RSS

Arsip Kategori: advertisement

My Old Article (4): Krisdayanti joins famous people by building her personal website


KD

JAKARTA (JP): She sings well, dresses elegantly and also knows how to act. Krisdayanti is probably an Indonesian 21st century icon. And yes, she is on the Net, too, with her “”still-under-construction”” personal website. Check out http://www.krisdayanti.com if you are curious.

Often, a site with a domain name that uses one’s own name, personal site for short, is sometimes not established by the owner of the name. It could be established by a fan or a group of fans. The beautiful Malaysian singer Siti Nurhaliza, for example, has a site (www.sitinurhaliza.net) established by a geek fan.

The site http://www.leary.com was constructed by young people who had met or adored the deceased Timothy Leary. He was the fascinating ex-Harvard lecturer who wrote Chaos and Cyberculture and whose ashes were scattered in outer space.

The site http://www.leary.com was picked as the Net’s Best Site in 1996. By that time, there were not so many marvelous web designs: no sound, no video and no Flash technology. Flash, by Macromedia (www.macromedia.com for a free software download), creates animated vector-based websites.

Speaking of Flash technology, there is one local personal site supported by Flash: a site set up by techno-fiend media mogul Peter F. Gontha (www.gontha.com).

Okay, Krisdayanti and Siti Nurhaliza are pretty. Leary was a guru who envisioned cyberspace far before the Internet hype took root in the 1990s. If a businessman as great as Peter Fritz Gontha establishes his personal site with amazing vision, does this mean that he really keeps track of new technology in all media?

To find the answer, I logged onto http://www.gontha.com. With the so-called sophisticated Flash technology, I had to stare at a very long and boring “”loading”” tag. After that, I registered in out of curiosity. Unfortunately, nothing happened when I logged in again after registration. Ah, this is either a ghost site, a website that is no longer maintained but that remains available for viewing, or the owner just wants to keep the domain name. No vision yet.

Get a domain name

There are two ways to get a personal site. You can purchase a domain name (see http://www.netsol.com), or you can join a provider of free space, (e.g. http://www.geocities.com). Gontha’s site takes the first route. Many recreational users take the second.

Joining the second group, I used to have one at http://www.xoom.com before http://www.NBCi.com bought xoom.com. Soon afterward, there were none. By the way, it was really fun designing, typing and posting it. For someone like me — who cannot sing beautifully or envision the Net radically — I needed to give an intro of who I was. I pasted up a picture of myself. I also mentioned what I liked and did not like.

I really felt great about it until one day a friend of mine stopped by my site. He was a computer nerd who lived in San Francisco, USA. He said, “”It’s too naive””. I didn’t understand at the time. As I found out more about Internet security and privacy, I began to understand. I was just too naive to type my real name, age and address. This could be critical.

Back when there was only a small number of people logging onto the Net, online crime and information abuse was zilch. Today, even a college student like Steven Haryanto can say “”nothing personal”” explaining his dubious sites (e.g. http://www.kilkbca.com, http://www.klikbac.com, and so forth) that snared customers who mistyped Bank Central Asia (BCA)’s web address http://www.klikbca.com. The crime stops there though: he did not take advantage of people who mistakenly typed in their passwords. BCA accepted an apology before the matter was sent to court.

Madonna has fought for her domain name in court. The last time I logged in, her site http://www.madonna.com was a retired or invisible site (one which doesn’t exist anymore and results in a “”not found”” message when you type the address). Her domain name is her trademark. She has, of course, many bodyguards to protect her privacy.

Personal sites

You may want to look around for personal sites in your leisure time. There are millions of other personal sites you can look at besides the ones I mentioned above. Log in to http://www.yahoo.com and click “”members”” to view some. Or click geocities, which is owned by yahoo, for a browse. You may want to check out some other search engines, too.

Alternatively, you can randomly type in anyone’s name with .com or .net, for example http://www.miladay.com, which is not mine. Sometimes, typing a name may lead to a different site than the one I expected to find. I typed http://www.clinton.com to find out more about Bill Clinton, yet I found a registered investment advisor firm.

If you are interested in having your own personal site, please consider some rules. Rule No. 1: know how to design well and efficiently. Let the visitors enjoy it page by page. A bit of knowledge about web technology is Rule No. 2. Actually you can upload anything with a simple program like Microsoft Word. Last of all, Rule No. 3: beware of what and how to reveal information about yourself on the web. See but not touch. Touch but … keep it for yourself. It can be a cruel cyberworld out there.

Famous sites

Local: http://www.gontha.com (Peter F. Gontha), tya.iscool.net (Tya Subiakto), http://www.krisdayanti.com, http://www.anggun.com (Anggun C. Sasmi), http://www.peggymelatisukma.com,

Overseas: http://www.rupertmurdoch.com, http://www.leary.com (Timothy Leary), http://www.tlc.com, http://www.sitinurhaliza.net.

