RSS

Arsip Kategori: banjarmasin

Java Jazz 2010 dan Jamban Terbesar Dunia


Saya mengucapkan selamat bagi penyelenggara Axis Jakarta International “Java Jazz Festival” 2010 (5-7 Maret 2010) atau disingkat JJF 2010 ini. Pak Peter Gontha telah sukses menyelenggarakan acara bertaraf internasional (seperti judulnya) dan bertempat di area luas dengan konstruksi audio canggih dan kenyamanan menikmati makanan seperti layaknya berada di arena makan di mal.

Sayangnya, beberapa kawan saya mengeluh soal penyelenggaraan yang berlokasi di arena Pekan Raya Jakarta, Kemayoran, Jakarta Pusat, ini. Keluhannya rata-rata soal “lokasi yang jauh” dari tempat tinggal mereka. “Lebih baik di JCC Senayan, sambil merem tengah malam atau bahkan subuh pulang pergi mah biasa.”

Itu kata kuncinya: biasa.

Saya melihat ada masalah psikologis: bahwa daerah Kemayoran bagi warga yang tinggal di selatan Jakarta adalah tidak biasa. Jika ditarik garis lurus dari Monas ke pintu gerbang utama Pekan Raya Jakarta (PRJ) ini seperti jarak Senayan ke lampu merah Kuningan; sayangnya dari Monas ke PRJ terlalu banyak lampu merah dan jalan berkelok.

Lebih makro lagi, lokasi Kemayoran yang strategis, selain dekat pintu tol arah Bandara Cengkareng dan arah Tanjung Priok, serta dekat dengan pusat pemerintahan, ia juga merupakan lokasi yang tak jauh dari laut sebagai sumber daya air dan alam yang melimpah-ruah: Teluk Jakarta.

Teluk Jakarta, seperti divisikan oleh Ali Sadikin, gubernur DKI Jakarta periode 1966-1977 (dua kali), merupakan daerah menyambut wisatawan dan pedagang dalam dan luar negeri. Daerah wisata Ancol merupakan rawa dan pantai tak bertuan sebelum dibangun seperti sekarang.

Tengok kemudian ke timur dan barat Ancol yang kian kumuh dan tak terawat. Tengok pula ke arah selatan di mana aliran sungai-sungai berawal sebelum bermuara ke laut. Sumber daya air dan alam seperti sungai dan laut akhirnya menjadi “JAMBAN” bagi warga Jakarta yang majemuk ini. Sungai dan laut tak lagi menjadi awal kehidupan manusia yang bersih dan bermartabat.

Hal yang sama juga terjadi di beberapa daerah di Indonesia. Kota dengan seribu sungai dan anak sungai seperti Banjarmasin mengharuskan warganya karib dengan sungai. Pedagang sayur di atas perahu salah satu keunikannya, tapi jangan juga lupa bahwa nyaris seluruh rumah di pesisir sungai membelakangi sungai, alias menjadikannya jamban. Mereka juga mencuci baju atau piring, serta menyikat gigi di tempat yang sama.

Bandingkan dengan Pantai Losari, Makassar, Sulawesi Selatan yang menjadi arena hiburan saat Trans Corp (induk perusahaan Trans TV dan Trans 7) mendirikan kompleks studio untuk daerah timur Indonesia. Visi pemerintah dan rakyat daerah sana yang berjiwa bahari (juga berjiwa saudagar) menjadikan Pantai Losari pusat fasilitas umum, sosial dan bisnis sekaligus. Bandingkan juga dengan Singapura dengan Sentosa Island atau Boat Quay.

Sayang memang, visi pemimpin daerah di Indonesia tak semuanya sama. Sutiyoso terkenal dengan kontroversi busway, dan sekarang, Foke ngetop dengan foto-foto dirinya di billboard sepanjang kota ini. Saking asyiknya berfoto, mungkin beliau lupa bahwa Jakarta adalah kota dengan pantai (yang pernah) indah dan Kepulauan Seribu sebagai mutu manikam yang seakan menari menyambut pelaut sebelum masuk ke Jakarta.

Jakarta bukan jamban terbesar dunia… tabik!

Iklan
 

Mandi, Cuci, Kakus, Transportasi, Dst.


Saya sekarang mengetik di satu warnet di Martapura. Dua puluh meja dan seluruhnya digunakan oleh “abege” di sini. Sedikit mewawancarai penjaganya; setiap pagi mereka harus membersihkan isi komputer dari file atau cookies porno. Inilah anak sekarang… di manapun. This is the power of fully informed generation!

Saya menikmati sekali perjalanan di sini. Tadi siang saya menikmati makan Soto Banjar paling nikmat di bawah satu jembatan. Restoran soto itu menghadap sungai. Saya memicingkan mata saat memandang kehidupan penduduk di atas air sungai ini. Rumah menjorok ke sungai dan segala kegiatan pun dilakukan di atas air. Mulai mandi, sikat gigi, mencuci motor atau baju, buang air, berjualan solar, memasak, dan transportasi berjualan hasil tangkapan ikan. Konsep sanitasi sungguh rendah di sini.

Saya beserta rombongan menyusuri sungai (yang saya lupa tanyakan apa) menuju Pulau Kembang yang banyak sekali monyetnya. Kapal motor kami diserbu monyet sesaat merapat di dermaga kayu. Kacamata saya bahkan dirampas satu monyet. Untung diberi kacang untuk menukar kacamata itu. Kaget dan sedih. Ternyata di sana penduduk lokalnya juga meminta-minta dengan desakan yang tak sopan. Pantas saja kelakuan monyet di sana juga kasar, meniru “majikannya” mungkin. Saya tak akan kembali lagi ke sana, kesan tak baik. Banyak sampah bungkus kacang Dua Kelinci, walau sesungguhnya pulau itu terlihat indah dari jauh. Visit Indonesia 2008? No way!

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada Maret 20, 2008 in banjarmasin, martapura, pariwisata, tourism