RSS

Arsip Kategori: business

How to Define A Crisis


As your business involved in a crisis, you can lay low and hope the problem passes. Fat chance! Or, you can develop a response and present your side of the story. Your call.

Behaving like an ostrich, you watch a crisis unfold dan grow. You could surely go down the drain if the crisis blasts off. Take Lapindo as an example. Starting out from the word “efficiency”. Yepper, they were cutting costs drilling down the earth not with full safety tools. Alas, the efficient tools hit something then the mud kept bursting out. It has grown fast than anyone could ever imagine. It went from a tiny local operational mishap, to national blunder. Last barb is with Tempo Magazine. By all means, zillions of rupiahs shall be the pitched and tossed on the table. All five Bakrie’s public companies are sitting at the brink of terrible debts.

If you don’t seize the opportunity and define the situation, chances are good that someone else will do it for you. That the media shall not take it for granted. That the people shall sue your negligence. That the government shall blow the whistle. Being proactive always takes less energy and effort than trying to react in the aftermath.

Really, how are you going to define a crisis? There are steps. Assessment and expertise. Know the very bottom of the problem. Expose it to your stakholders. Reimbursement for the victims–if there is any–as quickly as you can. You may wish to develop, in advance, model statements to provide to the public and media during likely crisis scenarios. There you go. Make a matrix of possible future scenarios when a crisis occurs.

Too long to discuss here, but there are many books you could quote on this. One sample, ” Strategi Public Relations – Bagaimana Strategi Public Relations dari 36 Merek Global dan Lokal Membangun Citra, Mengendalikan Krisis, & Merebut Hati Konsumen” by Silih Agung Wasesa.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada November 23, 2008 in business, crisis

 

Domo Arigato. Rp 10,000 entrance fee?


Katanya sih persahabatan Indonesia-Jepang, sayangnya masuk ke sana “tidak bersahabat”. Saya sesungguhnya datang ke sana dengan niat baik “persahabatan” itu tadi, tapi dasar saya merki (baca: pelit), saya urung masuk ke dalam pameran kerjasama Jepang-Indonesia ini karena harus membayar Rp 10 ribu. Saya pikir untuk mengetahui apa saja produk Jepang tak usah payah, tinggal google saja, bukan? Lagipula masih banyak museum seribu rupiah sekali masuk yang lebih baik saya kunjungi bersama anak-anak. Buat rakyat seperti saya, nilai uang seperti itu berarti benar.

Jika sore ini saya urung ke sana bersama keluarga, ada sedikit pelipur lara dalam perjalanan ke tempat parkir. Saya bisa lambai-lambai tangan saat papasan dengan RI 2 — lengkap tujuh mobil dan 4 motor pengawal — menuju pameran yang berlokasi di Kemayoran, Jakarta ini. Saya bangga bisa berada dua meter di sebelah mobil iringan wapres tanpa diusir.

Saya punya lagu enak… buat menemani tidur malam ini.

klik sini

 

Spectrum Management


Saya baru saja ditelepon seorang kawan dari sebuah majalah ekonomi untuk sebuah opini menjelang tidur. Karena topiknya seksi. izin penyiaran, saya tak jadi tidur. Sekarang malah larut dalam membaca tulisan-tulisan di Ofcom (Office of Communication), kiblat saya untuk sebuah good governance terkait pengaturan infrastruktur komunikasi (penyiaran ada di dalamnya).

Saya tak mau beberkan isi telepon tadi, silakan baca majalahnya kalau keluar nanti. Malam ini saya mau membahas regulasi Ofcom terkait manajemen spektrum frekuensi, yang dikenal dengan nama command and control. Ofcom telah menerapkan regulasi spektrum yang top-down ini selama 100 tahun terakhir. Dengan perkembangan kebutuhan versus penggunaan, yang juga terkait hal isi siaran (bahkan teleponi pun telah menjajakan jualan audio videonya dengan gencar), pengaturan Ofcom ini diubah. Mekanisme pasar akan lebih ditekankan menjelang tahun 2010.

We believe that market forces should be allowed to prevail where this is in the best interests of citizens and consumers. This is based on the belief that firms have the best knowledge of their own costs and preferences and a strong incentive to respond to market signals and put resources to their best possible use (Ofcom, Spectrum Framework Review, 2004).

