RSS

Arsip Kategori: chaos

Caleg Berisik


Siang ini saya papasan dengan serombongan mahasiswa berjalan mundur ke kantor KPK. Serius, mereka berjalan mundur sambil membawa bendera kuning dan krans bunga kematian. Mereka mungkin meminta KPK segera menyelesaikan kasus-kasus korupsi kelas kakap eh paus. Perihal pertama: menjerat koruptor kelas berat.

Malamnya, saya melewati pasar malam yang dipadati penjual CD dan DVD (tentu bajakan). Beberapa lapak berderet dengan pengeras suara sember yang disetel full blast alias tombol suara mentok kanan. Setiap lapak berteriak berbeda dengan lapak di sebelahnya. Di tengah kebisingan suara itu, saya heran pembelinya tetap banyak. Sepertinya inilah kondisi kampanye caleg menyambut 2009: berisik tapi tetap ada pembeli. Mungkin saya naif, tapi sama seperti pembeli DVD bajakan, pemilih caleg X atau Y atau Z mungkin tak memiliki pilihan lain yang menarik selain yang tampil di spanduk di pinggir jalan ataupun stiker di belakang bajaj. Tak tahu siapa bagaimana, cuma memang mereka tak punya pilihan lain. Sosialisasi para wakil rakyat dan calon presiden bisa menjembatani information gap ini. Perihal dua.

Pemda tak mau menertibkan spanduk atau baliho caleg bukan karena takut pada partai yang mengusung para caleg ini, mungkin lebih karena alasan “tak ada anggaran” menggaruk semua. Perihal tiga: anggaran kebersihan.

Calon presiden atau wakil rakyat yang akan bertarung di 2009 adalah mereka yang telah jauh-jauh hari berkampanye, baik secara kasar (baca: mencetak digital 100 spanduk dan memasang stiker di sekujur badan mobil pribadi), atau secara halus (baca:  mencetak 1000 buku visi dan misi lalu diluncurkan di Grand Indonesia). Dari materi dalam format apapun yang telah mereka sampaikan, seharusnya ada satu badan khusus merekam jejak seluruh calon ini: perihal nomor empat.

Pencitraan terkadang semu. Demo mahasiswa adalah satu citra yang mulai luntur beberapa tahun terakhir, tak terlalu punya greget. Masyarakat seperti saya melihat demo mahasiswa ini hanya membuat macet jalan. Kalau sepuluh tahun lalu mereka berdemo, saya mungkin akan ikut jalan mundur karena saya waktu itu punya hati nurani. Sekarang? Saya masih punya, tapi ada urusan lebih mendasar lain yang lebih penting: saya butuh bekerja agar dapur rumah saya tetap ngebul. Hanya doa tulus dari saya; dengan syarat jika mereka berdemo pun secara tulus. Sepakat, kita demo KPK agar dapat bekerja tanpa intervensi politik (baca: anggaran).

Saya membayangkan intervensi terhadap KPK datang dari badan eksekutif atau legislatif. Tak terbayang apa jadinya jika yang duduk di kursi empuk nanti adalah caleg kinyis-kinyis yang senyum-senyum di banyak spanduk dan stiker. Saat pertama kali melihat spanduk dengan senyum ‘maksa’ di setiap pojok jalan, saya merasa lebih baik saya mencermati baliho film “Mas Masukin Aja” dan mencoba mencerna arti judul ini setiap lewat di lampu merah Senen. Daripada membeli “buku kampanye”, saya lebih suka menyumbangkan uang saya untuk anggaran kebersihan kota Jakarta. Kasus korupsi tidak diintervensi bukan berarti kebijakan SBY yang baik, tapi sistem telah berjalan sebagaimana harapan rakyat. Bukan veto satu orang.

Banyak hal yang membuat saya de-reformis saat ini.

Sekali lagi, pencitraan adalah semu. Adakah kedekatan sesungguhnya dari para caleg, capres, cawapres, cagub dst. ini dengan rakyatnya? Adakah rekam jejak ketulusan tindakan mereka selama ini?

Seperti lapak DVD bajakan yang baku-banter suara, 2009 akan berisik pula. Sayangnya, semua yang berisik ini malah paling laku dibeli. Oh well…

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Desember 27, 2008 in chaos, election

 

Dunia ini dikuasai segelintir…


Resesi sudah datang di salah satu pusat perdagangan dunia terbesar, Amerika Serikat, karena kredit macet di saat pembeli rumah di sana tak mampu mengembalikan cicilan. Ditambah lagi pola hidup debt diet yang dianjurkan Oprah Winfrey itu tak mampu membendung nafsu konsumerisme warga Amerika Serikat. Tambah runyam lagi saat government spending sana disedot untuk membiayai tentara perang, bukan membangun pabrik dan jalan. Produksi stagnan, konsumsi tinggi, tak ada surplus ekspor impor yang signifikan.

Presiden negara itu, yang banyak dinilai error oleh rakyatnya, minggu lalu menandatangani Emergency Economic Stabilization Act, alias peraturan gawat darurat untuk perekonomiannya. Disebutkan di sana bahwa pengawas bursa (SEC, stock exchange commission) harus berkoordinasi dengan bank sentral dan departemen keuangan untuk membuat mark-to-market accounting, dan harus melaporkan kembali ke kongres dalam 90 hari ke depan. Lehman Brothers/LB dan Fannie Mae Freddy Mac, Wachovia dan Wells Fargo,  are strictly supply-demand thing. Institusi finansial ini tak punya masalah “pabrik macet” atau “kehabisan bahan produksi” karena memang mereka hanya usaha jasa: menyalurkan uang untuk mendapatkan keuntungan nilai. Di saat uang tersebut tidak kembali lagi, alias kredit macet, maka nilai keuntungan itu tidak kunjung datang malah kemudian membuat lubang kian lebar. LB sebagai satu usaha finansial terbesar keempat di Amerika Serikat menyiapkan sekoci namun terlambat. Di saat tak ada yang mau membeli aset “bodong” LB, tak ada jalan untuk spin off some of its toxic assets to shareholders.

Apes, LB kemudian menyatakan diri bangkrut, di saat itu pula Amerika Serikat dan dunia guncang. Salah satu dampaknya, jelas 26 ribu pegawai LB akan kehilangan pekerjaan. Selain itu juga investor dunia mulai menahan diri untuk menanamkan uangnya di institusi finansial Amerika Serikat, alias tak ada investasi masuk ke negara adidaya ini. Ekspor ke Amerika Serikat akan terhenti karena membebani anggaran mereka. Akhirnya tak ada uang untuk membangun jalan dan pabrik dan infrastruktur produksi dalam negeri, karena harus menggelontorkan AS$700 milyar untuk menyelamatkan institusi finansial bermasalah (tak hanya LB saja loh!).

