RSS

Arsip Kategori: buku

Books with A Capital “S”


Accompanied by my husband, I met a colleague from Mimika last night. Dinner took place at somewhere nearby Gramedia Matraman. After dinner, we talked while browsing the bookstore. My friend will leave to Mimika tomorrow morning. “Money,” he says, “is not a big a deal for me.” Yet books are rare in farthest east area, Mimika. True, but good books are also hard to find. For his interests, I could recommend some. I let him dig more after I pointed some titles. I bought myself a couple of books, too.

***

Tonight I heard that Gramedia Bekasi discarded a book out of the shelf. It is written by Mardiono (?) about Soeharto’s past actions, terrible ones of course. A woman customer complained that the book was insulting, and the store manager there showed off her authority fast. This is a terrible action number two!

Books.

Not so many people are willing to re-learn fast, even some are not willing to learn at all. I got acquainted with many many friends outside Java whom I just met once. Once in awhile I send them books or any writings that would help their works. They need to learn, re-learn and keep up with the latest happenings outside their hometown.

Today I might despise the idea of Gramedia Bekasi’s action today, but I shall learn and re-learn that the store manager might be just a bit scared of political-hocus-pocus kind of complaints. Or she is just as ignorant as the woman who complained.

Books with Soul are the ones I remembered, and many many friends of mine shall remember, too. There are many many books with Soul that I cannot read even if I cross out all sleeping hours for reading.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 3, 2008 in books, buku

 

Book of The Day


Kum Kum bahas NY Times!

kumkum.8thman.com

Memang saya yang telat beli buku Kum Kum yang satu ini (terbit 2006), dan terus terang juga ini bukan Kum Kum karakter film kartun zaman saya SMA (SMU?) dulu. Ia adalah kawan saya yang produktif. Saya kagumi Kum Kum karena memang selain produktif juga tajam terpercaya (aktual juga?). Nama aslinya Ignatius Haryanto, dulu di kampus dia dikenal dengan panggilan Kum Kum karena memang seperti Kum Kum. Pintar. Gembul pipinya. Walau kurang licin dibanding Kum Kum sang kartun.

Kali ini Kum Kum menulis satu topik yang sedang saya gemari: Krugman di New York Times (NYT). Tapi Kum hanya menulis New York Times “Menulis Berita Tanpa Takut atau Memihak”. Walau ada sedikit salah ketik nama (seperti Henri Subianto, seharusnya Henry Subiakto), secara menyeluruh buku ini membuka mata saya tentang jurnalisme yang tajam terpercaya sesungguhnya. Dahulu saya mengekang diri saya dari topik “jurnalisme” secara mendetail, karena memang fokus saya lebih kepada hal-hal yang lebih teknis. Hari ini pun tidak berubah, tapi karena New York Times menjadi pegangan bacaan pagi-siang-malam selain detikcom dan iht.com, curiosity killed the cat, saya harus membaca kupasan Kum Kum tentang NYT ini.

Kum membuka dengan kasus plagiat dan kode etik internal NYT yang bisa di-download (saya coba cari di situs internet, tapi belum ketemu). Kum kemudian mengupas sedikit tentang sejarah pendiri NYT, Adolph Ochs yang diturunkan ke menantu lelakinya hingga sekarang sudah keturunan keempat, Arthur Ochs Sulzberger, Jr.

Setelah itu, rekaman prestasi dipaparkan yang membuat NYT ngetop sebagai pemborong Pulitzer dari tahun ke tahun, bahkan khusus NYT panitia Pulitzer membatasi berapa banyak yang boleh digondol NYT dalam setahunnya. Terakhir Kum juga mengangkat krisis, penanganan, dan harapan ke depan bagi NYT.

Tulisan Kum ini tak terlalu tebal (119 halaman, ukuran kertas setengah A4), tapi yakinlah berkas penelitian yang dilakukan Kum berpuluh-puluh kali lipat jumlahnya. Saya terkadang suka heran saya orang yang mampu merangkum sekian banyak data informasi dan menyajikannya kembali secara ringkas dan jelas. Salut untuk Kum, dan masih banyak tulisan Kum di masa depan yang terus akan saya koleksi. Seperti NYT, tulisan Kum ini juga patut mendapat penghargaan. Serius!

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 2, 2008 in books, buku, journalism, jurnalisme, newspaper

 

Indonesia on The Move, atau Baca Indonesia Baca!


Paul A. Samuelson (2002) mengangkat isu adanya akademisi seleb sebagai “Nobel Prize Disease”, jauh sebelum Al Gore mendapat Nobel Perdamaian. Ulrike Malmendier dan Geoffrey Tate (2005) menyebut “Sports Illustrated Jinx” untuk olahragawan seleb yang menurun prestasinya tapi kerap tampil modis, atau “Sophomore Jinx” untuk pemain film yang debutnya gagal.

Malmendier dan Tate juga mengkaji superstar CEO yang ternyata terbukti secara empiris tidak menghasilkan pemasukan berarti bagi perusahaan yang mereka pimpin. Harga saham perusahaan menurun, pemasukan juga tidak kunjung membaik selama mereka menjabat (baca tulisan Malmendier & Tate di sini).

***

CEO di perusahaan multinasional di Amerika seperti Michael Eisner (The Walt Disney Company) juga dianggap dibayar terlalu tinggi sementara kiprahnya membuat Disney nyaris bangkrut. Selama tahun 1998, satu orang bernama Eisner mendapat US$565 juta yang bernilai sama dengan honor 65.700 pegawai Disney setahun di seluruh dunia dengan angka pukul rata US$8,600 per kepala.

