RSS

Arsip Kategori: blogging

Book Review: Crowd to the Bottom of It


I just finished reading a new book ‘Crowd’ by a marketer Yuswohady. Nothing new, at least for me. Ten-minute break for me.

The good side is the quality paper thus interesting layout. The flops, as I see it, are more to language. Easy to read, though sometimes it breaks the very basic of it: spelling. He tries to talk to the reader, but he forgets to warn the editor about putting the right dots, making sure permission on every quotation, or even finding the correct name of eminent persons. It’s Chris ANDERSON, for crying out loud, not Andersen.

More to that is that there is no further explanation on implementation for business, bureaucracy or other institution of Indonesia’s atmosphere. He also forgot to note that there are barriers such as: less Net connection than other countries, and  English is a number-three language in this country. For this scoring, I would say this book is rather camera-view reporting than enlightment.

Beyond all flops of the book, you may not want someone to steal your identity and personal info. For this security reason, do not visit http://www.yuswohady.com. Maybe the site’s owner did not realize this, but Mozilla has helped me to do “safe surfing”. His website has this malware warning sign about Phishing attacks. What are they? They usually come from email messages that attempt to lure the recipient into updating their personal information on fake, but very real looking, Web sites.

I don’t want anybody sending me emails or call my number without my consent. “Hello, I would like to set up an appointment for this business… bla bla bla.” If you are annoyed by this calls or spammers, do note that it all starts from entering a Web site like that.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Desember 25, 2008 in blogging, books, buku

 

Media Mlintir Susu?


Saya suka heran mengapa media kita suka sekali mengeksploitasi hasil penelitian dari satu sisi. Bahkan klarifikasi hari ini dari Ikatan Dokter Indonesia juga tak cukup kuat memlintir balik.

Tadi siang di salah satu radio di Jakarta sang penyiar menyitir bagaimana jika tak hanya susu bayi di bawah 1 tahun; bagaimana jika susu lansia juga mengandung bakteri enterobacter sakazakii? Saya pribadi merasa terpaan udara di Jakarta setiap hari bagi pengendara motor lebih mematikan daripada bakteri tersebut bagi orang dewasa.

***

Di saat tidak ada berita heboh (gempa berkekuatan di atas rata-rata atau koruptor meninggal misterius di tahanan, misalnya) terkadang media massa kita suka mengambil berita fantastis a la batik (bakso tikus) atau apapun yang merugikan konsumen. Juicy ‘eh?

Saya curiga efek salju berita susu bakteri ini diawali minggu lalu dari posting beberapa blog wordpress (mengutip artikel serupa sebangun) soal susu bakteri yang mendapat ketukan (hit) tertinggi (karena saya juga ikut nge-klik). Banyak yang mempertanyakan merek susu dan makanan bayi apa yang tercemar bakteri enterobacter sakazakii. Jurnalisme orang awam ini menyebar secara efektif efisien. Yang lebih hebat lagi:

  • tak banyak mungkin yang kemudian mencari informasi lebih lanjut dengan kata kunci “Enterobacter Sakazakii” yang ternyata ditemukan oleh peneliti Jepang bernama Riichi Sakazaki (1980) ;
  • tak ada yang kemudian mengambil hipotesis lain selain masalah “korporasi dan pemerintah yang tak bertanggungjawab”; mungkinkah diplintir menjadi hipotesis “adakah persaingan usaha tak sehat?”

Bayangkan, bakteri yang sama ini memang pernah terjadi di Eropa tahun 2002 soal produk Nestle di Belgia, Beba1. Merek susu ini dituduh menjadi pembunuh sorang bayi yang baru lahir. Salah siapa, bayi baru lahir diberi susu instan? Jika diberi pun selayaknya sepengetahuan dokter bukan? Sehingga masalah yang terjadi adalah kompleks dan lebih banyak human error dari pihak orang tua dan dokter sang bayi.