Bayangkan dampak bola salju yang akan menghajar negara adidaya ini. Titik henti bola salju itu ada pada saat: LB tak ada yang mau beli. Nasib serupa sedang menghantui institusi finansial lain seperti Merrill Lynch & Co Inc., sehingga pemerintah negara-negara Eropa segera menjamin bahwa tabungan warganya aman di bank lokal mereka. Kalau Indonesia kemudian ikut-ikut panik dan banyak pakar bilang “Hey, harus ada rencana antisipatif untuk ini!”, kok saya melihatnya seperti semut teriak di tengah gajah-gajah kebakaran jenggot ya? Hehehe…

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Oktober 6, 2008 in business, chaos, recession

 

Belajar dari Masa Lalu


Ada satu kata yang kerap saya ucapkan beberapa hari terakhir ini: PRAGMATISME.

Konsistensi pemikiran saya adalah hal paling absurd yang pernah saya tetapkan dalam benak kepala. Saya tak akan menyembuhkan dunia. Saya juga tak akan melihat segalanya serba-buruk. Sebagai seorang soccer mom yang setiap hari harus melihat tawa si Yu Tin di pasar dan senyum Bang Jimmy tukang mie pangsit atau Pak Ndut tukang bakso (nama-nama ini bukan samaran), saya merasa segenggam uang di tangan tak banyak bernilai lagi. Beras memang turun (pulen termurah Rp 3300,- per liter, pera Rp 4000,-) tapi bawang dan cabe keriting meroket tak kunjung akhir. Gesture politik para pemimpin yang terpamer di media massa terasa lamban mendongkrak perbaikan di banyak lini. SBY atau JK tampak seperti false harmony sampai-sampai Panji Koming protes minggu kemarin. “Ayat-ayat Kemiskinan”? Hahaha now that’s what I called funny!

Minggu ini saya harus menentukan sikap. Antara idealisme dan pemikiran taktis. Antara integritas dan tampil beda. Ada hati nurani… sebuah perenungan yang amat sangat tidak nyaman.

Make a difference… that’s all I have in my head. Yes, many many names I could pronounce. But I am not going to reveal tonight.  And yes, I’ve learned from the best.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Maret 31, 2008 in chaos

 

Produk Iklan Langgar Etika?


Hari ini di halaman 14 Kompas diberitakan promosi doktor di Jurusan Ilmu Filsafat Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia. Disimpulkan oleh sang doktor baru Thomas Noach Peea itu begini, “Asosiasi [P3I] inilah yang nantinya memonitor praktik bisnis iklan dan memberi sanksi sesuai dengan tingkat pelanggaran dan kerugian yang ditimbulkannya.”

Sebelumnya saya membaca tulisan Pak Budiarto Shambazy “Geleng dan Angguk Kepala” di halaman sebelumnya. Saya terbiasa membuka koran halaman 1, lalu halaman terakhir soal tokoh, kemudian membuka halaman dari belakang. Tidak penting tapi ini ritual saya setiap pagi membaca koran yang seharusnya disurvei sebuah media massa untuk penentuan prioritas isi. Penempatan isi media kemudian yang bisa mengarahkan para pengiklan membuat strategi pemasaran produk dan jasanya. Ini adalah proses satu nafas sejak saya membaca halaman 1 sebuah koran di pagi hari.

Membaca kolom Pak Baz itu saya ikut menggangguk dan menggeleng. Kembali saya bertanya, demokratisasi apa yang Indonesia anut? Demokratisasi asal cangkem saja? Lalu saya meloncat (quantum leap?), apakah memang program glontor S2 dan S3 di UI ini juga tidak menganut pakem “riset benar hingga ke titik permasalahan”?

ad-ethics4.jpg

Saya kemudian mengangguk. P3I sudah memiliki kode etik yang diperbaharui hampir tiga tahun lalu. Kebetulan saya bersama Bang Ade Armando dan Pak Victor Menayang pernah ikut urun rembug dalam proses revisi itu bersama P3I di era Pak RTS Masli. Permasalahan sesungguhnya bukanlah “tak ada penegakan sanksi” bagi pengiklan yang nakal. Permasalahannya adalah tak semua biro iklan di negeri ini adalah anggota P3I, dan tak semua yang beriklan itu melalui biro iklan (alias dari produsen kripik, misalnya, langsung ke rumah produksi untuk membuat materi iklan TV dan ke stasiun televisi untuk proses media buying). Jika anggota P3I diberi sanksi, mengapa yang bukan anggota tidak diberi sanksi? Di mana peran KPI dan Depkominfo? Riuh rendah ini membentuk kegagalan pasar yang kronis (baca: government failure).

Hal kedua membuat saya menggeleng kepala, yaitu masalah “melanggar etika” secara mendasar. Pak Peea menekankan masalah kejahatan simbolik. Secara pribadi malah berpikir etika media adalah given process in a society. Mau media panggung, koran ataupun internet (seperti blog saya ini), semua memiliki etika yang berproses. Nilai-nilai kebaikan universal tetap ada, dan nilai-nilai kejahatan (seperti korupsi yang membuat tulisan Pak Baz kian menggigit) juga tetap hidup. Keduanya tak bisa dilihat dalam dua nafas berbeda.

Selain itu, jika Pak Peea berpikir media dan produk turunannya sebagai sebuah proses kejahatan, lucunya Gereja Vatikan malah melihat “[viewing] the media as ‘gifts of God’ which, in accordance with his providential design, bring people together and ‘help them to cooperate with his plan for their salvation’.”

Sanksi terhadap iklan tak beretika sudah dijalankan bagi anggota P3I. Bahkan telah ada Pedoman Perilaku Penyiaran (P3) dan Standar Program Siaran (SPS) yang diwajibkan Undang-undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran. Telah lama ada tapi tak efisien atau tak terdengar fungsinya karena banyak hal. Masalahnya–mengutip gerutu Pak Baz pagi ini–penegak hukum negeri ini hanya mampu bilang, “Sabar saja dulu, besok saya berikan sanksi.” Besok itu berarti “hingga waktu tak terhingga”?

 

Jakarta Siaga Luber


Saya kira hujan akan berhenti jam 10.15 tadi, selokan depan rumah sudah mulai surut. Eh, nge-gas lagi sekarang. Sejak malam, bolak-balik seperti ini. Pelan, nge-gas, pelan nge-gas lagi.

Radio Elshinta dan Suara Metro gencar melaporkan langsung dari lapangan. Chaos! Mobil derek bekerja keras, motor naik jalan tol, genangan air di mana-mana, mobil terjebak. Macet di banyak titik menyebabkan orang yang mau ke kantor, banyak yang balik badan (pulang). Bandar udara Soekarno Hatta ditutup until further notice. Pasar tradisional (my shopping arcade!) pastinya sepi pembeli.