Liberalisasi manajemen spektrum ini menawarkan dua mekanisme:

  • Pertama: berdasarkan variasi izin untuk menerapkan perubahan yang diminta oleh pengguna/pemohon. Ofcom akan mempertimbangkan berdasarkan kewajiban yang telah pemohon lakukan selama beberapa waktu terakhir. Jika baik, Ofcom akan mempertimbangkan apakah permintaan ini akan mengganggu atau tidak mengganggu pengguna lain.
  • Kedua mekanisme yang ditawarkan Ofcom untuk berbagai macam izin yang telah ada adalah dengan mewajibkan mereka tidak menggunakan dengan percuma (tidak siaran, atau kadang siaran kadang mati) serta tidak menggunakan standar teknologi tertentu/minoritas. Hal ini akan mendorong pengguna spektrum mengubah pemakaiannya tanpa harus memberitahukan Ofcom. Ofcom telah mendata semua untuk penerapan tahun 2005. Banyak hal teknis yang harus diatur pada akhirnya, jika pengguna ingin menjalani mekanisme ini.

Menarik ya?

Tapi saya sudah mulai mengantuk. Saya simpan dulu file pdf ini (klik sini untuk mengunduh). Selamat istirahat.

 

Dunia ini dikuasai segelintir…


Resesi sudah datang di salah satu pusat perdagangan dunia terbesar, Amerika Serikat, karena kredit macet di saat pembeli rumah di sana tak mampu mengembalikan cicilan. Ditambah lagi pola hidup debt diet yang dianjurkan Oprah Winfrey itu tak mampu membendung nafsu konsumerisme warga Amerika Serikat. Tambah runyam lagi saat government spending sana disedot untuk membiayai tentara perang, bukan membangun pabrik dan jalan. Produksi stagnan, konsumsi tinggi, tak ada surplus ekspor impor yang signifikan.

Presiden negara itu, yang banyak dinilai error oleh rakyatnya, minggu lalu menandatangani Emergency Economic Stabilization Act, alias peraturan gawat darurat untuk perekonomiannya. Disebutkan di sana bahwa pengawas bursa (SEC, stock exchange commission) harus berkoordinasi dengan bank sentral dan departemen keuangan untuk membuat mark-to-market accounting, dan harus melaporkan kembali ke kongres dalam 90 hari ke depan. Lehman Brothers/LB dan Fannie Mae Freddy Mac, Wachovia dan Wells Fargo,  are strictly supply-demand thing. Institusi finansial ini tak punya masalah “pabrik macet” atau “kehabisan bahan produksi” karena memang mereka hanya usaha jasa: menyalurkan uang untuk mendapatkan keuntungan nilai. Di saat uang tersebut tidak kembali lagi, alias kredit macet, maka nilai keuntungan itu tidak kunjung datang malah kemudian membuat lubang kian lebar. LB sebagai satu usaha finansial terbesar keempat di Amerika Serikat menyiapkan sekoci namun terlambat. Di saat tak ada yang mau membeli aset “bodong” LB, tak ada jalan untuk spin off some of its toxic assets to shareholders.

Apes, LB kemudian menyatakan diri bangkrut, di saat itu pula Amerika Serikat dan dunia guncang. Salah satu dampaknya, jelas 26 ribu pegawai LB akan kehilangan pekerjaan. Selain itu juga investor dunia mulai menahan diri untuk menanamkan uangnya di institusi finansial Amerika Serikat, alias tak ada investasi masuk ke negara adidaya ini. Ekspor ke Amerika Serikat akan terhenti karena membebani anggaran mereka. Akhirnya tak ada uang untuk membangun jalan dan pabrik dan infrastruktur produksi dalam negeri, karena harus menggelontorkan AS$700 milyar untuk menyelamatkan institusi finansial bermasalah (tak hanya LB saja loh!).

Bayangkan dampak bola salju yang akan menghajar negara adidaya ini. Titik henti bola salju itu ada pada saat: LB tak ada yang mau beli. Nasib serupa sedang menghantui institusi finansial lain seperti Merrill Lynch & Co Inc., sehingga pemerintah negara-negara Eropa segera menjamin bahwa tabungan warganya aman di bank lokal mereka. Kalau Indonesia kemudian ikut-ikut panik dan banyak pakar bilang “Hey, harus ada rencana antisipatif untuk ini!”, kok saya melihatnya seperti semut teriak di tengah gajah-gajah kebakaran jenggot ya? Hehehe…

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Oktober 6, 2008 in business, chaos, recession

 

When in doubt, challenge the strategy, not the tactics


Malam ini saya belajar lagi dari blog Seth Godin (klik sini). Kalimat ini berlaku saat sebuah korporasi bingung menetapkan format iklan untuk sebuah kampanye. Skala mengkritisi brosur seperti yang disampaikan Seth Godin ini berlaku antara “great!” lalu “cuma ganti ukuran font…” hingga “untuk apa membuat brosur?”. Sejenak memang Seth Godin bisa memberikan pencerahan atas tindakan korporasi ini. Saya malah melihat “beyond advertising strategy” yang bernilai komersial. It is beyond that.