The Jakarta Post, Jakarta | Life | Sun, July 29 2001, 7:03 AM

 

Tag: , , , , , , , , , ,

Mempelajari Media Hari Ini


Tahun 1997 adalah tahun saya bergabung dengan salah satu kanal JV milik Malicak dan Star TV Hongkong. Sebelum wawancara dengan CEO-nya, saya harus menyiapkan sebundel materi cetak yang saya peroleh dari internet. Belum ada Google waktu itu, hanya Yahoo. Saya ingat mencari dengan mesin Yahoo itu menyebalkan; suka tersesat. Materi cetak itu untuk memberikan saya amunisi jika bertemu dengan Pak CEO yang bule itu. Tentu saja saya tak ingin gagap saat menjawab “What is pay-TV?”. Tentu saja, dengan amunisi sebanyak itu saya mampu menjawab tanpa gagap.

Hari ini saya masih membaca terus unlimited material yang ada di dunia maya ini tanpa harus mengeluarkan tiket pesawat atau kertas printout secarikpun. Saya masih ingin mengunyah dan mencerna fenomena media hari ini. Satu hal pasti, teknologi yang begitu pesat di luar sana, masuk ke sini hanya seujung kuku. Sampai hari ini tak banyak anak bangsa ini yang mampu mencari jalan bagaimana membuat alat dan infrastruktur yang memudahkan “sebuah media” bergulir mengikuti teknologinya. Silicon Valley di Amerika Serikat adalah surga bagi mereka, dan mereka yang bekerja di sana sekarang bukan lagi dikenal sebagai IT Nerds tapi Media Tycoons. Go figure…!

Saya masih membaca di sini dan di sini, bagaimana sekian banyak saluran audiovisual yang bisa ditonton kemudian menjadi seperti sekarang dan bagaimana model bisnis mereka mulai mencari jalan ke titik paling menguntungkan. Bayangkan Youtube adalah fenomena yang tak bisa diprediksi oleh orang kebanyakan 5 tahun lalu, namun hari ini bukan main pemasukannya. Jalur kabel serat optik bawah laut yang masih jadi perdebatan di negeri ini sudah digelar puluhan tahun lalu oleh mereka yang memiliki visi, seperti Singapura, Malaysia dan Jepang. Singapura telah memasang Wimax di seantero daerah bahkan hingga ke sepanjang pesisir negeri pulau itu. Tak ada sinyal internet raib di sana sepanjang kita duduk di atas mobil yang berjalan. Di sini? Haha, nanti banyak operator telko gulung tikar dan tak ada lagi pemasukan bagi negara.

Right on, selain IT Nerds dan Media Tycoons… saya singgung Telco Moguls. Ini adalah media hari ini. Konvergensi. Apakah kita siap dengan model bisnis dan segala perkembangan yang akan terjadi? Go figure…

 

Tag:

Belanja Iklan: Homo Erectus Toiletricus, sp


Hari ini kepemilikan pesawat TV di Amerika Serikat mulai menurun, belanja iklan untuk televisi di Indonesia tetap tinggi. Pertumbuhan iklan menurut sektor yang tertinggi adalah telekomunikasi, susu dan otomotif. Produk kecantikan (toiletries) yang saya pikir tetap tumbuh tinggi tak masuk 3 besar. Saya, sebagai warga urban Jakarta, adalah pengguna belasan macam merek dan jenis toiletri saat mandi hingga sebelum tidur. Sabun cuci tangan, sabun mandi cair, sampo, odol, obat kumur, tonik rambut, obat mata, pembersih muka dan kapas kecantikan, lotion badan, lotion tumit, pelembab malam, hingga vitamin malam. Ini hanya terhitung 3 jam sebelum tidur… bayangkan sepanjang hari sejak bangun!

Iklan membuat saya terlalu konsumtif untuk mempercantik diri (baca: menyamankan diri). Mencium wangi badan sendiri setelah seharian penat bekerja membuat pikiran sebelum tidur tenang. Iklan masuk ke pikiran kita secara kasar hingga halus, bahkan saat kita menonton film blockbuster atau klip video musik J-Lo terbaru: ada Swarovski dan BMW di situs Youtube. Produk-produk global masuk ke tayangan audio visual lingkup global. Bagaimana produk lokal seperti nasi gudeg Mbok Yam beriklan? Tentu ada pertimbangan khusus.