Kerja bakti di RW saya terkoordinasi baik. Dasar selokan tidak menebal. Beruntung pula rumah saya berada di daerah tinggi. Tidak seperti saya, suami saya tahu betul kontur tanah Jakarta atau daerah lain di negeri ini. Suami saya juga yang membangun “sumur” resapan di halaman belakang rumah. Saya atau supir metromini mangkal di tikungan adalah orang-orang yang tak “cerdas ruang”, istilahnya.

Geser sedikit di RW sebelah, masalah lebih kompleks, dan disiplin lingkungan tidak tinggi, hasilnya bisa ditebak. Tinggi air di RW sebelah sudah sedengkul. Jika diprediksi hujan terus turun hingga sore dengan volume “pelan, nge-gas, pelan, nge-gas” saya jadi prihatin akan berakibat cukup buruk. Suami saya mengingatkan, jika depan rumah sudah setumit, seluruh rumah harus diamankan. Mitigasi.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 1, 2008 in chaos, manajemen bencana

 

Privacy and Chaos at Your Very Own Hands


Teringat buku Timothy Leary “Chaos & Cyberculture” yang pernah saya miliki, saya melakukan rekoleksi atas beberapa pokok pemikiran Leary yang kontroversial. Di situs yang didedikasi untuknya (www.leary.com) tertulis:

“Think for yourself and question authority”

Maksud “authority” bukan sebagai pemerintahan tapi mungkin otoritas diri. Kendali terhadap diri dan sekitar adalah kebebasan tingkat tertinggi yang bisa dilakukan orang di dunia ini. Pokok konstitusi tertinggi Amerika Serikat (baca: first amendment) adalah “freedom of speech”. Secara lengkap: “Congress shall make no law respecting an establishment of religion, or prohibiting the free exercise thereof; or abridging the freedom of speech, or of the press; or the right of the people peaceably to assemble, and to petition the government for a redress of grievances.”

Bahwa dengan perkembangan media hari ini kendali, setiap orang kian memiliki kebebasan mendapatkan informasi dan hiburan yang diinginkan. Berita di ujung jari, baik dengan remote control ataupun keyboardmouse.

Pertimbangkan lagi, dahulu ada TVRI dengan “Dunia dalam Berita” yang menjadi acara paling ditunggu, yang kemudian digeser popularitasnya dengan “Seputar Jakarta” (RCTI) lalu “Liputan 6” (SCTV). Berita atau informasi seperti ini dikenal dengan istilah “push information” atau informasi yang “didorong” ke hadapan kita. Hari ini dengan kian banyak pilihan acara dan alternatif pipa distribusi, acara-acara berita favorit seperti ini mulai kedodoran format. Era hari ini adalah orang memilih beritanya sendiri. Metro TV telah memulai dengan near news-on-demand, plesetan dari near video-on-demand. Yakinlah pula bahwa besar sekali persentase pengguna internet dalam negeri yang memiliki SES 25+, AB, pria dan wanita yang klik ke http://www.detik.com atau situs berita dalam negeri setidaknya sehari sekali. Bisa lebih. Kalau informasi ini dikenal dengan istilah “pull information” atau informasi yang kita pilih dan “tarik” sendiri.

Jika bosan dengan berita lokal, masih ada situs berita internasional yang tidak “seberisik” tampilan detik.com juga tidak “selamban” Kompas Cyber Media. Favorit saya hanya http://www.iht.com dan http://www.nytimes.com karena bersih, informatif, dan audio-visual yang cepat dibuka. Sesekali saya memang melirik movies.yahoo.com. Setiap kali menyalakan komputer saya selalu google apapun kata kunci yang sedang mampir di kepala. Information overloaded?

Tidak juga. Beberapa hal penting dari filosofi cyberculture yang dirumuskan Leary adalah: eight-circuit model of consciousness (physical safety, emotional strength, intellectual prowess, sexual/social relations, neuro-somatic, neuro-electric, neuro-genetic, neuro-atomic) yang memicu rasa manusia untuk mengeksplorasi ruang (apakah ruang luar angkasa ataupun ruang saiber [yuckie translation!] atau cyberspace). Singkatnya, delapan lapis kesadaran diri ini membentuk kita sekarang yang telah tersesat tak sengaja saat google sana, google sini.

Timothy Leary sudah tiada. Saya tak menyukai sisi gelap LSD atau marijuana yang digunakannya hingga akhir hayat, bahkan Presiden Nixon memberi cap “the most dangerous man in America” terhadap dirinya; namun saya menghormati tulisan Leary yang inspiratif.

Salah satu tulisan lama saya yang saya temui di arsip orang lain The vital need to protect privacy on the Internetterinspirasi dari pemikiran Leary juga. Kesadaran atau ketidaksadaran kita saat berinteraksi di dunia maya ini harus tetap dapat dikendalikan oleh diri kita; dengan salah satu caranya adalah menyimpan informasi diri secara hati-hati. Btw, tulisan di Jakarta Post enam tahun lalu ini bahkan salinannya sudah tak saya miliki (hardcopy ataupun softcopy), karena saya lupa meletakkan file ini di diskette yang mana (that’s right, once there lived a d-i-s-k-e-t-t-e entity as our itsy-bitsy space of storage!).

Oh well, chaos starts at my nearest storage system?

 
 

Studi Kelayakan


 

Mengupas

STUDI KELAYAKAN LEMBAGA PENYIARAN SWASTA (LPS) DAN LEMBAGA PENYIARAN KOMUNITAS (LPK) DI INDONESIA

BAGIAN I:

Catatan Sebelum Anda Menulis Visi-Misi dan Aspek-aspek Kelayakan Penyiaran

Undang-undang Nomor 32 Tahun 2002 adalah ‘sector specific regulation’ yang membuka peluang bagi setiap pemain untuk mempunyai kesempatan yang sama dalam berusaha di sektor informasi, sub-sektor penyiaran (radio dan televisi). Sebelum menyelenggarakan kegiatannya lembaga penyiaran wajib memperoleh izin penyelenggaraan penyiaran (IPP). Untuk itu, setiap pemohon IPP wajib mencantumkan nama, visi, misi, dan format siaran yang akan diselenggarakan serta memenuhi persyaratan sesuai dengan ketentuan undang-undang ini. Pemberian izin penyelenggaraan penyiaran sebagaimana dimaksud dalam ayat berdasarkan minat, kepentingan dan kenyamanan publik, yang dituangkan secara tertulis dalam sebuah berkas studi kelayakan.

Mengingat, hari ini hanya ada 2 jenis lembaga penyiaran dengan jumlah pemain yang banyak dan tersebar di pelosok Indonesia, tulisan ini hanya ditujukan bagi lembaga penyiaran swasta (LPS) dan lembaga penyiaran komunitas (LPK).

Tujuan dari tulisan ini adalah untuk mengupas dan memberikan cara mudah memahami studi kelayakan, yang mungkin bisa disamakan dengan ‘business plan’ dalam beberapa hal.