Terkadang kita melihat sebuah kampanye iklan itu dalam kerangka detail, hingga satu eksekutif bisa bertengkar hebat dengan eksekutif lain tanpa akhir. Saya pernah duduk di satu rapat yang cukup produktif menghasilkan detail kampanye iklan (waktu itu kami mau merumuskan tagline bagi Liputan 6 yang baru lahir).  Mbak Indrit, waktu itu direktur operasional, dengan cantik dan renyah mengarahkan kami memikirkan tagline itu. “Ayo kita urutkan bahasa Inggrisnya dulu, nanti kita cari bahasa Indonesia-nya”, keluar dari bibir Mbak Indrit yang lulusan Boston University itu. Dari arahan yang sangat sederhana itu, kami bisa menghasilkan tagline “Aktual, Tajam, Terpercaya” yang masih digunakan hingga hari ini, sudah lebih dari 16 tahun lamanya.

Disalib oleh Metro TV yang melulu menayang program berita, lalu hari ini oleh TVOne, SCTV kemudian harus berpikir ulang untuk mempertahankan program beritanya. Tak sekadar memindah jam tayang lebih awal atau mengganti setting studionya. Secara sederhana saya melihat persaingan news source dalam sebuah manajemen stasiun televisi (terutama yang memiliki tiang pemancar di banyak provinsi) ada dalam kajian kompetisi yang sehat:

1. Metro TV tak lagi memonopoli berita, walau telah mendominasi dengan berbagai format dan kerjasama. Satu rumor internal menyatakan program “Kick Andy” adalah program filantropis sang pemilik TV, karena terbukti setiap tayang program ini bleeding, tak bisa menghasilkan profit. Program pencitraan ini menjadi penting dipertahankan Metro TV agar tetap berdiri dengan tegak melawan head to head dengan TVOne.

2. Sejak berubah nama karena berubah kepemilikan (heck, another point to discuss later!), TVOne juga tak lagi berniat menjadi TV olahraga. Satu hal pasti, membeli hak siar Liga Inggris atau liga-liga terbaik dunia adalah mahal. Memproduksi berita, dengan kesiapan infrastruktur di setiap daerah, tentu lebih menguntungkan. Jika telah membuat format yang menarik perhatian, seperti Tina Talissa yang mengingatkan saya dengan gaya Ira Koesno waktu itu, TVOne kemudian mencuri porsi pemangsa berita di malam hari dari Metro TV.

3. Bagaimana dengan SCTV yang masih berkutat dengan “all-you-can-watch TV station”? Percayalah bahwa “Liputan 6” sudah menjadi merek sama kuatnya dengan “Headline News”, namun saya pribadi lebih menunggu update berita setiap jam dari Metro TV daripada sekadar duduk di sore hari menonton Liputan 6 secara penuh. Apakah SCTV akan mengubah strateginya, mengikuti dua TV berita di atas, ataukah akan membuat terobosan lain sebagai televisi dengan tayangan segala rupa?

Not so fast, kita lihat dulu beberapa latar belakang sebuah stasiun TV.

Kembali ke Seth Godin dan frasa yang dituturkan di artikelnya (lihat judul di atas), saya kemudian melihat bahwa ada beberapa hal jika ingin menilai stasiun televisi berita yang baik:

1. Skala ekonomi dan cakupan ekonomi dari pengumpulan dan pendistribusian berita yang bisa menekan biaya produksi di daerah-daerah hingga meningkatkan akses ke berita internasional;

2. Akses untuk manajemen berita yang lebih baik (dari luar negeri dan media lain) serta talenta terbaik (seperti jurnalis dan presenter andal);

3. Peningkatan akses ke modal asing untuk membantu alat perangkat pemberitaan tanpa mengganggu akses editorial;

4. Peningkatan akses ke teknologi pengumpulan, pendistribusian serta penyuntingan berita akurat dan cepat.

Dari sini, dan dari analisis kompetisi terhadap 2 stasiun televisi berita (lapis pertama untuk dikaji) dan ratusan televisi lokal-nasional lain (sebagai lapisan kedua yang dikaji) yang harus dilihat SCTV akan memberikan satu pandangan baru.

1. Jika ingin menjadi stasiun berita penuh nomor 3, SCTV harus berani menjadi nomor 3 dari televisi berita yang tak banyak dapat kue iklan gado-gado. Kelak stasiun TV akan mendapatkan banyak cipratan iklan kampanye partai atau kandidat presiden, tapi jika dibagi 3, akankah cukup untuk operasional sehari-hari?