Kembali ke isu susu bayi ini, bayangkan ada sebuah penelitian dengan sampling kecil (yang mungkin bisa memiliki epsilon atau kesalahan sampling besar) serta tidak memiliki lampiran kajian lengkap tentang manfaat dan keburukan bakteri ini (atau wartawannya malas membuka lampiran?). Kemudian penelitian ini diekspos ke media massa sehingga menjadi konsumsi masyarakat umum. Salah siapa jika kemudian bergulir panik?

Bukan seperti panik orang tua di Belgia, karena di sini belum ada (dan jangan sampai ada) korban. Panik susu berbakteri mematikan ini seperti siklus semesteran. Namun yang lebih penting masyarakat jangan panik dulu. Sebaiknya pemerintah segera memberikan pernyataan resmi yang bisa menenangkan orang tua yang memiliki bayi baru lahir. Yang lebih baik lagi, wahai penyiar radio dan penulis blog, mohon kaji dulu semua aspek penelitian ini sebelum panik (atau membuat orang lain panik).

Mungkin memang ada saatnya satu generasi di negeri ini harus pasrah dengan air tajin. Which is good also, btw. However, I don’t have energy to find out any related studies on air tajin, sorry. I drink milk everyday, and I feel dizzy for ten or more minutes afterwards, why? I just hate its taste.

susu.jpg

 

Blog Juga Manusia


Podcasting, Wikis, Ontologies, Ruby on Rails, Concept mapping, Ajax, UDDI, P2P, SOAP, Mash-ups, Topic maps, REST, Re-mix, V-casting, Owl, P2P, Ruby, SOA, LAMP, WDSL, Blogosphere, Flex, Atom, SAML, PHP, Vlogs, Splog, RDF, XML, Folksonomies

Talk Your Blogwalk?

Awal nge-blog adalah text-base (ingat Wordstar?). Kemudian saya tambahkan gambar; masih hotlinks, sehingga blog pertama saya ditutup oleh pengelolanya. Walau saya sudah cantumkan kredit atas gambar itu, ternyata masih ada yang lebih penting dari copyright, yaitu stolen bandwidth.

Setelah itu memang lebih baik mencantumkan gambar di Flickr atau upload langsung dari WordPress. Kalau menggunakan Flickr sebagai media sosial berjaringan, gambar milik saya itu harus dipasrahkan untuk publik (kecuali di-tag private).

Tidak puas dengan gambar statis, saya cantumkan Youtube sesekali. Atau Slideshare.

digitalidentitymapping.jpg

Tidak puas dengan semua fasilitas standar WordPress atau Blogspot, ternyata masih banyak lagi langkah-langkah untuk membangun sebuah blog. Konsep Long Tail yang dikonsepsikan oleh Chris Anderson merupakan panduan saya selanjutnya. Kalau IRL, namanya sosialisasi (senyum sana, senyum sini, tukar kartu nama dst.)

Hari ini saya makin terjun bebas mencari tahu hal yang tak banyak ditulis dalam bahasa Indonesia ini, seperti:

  • Jangan membuat tag atau kategori yang tidak jamak. Berpikirlah seperti pustakawan membuat kategori. Tak ada tuh tag “Gak Penting” dalam jejeran bukunya.
  • Tak perlu menjadi seorang lulusan jurusan elektro untuk kuasai semua jargon (lihat kelompok jargon di atas), karena sudah ada Wikipedia atau Google untuk mencari definisi apapun. Sayangnya masih, “English, please.”
  • Jadilah blogstalker yang baik. Kunjungi blog kawan yang dikenal ataupun link dari blog kawan yang ternyata penuh dengan kejadian lucu. Jadikan diri menjadi orang iseng. Mengunjungi satu blog satu hari, sambil nyeruput teh manis hangat, sebelum masuk ke pekerjaan sesungguhnya di depan komputer, why not?
  • Yang lebih penting, tinggalkan jejak. Buatlah dialog dengan siapapun. Machine talks to machine, people talk to people. Make conversation (ini ucapan orang yang saya kutip, lupa di mana)

Kira-kira beginilah perjalanan seorang blogstalker yang baik dan benar seperti saya. Vanity, definitely my favourite sin.