Secara umum, ada beberapa aspek penyiaran yang membuat sebuah radio atau televisi layak. Selain ada visi dan misi yang harus disampaikan dalam Studi Kelayakan, di bawah ini beberapa aspek penyiaran tersebut:

i. Aspek Pendirian Lembaga Penyiaran

ii. Aspek Perseroan (lembaga penyiaran swasta dan berlangganan) atau Aspek Legalitas (lembaga penyiaran komunitas)

iii. Aspek Program Siaran (lembaga penyiaran swasta, komunitas, dan publik) atau Kanal Program Siaran (lembaga penyiaran berlangganan)

iv. Aspek Teknis

v. Aspek Keuangan

vi. Aspek Manajemen (pengelolaan sumber daya manusia)

Tahap selanjutnya adalah Rekomendasi Kelayakan dari KPI ke Forum Rapat Bersama (FRB) antara KPI dan Pemerintah. Penetapan di dalam FRB adalah alokasi/penggunaan frekuensi (jika menggunakan frekuensi dan orbit satelit di satu daerah) atau cakupan wilayah layanan siaran (jika menggunakan kabel di satu daerah).

Tahap ketiga adalah pemberian IPP untuk Masa Uji Coba Siaran, untuk radio berlaku selama-lamanya 5 (lima) bulan dan untuk televisi berlaku selama-lamanya 1 (satu) tahun.

Tahap terakhir adalah pemberian IPP tetap yang berlaku 5 (lima) tahun dan untuk televisi berlaku selama-lamanya 10 (sepuluh) tahun.

A. Catatan untuk pengelola lembaga penyiaran swasta (LPS):

Undang-undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran Pasal 16 ayat 1: ‘Lembaga Penyiaran Swasta [sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (2) huruf b] adalah lembaga penyiaran yang bersifat komersial berbentuk badan hukum Indonesia, yang bidang usahanya hanya menyelenggarakan jasa penyiaran radio atau televisi.’

Undang-undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran Pasal 25 ayat 1: ‘Lembaga Penyiaran Berlangganan [sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (2) huruf d] merupakan lembaga penyiaran berbentuk badan hukum Indonesia, yang bidang usahanya hanya menyelenggarakan jasa penyiaran berlangganan dan wajib terlebih dahulu memperoleh izin penyelenggaraan penyiaran berlangganan.’

Anda sebagai penanggungjawab sebuah lembaga penyiaran swasta tentu melihat bahwa menyelenggarakan dan mengelola sebuah radio atau televisi adalah tindakan prospektif (menguntungkan). Untuk itu, Anda harus menentukan mengapa Anda mengejar peluang bisnis ini. Alasan bisnis sebuah LPS tentu berkaitan dengan penerimaan dan potensi laba dalam sebuah pasar tertentu. Karena prospektif, Anda harus bisa mendeskripsikan apa dan bagaimana Anda akan mengelola LPS radio atau televisi itu.Deskripsi ini harus bisa Anda tuangkan dalam sebuah Rencana Bisnis.

Berbeda dengan sebuah Rencana Bisnis untuk pengiklan atau investor, Studi Kelayakan wajib dibuat dengan tujuan agar perusahaan Anda bisa mendapatkan Rekomendasi Kelayakan (RK) dari KPI untuk mendapatkan IPP.

B. Catatan untuk pengelola lembaga penyiaran komunitas – LPK:

Undang-undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran Pasal 21 ayat 1: ‘Lembaga Penyiaran Komunitas [sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (2) huruf c] merupakan lembaga penyiaran yang berbentuk badan hukum Indonesia, didirikan oleh komunitas tertentu, bersifat independen, dan tidak komersial, dengan daya pancar rendah, luas jangkauan wilayah terbatas, serta untuk melayani kepentingan komunitasnya.’

Anda sebagai penanggungjawab sebuah lembaga penyiaran komunitas (LPK) akan melihat penyelenggaraan dan pengelolaan sebuah radio atau televisi komunitas untuk tujuan yang lebih mulia, jauh dari unsur komersialisme dan konsuntivisme. Anda tetap akan melihat sisi prospektif, namun dalam kerangka lebih luas, yaitu pemberdayaan komunitas di sekitar radio atau televisi Anda berada. Pemberdayaan komunitas diharapkan bisa menjadi tahapan untuk meningkatkan kesejahteraan setiap anggota masyarakat di dalamnya. Atas alasan ini, Anda harus bisa mendeskripsikan apa dan bagaimana Anda akan mengelola LPK radio atau televisi itu. Jika deskripsi ini dalam LPS adalah ibarat sebuah Rencana Bisnis, untuk LPK deskripsi ini adalah penjabaran lebih luas dari Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga dari sebuah organisasi terbatas. LPK membutuhkan partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraannya.

Tujuan pembuatan sebuah Studi Kelayakan adalah agar perkumpulan atau kelompok Anda bisa mendapatkan Rekomendasi Kelayakan (RK) dari KPI untuk mendapatkan IPP.

BAGIAN II: Menuliskan Visi dan Misi

A. Visi dan Misi

Visi dan misi adalah ide terpenting yang mendasari setiap perilaku perusahaan atau kelompok kegiatan.

Secara singkat, definisinya adalah:

– Visi menentukan apa yang Anda lakukan dan bagaimana Anda melakukannya. Visi tersebut juga menentukan budaya perusahaan Anda.

– Misi adalah fokus kegiatan dari Visi Anda.

B. Menulis Sebuah VISI

1. Bentuk: SES

Sederhana
Efektif
Satu paragraf

2. Pernyataan Visi Perusahaan/Kelompok harus dapat:

– menjadi mimpi perusahaan/kelompok tentang pasar/konsumen yang menjadi target perusahaan/kelompok Anda.

– menjelaskan mengapa perusahaan/kelompok Anda harus ada, yang akan menentukan arah dan irama seluruh isi Studi Kelayakan

3. Visi yang efektif adalah:

– singkat, satu kalimat, paling banyak satu paragraf

– langsung, tidak memutar-mutar

– fokus, hanya ke satu arah dan tujuan

– mempunyai konsep besar tapi terukur

Contoh:

– PT XYZ mengusung visi yang menjadikan semua ibu-ibu di Kota ABC mendapatkan informasi dan hiburan berbasis keluarga sejahtera

– Perkumpulan Nelayan Wetar mempunyai visi merangkul masyarakat nelayan Wetar untuk informasi ketersediaan dan penggunaan usaha perikanan di Wetar

– PT ABG memvisualisasikan diri sebagai radio dengan ragam dan pilihan informasi dan musik bagi remaja putra yang gemar olahraga

C. Menulis Sebuah MISI

1. Bentuk: SEF

Spesifik (lebih spesifik dari Visi)
Efektif
Fokus (memfokuskan diri pada tipe bisnis Anda)