2. Jika tetap ingin menjadi “all-you-can-watch TV station”, sepertinya SCTV juga harus mengembangkan merek “Liputan 6” dengan langkah lebih strategis lainnya. Sekarang program ini memang sudah masuk ke internet dan handphone masyarakat kita, yang saya pikir masih terbatas secara format dan akses. Apakah sudah dipikirkan pengembangan platform lain? Give you a hint: transmitted via satellite, dedicated 24 hours like Astro Awani, and free-to-air or placed in basic package… another platform, another resources for undecided voters?

Yeah right…

 

Sekali Lagi, Microsoft Kena ‘Priiit!’ di Jepang


Mungkin saya naif, mungkin juga membaca dalam bahasa Inggris masih tertatih-tatih. Satu hal pasti yang dapat disimpulkan saat saya membaca putusan FTC Jepang terhadap Microsoft (klik sini untuk beritanya, tentu dalam Bahasa Inggris) adalah perihal exclusive dealings. Tentu saya harus membacanya ekstra-konsentrasi. Ditemani lagu Simply Red lama, Star, saya menikmati membaca putusan FTC ini.

“…[T]he Microsoft clause barred the companies from taking legal action against the software maker even if they found that parts of its Windows product violated their technology patents.”

Nah, siapa bisa membantu saya menerjemahkan kasus ini dalam bahasa sehari-hari yang lebih akrab?

Hmm… kalau saya membacanya singkat: spyware. Ada yang tidak setuju?

Mungkin ada blogwalker yang bersedia membantu menerangkan, sekali lagi, dalam bahasa Indonesia yang fasih.

Inilah waktunya kita sebagai bangsa Indonesia belajar betul bagaimana mengapresiasi hak paten atau hak kekayaan intelektual. Dirjen Paten kita selama ini hanya berkutat di masalah hak paten barang dan jasa kreatif dasar (maksudnya batik, tokoh sinetron, dll.). Ada baiknya sekarang kita belajar lebih lanjut lagi perihal inovasi teknologi, yang membawa dampak berlipat bagi pertumbuhan ekonomi masyarakat. Pertanyaan OOT (out of topic), mengapa KPK belum merambah sistem korupsi di birokrasi. Kalau cuma tertangkap tangan, mudah. Bisakah KPK sampai memutus sistem bobrok dana kickback setiap ada proyek di birokrasi, karena jika tidak bisa tentu akan ada high cost economy kronis bagi negeri ini. Bagaimana mau berinovasi dan berkreasi, jika sedikit-sedikit uangnya untuk Pak Dirjen hingga penerima surat permohonan masuk. Masih ingat ‘kan cerita saya waktu di kantor Pak Dirjen di Tangerang? Klik sini kalau mau baca cerita basi itu.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada September 19, 2008 in business, competition, corruption

 

No Case, Dude


Esensi dari persaingan usaha yang sehat adalah mutlak hari ini, di mana perdagangan internasional adalah segalanya untuk menggerakkan perekonomian setiap negara. Jika terjadi satu dua kasus yang menjadi pokok bahasan persaingan yang tidak sehat, ada kalanya memang karena entitas usaha terlalu dominan menentukan pasar dari hulu ke hilir. Ada kalanya pula merupaka rekayasa bola bilyar (tek-tok!) yang dibuat pesaing. Banyak trik kerah putih untuk menjatuhkan pesaing, mulai merusak produk dalam kemasannya hingga mencari skandal yang tak perlu.

Pagi ini akah diadakan jumpa pers perihal kepemilikan saham Astro All Asia Networks plc (AAAN) sebagai entitas asing pemilik saham PT Direct Vision (PTDV) di kantor pengacaranya. Yakinlah, paparannya tak akan jauh dari Laporan Tahun AAAN plc tahun 2007 di Bursa Malaysia: hanya 20% kepemilikan AAAN di PTDV. Hal ini untuk membantah rumor 51% kepemilikan asing.  Klik sini dan lihat halaman 110 untuk Annual Report 2007 Astro All Asia Networks

Saya pikir kepastian hukum (bermain yang sehat) merupakan satu titik utama bagi siapapun, dan iklim persaingan sehat harus dijaga semua pihak, apalagi oleh para pemain di industri kreatif ini (yang katanya mau ditumbuhkembangkan oleh Ibu Mari E. Pangestu minggu lalu). Klik sini untuk beritanya

Susah juga jadinya kalau lebih banyak pemain di negeri ini cara berpikirnya eneg (energi negatif, seperti kata Pak Jamil dari Kubik Leadership). Well, in most cases no business is too darned ethical to top it all, but this time you’ve got yourself a no-go case, dude. Think positive and fight like a gentleman. Haha, like I care.

***

Revisi sedikit – tepat pukul 01.30 pagi 11 Sept. 2008

saya makin prihatin

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada September 10, 2008 in business