Pertanyaan kemudian, di tengah maraknya media sosial dunia: apakah iklan satu arah (push advertising) masih relevan hari ini? Dengan ulang tahun Telkomsel 100 juta pelanggan, yang bisa jadi sebagian kecil sudah berlangganan sambungan internet langsung, memudahkan si pelanggan mencari iklan yang ia inginkan (pull advertising). Ya, mungkin 100 juta telepon genggam bukan berarti 100 juta telepon genggam. Siapa tahu ada beberapa orang yang memiliki kartu prabayar setiap minggu atau bulan mengganti nomornya. Whatever…

Belanja iklan tak berubah banyak dari tahun ke tahun, sementara ratusan saluran TV di negeri beberapa mulai sekarat atau bahkan telah tumbang. Produk-produk konsumsi (bukan produksi) seperti toiletri telah banyak merambah jejaring sosial seperti Facebook. Berbagai permainan pun telah disertakan… mungkin satu hari nanti biaya beriklan produk-produk konsumsi tak akan memakan biaya mahal untuk “media placement” tapi lebih kepada “produksi yang lebih kreatif, gila, norak, lain dari yang lain”… it’s people matter, no more peoplemeter!

 

Tag: , , , , , ,

Beriklan Hari Gini: Collaterally, of Time and Space


Terlepas dari isi dan kreativitas produksi iklan yang tak terlalu menggigit, beriklan di televisi negeri ini adalah masalah penempatannya. Cara Agung Sedayu Group “membeli” jam tayang di 3 televisi sekaligus di saat bersamaan adalah cara berpikir pemasaran komprehensif (lihat jadwal di akhir pekan kemarin).

Saya malah takjub karena yang dipilih adalah 3 televisi yang slot satelitnya berderet di Palapa C2 (113.0°E) Global TV, Metro TV dan TVOne (khusus beam wilayah Asean Plus).

Dampak yang dihasilkan adalah keterlekatan pencitraan Feny Rose dan Agung Sedayu Group khusus untuk hari libur: belilah properti sebelum 1 September, harga naik. Beruntung saya sudah memiliki rumah, home not a house, so I don’t really need to scrutinize these 3 televisions on my leisure time.

Yes, I am Amelia Day, and I’ll be back after this.

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada September 2, 2008 in advertisement, business

 

Etika Seorang Profesor IPB


Iklan Tiga Roda.

Menggelitik, mengapa? Karena inilah iklan “obat” yang bukan obat untuk manusia: obat nyamuk. Bukan obat untuk menyembuhkan nyamuk, tapi untuk mengusir nyamuk. Bukan racun nyamuk, tapi obat.

Kesemrawutan istilah ini juga mengakar-urat ke instansi yang menangani pengaturan “si obat” ini. Tadinya saya berpikir, “Oh ini urusan Badan POM,” karena ada aturan main berjudul: Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 386/Men.Kes/SK/IV/1994 tentang Pedoman Periklanan: Obat Bebas, Obat Tradisional, Alat Kesehatan, Kosmetika, Perbekalan Kesehatan Rumah Tangga dan Makanan-Minuman (klik sini).

Saya salah.

Ternyata ada satu badan khusus yang menangani “si obat” ini, yaitu satu badan bekerja di bawah Departemen Pertanian yang disahkan dengan Keputusan Menteri Pertanian Nomor 342/Kpts/OT.160/9/2005 tentang Komisi Pestisida (klik sini). Salah satu tugasnya adalah melakukan evaluasi terhadap pestisida yang telah terdaftar dan memperoleh izin. Catatan: yang diatur sepertinya hanya registrasi pemain, bukan perilaku pemain, atau bahkan iklan dari produk pemain, apalagi bintang iklannya!

Lalu di mana pengaturan dan etika iklan obat nyamuk dan etika profesi dokter dalam iklan? Setahu saya sudah ada etika profesi dokter dalam mengiklankan obat. Maaf, obat untuk manusia bukan obat nyamuk. Setahu saya juga perihal “dokter dan iklan” memang diatur khusus baik dalam bentuk regulasi pemerintah atau etika asosiasi macam Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (P3I). Sayangnya, regulasi produk obat nyamuk ternyata “beda loket” sehingga ada celah kekosongan hukum. Etika profesi akhirnya bisa menari luwes di antara celah hukum ini.

Kesimpulan awal saya malam ini:

  1. Karena seorang profesor kedokteran hewan disumpah di bawah bendera Departemen Kesehatan;
  2. Peredaran obat nyamuk ada di bawah pengawasan Departemen Pertanian;
  3. Jadi sah saja IPB menjual tokoh akademisnya atau bahkan namanya untuk sebuah produk komersial yang bukan obat untuk manusia?

Sayang, di kala institusi pendidikan di negeri ini diharapkan lebih banyak melakukan 3P (pendidikan, pengabdian, dan penelitian) lebih kompetitif, IPB malah melakukan satu hal yang kurang etis.

Being a part in a commercial advertisement is totally a cheap way for a professor. There are other elegant ways for a big institution to gain donor for 3P, Sir.

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada Mei 19, 2008 in advertisement, business, etika profesi, iklan, IPB