2. Pernyataan Misi Perusahaan/Kelompok harus:

– terkait langsung dengan Visi (kalau tidak ada hubungan Visi dengan Misi-nya, tentu bisa dianggap perusahaan atau kelompok Anda kehilangan fokus-arah-tujuan)

– mendeskripsikan apa dan bagaimana perusahaan/kelompok Anda

– menjadi langkah-langkah untuk meraih Visi atau mimpi Anda

3. Visi yang efektif adalah:

– singkat, satu kalimat, paling banyak satu paragraf

– jelas terhadap tujuan dan langkah-langkah untuk mencapai Visi

– spesifik dalam menentukan parameter keberhasilan

– jelas dalam pengukuran keberhasilan

4. Contoh:

– PT XYZ: akan menjadi penyuplai utama atas informasi dan hiburan berbasis keluarga sejahtera

– Perkumpulan Nelayan Wetar: mengikutsertakan masyarakat Wetar untuk saling memberikan informasi tentang pengelolaan usaha perikalan di Wetar

– PT ABG: membuat siaran radio secara off air maupun on air yang berbasis olahraga dan kesehatan remaja

***

Beda Visi dengan Misi

Visi: bicara tentang pasar yang menjadi target

Misi: bicara tentang diri, kemampuan, dan kemauan untuk menggapai Visi

***

BAGIAN III: Menuliskan Studi Kelayakan LPS dan LPB

A. Latar Belakang Pemikiran

Ada beberapa aspek kelayakan untuk lembaga penyiaran swasta dan berlangganan secara berdampingan, mengingat nature of business yang tidak jauh berbeda. Perbedaannya hanya di aspek program siaran (LPS) dan aspek kanal program siaran (LPB).

Khusus untuk LPS dan LPB ini, ada beberapa hal yang harus diingat sebelum memaparkan aspek-aspek kelayakan lebih detail, bahkan jauh sebelum menuliskan visi dan misi, seperti yang dimaksud di Bagian 2, yaitu profit. Bisnis di industri apapun tentu harus selalu mengingat profit atau keuntungan. Untuk mendapatkan profit setinggi-tingginya, Anda harus bisa menganalisis pasar dan kemampuan Anda di dalam pasar itu.

B. Apa itu ‘Pasar’ Sebuah Radio atau Televisi?

Untuk menganalisis pasar dan melihat dinamika sebuah pasar, Anda harus bisa mencari informasi yang dimaksud dengan:

– apa yang dimaksud dengan pasar

– seberapa besar pasar tersebut

– siapa pemain utama lain di dalam pasar tersebut

– bagaimana pasar tersebut akan tumbuh

Mari kita mulai dari yang paling mendasar:

– “Pasar” adalah kata lain untuk dunia konsumen potensial atau pendengar potensial (radio) atau penonton potensial (televisi) Anda.

– Anda harus mampu mengetahui apa yang dibutuhkan konsumen Anda dan perubahan apa yang terjadi di dalam pikirannya.

– Selain itu, Anda juga harus mampu melihat apa yang dilakukan kompetitor Anda terhadap konsumen yang sama.

Contoh konkret memahami konsep “pasar”:

1. Mari kita lihat lagi Visi dan Misi Anda di awal, misalnya:

– VISI PT ABG: memvisualisasikan diri sebagai radio dengan ragam dan pilihan informasi dan musik bagi remaja putra yang gemar olahraga

– MISI PT ABG: membuat siaran radio secara off air maupun on air yang berbasis olahraga dan kesehatan remaja

Pertanyaannya kemudian adalah:

– Siapa pasar PT ABG? Remaja.

– Baik, remaja yang seperti apa? Remaja yang gemar olahraga.

2. Sebuah pasar biasanya didefinisikan oleh jasa dan barang yang ditawarkan, serta oleh eksistensi konsumen barang dan jasa tersebut. Jadi, PT ABG menawarkan siaran radio on air atau produksi off air di satu wilayah layanan siaran.

Pertanyaannya kemudian adalah tentang kompetitor Anda:

– Di wilayah layanan siaran yang sama, apakah ada radio lain yang menyasar pada remaja?

– Bahkan ada juga yang menyasar pada remaja yang gemar berolahraga?

C. Lebih Lanjut tentang Anda dan Kompetitor Anda

Sesungguhnya, pasar kompetitor adalah pasar Anda juga. Ada beberapa cara untuk mengenali pasar Anda juga pasar kompetitor Anda lebih jauh. Semua pemain di pasar yang sama biasanya diukur dengan hal yang berkaitan dengan pemasukan bersih atau kotor. Setiap bagian dari data harus terkait dengan:

– konsumen (pendengar/penonton),

– tipe konsumen (segmentasi yang menjadi target),

– alur distribusi (cakupan wilayah siaran: apakah ada daerah yang tak bisa mendengar/menonton siaran Anda dengan baik?)

– aktivitas promosional (apakah Anda atau kompetitor Anda beriklan di media lain?)

– rata-rata margin pemasukan Anda atau kompetitor Anda (berapa pendapatan, berape persentase dari iklan dan berapa dari kegiatan off air, dan semua ini akan membantu Anda untuk mengatur keuangan lebih baik)

Pertanyaannya kemudian adalah:

– Di mana Anda bisa menemukan data yang berkaitan dengan pemasukan bersih atau kotor setiap pemain?

a. Anda bisa mencarinya sendiri melalui survei pasar (kuesioner). Survei ini tak sembarang dilakukan karena sudah mempunyai standar baku (metode sampling atau contoh yang sistematis, atau metode populasi atau menyebarkan kuesioner ke seluruh masyarakat di daerah Anda).

b. Anda juga bisa meminta jasa yang biasa membuat survei yang ada di wilayah Anda.

c. Anda juga bisa mendapatkannya di kelompok dagang atau asosiasi terkait dengan radio atau televisi yang ada di wilayah Anda.

***

Mengenali Pasar Anda

Mari kita lihat bagaimana SEHARUSNYA Anda mengenali pasar Anda dari kacamata industri lembaga penyiaran swasta atau berlangganan:

1. Langkah pertama adalah menjabarkan setiap segmentasi dengan melihat kelompok-kelompok masyarakat. Jenis kelamin: lelaki atau perempuan; Usia: tua atau muda: Tua: 30 – 45 atau 30 – 55? Atau tua sekali, hingga 65 tahun? Muda: bisa 13 – 18 atau 13 – 21 atau bahkan 13 – 27? Pengeluaran dalam sebulan; Social Economic Status/SES adalah kelas A hingga E; kelas A paling banyak pengeluaran sebulannya (di atas RP 10 juta sebulan) menurun ke kelas E paling sedikit (di bawah UMR (upah minimum regional), atau misalnya di bawah Rp 500.000,- sebulan) Hobi atau kegemaran: olah raga atau memasak? Membaca buku atau menonton ke bioskop?

