RSS

Arsip Kategori: arts

Saya Bermimpi GKJ Menjadi Pusat Pentas Seni Budaya Indonesia


Sebulan terakhir ini, di Gedung Kesenian Jakarta diselenggarakan “Jakarta Arts Festival” dalam rangka ulang tahun Kota Jakarta. Saya mengajak anak saya (kelas 1 SD) melihat pentas drama romans tragis Soppeng-Luwu “We Sangiang I Mangkawani”. Drama ini hanya dipentaskan malam ini dan esok malam, Selasa, 23 Juni 2009.

Satu jam pertunjukan berjalan sang bocah sudah tertidur, tapi yang penting ia bertanya “Apa itu siri, Bu?” dan “Bajunya kayak yang pernah Ibu pakai ya…”. Ada antusiasme dari sang bocah melihat warna-warni nusantara yang tak bisa dilihat di buku pelajarannya.

Saya membayangkan acara seni budaya ini dibuat reguler tiap malam; yah, mirip Broadway. Bayangkan juga cerita-cerita klasik daerah seluruh Indonesia dipentaskan bergiliran di Gedung GKJ yang magis anggun itu. Mulai drama musikal hingga tragis pun. Sebagai fasilitas penunjang, banyak hotel di dekat situ disiapkan hanya untuk wisatawan yang khusus menonton. Ditambah lagi jika Pasar Baru yang berada di seberangnya diremajakan dengan standar internasional. Jika hari ini sekitar GKJ masih terlihat rusuh dan kotor, beruntung sebenarnya akses ke GKJ dari bandara itu lewat Kemayoran sangat nikmat: puluhan kilometer jalan hanya melalui satu lampu merah Gunung Sahari. Tak usah berbondong-bondong staf Depbudpar RI ke luar negeri untuk promosi. Lebih baik mengundang wisatawan asing ke Indonesia, devisa dapat, Indonesia makin terkenal dengan kekayaan budayanya.

Ah, itu cuma mimpi. Semoga KPU menganggap penting pernyataan para capres terhadap perkembangan dan pelestarian seni budaya di Indonesia. Mudah-mudahan debat capres yang akan datang juga menyentuh hal paling mendasar dari kita berbangsa, yang membedakan kita dengan negara lain di dunia. Semoga…

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada Juni 23, 2009 in arts, Bugis, business, culture, drama, government failure, Luwu, Soppeng, tragic

 

Reminisce the goold old days


*** And you coming back to me is against all odds
It’s the chance I’ve gotta take ***

Tapi lagu Phil Collins yang paling paling akhir ngetop di beberapa tangga lagu dunia bukan yang ini, tapi Another Day in Paradise. Setelah itu tak ada lagi number one hit-nya. Saya juga nonton konser Phil Collins di Ancol dahulu (hmmm, jadul!) dan menyesal karena tak ada element of surprise untuk audiens di Jakarta. Lebih bagus lihat rekaman konsernya via DVD (waktu itu mungkin masih VHS formatnya). Kalau mau beli DVD, saatnya adalah membeli Manhattan Transfer dan Matt Bianco yang juga mau ke Jakarta, sayangnya tiketnya… huhuy! Lebih baik uangnya beli stok kedelai ya?

Yang sudah kesampaian adalah menonton Michael Franks di Blue Note Jazz, Jakarta (kafe ini sudah almarhum lama) di akhir tahun 1996 atau 1997. I am terrible with numbers still. Situs http://www.michaelfranks.com baru naik lagi, bulan lalu tak bisa diakses. Michael Franks adalah PhD sastra Inggris yang tesisnya tentang lirik lagu. Banyak juga pelajaran sejarah dan mitologi saya dapatkan dari lirik lagunya. Terkadang lucu seperti Eggplant (yang artinya terong!). Atau sendu seperti How I Remember You. Paling utama adalah bagaimana ia membawa saya membayangkan tempat-tempat indah atau suasana hati yang gundah. Semuanya diracik dalam nota dan lirik yang…

*** If it’s true from the start
That the names of those we love
Are written in our hearts
And we’ll search ’til we find
In this jungle of Confusion
Something that reminds us
How we love each other
Then I think I’ve found the clue
Because I certain I remember you

… Like the sunlight that shines
Like the fragrance of the rose
No single word defines
We are tuned to the sound
That displays creation
That our lives revolve around
And searching for each other
From a million hearts we choose
You remember me and I remember you
***

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 3, 2008 in arts, curhat, songs