam…

Nah, apa hubungannya Inggris, Amerika dan Irak? Dua juta penduduk Irak tewas karena serangan defensif (oxymoron!) pihak Amerika rejim Bush (Partai Republik) yang didukung Inggris rejim Blair (Partai Buruh). Pasukan Amerika yang dikirim mencapai 148 ribu, dan Inggris 45 ribu. Apa yang terjadi kemudian? Perang Irak (2003-2011) merembet ke Syria. Lalu sebagian besar jazirah Arab ikut rusuh. Di lain tempat, beberapa anggota Uni Eropa juga mulai mengalami kegagalan ekonomi dalam negerinya. Banyak pengungsi jazirah dan urban Yunani atau negara tetangga ke Inggris di satu waktu *gabruk* itu artinya ya kesetimbangan (ekuilibrium) ekonomi domestik mereka juga turut terganggu. Penumpukan-penumpukan ini semacam bisul yang kemudian dimanfaatkan Boris Johnson untuk mendukung ide referendum. Boris ini politisi licin sih, karena ia memiliki banyak skandal dan kebijakan palsu, sama palsu dengan rambutnya aneh Donald Trump (xixixi… ups!)  Lalu Theresa May juga sama rusuhnya dengan kawan sepaketnya ini.

Membaca situasi chaos di sana itu harus membaca dalam banyak dimensi yah… dan bagaimana dampaknya untuk Indonesia dan regional ASEAN? Orkestrasi situasi, timing and momentum are the most important factors to protect (defense?) ourselves from bad pendulum. We could think of many scenarios, like the game theory taught me.. it must be a non-zero sum game. Never one time only. Keep it all updated, peeps..

 

 

Juicy Stuff, Away!


This is about supply-side vs demand-side policies. For the last couple of days I tried so hard to simplify and calming my roaring thoughts. Someone has already given me a direction to focus and overcome the chaos inside. But do I have priorities? There goes nothing…

NORMApembangunan

He reminded me some 2 nights ago, “What are you? A Bappenas planner or just plain secretarial evaluator?” The latter I must say. But this so called unlearning thing was not too easy to brave. I agitated and my hair went blundered side-ways.

Anyhows, I really need to finish this within a week. “Dimensi Sektor Unggulan” vs “Kelompok III Perpres 7/2015″… must get off me. I need to really focus on below stuf:

profile.75adf325f0cd134d32d1e9b88458ba7a

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juni 22, 2016 in public policy, TCCI, tourism