2. Langkah selanjutnya adalah menentukan segmentasi yang akan Anda tuju, misalnya:
PT ABG: Remaja, pria atau wanita, usia 13-21 tahun, gemar olah raga; atau PT Chicklit Jakarta: Wanita saja, usia rumah tangga (17- 35 tahun), bekerja di luar rumah, gemar menonton ke bioskop, SES A dan B.

3. Langkah selanjutnya adalah menentukan format siaran yang sesuai: Untuk PT ABG: Pendengar radio PT ABG tak akan suka informasi berat (boleh ada berita kebijakan pemerintah tentang transportasi, tapi dalam kerangka transportasi ke sekolah); Pendengar radio PT ABG diberikan informasi olah raga yang populer di daerah itu, sepak bola hingga baseball; Pendengar radio PT ABG diberikan musik yang tidak mendayu-dayu, kalaupun ada mungkin bisa disajikan di saat istirahat saja. Untuk PT Chicklit Jakarta: Pendengar radio PT Chiklit Jakarta mungkin juga tak akan suka informasi berat (boleh ada berita kebijakan pemerintah tentang transportasi, tapi dalam kerangka transportasi ke kantor atau mal atau salon karena mampu mengeluarkan uang lebih, di luar kebutuhan dasar rumah tangga); Pendengar radio PT Chicklit Jakarta suka mendengarkan musik dan hiburan yang terkait gaya hidup jalan-jalan; Pendengar radio PT Chicklit Jakarta suka mendengarkan informasi yang terkait dengan gaya hidup sehar-hari di kantor (ada masalah dengan teman kantor dan atasan kantor) ataupun di rumah (ada bayi/anak kecil, dan ada masalah dengan suami atau mertua)

4. Langkah selanjutnya adalah menentukan komposisi siaran: Untuk PT ABG bisa menentukan rasio antara musik dan non-musik adalah 80 % berbanding 20%; atau antara musik baru dan musik lama adalah 90% berbanding 10%. PT Chicklit Jakarta bisa menentukan antara musik dan non-musik adalah 20% berbanding 80%; atau antara musik dan non-musik adalah 40 % berbanding 60%; atau antara musik baru dan musik lama adalah 10% berbanding 90%; atau antara musik populer Indonesia lama dengan populer Indonesia baru 30% berbanding 70%.

5. Selanjutnya, Anda harus menentukan jadwal siaran, bisa dilakukan dengan tahapan: per tahun, per semester (6 bulan), per triwulan, per bulan, per minggu

6. Terakhir, semua yang Anda tetapkan ini harus dituliskan agar seluruh karyawan dan pendengar radio Anda bisa mengerti dengan baik.

CATATAN: langkah-langkah yang sama juga bisa diterapkan terhadap televisi LPS atau LPB melalui kabel

***

D. Menuliskan Paparan Aspek-aspek Kelayakan yang Sesuai Visi-Misi

Jika Anda telah menentukan Visi dan Misi, serta bisa mengukur pasar Anda dan Kompetitor Anda, selanjutnya Anda bisa memaparkan aspek-aspek kelayakan (atau kemampuan Anda) untuk bersiaran di wilayah layanan siaran tertentu. Kenali terlebih dahulu pembagian paparan informasi secara sistematis:

1. Formulir-formulir (yang telah diisi) sebagai data standar Anda

2. Ikhtisar Ringkas (Executive Summary)

3. Paparan Aspek Pendirian Lembaga Penyiaran

a. Latar Belakang, Visi, Misi, Maksud, dan Tujuan (satu kelompok paparan tersendiri)

b. Gambaran umum rencana kerja 5 tahun ke depan: 1) paparan Aspek Perseroan: kepemilikan perusahaan, permodalan perusahaan, penjelasan ada tidaknya media cetak dan elektronik yang sudah dimiliki; 2) paparan Aspek Program Siaran: segmentasi target pendengar atau penonton dan proyeksi pertumbuhan 5 tahun ke depan, format siaran, komposisi siaran, jadwal program siaran/pola acara siaran, materi siaran, daya saing (keunggulan dan perbedaan terhadap pesaing); 3) paparan Aspek Teknis: usulan saluran frekuensi/kanal yang diinginkan dan kontur diagramnya, gambar tata ruang dan peta lokasi studio, gambar tata ruang dan peta lokasi stasiun pemancar, daftar inventaris sarana dan prasarana yang akan digunakan (termasuk peralatan studio dan pemancar, jumlah dan jenis studio serta perhitungan biaya investasinya), spesifikasi teknik dan sistem peralatan yang akan digunakan beserta diagram blok sistem konfigurasinya, peta wilayah jangkauan dan peta wilayah layanan siaran; 4) paparan Aspek Keuangan: rencana kinerja arus keuangan 5 (lima) tahun ke depan (cash flow & neraca), proyeksi pendapatan iklan dan pendapatan lain yang sah, analisis Rasio Keuangan; 5) paparan Aspek Manajemen: struktur organisasi (mulai dari unit kerja tertinggi sampai unit kerja terendah, termasuk uraian tata kerja yang melekat pada setiap unit kerja), Penjelasan Sumber Daya Manusia (SDM) dan keahliannya, susunan dan nama para pengurus penyelenggara penyiaran, daftar riwayat hidup penanggung jawab siaran dan fotokopi KTP ybs., penjelasan sistem penggajian/bonus/lembur/insentif/tunjangan lainnya, analisis SWOT (kekuatan, kelemahan, kesempatan, dan ancaman).

4. Lampiran-lampiran:

1) Fotokopi berkas perizinan atau rekomendasi perizinan lain yang dikeluarkan sebelum tanggal 28 Desember 2002 (atau sebelum Undang-undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang penyiaran disahkan);

2) Fotokopi Akte Pendirian Perusahaan dan perubahannya (jika ada perubahan);

3) Fotokopi Surat Pengesahan Badan Hukum atau surat telah terdaftar pada instansi yang berwenang;

4) Fotokopi Surat Izin Tempat Usaha dan/atau HO (hinder ordonantie/Undang-undang Gangguan) untuk daerah yang mengatur hal ini;

5) Fotokopi Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP); dan

6) Fotokopi KTP pemegang saham, komisaris, dan direksi; serta

7) Fotokopi perjanjian yang dilegalisasi oleh pejabat yang berwenang dengan penyedia kanal berbayar (paid channel) atau distributor kanal (paid distributor). Pejabat berwenang yang dimaksud misalnya notaris atau pejabat lainnya.