* f a i n t e d *

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 9, 2008 in blog, blogging, blogosphere, Blogroll, dialog, vocab

 

Governing the New Private-Turned-to-Public Sphere


The president is a hot celeb? I found pic of Susilo Bambang Yudhoyono amongst other worldwide celebrities at http://www.riya.com, a picture search engine. From Hu Jintao to Kelly Hu (not related to the president) to Pamela Anderson, I found their nice, print-quality pictures. A digital picture has signatures (be found at properties). Riya search engine will look at the same signature the time any digital picture is saved, digitized and uploaded on the Net. I take pictures of me from my camera, and other pictures that have my signature or similar typography could be searched easily.

Crazy huh? I am living in a world that anyone could no longer hide, unless I am living in remote island Pulau Wetar or something. No electricity nor satellite phone.

In this crazy kind of world, I assume everyone is nice and reasonable. A nice blogstalker like me would not follow the virtual link to IRL. I send emails only to by beloved, real-life friends or colleagues. Never reply an email with “Assalamualekum” or “My Client Died and Left Some Inheritance to Noone” subjects.

I still wonder how on earth anyone could do such work, and noone got arrested for intruding with such emails. No governing bodies ever officially declared such thing as a crime. There is Internet Engineering Task Force and Social Media (from Wikipedia to Facebook, from Cyworld to Gawker Stalker) to consider as new institutions that govern the virtual world.

For me, whatever they are and do, I am going to be strict: draw a definite line of IRL and the virtual world. Or else I cannot explore other parts of beautiful beaches and mountains and heritage of Indonesia. I am just sitting here with my coffee and pajamas. Get a life?

 

Social Media 3.1


Version 1.0 : pertunjukan semalam suntuk Wayang Wong (di mana semua orang berkumpul, duduk, diam, tidur di tengah cerita atau ikuti ceritanya hingga habis)

Version 2.0 : beratus episode tayangan sinetron Angling Darma (semua orang mengikuti cerita yang berbelit, dengan hero & villain, suhu & murid, cinta & kekuasaan, dengan trik animasi naga hijau yang tidak menarik)

Version 3.0 : expensive, techie-trash, stand-alone personal websites turned into user-friendly, googled-easy, thousands-entries-per-day blogs

Version 3.1 : nodes & ties of new netizenship (make a political commitment to anonymity)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 7, 2008 in blogging, media, society

 

Blog: Private-sphere that Goes Public


There’s a time and a place and a reason
And I know I got a love to believe in
All I know got to win this time

I was “entertained” by the idea of “detailed reportage” on Soeharto (oh, not him again!). From the position of the bed to the pills he had to take before passed away, one TV producer posted a person to look after the details. Amazing, and what’s that for? IMHO, that is another way for “sorry and please forget anything?” This is the real power of one-to-many media: love or hate your subject.

Blogosphere is a many-to-many media. It is the realm of writing “seenak udel” that has the similarity of Soeharto’s reportage. Via blogging, I could turn my private life a little bit open in public. Thus I need to have “love” (or “hatred” which is not in any of my writings at the moment of typing). I need love in my writing to make everyone turn on, tune in, and drop out of any story. There are 25 ways to concept a blog beforehand. Pick one, and even gain some money out of it.

Seriously, I’ve been doing blogstalking for the last 6 hours, and I could love thus question any silly markings or wrong grammatical expressions. Most of all I laughed at some silly blogs. There is truth and “spices” that lie between exposing of her feelings out loud and not revealing any identities of whatsoever!

Well, that is blogging, dear. My private life that goes public. See a little bit, be entertained, and yet forget me the second you close this window (unless you bookmark this page online del.icio.us or with your Firefox facility).

46218gif.png

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 7, 2008 in blog, blogging, blogosphere, Blogroll, media