Eisner juga adalah sosok flamboyan. Ia menulis beberapa buku di antaranya Work in Progress dan Common Sense and Conflict: An Interview with Disney’s Michael Eisner. Lebih banyak lagi buku tentang Eisner ditulis orang lain. Eisner juga lebih banyak hadir di acara-acara gala dan menerima penghargaan mulai NAB Hall of Fame Awards hingga Exemplary Leadership in Management Award (ELMA). Ia juga senang berseteru dengan cucu dari Walt Disney yang menyebabkan dirinya mengundurkan diri tahun 2005.

Selama menjabat CEO Disney, Eisner sendiri tercatat banyak mengambil keputusan-keputusan yang merugikan korporasi. Memberi pesangon pimpinan studio Jeffrey Katzenberg yang seharusnya bernilai US$60 juta menjadi $280 juta. Dia juga membangun theme park di luar Paris sementara sentimen rakyat Perancis terhadap budaya asing sungguh amat tinggi; hal ini menyebabkan taman itu bangkrut.

Beberapa keputusan lain yang membawa korporasi Disney merugi, di antaranya adalah akuisisi saluran televisi berlangganan Bravo! dan Independent Film Channel dari Cablevision Systems Corp. Ia juga dianggap membayar terlalu mahal terhadap pembelian saluran TV ABC Family Channel. Yang terparah adalah saat Disney membeli ABC yang akhirnya merugi.

***

Tanah adalah obyek imperialisme masa lalu, dan Columbus adalah agennya. Hari ini, Corporate America adalah penguasa dunia yang tak lagi terlalu rakus dengan tanah. Selain tanah, ada hal lain yang tak bisa diperbaharui tapi lebih seksi bagi para penguasa dunia ini. Uranium dan minyak adalah obyek hari ini, dan Eisner adalah salah satu agennya. Bagaimana media televisi dan film layar lebar Amerika Serikat telah mendominasi global, lihatlah film tentang Perang Dingin hingga Perang Teluk ataupun peristiwa 9/11 (kecuali karya Michael Moore, tentu). Perhatikan setiap film layar lebar produksi Hollywood atau film seri berlatar-belakang New York, bendera (atau lagu kebangsaan) Amerika Serikat pasti muncul di latar depan atau belakang beberapa adegan. CNN juga tak harus selalu cover both sides. Dan seterusnya…

***

Belajar dari kegagalan Eisner ataupun progres Corporate America hingga ke Indonesia, ada baiknya kita berbenah di dalam. Salah satu yang mungkin bisa mengawali langkah bersama adalah “membaca” segala sesuatu yang menggunakan bahasa Inggris. India dengan puluhan dialek dan bahasa daerah aseli India mampu menjadi penerbit buku berbahasa Inggris terbesar ketiga di dunia setelah Inggris dan Amerika Serikat. Indonesia? Setelah mengisi perut dan mencuci mata, membaca bahasa Inggris masih jauh di bawahnya. Bayangkan, menulis dalam bahasa Indonesia saja masih di nomor urut kesekian, apalagi menulis dalam bahasa Inggris!

Apa yang dilakukan Presiden SBY hari ini–yaitu meluncurkan kompilasi pidato dan tulisan dalam buku berjudul Indonesia on The Move–selayaknya memiliki backward & forward effect bagi rakyat negeri ini. Seorang presiden adalah pengambil keputusan tertinggi di negeri ini, seperti halnya gereja di masa lalu–yang mampu menyuruh pemusnahan buku pasca-temuan mesin cetak Gutenberg.

Peluncuran buku Indonesia on The Move di sebuah toko buku komersial, merupakan titik koma dari industri buku di negeri ini. Ada sedikit catatan yang harus dipertimbangkan:

  • Sayang jika buku ini hanya sekadar “ditempel” dengan peluncuran toko buku pasca-renovasi gedung, yang notabene masih saudara dari Harian Kompas.
  • Sayang jika pajak buku dihapus per Oktober 2007 namun belum mendorong penurunan harga buku. Pokok biaya terbesar masih dipegang oleh harga kertas dan distribusi. Bayangkan hari ini 62% pasokan bubur kertas (pulp) di Indonesia masih disuplai oleh tersangka pembalakan liar PT Riau Andalan Pulp and Paper dan PT Indah Kiat Pulp and Paper. Bayangkan juga bagaimana jalur distribusi buku bisa mencapai ke Pangkalan Bun (Kalimantan) atau Bungo (Jambi).
  • Sayang jika tak ada penulis diberi insentif internal (keringanan pajak penghasilan atau tambahan subsidi) atau insentif eksternal (dilindungi karya ciptanya atau dipasarkan karyanya ke seluruh Indonesia).
  • Sayang jika tak dibarengi dengan kebijakan pendidikan formal yang mewajibkan bacaan sastra ataupun biografi tokoh sejak kecil. Apalagi menuliskannya…

***

Presiden bukanlah CEO an sich. Peluncuran buku tak selayaknya jadi turnamen popularitas semata. George W. Bush meresmikan Indonesia Education Initiative senilai US$157 juta untuk mempromosikan Sesame Street Indonesia sebagai langkah yang lebih konkret untuk pamer Corporate America. Jika menonton film Hollywood tentang negara Iran atau China, posisikan diri sebagai orang Iran atau China agar tak terjebak sebagai korban propaganda semata. Masih banyak lagi hal lain yang bisa dipelajari, tentu jika kita mahir membaca (atau menonton) dalam bahasa Inggris.

Saya belum membaca Indonesia on The Move. Kalau ada resensinya, tolong email ke saya. Jika bagus, tentu saya akan membelinya. Yang pasti, malam ini ada satu pertanyaan yang menggelitik di kepala saya: “Jika benar Indonesia sedang bergerak, kira-kira ke arah mana ya Pak Presiden?”

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Desember 29, 2007 in buku, corporate america, presiden, propaganda