E. Studi Kelayakan ini Menjalin Suatu Cerita

Bagian Studi Kelayakan

Elemen Cerita

1. Formulir-formulir Anda memulai Studi Kelayakan ini dengan data-data awal perusahaan Anda, sebagai ringkasan dari semua paparan aspek kelayakan. Ini semacam biografi singkat kalau ingin melamar kerja.
2. Ikhtisar Ringkas (Executive Summary) Singkat padat, inilah isi cerita yang ingin Anda sampaikan. Anda meringkas semua paparan menjadi satu hingga lima paragraf; Anda akan menceritakan tentang bisnis Anda…
3. paparan Aspek Pendirian Lembaga Penyiaran -> dimulai dari apakah usaha Anda ini memiliki visi dan misi, yang penting disampaikan agar KPI dapat menetapkan mengapa Anda layak mendapatkan IPP untuk lima atau sepuluh tahun ke depan. Anda akan melayani publik pendengar atau penonton Anda dengan segmen tertentu. Tentu harus diberikan izin itu, karena…
4. paparan Aspek Perseroan -> buktinya jelas juga karena Anda adalah penanggung-jawab penyelenggaraan penyiaran yang sah secara hukum Indonesia untuk menyelenggarakan bisnis radio atau televisi…
5. paparan Aspek Program Siaran -> Anda bisa buktikan bahwa Anda mengenal baik setiap pendengar atau penonton yang menjadi target segmentasi radio/televisi Anda. Mereka bisa menikmati hiburan atau mendapatkan informasi yang mereka butuhkan dengan isi siaran yang sesuai dan bisa dipasang di peralatan yang Anda miliki…
6. paparan Aspek Teknis -> ini dia buktinya bahwa Anda memiliki perangkat teknis yang sesuai, tidak canggih, tapi sesuai…
7. paparan Aspek Keuangan -> apalagi jika Anda juga bisa buktikan bahwa Anda memiliki manajemen keuangan yang hati-hati dan memastikan bahwa bisnis ini adalah bisnis yang menguntungkan Anda ataupun karyawan Anda…
8. paparan Aspek Manajemen -> buktinya, Anda bisa mengelola dan mengembangkan karyawan Anda di masa depan dengan segala macam pelatihan dan kepastian hidup! Ini dia penjabarannya…
9. Lampiran-lampiran Tidak percaya? Ini dia bukti keseriusan Anda, serta bukti sah dan legal dari setiap janji-janji Anda terhadap publik pendengar/penonton Anda!

BAGIAN IV: Menuliskan Studi Kelayakan LPK

A. Latar Belakang Pemikiran

Ada beberapa aspek kelayakan untuk lembaga penyiaran komunias (LPK) secara khusus, karena sebelumnya jenis lembaga penyiaran ini belum dikenal secara sah di dalam peraturan perundangan. Badan legislatif (Dewan Perwakilan Rakyat) dan badan eksekutif (Pemerintah) menetapkan LPK mengingat negara ini memiliki 17.000 pulau dan kepulauan yang tersebar di daerah seluas 1,919,440 km². Setiap daerah di Indonesia tentu memiliki komunitas atau masyarakat dengan ciri khas kegiatan dan budaya tertentu.

Khusus untuk LPK, ada beberapa hal juga yang harus diingat sebelum memaparkan aspek-aspek kelayakan lebih detail, bahkan jauh sebelum menuliskan visi dan misi, seperti yang dimaksud di Bagian 2. Jika LPS dan LPB memfokuskan pada profit (profit-oriented business), maka LPK adalah memfokuskan diri pada komunitasnya (community-oriented). Pemberdayaan komunitasnya dalam penyelenggaraan penyiaran harus selalu menjadi tujuan utama.

B. Apa itu Komunitas dari Sebuah Radio atau Televisi Komunitas?

Menganalisis sebuah komunitas dan keunikannya adalah seperti halnya menganalisis pasar dan melihat dinamika sebuah pasar yang dilakukan oleh LPS atau LPB.

1. Anda harus bisa mencari informasi yang dimaksud dengan:

– apa yang dimaksud dengan sebuah komunitas dan keunikannya (kegiatannya, budaya dan bahasa, hingga kepercayaan)

– seberapa besar komunitas tersebut

– siapa pemimpin dan warga di dalam komunitas tersebut

– bagaimana keadaan sosial ekonomi komunitas itu tersebut, dan seperti apa perkembangannya

2. Hal mendasar dari penyelenggaraan sebuah radio atau televisi komunitas adalah:

– Pendengar atau penonton potensialnya hanya terdiri dari warga di dalam komunitas itu;

– Penyelenggaraan penyiarannya juga berasal dari warga tersebut;

– Sukses Anda menyelenggarakan penyiaran di komunitas ini bisa diukur dari dampak siaran terhadap komunitas tersebut.

3. Anda harus memahami pasal-pasal Undang-undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang “LPK” (yang juga bisa ditemui di peraturan perundangan negara lain atas jenis lembaga penyiaran seperti ini):

a. Lembaga Penyiaran Komunitas diselenggarakan:

i. tidak untuk mencari laba atau keuntungan atau tidak merupakan bagian perusahaan yang mencari keuntungan semata; dan

ii. untuk mendidik dan memajukan masyarakat dalam mencapai kesejahteraan, dengan melaksanakan program acara yang meliputi budaya, pendidikan, dan informasi yang menggam-barkan identitas bangsa.

b. Lembaga Penyiaran Komunitas merupakan komunitas nonpartisan yang keberadaan organisasinya:

i. tidak mewakili organisasi atau lembaga asing serta bukan komunitas internasional;

ii. tidak terkait dengan organisasi terlarang; dan

iii. tidak untuk kepentingan propaganda bagi kelompok atau golongan tertentu.

c. Lembaga Penyiaran Komunitas didirikan atas biaya yang diperoleh dari kontribusi komunitas tertentu dan menjadi milik komunitas tersebut.

d. Lembaga Penyiaran Komunitas dapat memperoleh sumber pembiayaan dari sumbangan, hibah, sponsor, dan sumber lain yang sah dan tidak mengikat.

e. Lembaga Penyiaran Komunitas dilarang menerima bantuan dana awal mendirikan dan dana operasional dari pihak asing.

f. Lembaga Penyiaran Komunitas dilarang melakukan siaran iklan dan/atau siaran komersial lainnya, kecuali iklan layanan masyarakat.

g. Lembaga Penyiaran Komunitas wajib membuat kode etik dan tata tertib untuk diketahui oleh komunitas dan masyarakat lainnya.

h. Dalam hal terjadi pengaduan dari komunitas atau masyarakat lain terhadap pelanggaran kode etik dan/atau tata tertib, Lembaga Penyiaran Komunitas wajib melakukan tindakan sesuai dengan pedoman dan ketentuan yang berlaku.

Secara umum, pengaturan ini bermuara pada satu cerita: suatu komunitas di satu wilayah layanan siaran tertentu menyelenggarakan penyiarannya, membuat kode etiknya dan mematuhinya, dan tidak komersial serta tidak tergantung pihak asing (di luar komunitasnya).

Sebuah komunitas terpencil atau jauh dari distribusi barang/jasa komersial biasanya menjadi komunitas yang terlupakan. Untuk itu, meningkatkan pengetahuan tentang peraturan perundangan yang ada hingga kemajuan teknologi di luar komunitas ini menjadi kewajiban sebuah LPK. Selain itu, LPK juga wajib mengangkat harkat derajat komunitasnya dengan menyuarakan diri secara jujur.

4. Dengan begitu saat Anda menuliskan Visi dan Misi selalulah mengacu pada hal di atas. Contoh:

– VISI Kelompok ABCDEF: memvisualisasikan diri sebagai radio dengan ragam dan pilihan informasi dan musik bagi remaja nelayan di pesisir pantai XYZ123

– MISI Kelompok ABCDEF: membuat siaran radio yang mengangkat kehidupan remaja nelayan untuk penguatan dan pengembangan usaha perikanan dari “hulu hingga ke hilir”

Pertanyaannya kemudian adalah:

– Siapa pendengar radio Kelompok ABCDEF? Remaja.

– Baik, remaja yang seperti apa? Remaja yang membantu orang tuanya mengembangkan usaha perikanan di daerahnya.

Khusus untuk Kelompok ABCDEF, siaran radio on air atau produksi off air yang ditawarkan ada di satu wilayah layanan siaran kaum nelayan, yang malam melaut, pagi merapat di darat.

Pertanyaannya kemudian adalah tentang kekuatan Anda memberdayakan komunitas Anda dalam penyelenggaraan penyiaran:

– Apakah penanggungjawab siarannya (Pelaksana Penyiaran Komunitas) berasal dari komunitas ini?

– Apakah Pelaksana Penyiaran Komunitas (PPK) bertanggungjawab ke Dewan Penyiaran Komunitas (DPK)?

C. Lebih Lanjut tentang Dewan Penyiaran Komunitas dan Pengelola Penyiaran Komunitas

Sesungguhnya, komunitas Anda adalah komunitas unik yang harus ditelusuri lebih jauh:

– Siapa pendengar/penonton Anda?

– Bagaimana segmentasi yang menjadi target dalam komunitas Anda, semua atau sebagian?

– Cakupan wilayah siaran: apakah ada daerah yang tak bisa mendengar/menonton siaran Anda dengan baik?

– Aktivitas off air: adakah kegiatan praktek atau simulasi dari setiap informasi yang diberikan on air?

– Siapa saja anggota Dewan Pengawas Komunitas? Bagaimana Kode Etik DPK/PPK dibuat? Mulai dari tata cara pemilihan hingga pemaparan transparansi dan laporan setiap pemasukan dan pengeluaran ke Dewan Pengawas Komunitas.

– Rata-rata pemasukan Anda dari kontribusi warga komunitas Anda (berapa pendapatan, berape persentase dari warga dan berapa dari donor jika ada, dan semua ini akan membantu Anda untuk mengatur keuangan lebih baik)

Pertanyaannya kemudian adalah:

Bagaimana Anda menyusun sebuah Kode Etik?

Dimulailah dari rapat seluruh atau sebagian besar warga komunitas secara terbuka. Disepakati sebagai pelopor sebelum pemilihan anggota DPK dan rancangan Kode Etik. DPK kelak yang selayaknya merancang Kode Etik juga merancang pemilihan PPK secara transparan dan obyektif.

Kode Etik merupakan panduan transparan dan obyektif terhadap:

– DPK untuk memilih, mengawasi, dan memecat PPK

– PPK untuk menyelenggarakan siaran, mengelola dan melaporkan keuangan, serta memberdayakan komunitasnya

D. Menuliskan Paparan Aspek-aspek Kelayakan yang Sesuai Visi-Misi

Jika Anda telah menentukan Visi dan Misi, serta bisa menentukan komunitas, DPK dan PPK Anda, selanjutnya Anda bisa memaparkan aspek-aspek kelayakan (atau kemampuan Anda) untuk bersiaran di wilayah layanan siaran tertentu. Kenali terlebih dahulu pembagian paparan informasi secara sistematis:

  1. Formulir-formulir (yang telah diisi) sebagai data standar Anda
  2. Ikhtisar Ringkas (Executive Summary)
  3. paparan Aspek KELEMBAGAAN: dukungan atau persetujuan tertulis minimal 51 % atau 250 orang dari jumlah penduduk dewasa di daerah dalam jangkauan siarannya;
  4. PAPARAN Aspek Program Siaran: identifikasi komunitas di daerah Lembaga Penyiaran Komunitas berada, pola acara siaran, jadwal program siaran, materi siaran;
  5. Aspek Teknis: usulan saluran frekuensi/kanal yang diinginkan, gambar tata ruang dan peta lokasi studio, gambar tata ruang dan peta lokasi stasiun pemancar, daftar inventaris sarana dan prasarana yang akan digunakan, termasuk peralatan produksi dan transmisi, jumlah dan jenisnya serta perhitungan biaya investasinya, spesifikasi teknik dan sistem peralatan yang akan digunakan beserta diagram blok sistem konfigurasinya;peta wilayah jangkauan dan peta wilayah layanan siaran;
  6. paparan Aspek Keuangan: kondisi keuangan (pendapatan dan pengeluaran) yang menggambarkan perencanaan keuangan 1 (satu) tahun;
  7. Paparan Aspek Manajemen: penjelasan struktur organisasi dan alokasi pekerjaan, penjelasan sumber daya manusia (SDM), keahlian dan perekrutannya, langkah manajemen, analisis dan program tindak lanjut kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman
  8. Lampiran-lampiran (bisa fotokopi surat-surat terkait, bisa juga cetak foto studio):

i. Fotokopi berkas rekomendasi yang dimiliki. Berkas rekomendasi ini bisa berupa surat rekomendasi Camat/Kepala Desa/Lurah dan lain-lain;

ii. Fotokopi akta pendirian komunitas yang bersangkutan dan perubahan AD/ART (jika ada perubahan);

iii. Fotokopi bukti dukungan tertulis sedikitnya 51% (lima puluh satu per seratus) dari jumlah penduduk dewasa, atau paling sedikit 250 (dua ratus lima puluh) orang dewasa dalam wilayah jangkauan siaran komunitasnya;

iv. Surat keterangan kepemilikan dana awal pendirian bukan dari donasi asing. Surat keterangan ini dibubuhi materai secukupnya serta ditandatangani oleh segenap Dewan Penyiaran Komunitas dan Pelaksana Penyiaran Komunitas; dan

v. Fotokopi KTP Dewan Penyiaran Komunitas dan Pelaksana Penyiaran Komunitas.

vi. Fotokopi Rancangan Awal Kode Etik DPK/PPK.

Selamat menyusun studi kelayakan atau rencana bisnis.
Jakarta, 18 Juni 2007